Ratusan tahun sebelum kedatangan Islam, Nusantara sudah memiki peradaban sangat maju. Dulu, ketika Jazirah Arab masih berada di jaman kegelapan alias jahiliyah, kerajaan besar di Nusantara seperti Tarumanegara dan Kutai (abad ke-4) sudah menjalin diplomasi dagang dengan India dan Tiongkok.
© Kusuma Wiratama
Sementara Jazirah Arab masih bergelut dengan konflik internal dan keterbatasan sumber daya gurun, Nusantara telah menjadi pusat perdagangan dan spiritual dunia melalui kerajaan-kerajaan maritimnya.
Nusantara pada abad-abad awal masehi itu sudah sangat maju dalam teknologi perkapalan. Kapal-kapal besar (seperti Jung Jawa) telah mampu mengarungi samudra jauh sebelum bangsa Eropa tiba.
Nusantara saat itu sudah mendunia sebagai satu-satunya sumber rempah-rempah (cengkih dan pala) yang menjadi barang paling mewah di pasar dunia saat itu. Belakang hari kawasan anak benua India + Nusantara oleh kolonialis Eropa disebut East Indies atau India Timur.
Berbeda dengan struktur suku di Arab Jahiliyah (tribalisme / kabilah) yang berhukum rimba, Nusantara sudah memiliki konsep negara terorganisir lengkap dengan birokrasi, sistem pajak, dan undang-undang.
Penggunaan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta menunjukkan tingkat literasi tinggi dan sistem administrasi tertata. Sistem irigasi dan pertanian di Nusantara, terutama di Jawa, sudah sangat kompleks, memungkinkan populasi besar dan stabil dibandingkan pola hidup nomaden di gurun pasir.
Dua dari 10 Keajaiban Dunia ada di Nusantara, tepatnya di Jawa, yaitu Borobudur (778 M) dan Prambanan (850 M) yang dibangun menggunakan tingkat keterampilan dan kecerdasan tinggi ratusan tahun sebelum Wali Songo pertama datang.
Bangunan fisik Borobudur adalah mahakarya Gunadharma, seorang jenius yang memahami konsep Vastu Shastra (arsitektur India kuno) dan memadukannya dengan kearifan lokal berupa punden berundak. Dia mampu menerjemahkan konsep kosmologi ke dalam struktur batu masif tanpa menggunakan perekat semen.
Pembangunan ini melibatkan manajemen logistik luar biasa. Kerajaan harus menyediakan pangan, tempat tinggal, dan koordinasi bagi puluhan ribu pekerja selama berpuluh-puluh tahun. Artinya saat itu Nusantara sudah memiliki sistem pemerintahan dan ekonomi sangat stabil untuk mendanai proyek sebesar itu. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu sekitar 75 hingga 100 tahun.
Sebanyak 2 juta blok batu andesit (sekitar 55.000 meter kubik) diambil dari sungai-sungai di sekitar Borobudur, seperti Sungai Progo. Tenaga kerja saat itu menggunakan teknik kaitan atau “ekor burung” (interlocking) untuk menyatukan antar batu. Teknik ini memungkinkan bangunan tetap stabil meski terjadi gempa bumi, karena batu-batu tersebut bisa bergeser secara fleksibel tanpa runtuh.
Jadi secara objektif, pada abad-abad awal masehi, Nusantara berada dalam posisi unggul dalam stabilitas politik, teknologi maritim, dan kompleksitas struktur sosial. Saat Jazirah Arab masih berupaya keluar dari masa kegelapan moral dan konflik antar suku, leluhur Nusantara sudah membangun fondasi peradaban besar yang jejaknya masih bisa disaksikan hingga detik ini.

Gambar dari Wikipedia