“sudah pastilah, bahwa dunia Pribumi akan menentang aku, orang Pribumi akan menganggap aku gila. Namun, gagasan itu indah, yaitu dengan melalui pers untuk memperjuangkan cita-cita tersebut.”
(Kartini, dalam Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer)
Satu hal yang harus dipahami dari Kartini adalah ia tidak pernah menulis buku, ia hanya menulis surat kepada teman-temannya di Indonesia dan di Eropa serta mempublikasikan tulisan di surat kabar dengan nama samaran “Tiga Sudari”. Dan dalam semua tulisan-tulisannya tersebut, ia menggunakan bahasa Belanda dan bahasa Melayu-peralihan (Melayu-Belanda). Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang sering dianggap hasil kerja Kartini sebenarnya adalah hasil kerja Mr. J.H. Abendanon.
“Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah himpunan surat-surat Kartini yang berjumlah 106 pucuk surat. Pertama kali disusun oleh Mr. J.H. Abendanon, bekas Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadat Hindia Belanda. Penyusunan surat-surat Kartini tersebut dilakukan tanpa meminta nasihat dan pertimbangan dari siapa pun alias “One Man Show” atau “urusan pribadi” Mr. J. H. Abendanon. Untuk selanjutnya hasil penyusunan surat-surat tersebut ia terbitkan menjadi sebuah buku dengan judul: “Door Duisternis tot Licht” pada 1911.
106 pucuk surat itu terdiri atas 14 pucuk surat kelada Estele Zeehandelaar, 8 pucuk kepada Nyonya M.C.E. Ovink-Soer, 3 pucuk kepada Tuan dan Nyonya Prof.Dr.G.K. Anton di Jerman, 4 pucuk kepada Dr. N. Andriani, 5 pucuk kepada Nyonya G.G. de Booij-Boissevain, 3 kepada Ir. H.H. van Kol, 7 kepada Nyonya Nelly van Kol, 49 kepada Nyonya R.M. Abendanon-Mandri, 5 kepada Mr. J. H. Abendanon, 6 kepada E.C. Abendanon (Putra Mr. Abendanon), sepucuk tidak jelas ditujukan kepada siapa dan satu pucuk lagi merupakan surat gabungan kepada Nyonya dan Tuan Mr. J.H. Abendanon.
Bisa dilihat, keluarga Abendanon mendapatkan porsi lebih banyak. Padahal, sebelum Kartini mengenal keluarga Abendanon, ia hanya mengirim 4 pucuk surat kepada dua sahabatnya. 2 pucuk untuk Estelle “Stella” Zeehandelaar, seorang gadis Yahudi-Belanda sekaligus aktifis feminis yang getol mengkampanyekan kesetaraan gender dan kesetaraan hak pendidikan. 2 pucuknya lagi untuk Nyonya Ovink-Soer.
Dari tahun petama penerbitan hingga cetakan ulangnya yang ke-4 tahun 1923, Mr. J. H. Abendanon tidak pernah meminta pertimbangan, terutama pada kalangan intelektual Indonesia mengenai komposisi penyusunan surat-surat tersebut. Mungkin para pembaca Indonesia waktu itu kurang kritis, karena sampai saat ini pun hanya Pramoedya Ananta Toer seorang yang mengajukan protes terhadap Mr. J. H. Abendanon melalui bukunya yang berjudul “Pangggil Aku Kartini Saja”.
Pram mempertanyakan, mengapa surat-surat Kartini yang lain tidak pernah dicari dan diumumkan, atau setidaknya untuk dijadikan pelengkap. Dan mengapa keluarga Abendanon mendapatkan porsi yang lebih banyak, seakan-akan ia (Kartini) bergantung pada keluarga Abendanon. Apakah penyusunan surat-surat Kartini tersebut untuk kepentingan politis Abendanon semata atau murni untuk mengabadikan pemikiran-pemikiran Kartini? Debatnya masih berlangsung hingga hari ini.
Door Duisternis tot Licht, pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa melayu oleh Commissie voor de Volkslectuur (sekarang: Balai Pustaka) saat di bawah naungan Dr. D. A. Rinkes, dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Proses terjemahan tersebut dikerjakan oleh Abdoelah Dahlan, mantan asisten dosen bahsa Melayu di Universitas Leiden dan Zainoedin Rasad, mantan guru di Prins Hendrik School, Jatinegara. Pada penerbitan selanjutnya, Dahlan dan Rasad mendapatkan bantuan dari dua teman lainnya, yaitu Sutan Moehammad Zain, mantan anggotan Volksraad, dan Djamaloedin Rasad, mantan asisten dosen bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda sekaligus redaktur Sumatera Bergerak di Bukittinggi, Sumatera.
Pada cetakan kedua, para penerjemah mencantumkan nama “Empat Saudara” pada buku tersebut sebagai satire dari nama samaran Kartini, “Tiga Sudari”. Tidak jelas, mengapa pada cetakan ketiga (1951) menampilkan nama Armijn Pane sebagai penerjemahnya.
Armijn Pane, dalam surat pernyataannya tetanggal 31 Januari 1951 mengakui bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukanlah hasil kerjanya. Sebab, pada cetakan terjemahan pertama dan kedua masih memepergunakan bahasa Melayu peralihan atau biasa dikenal dengan Melayu-Belanda, bukan Indonesia. Dan harusnya cetakan ketiga pun masih menggunakan Melayu-Belanda karena bahasa Melayu peralihan tersebut adalah ciri khas dari karya-karyanya Armijn. Tidak jelas juga kenapa sampai hari ini, nama Armijn Pane tetap dicantumkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
“Door Duisternis tot Licht” yang berisi 106 pucuk surat Kartini tersebut mengalami 15 kali proses penyuntingan. Dan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”, 17 pucuk surat-suratnya Kartini tidak diterjemahkan. Dalam versi terjemahaannya tersebut ditonjolkan seorang Kartini yang bukan pejuang, tapi lebih pada seorang perempuan yang putus asa karena dipaksa harus menikah muda, ratap tangis, keputusasaan, malahan Kartini dicitrakan sebagai seseorang yang mengalami ketergantungan terhadap Belanda. Inilah komposisi terjemahan “Door Duisternis tot Licht” yang lebih besar isinya ditentukan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Akibat penyuntingan di sana-sini membuat buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi kacau, karena banyak kepentingan politis yang membersamai terbitnya buku tersebut. Parahnya, Kartini sebagai manifestasi dari Perempuan Indonesia Modern oleh beberapa pihak dituduh sebagai agen Hindia-Belanda. Hal tersebut karena Kartini adalah produk pertama dari politik etis yang dijalankan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Padahal, Kartini pernah menolak beasiswa sekolah dari pemerintah Hindia dan merekomendasikan agar pemerintah memberikannya pada Haji Agus Salim, tapi tetap saja tuduhan sebagai agen Hindia masih melekat pada dirinya.
Ya, “Habis Gelap Terbitlah Terang” bagai pisau bermata dua. Satu sisi mengenalkan kita terhadap sosok Kartini, tapi di sisi yang lain kaya akan nuansa unsur politis. Untuk itu, saya merekomendasikan untuk membaca buku “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya setelah membaca “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebagai penyeimbang agar kita tidak langsung menghakimi Kartini sebagai agen Hindia-Belanda secara langsung.
Menurut kamus Merriam-Webster, kata “boogeyman” baru digunakan pertama kali pada 1850. Namun demikian, sebutan ini awalnya merujuk para pelaut Bugis abad ke-18. Mereka adalah pelaut kargo yang kerap dianggap sebagai perompak. Para pelaut East India Company di Singapura menggambarkan boogeyman dengan kulit hitam dan berbadan besar. Tujuannya, untuk menakuti anak-anak yang nakal.
Litografi berjudul ‘Bouginois armé’ [pria Bugis bersenjata] yang dibuat oleh Jakob van der Schley pada 1755. Sumber: “Histoire Générale des Voyages, ou nouvelle collection de toutes les relations de voyages par mer et par terre”.
Dua hari setelah penyerahan kedaulatan, tepatnya tanggal 29 Desember 1949, buruh pelabuhan Belawan melancarkan aksi mogok kerja untuk menuntut perbaikan nasib/upah.
Pemogokan di pelabuhan Belawan mempengaruhi bongkar muat barang. Kapal Anhui yang tiba di pelabuhan Belawan pada tanggal 3 Januari 1950 bertolak kembali ke Singapura tanpa membawa muatan apapun.
Kapal Mentor yang berlabuh, hingga 5 Januari 1950 tetap tertambat di pelabuhan Belawan karena belum bisa memuat getah sheet produksi perkebunan Sumatera Utara. Dan lebih parah lagi, sebanyak 3.000 ton beras tertahan pembongkarannya, padahal muatan itu merupakan bagian dari jatah beras Sumatera Utara yang waktu itu sekitar 8.000 ton/bulan.
Banyak barang terlantar di gudang-gudang dan pelataran-pelataran sehingga ada perusahaan ekspedisi mendatangkan buruh-buruh dari luar untuk mengatasi stagnasi. Bahkan tentara-tentara Belanda yang ingin pulang ke negeri mereka terpaksa mengangkat sendiri barang-barang mereka ke kapal.
Pemogokkan buruh ini meresahkan pihak perusahaan karena jumlah buruh yang mogok mencapai 1.800 orang. Masing-masing buruh tetap dan harian berasal dari tiga ekspedisi yakni : Harrison & Crossfield, Guntzel Schumacher dan Deli Haven Bedrijf.
Selain itu, keresahan timbul akibat tidak adanya kesesuaian mengenai tarif upah antara pihak perusahaan dengan pihak buruh yang acap kali melangsungkan perundingan-perundingan.
Pada tanggal 2 Januari 1950, pihak perusahaan mengajukan usul perbaikan yang disesuaikan dengan kemampuaan perusahaan. Beberapa usulan perusahaan diterima seperti besaran gaji buruh kapal, mandor dan bayaran premi untuk setiap ton barang.
Soal besaran gaji per hari buruh biasa, besaran uang lembur per jam dan hari libur resmi belum diterima oleh kelompok buruh. Pihak perusahaan menolak tuntutan-tuntutan bayaran yang dianggap di luar kemampuan perusahaan. Sehingga akhirnya pihak buruh tetap melanjutkan pemogokan.
Tanggal 8 Januari, jumlah buruh yang mogok sudah bertambah menjadi 3.000 orang. Buruh Unie Kampong Belawan mengirim surat kepada ketua serikat buruh yang isinya bahwa mereka mogok kerja karena belum ada penyelesaian soal upah.
Selain buruh, petani di Tanah Karo ikut solider dengan pemogokkan itu. Lebih kurang 500 petani mengadakan rapat umum di Kabanjahe pada tanggal 15 Januari 1950. Mereka mengeluarkan resolusi yang mengatakan : “Solider simpati terhadap saudara kita yang mogok di Belawan.”
Para petani di Tanah Karo menuntut agar pemerintah Negara Sumatera Timur (NST) secepatnya mengadakan penyelesaian pemogokkan tersebut berdasarkan tuntutan buruh yang mogok. Menyerukan supaya seluruh penduduk Sumatera Timur dengan tidak membedakan suku bangsa dan agama supaya solider dengan mereka yang mogok. Sikap solider ini supaya ditunjukkan pula dengan memberikan sumbangan moral dan material.
Namun pemerintah NST tetap berpangku tangan dalam masalah ini. Dua puluh hari kemudian, seruan para petani Karo membuahkan hasil. Sumbangan berdatangan dari berbagai pihak dan terkumpul uang Rp.3.600,65. Beras satu ton, ikan asin 60 kg dan ubi kayu 323 kg.
Setelah petani ikut solider, buruh kereta api melakukan aksi mogok pada tanggal 22 Maret 1950. Sekitar 3.000 buruh kereta api di Sumatera Timur yang mogok telah memberi pengaruh besar kepada perkebunan. Sebab, 90% barang produk perkebunan diangkut dengan kereta api ke pelabuhan Belawan dan kota-kota lainnya.
Bukan hanya di Sumut, Serikat Buruh Kereta Api di Langsa dan Kutaraja (sekarang Banda Aceh) juga ikut mogok. Menyusul kemudian pemogokkan buruh perkebunan tanggal 6 April 1950 yang diperkirakan 1.600 orang dari Medan Estate dan Serdang Weg. Sultan Deli sempat diminta sebagai juru damai dalam menyelesaikan pemogokkan buruh perkebunan ini.
Pemogokkan semakin gawat dan mulai membahayakan produksi dan pemasukkan devisa negara. Akibatnya pemerintah pusat terpaksa turun tangan dengan mengirim Mentri Perburuhan, Mr. Wilopo, untuk datang ke Medan pada tanggal 16 April 1950.
Menyusul kemudian kedatangan Kusumo Utoyo dari Perselisihan Perburuhan dan Djohan Madjid dari Pergerakkan Buruh. Kedatangan mereka tanggal 17 April 1950 berhasil meredakan pemogokkan dengan mengadakan perundingan-perundingan dengan pihak perusahaan guna memenuhi tuntutan buruh.
Siapa yang tidak mengenal nama Flying Dutchman atau Si Belanda Terbang? Nama itu sangat populer dalam cerita yang berhubungan dengan dunia maritim. Sosok itu digambarkan dalam animasi SpongeBob SquarePants yang diproduksi Nickelodeon, dan Pirates of the Caribbean oleh Walt Disney Pictures.
Pada animasi SpongeBob SquarePants, Flying Dutchman tampil sebagai hantu bajak laut dengan kapal suramnya yang mengambang di dalam perairan Samudera Pasifik. Sedangkan dalam Pirates of the Caribbean, hanya menjadi nama kapal dengan kapten bernama Davy Jones.
Siapakah sejatinya Flying Dutchman yang melegenda itu?
Mitos Flying Dutchman diperkirakan muncul dari masa penjelajahan samudera oleh masyarakat Belanda. Dia ditakdirkan sebagai kapal yang mengarungi lautan untuk selamanya, yang kisahnya diperkirakan sejak abad ke-17, dimana VOC berada pada masa kejayaannya.
Agnes Andeweg, profesor sastra di University College Utrecht, dikutip dari Atlas Obscura, dirinya tidak pernah menemukan semua teks pelaut Belanda yang menyebutkan Flying Dutchman (De Vliegende Hollander) sebelum tahun 1800.
“Termasuk kumpulan ribuan surat oleh pelaut, dan tidak ada penyebutan Flying Dutchman—tak pernah. Jika itu adalah bagian dari pengetahuan, itu semestinya bagian dari pengetahuan Inggris,” ujarnya.
Andeweg juga menulis tentang Flying Dutchman dalam esainya yang mendapatkan juara dalam kompetisi ISCH Essay Competition 2014, berjudul Manifestastions of the Flying Dutchman: On Materializing Ghosts and (Not) Remembering the Colonial Past dan dipublikasikan di laman Academia-nya.
Dia lebih menganggap mitos kapal Flying Dutchman muncul pada paruh akhir abad ke-18, ketika kekuasaan maritim Belanda runtuh dan bubarnya VOC. Kisah Si Belanda Terbang itu lebih banyak muncul dalam catatan pelaut Inggris pasca 1800, dengan menyebut asalnya dari abad ke-17.
Dalam kisah perjalanan A Voyage to Botany Bay (1795), seorang tahana Inggris yang terkenal pada masanya, George Barrington, melihat penampakan itu pertama kalinya.
“Narator (naskah) menceritakan sebuah kisah tentang kapal Belanda yang tenggelam yang menghantui Tanjung Harapan: ‘hantu yang seharusnya disebut kapal orang Belanda yang terbang” tulis Andeweg dalam esainya. “Dia membuat cerita itu berdasarkan pengalaman para pelaut Belanda yang ketakutan ketika pertama kali menyaksikan kapal itu”.
“Dari belanda para pelaut Inggris itu tergila-gila, tetapi seperti yang ditambahkan oleh narator yang berpikir jernih, takhayul ini harus dikaitkan dengan kebanyakan mengonsumsi ‘Belanda’ (Holland), yaitu gin Belanda,” lanjutnya mengutip isi catatan itu.
Mengutip dari Blackwood’s Edingburgh Magazine edisi Mei 1821, penampakan Flying Dutchman terhadi di dekat Tanjung Harapan dengan menyebut nama kapten Hendrick van der Decken. Kapal itu adalah model Bernad Fokke yang dikenal sangat cepat melayar dari Belanda ke Jawa, dan dicurigai ada keterlibatan iblis di dalamnya.
Sang kapten membuat surat untuk orang-orang yang sudah lama mati, dan dikirim pada kapal lain. Jika ada yang menerima suratnya, van der Decken bersumpah untuk tetap mengitari Tanjung Harapan tanpa mendarat meskipun itu harus ke akhirat, agar membawa kemalangan bagi siapapun yang menerimanya.
Sastrawan Skotlandia, Sir Walter Scott juga menulis pengalaman menakutkannya ketiak berlayar di laut saat terjadi badai dalam Rokeby (1812). Dia menyebut Dutchman adalah kapal, bukan karakter manusia. Dutchman muncul dalam malapetaka yang terjadi dalam kru, tetapi tidak dijelaskan kejadiannya secara rinci.
Selain para pelaut, bahkan Raja George V (1865-1936) juga melihatnya. Seperti cerita SpongeBob SquarePants, kapal Flying Dutchman terlihat melayang-layang. Padahal itu sebenarnya dapat dijelaskan dengan penampakan fatamorgana, yang mana benda-benda di cakrawala seperti kapal bisa terlihat melayang-layang, seolah kapal hantu yang mengambang.
Kejadian serupa juga terjadi pada 4 Maret 2021 ketika David Morris, seorang pengembang properti, memotret penampakan itu pantai dekat Falmouth, Cornwall, Inggris. Dilansir dari BBC, Morris mengatakan fotonya bukan suntingan, dan para ahli menjelaskan kejadian itu fatamorgana superior yang serupa dialami George V.
Anderweg menganggap penampakan Flying Dutchman oleh orang Inggris terjadi secara sederhana. Kemunculannya sangat persis ketika kekuatan angkatan laut Belanda memdura, di saat Inggris berjaya.
“Pelaut di abad 18 dan 19 hanya memiliki dua penjelasan untuk pengalaman melihat Flying Dutchman: takhayul atau kegilaan,” kata Nic Compton, seorang penulis buku terkait maritim, seperti Off the Deep End: A History of Madness at Sea.
“Entah itu ‘kapal hantu’ atau kamu gila jika kamu pikir kamu telah melihatnya. Saat ini kami memiliki penjelasan ketiga: sains,” ujarnya dilansir Atlas Obscura.
Ketenaran Flying Dutchman seketika menurun pada abad ke-20 seiring dunia maritim Inggris raya menurun. Andweg melihat ada dua faktor yang memudarkan ketenarannya: berkurangnya pengetahuan dan minat publik tentang pelayaran, dan berakhirnya era kolonialisme.
Sri Sultan Hamengku Buwono X, nama kecilnya adalah Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito”.Lahir hari Selasa di keraton Yogyakarta tanggal 2 April 1946. GRM Herjuno Darpito adalah putera Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan isteri kedua, bernama “RA Siti Kustina”, atau “KRAy. Windyaningrum”. Mengacu sumber : https://intisari.grid.id, berjudul “Sri Sultan Hamengku Buwono X Bagai Pinang Dibelah Dua dengan Sang Ayah tapi Lebih Lugu dan Antipoligami”, (2018), ditulis oleh Moch, Habib Asyhad, diterangkan, BRM Herjuna Darpito agak sedikit berlainan dengan ayahnya, Sultan HB IX, yang di masa kecil sesekali terlibat perkelahian di sekolah, sehingga mendapat hukuman dari guru. Sedangkan BRM Herjuno Darpito digambarkan oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai seorang yang lugu. Bahkan bekas pengasuhnya mengatakan, GRM Herjuno Darpito, bukanlah anak yang rewel pada masa kanak-kanaknya.
Sementara itu, RM Soeprapto-suami Siti Kusdilah, adik KRAy, Windyaningrum – masih ingat bahwa BRM Herjuno Darpito dan adiknya, GBPH Hadiwinoto, pada masa kecil sering bermain-main di rumahnya yang tak jauh dari keraton. Di usia sekitar lima tahun, dan belum bersekolah, ia lincah tetapi tidak nakal. Ia senang berlari-lari di halaman rumah dan pendopo bersama sepupunya. Misalnya ketika bermain petak umpet. Namun, ia tak pernah melompat-lompat secara berlebihan, apalagi berteriak-teriak atau berkelahi. Tingkah lakunya yang tenang mungkin diturunkan oleh ibunya. Sebab, menurut Soeprapto, sifat ibunya sabar sekali. Dihimpun dari berbagai sumber, diterangkan BRM Herjuno Darpito, sekalipun tinggal di lingkungan keraton, dalam kesehariannya tetap bersahaja, tidak sombong apalagi sampai jumawa. Hal tersebut ditenggarai oleh para sahabatnya sejak di SD Negeri 1 Keputran, (dekat keraton), yang letaknya di Jl. Musikan, Alun-alun Utara Yogyakarta, dan hingga saat ini masih bercirikan khas budaya Jawa. Apabila sudah jam pulang para pedagang jajanan serta mainan sudah menanti di depan pintu gerbang sekolah tersebut.
Begitu pula ketika BRM Herjuno Darpito masuk ke SLTP Negeri 3, Yogyakarta, yang terletak di Jl. Pajeksan No. 25, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY. Di SMP Negeri 3 Yogyakarta ini, lebih mengedepankan proses belajar dan tata krama yang baik, terbukti bisa mencetak lulusan dengan peringkat lebih tinggi, jika dibandingkan dengan inputnya. Sedangkan ketika BRM di SLTA Negeri 6, Yogyakarta. Pendidikan dan Kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, Pendidikan merupakan tempat persemaian kebudayaan. SMA Negeri 6, sebagai Sekolah Budaya telah menanamkan pelestarian serta pentingnya berbudaya. Penanaman nilai-nilai budaya ditanamkan dengan penuh kesadaran dari taat masuk sekolah dengan metode 3 S, (Senyum, Sapa dan Salam). Setelah beranjak dewasa BRM Herjuno Darpito mendapat gelar KGPH. Mangkubumi dan setelah itu, diangkat sebagai putera mahkota bergelar : “Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Hamengku Negara Sudibyo Raja Putera Nalendra Ing Mataram”. Menurut Sejarawan UGM, Djoko Suryo, sejak BRM Herjuno Darpito diangkat menjadj KGPH, Mangkubumi, sering diajak untuk mendampingi ayahnya bertugas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
BRM. Herjuno Darpito—(KGPH. Mangkubumi), menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum jurusan Ketatanegaraan Universitas Gajah Mada, dan sempat memimpin Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA). Sosok anak raja yang semenjak remaja dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Kesederhanaan dan tutur sapanya yang menyejukan, serta suka menolong orang sehingga disukai oleh masyarakatnya dari berbagai lapisan.
KGPH Mangkubumi, pada tahun 1968, yakni diusia 22 tahun menikah dengan Tatiek Drajat Suprihastuti—BRA Mangkubumi, atau GKR Hemas, (setelah suaminya dinobatkan menjadi raja Yogyakarta). Tatiek Drajat adalah puteri anggota ABRI, bernama “Soepono Digdosastropranoto” dari Yogyakarta dan ibunya bernama “Susamtilah Soepono” dari Wates, sebuah kapanewon atau stingkat Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Dari pernikahan KGPH Mangkubumi dan Tatiek Drajat, dikaruniai lima orang puteri, yaitu : GRA. Nurmalita Sari, (GKR Pembayun), GRA. Nurmagupita, (GKR Condrokirono), GRA Nurkamnari Dewi, (GKR Maduretno), GRA Nurabra Juwita, (GKR Hayu), dan GRA Nurastuti Wijareni, (GKR Bendoro). BRM Herjuno Daparpito—(KGPH Mangkubumi), di usia 27 tahun, yakni ketika ayahnya, (Sri Sultan Hamengkubuwono IX), diangkat menjadi Wakil Presiden RI, (1973-1978), karena kesibukannya sebagai Wapres RI, ia diminta untuk mengemban tugas-tugas keraton sehingga terbiasa dalam mengerjakan berbagai urusan keraton.
Selain itu, KGPH Mangkubumi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial masyarakat, diantaranya : sebagai Ketua Umum Kadinda DIY, (sejak 1983-sekarang), Ketua Koni, DIY, (sejak 1990-1998), DPD Golkar DIY, (Namun sesuai Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang telah disahkan pada tahun 2012, dilepaskan), Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, dan Presiden Komisaris PG. Madukismo. Selanjutnya pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
A. KGPH Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta. Setelah ayahnya wafat (Sri Sultan HB IX), pada tanggal 2 Oktober 1988, KGPH Mangkubumi merupakan kandidat terkuat untuk menjadi penerus ayahnya, karena kedudukannya sebagai putera tertua. Penobatan sebagai raja Yogyakarta didampingi Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 atau Selasa Wage 19 Rajab 1921, dengan gelar resminya : “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat”. Ada hal yang sangat menarik dari ucapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, yaitu : “Saya sadar, sesadar-sadarnya, bahwa saya lahir sampai mati itu punya kewajiban hanya satu : Mengabdi”. Sebagai tokoh nasional yang memiliki pengaruh besar di Indonesia, Sultan HB X pernah ikut dalam kegiatan politik Deklarasi Ciganjur tanggal 10 November 1998.
Deklarasi ini dicetuskan Sri Sultan HB X dengan beberapa tokoh nasional lainnya sebagai sikap, ketika terjadi reformasi tanggal 21 Mei 1998 dan Presiden Soeharto mengundurkan diri kemudian digantikan oleh Wakil Presiden B,J. Habibie. Pemikiran kritis yang dimiliki Sri Sultan HB X, kemudian dituangkan pada karya ilmiah berjudul “Kerangka & Konsepsi Politik Indonesia,sebuah tinjauan dan analisa perkembangan politk nasional Indonesia, yang diterbitkan oleh Mitra Gama Widata tahu 1989 dan “Bercermin Di Kalbu Rakyat”yang diterbitkan oleh Kanisius tahun 1999. Kegiatan sosial politik dan kebudayaan yang dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X, selalu memberikan hasil yang positif bagi banyak kalangan. Hal ini yang membuar dirinya mendapatkan Gelar Doktor Kehormatan dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Setelah Sri Paku Alam wafat, melalui beberapa perdebatan, pada tahun 1998 Sultan HB X, ditetapkan sebagai Gubernur DIY dengan masa jabatan 1998-2003. Pada periode ini, Sultan HB X, tidak didampngi Wakil Gubernur.
Sejak terpilih menjadi Gubernur pada tanggal 3 Oktober 1988, Sultan HB X, dikenal sebagai sosok yang netral diantara berbagai kepentingan partai politik dan pemerintah. Oleh karena itu, Sultan HB X, lantas banyak diundang dalam seminar-seminar untuk membeberkan wawasan kebangsaannya. Dalam suatu kesempatan Sri Sultan HB X, mengatakan : “Wawasan kebangsaan masa depan seharusnya merupakan pandangan proaktif untuk membangun bangsa yang menuju perwujudan cita-cita bersama sebagai suatu bangsa yang mandiri dan mumpuni”. (Mandiri dan Mumpuni, mengandung arti dalam situasi apapun dapat berdiri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain). Lebih lanjut dikatakan, “mampu mengembangkan inovasi iptek bangsa sendiri agar memiliki keungulan daya saing yang tangguh di dunia global”. Pada tahun 2003, setelah terjadi pro-kontra, Sultan HB X, ditetapkan lagi sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Pada periode ini, Sultan HB X, didampingi Wakil Gubernur yaitu Sri Paku Alam IX dari Keraton Puro Pakualaman. Sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, tentu tidak lagi memerlukan pujian, penghargaan dan piagam pengakuan. Menurutnya, peradaban kota memerlukan sentuhan kasih dan hati nurani. “Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Ia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita.” (Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta). Menjadi Jogja menjadi Indonesia “Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia.”. Kalimat penuh makna tersebut disampaikan dengan penuh penekanan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X dalam pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29 di Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (Kepatihan, Yogyakarta). “Menjadi Jogja, menjadi Indonesia.” Kalimat tersebut mengandung karakter Jogja akan selalu menguatkan Indonesia. Mahasiswa, seniman, akademisi, wisatawan, dan terutama masyarakat Jogja diharapkan terus membawa nilai-nilai ke-Jogja-an ke berbagai titik di Indonesia. Nilai-nilai tersebut antara lain: 1. Hamemayu Hayuning Bawono, mengandung arti yang menciptakan kenyamanan. 2. Manunggaling kawula Gusti, mengandung arti yang mengajarkan ketauladanan. 3. Golong gilig, mengandung arti yang mencerminkan gotong royong. 4. Watak Satriya: Sawiji, Greget, Sengguh Ora Mingkuh, mengandung arti yang dimaknai sebagai jati diri yang kuat, tetapi tetapterbuka. B. Gempa Yogyakarta. Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta dilanda gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 dengan skala 5,9 skala richter atau 6,3 magnitudo. Guncangan gempa terjadi pada pukul 05.55 WIB, telah meluluh-lantakan bangunan dan menewaskan lebih dari 6.000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya.
Saat terjadi gempa tahun 2006, Sultan HB X mengatakan masyarakat bahu-membahu tanpa memandang apa agama yang menolong maupun yang ditolong. Fenomena yang memberi harapan. Manakala para ulama lintas agama bekerja sama membantu para korban tanpa menanyakan “Apa agamu”, ujar Sultan HB X. Tebukti di hati nurani mereka yang paling dalam, selalu bersemi semangat toleransi antar umat beragama. Saat ini kita juga menyaksikan kisah-kisah mengharukan. Mereka bekerja sama dan saling bergai. Sambung Sultan HB X. Sultan HB X mengatakan, saat ini orang-orang saling membantu dan menjaga. Bahkan dunia bisnis pun diubah menjadi dunia pengabdian bagi kemanusiaan untuk sesama yang papa. Di bulan penuh keutamaan dan keistimewaan ini, semoga keberkahan dan kebahagiaan berada di sekita kita. Kata Sultan HB X. Sedangkan pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton pada tanggal 7 April 2007, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan tekadnya untuk mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. C. Gelar Doktor Honoris Causa. Pada tanggal 19 Desember 2011, Sri Sultan HB X, menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang kemanusiaan dari Universitas Gajah Mada (UGM) dalam peringatan Dies Natalis ke-62 di Graha Sabha Pramana. Pada kesempat tersebut Sultan HB X, menyatakan sekarang ini masalah peradaban kurang menjadi perhatian pemerintah, padahal dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa. Disintegrasi peradaban pada dasarnya adalah awal perjalanan menuju disintegrasi bangsa. Sementara itu, sekelompok manusia baru dikatakan sebagai sebuah kesatuan bangsa apabila terikat oleh peradaban yang dilandasi berbagai nilai spiritual, moral, dan ideologis. Jika krisis peradaban tidak digarap, peradaban bangsa akan kian terpuruk, kata Sultan. Dalam pidato pengukuhan Doktor (HC), Sultan menegaskan pemimpin bangsa diminta untuk kembali membangun peradaban berbasis nilai kemanusiaan yang adil beradab sesuai amanat sila kedua Pancasila. Untuk mengatasi krisis peradaban yang terjadi, pilihan ‘memanusiakan manusia’ dengan meningkatkan spiritualitas dan kesadaran terhadap lingkungan sangat penting dilaksanakan agar menjadi kesadaran publik, yakni melahirkan manusia Indonesia yang utama. Kerja pembangunan yang memperkokoh peradaban bangsa, hendaknya dijalankan menyeluruh tanpa meninggalkan aspek spiritual bangsa, tambahnya.
Sultan menuturkan peradaban baru yang tumbuh dalam proses pembangunan harus menjadi lahan bagi tumbuh berseminya peradaban berbasis nilai kemanusiaan, penuh harmoni dalam kebhinnekaan. Bukan peradaban yang bias global atau bias lokal. Semua harus satu pemahaman, yaitu menghargai, menghormati dan peduli, saling mengubah dan menyesuaikan diri, kata Sultan. Raja Yogyakarta tersebut mendapatkan gelar doktor honoris causa dengan promotor Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., Ko-promotor Prof. Dr. dr Sutaryo, Sp.A(K) dan Prof. Dr. Djoko Suryo Selain menganugerahkan doktor honoris causa, UGM memberikan pula Anugerah HB IX kepada budayawan dan kolumnis, Goenawan Mohamad. Atas penghargaan yang diterima, Sultan HB X menyampaikan rasa terima kasih. Jadi, ini pengakuan keilmuan, tapi juga pengakuan aplikasi. Konsistensi yang dilakukan keilmuan dan penerapan untuk masyarakat. Bagi saya, terima kasih atas semuanya, apa yang saya lakukan juga atas nama masyarakat, ujarnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson). Tanggal 27 Desember 2011, Sri Sultan HB X menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang seni dan budaya dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Gelar tersebut karena kiprahnya dalam seni dan budaya, terutama seni pertunjukan tradisi dan kontemporer sejak 1989. Pada bulan Desember 2014, Sri Sultan HB X, menjadi bahan perbincangan di media masa dan masyarakartnya, lantaran sikapnya yang dianggap memberi keteladanan. Saat itu, di Jalan Raya, Sultan HB X menolak kawalan Voorijder, dan memilih berhenti, mempersilahkan rombongan Presiden Jokowi yang kebeteulan sedang berada di Yogyakarta.
Kisah Sultan HB X ini, diungkapkah oleh pemilik akun Facebook, Hartady Nugroho, Hari Rabu, tanggal 10 Desember 2014. Hari itu, di Jl. Kusumanagaran, Sri Sultan Hamengkubu Buwono sedang dalam perjalanan dengan mobil dinasnya, Plat AB 1. Kendaraannya disuruh minggir oleh pengendara Harley (moge), pembuka jalan bagi rombongan Presiden Jokowi. Saat menyadari bahwa mobil yang disuruh menepi adalah raja Yogyakarta, sang pengawal Presiden, kemudian meminta Sri Sultan HB X untuk ikut rombongan Presiden RI, agar lebih cepat sampai tujuan. Tapi dengan sanbat sopan ditolaknya. Sri Sultan HB X, dan sipirnya memilih untuk menunggu berhenti ditepi jalan, menyilahkan rombongan RI 1 lewat. Setelah usai Sri Sultan kemudian melanjutkan perjalanannya seperti pengguna jalan lainnya. Masyarakat dibuat kagum dengan sosok Sri Sultan HB X, yang sangat bersahaja. Ia tidak perlu pencitraan atau mengundang wartawan untuk meliput, biarlah rakyat sendiri yang menilai. Luar biasa sosok raja ini. Pada tanggal 5 Oktober 2019, Sri Sultan HB X yang sekaligus Gubernur DIY, kembali menerima gelar Doktor Honoris Causa. Gelar kehormatan ini diberikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam bidang Manajemen Pendidikan Karakter. Sumber : https://www.ugm.ac.id/id, menerangkan, dalam penganugerahan Gelar Dr Honoris Causa itu, Sri Sultan HB X menilai bahwa, bagaimana sulitnya Pemerintah dalam mencari konsep Pendidikan Karakter sebaga kurikulum di sekolah yang pas. Pemerintah sudah melakukan upaya dengan menempuh berbagai cara, yaitu dengan pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, atau bahkan melalui pendidikan agama, yang sebelumnya didukung dengan rekomendasi dari hasil serangkaian Forum Nasional.
Namun Sultan menilai bahwa tidak juga kunjung mampu menjalankan fungsi Pendidikan Nasional secara optimal. Disampaikan dalam orasi ilmiahnya, Sultan menyampaikan bahwa, pendidikan karakter perlu adanya formulasi ulang yang selanjutnya diopersionalkan kembali. Sultan juga menyampaikan bahwa implementasi pendidikan karakter tidak bisa berjalan optimal setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu: kurang terampilnya para guru menyelipkan Pendidikan Karakter dalam proses pembelajaran. Selain itu, bahwa sekolah terlalu fokus mengejar target akademik, agar peserta didik dapat lulus Ujian Nasional. Implikasinya, kurang diajarkan aspek kecakapan hidup yang non-akademik. Sehingga soft-skills sebagai unsur utama Pendidikan Karakter justru terabaikan. Formulasi dan operasionalisasi pendidikan karakter diantaranya dapat dilakukan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan. Sultan HB X menambahkan bahwa, pendidikan itu secara keseluruhan hendaknya selalu dimaknai sebagai proses pembudayaan. Kegiatan lainnya, dalam suatu kesempatan yaitu manakala Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka secara resmi membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VII pada tanggal 2 Februari 2012. Pembukaan ditandai dengan pemencetan tombol penyalaan kembang api di kepala naga disertai bunyi petasan. Tombol ini sebelumnya dibawa oleh Dewi Kwan Im yang terbang anggun di atas panggung. Pembukaan ini digelar di panggung utama halaman eks Kampus UPN di Kentandan Wetan Yogyakarta.
Hadir dalam pembukaan, Walikota Yogyakarta, H Haryadi Suyuti, Wakil Walikota Imam Priyono, Kapolresta Yogyakarta Kombes Mustaqim, kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Bupati Bantul Hj Ida Idham Samawi, serta Bupati Gunung Kidul Badingah S. Sos. Terkait penyelenggaraan tersebut Gubernur DIY memberikan apresiasi yang istimewa karena banyak tradisi masyarakat Tionghoa yang mempunya kemiripan dengan tradisi lokal masyarakat Indonesia khususnya pada sub kultur dari sebuah kebudayaan besar. “Kemiripan ini terjadi karena adanya akulturasi budaya, budaya Tionghoa berbaur dengan budaya lokal tanpa adanya campur-tangan pemerintah, sehingga semakin memperkaya khasanah budaya nusantara yang kita miliki,” kata Sri Sultan HB X, (Gubernur DIY). Sementara itu Ketua Panitia Hj. Tri Kirana Muslidatun dalam laporannya menjelaskan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini merupakan puncak perayaan Imleks atau Cap Go Meh Tahun 2365 yang diselenggarakan oleh panitia yang terdiri dari berbagai paguyuban masyarakat Tionghoa di Yogyakarta. Tema dari acara ini adalah Mengukuhkan Kebhinnekaan Yogyakarta dengan harapan bisa menunjukkan kekayaan budaya Yogyakarta yang guyup dan akur. Adapun tujuaannya adalah melestarikan dan mengenalkan budaya Tionghoa sebagai salah satu komponen aset bangsa Indonesia, memberikan informasi dan pembelajaran kepada masyarakat tentang tradisi dan kebudayaan Tionghoa, mendukung pariwisata daerah dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat daerah sekitar. Dijelaskan pula oleh Hj Tri Kirana Muslidatun, dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta selama 5 hari ini akan dipentaskan 58 jenis acara mulai dari kesenian tari, musik, aneka lomba serta sulap, pentas ketoprak, pentas naga liong dan wayang Potehi. Selain itu juga diselanggarakan bazaar di sepanjang jalan Ketandan yang diikuti oleh 68 stand yang menyediakan aneka kuliner, souvenir dan hiasan. Pekan Budaya ini, akan ditutup pada tanggal 6 Februari 2012, dengan acara Jogja Dragon Festival yang diikuti oleh 12 kelompok dari berbagai daerah.
D. Penerus. Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas mengikuti kirab pernikahan putri keempatnya, Hayu dengan Notonegoro. Sultan Hamengku buwono X menghadapi persoalan terkait penerusnya karena tidak memiliki putra dan hanya memiliki putri. Masalah ini mengemuka ketika terjadi pembahasan Raperda Istimewa tentang Pengisian Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur sampai Sultan Hamengku Buwono X secara mendadak mengeluarkan Sabdatama pertama pada tanggal 6 Maret 2015. Dalam UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta Pasal 18 ayat (1) huruf m disebutkan bahwa salah satu syarat menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta adalah : “menyerahkan daftar riwayat hidup yang memuat, antara lain riwayat pendidikan, pekerjaan, saudara kandung, istri, dan anak;”, yang dianggap hanya memberikan kesempatan kepada laki-laki untuk menjadi kandidat Sultan selanjutnya. Pada akhirnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X memutuskan mengeluarkan Sabdaraja yang diucapkan pada tanggal 30 April 2015 dan Dhawuhraja pada tanggal 5 Mei 2015. Sabdaraja tersebut menghasilkan keputusan mengenai pengubahan nama gelarnya menjadi Hamengkubawana. Sedangkan Dhawuhraja menghasilkan keputusan mengangkat GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng ing Mataram. Namun, pada tanggal 3 Juli 2015, Sultan menarik kembali Sabdaraja tersebut dan mencabut permohonan penggantian gelarnya di Pengadilan Negeri Yogyakarta, sehingga kini nama gelarnya kembali menjadi seperti semula.
Sultan HB X, ditenggarai gemar gudeg Kranggan, yakni olahan dari buah nangka muda dengan bumbu manis dan legit beraroma ketumbar, lengkuas, gula merah, serai dan daun salam dipadu dengan tahu bacem, pindang telur, ayam goreng dan sambel krecek. Sultan HB X, juga sangat menyukai gudeg Manggar, yakni gudeg yang terbuat dari manggar atau bunga kelapa, bukan nangka muda seperti gudeg biasa. Hal ini menandakan Sultan HB X, juga sangat lekat dengan rakyatnya, seperti ayahnya Sri Sultan HB IX. Hebatnya keluarga Sri Sultan HB X, juga memiliki kesamaan sangat sederharna dengan kakek dan ayahnya. Hal tersebut tergambar penampilan sosok puteri bungsu Sri Sultan HB X, bernama “GKR Bendara”, yang naik becak. Kesederhanaannya mampu membuat warga sekitar dan media sosial dibuat terkagum-kagum. Dalam unggahan vidio oleh akun Instagram @indo.viral, tanggal 15 Maret 2023, menampilkan GKR. Bendara sedang berjalan mao naik becak yang berada di kawasan Malioboro. Ia mengenakan baju warna biru dongker dengan celana panjang berwarna abu-abu seperti masyarakat umum. Sederhana dan bersahaja, tanpa pengawalan, outfit sederhana, tanpa telolet, tetapi tetap teerpancar aura anggun dan magnet dari seorang puteri raja. Bravo and Salute, The Big Family of King Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. E. Sultan HB X, tentang Ibukota Nusantara. Mengacu sumber : http://www.kaltimprov.go.id, tanggal 14 Maret 2022, diterangkan, semua provinsi sudah menyerahkan tanah dan air kepada Presiden Joko Widodo di titik nol kilometer Ibu Kota Nusantara (IKN). Sultan Hamengku Buwono X meyakini IKN dibangun untuk kepentingan besar bangsa Indonesia.
“Proses ini secara simbolik memberi ruang budaya. Pada aspek simbolik itu dari awal ada kebhinekaan, persatuan dan kesatuan bangsa yang telah lama menjadi perekat utama dalam proses menuju masa depan Indonesia,”, kata Sri Sultan Hamengku Buwono X di Balikpapan. Sri Sultan berharap pemahaman simbolik ini bisa memberikan fakta yang baik. “Tidak ada kata mundur, biarpun proses pembangunan itu memerlukan waktu yang cukup lama. Bukan berarti 2024 itu sudah selesai,” ucap Sri Sultan HB X. Apalagi, penyerahan tanah dan air dari 34 provinsi itu bukan sekadar formalitas. Tapi menjadi simbol kekuatan untuk bersatu membangun masa depan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera. “Semoga apa yang diharapkan Presiden Joko Widodo dan para gubernur bisa memberikan nilai agar program ini berjalan lancar dengan kebersamaan dan persatuan kita,” ujarnya dengan suara perlahan. Tanda Kehormatan Dalam Negeri dan Luar Negeri yang diperoleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, diantaranya : Bintang Mahaputera Utama, 2007 Grand Cross Austria 1996, Orde Van Oranje Nassau Belanda tahun 1996, Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star dari Kaisar Jepang Naruhito tanggal 28 Juni 2022. Salam. Jakarta, 17 April 2023. Penulis : Joko Darmawan.
Gambar : Sri Sultan Hamengku Buwono X, ketika dinobatkan sebagai raja Yogyakarta Hadiningrat, tanggal 7 Maret 1989. [Courtesy : https://id.wikipedia.org%5D.
Istana Cipanas adalah salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Sesuai namanya istana ini terletak di daerah Cipanas, Jawa Barat dekat dengan jalan raya yang menghubungkan Jakarta dan Bandung melalui puncak. Istana yang berjarak sekitar 103 km dari Jakarta atau sekitar 20 km dari kota Cianjur ini tepatnya terletak di Desa Cipanas Kab. Cianjur, di kaki Gunung Gede pada ketinggian 1.100 m diatas permuakaan laut. Bangunannya berdiri di atas lahan dengan luas 26 ha dengan luas bangunan mencapai 7.760 m².
Kata Cipanas berasal dari bahasa sunda yang artinya ci atau cai adalah “air” dan panas berarti “panas”. Nama tersebut diambil karena daerah Cipanas memiliki sumber air panas yang mengandung belerang yang kebetulan sumber air panas tersebut berada di dalam komplek Istana Cipanas. Dahulu pemilik Istana Cipanas adalah seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots tahun 1740. Pada masa pemerintahan Gubernur Jend. Gustaaf Willem van Imhof. Karena dinilai sangat bersih serta memiliki udara yang sangat sejuk dan segar, bangunan itu difungsikan menjadi sebuah resor dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Istana Cipanas juga telah digunakan untuk acara-acara penting dalah sejarah Republik Indonesia. Pada tanggal 13 Desember 1956, ruang makan di Gedung utama dijadikan oleh cabinet Soekarno untuk melakukan pertemuan dalam membuat keputusan mengubah nilai uang Indonesia dari Rp. 1,000 menjadi Rp. 1,00 (Redenominasi) yang pada saat itu posisi administrasi ekonomi dijabat oleh Meteri Keuangan, Frans Seda.
Sesuai dengan fungsinya, istana tidak digunakan untuk menerima tamu kecuali untuk acara-acara tertentu seperti pada saat kunjungan Ratu Juliana dari Belanda ke Indonesia di tahun 1971. Pada tanggal 14-17 April 1993, istana Cipanas juga digunakan sebagai tempat pertemuan untuk berperang faksi Filipina atas prakarsa Presiden Soeharto. Menteri Luar Negeri Ali Alatas memimpin negosiasi antara pemerintah Filipina dan kelompok MNLF (Moro National Liberation Front) yang dipipimpin oleh Nur Misuari. Semua delegasi menginap di komplek istana Cipanas.
Istana Cipanas terdiri dari bangunan utama, enam pavilion, sebuah bangunan khusus dan dua bangunan lainnya, satu adalah sebagai reservoir air panas dan satu lagi menjadi mesjid.
Bangunan tua yang secara resmi disebut Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas berdiri di atas lahan seluas 982 m2. Sesuai namanya, gedung in adalah gedung terbesar bila dibandingkan dengan bangunan lain di komplek istana. Gedung utama digunakan oleh Presiden Indonesia atau Wakil Presiden dan keluarga mereka untuk beristirhat dan bersantai. Struktur asli bangunan utama dibangun mengunakan kayu jati dan ditegakkan dengan besi cor. Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa lantai dan dinding direnovasi.
Gedung utama sesuai dengan fungsinya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, ruang kerja, ruang bubuk, ruang makan dan teras belakang. Secara khusus, ruang tamu adalah diatas panggung dengan lantai kayu. Salah satu dinding lorong utama dihiasi dengan lukisan bernama Jalanan Seribu Pandang yang dilukis oleh Soejono DS yang dicat pada tahun 1958.
Meskipun dibangun secara bertahap, istana enam pavilion akhirnya dibangun disekitar Gedung Utama, tepatnya di halaman belakang gedung, Keenam pavilion dinamai karakter wayang di hindi epic Mahabharata yaitu, Yudhistira Pavilion, Nakula Pavilion, Sahadewa Pavilion, dan Abimanyu Pavilion. Pertam tiga paviliun di bangun pada masa kekuasaan Belanda di tahun 1916. Kemudian tiga paviliun lain dibangun di masa pemerintahan presiden Soeharto tahun 1983. Selain itu ada juga dua bangunan lainnya yang bernama Tumaritis I Pavilion dan Tumaritis II Pavilion yang letaknya terpisah dari Gedung Utama dan keenam paviliun.
Bangunan Bentol adalah bangunan yang unik terletak di belakang gedung utama dan jauh lebih kecil dari gedung utama dan keenam paviliun. Namun, bangunan ini berdiri lebih tingggi dari bangunan lain, termasuk gedung utama. Hal ini disebabkan fakta bahwa bangunan ini terletak di lereng gunung. Bangunan tersebut di arsiteki oleh 2 pria berkebangsaan Indonesia, RM. Soedarsono dan F. Silaban. Pada bagian belakang Gedung Utama ada beberapa bangunan lainya. Namun peran paling besar untuk keberadaan Istana Presiden di Cipanas adalah sumber air panas mineralnya. Oleh sebab itu, untuk menampung limpahan air dibangunlah dua kamar mandi. Satu khusus untuk presiden atau wakil presiden dan keluarga mereka dan satunya lagi untuk orang lain yang menemani presiden atau ajudanya. Kedua kamar mandi tersebut dilengkapi fasilitas dan furniture.
Di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terdapat sebuah taman tempat warga Ibu Kota sejenak melepas penat. Taman itu bernama Martha Tiahahu.
Sejarah soal pejuang perempuan asal Maluku tersebut jarang diketahui. Literatur mengenai sosoknya pun terbilang langka.
Salah satu sumber yang kerap menjadi rujukan adalah buku berjudul Martha Christina Tiahahu yang disusun L.J.H. Zacharias terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1984.
Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.
Martha tumbuh besar di tengah perubahan situasi politik di Maluku. Belanda, yang kekuasaannya di Maluku sempat digantikan Inggris antara 1810-1816, kembali berkuasa sesuai hasil Traktat London.
Berdasarkan penelitian literatur Humaidi, selaku dosen program studi Pendidikan Sejarah dari Universitas Negeri Jakarta, berkuasanya Belanda menimbulkan ketidakpuasan rakyat Maluku karena rakyat dipaksa menanam cengkih dan pala, pohon-pohon ditebang, dan para pemuda dipaksa masuk dinas kemiliteran.
Ketidakpuasan membuat seorang pria bernama Thomas Matulessy dan kawan-kawannya mengadakan rapat pada 3 Mei 1816 dengan kesimpulan memulai gerakan perlawanan.
Setelah mengobarkan semangat perlawanan, pada 14 Mei 1817 diadakan pertemuan untuk memilih pemimpin perjuangan.
Kapiten Paulus Tiahahu dan kapiten-kapiten di sekitar Saparua lantas memercayakan komando kepada Kapiten Pattimura.
“Thomas Matulessy alias Pattimura adalah bekas sersan Mayor dari tentara milisi Inggeris,” tulis Mattijs Sapija dalam Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia (1960: 201).
Tapi, berdasarkan catatan literatur, dalam pertemuan itu Kapiten Paulus Tiahahu juga meluluskan keinginan putrinya untuk ikut serta bergabung dengan pasukan perjuangan Pattimura.
Bahkan, Paulus mengajukan permintaan khusus kepada Pattimura:
“Saya akan turut serta dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda. Hanya ada satu permintaan, yaitu ijinkan anak saya Martha Christina ikut mendampingi saya dalam medan pertempuran. Ia telah memohon dengan sangat agar diperkenankan memanggul senjata saya dan terus mendampingi saya,” kata Paulus sebagaimana dicantumkan dalam buku yang disusun L.J.H. Zacharias.
Thomas Matulessy mengizinkan Martha ikut berjuang. Sejak saat itu, pada usia 17 tahun, Martha Christina Tiahahu mulai bergabung dalam gerakan perlawanan.
Humaidi, dosen program studi Pendidikan Sejarah dari Universitas Negeri Jakarta, menilai itulah tonggak sejarah dalam perjuangan rakyat Maluku melawan penjajah Belanda.
“Bayangkan, seorang remaja perempuan di dalam masyarakat patriarkat, turut bertempur. Itu tidak hanya menunjukkan kegigihan Martha Christina, tapi juga semangat rakyat Maluku yang mengerahkan segala kemampuan untuk berjuang. Tidak lagi pandang gender dan agama,” kata Humaidi, sekaligus merujuk beberapa teman seperjuangan Pattimura yang beragama Islam dan Kristen.
Perlawanan Martha Christina dan beragam elemen pasukan yang dikomandoi Pattimura berhasil.
Benteng Duurstede jatuh ke tangan pasukan Pattimura pada 17 Mei 1817.
Akan tetapi, Belanda melawan balik. Beberapa bulan kemudian, Belanda menangkap Pattimura dan melancarkan serangan umum. Martha memimpin pasukan tempur perempuan dengan ikat kepala melingkar.
“Dalam suasana pertempuran bukan saja ia telah menolong memikul senjata ayahnya, tetapi juga telah ikut serta dengan pemimpin perang mengadakan tarian perang dan telah memperlihatkan kecakapan, keberanian dan kewibawaannya,” ujar perwira Belanda Verheul yang dikutip L.J.H Zacharias dalam bukunya.
Beberapa kapiten ditangkap, termasuk Paulus Tiahahu dan anaknya Martha.
Dalam pemeriksaan pada 15 November 1817, Paulus dijatuhi hukuman mati.
17 November, Paulus Tiahahu dieksekusi hukuman mati di Nusa Laut. Adapun Martha Christina, karena umurnya dianggap masih muda, tidak dijatuhi hukuman mati. Martha berusaha membujuk para pejabat Belanda agar dirinya menggantikan ayahnya dalam menjalani hukuman.
Akhir Desember 1817, kapal Eversten mengangkut Martha Christina ke Pulau Jawa untuk diperkerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Dia mogok makan, mogok pengobatan dan menolak berkomunikasi.
Kesehatannya memburuk dan wafat pada 2 Januari 1818 dalam perjalanan ke Jawa, tepatnya di antara Pulau Buru dan Manippa. Jasadnya dibuang di Laut Banda.
Surat Keputusan Presiden RI Nomor 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai pahlawan nasional.
Bukan balatentara Jepang yang pertama kali memperkenalkan Jenderal TNI Ahmad Yani pada dunia militer, melainkan tentara kolonial KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger).
Namun, ketika menjadi sersan KNIL, Yani punya pengalaman tak terlupakan: berkelahi dengan seorang Belanda yang tubuhnya lebih besar. Pemicunya, orang Belanda itu memaki ayah Yani. Tentu saja perkelahian itu tidak seimbang.
Di tengah perkelahian, seorang kopral KNIL melintas. Bukannya membantu orang Belanda atau melerai perkelahian, kopral asal Ambon bernama Lopias itu malah membantu Yani. Pada dasarnya orang Ambon memiliki rasa setiakawan yang tinggi.
“Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya, atau teman-temannya terancam, dan bersikap spontan tanpa memahami permasalahannya dahulu dalam mengambil keputusan,” catat Ernest Utrecht dalam Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie. Dalam kasus Yani, orang Ambon rupanya bisa setiakawan kepada siapa saja yang lemah.
Buntut perkelahian itu membuat Kopral Lopias harus menanggung akibatnya. Pangkatnya diturunkan petinggi militer KNIL. Yani sendiri melanjutkan hidup dan bertahun-tahun lamanya tak bertemu penolongnya itu.
Yani beruntung punya ijazah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, kini setara SMP) dan sempat masuk Algemeene Middelbare School (AMS, kini setara SMA) milik lembaga Kristen di Jakarta. Dia putus sekolah lalu masuk KNIL. Pemerintah kolonial Belanda membuka peluang bagi orang Indonesia masuk KNIL untuk persiapan menghadapi Perang Dunia II.
“Ia diterima menjadi Aspirant pada dinas topografi militer itu pada tahun 1940, lalu mengikuti pendidikan Aspirant Militaire Topografische Dienst di kota Malang selama 6 bulan. Setelah lulus diangkat (menjadi) sersan cadangan dan ditempatkan di Malang untuk beberapa bulan lamanya,” kata Yayuk Ruliah Sutodiwiryo, istri Yani, dalam Ahmad Yani, Sebuah Kenang-kenangan.
Amelia Yani, putri Yani, dalam Ahmad Yani: Profil Seorang Prajurit TNI menyebut gaji Yani sebagai sersan topografi KNIL sebesar 120 gulden.
Sekitar awal 1940-an, angka itu cukup besar. Sebagai perbandingan, Raden Soeprono dalam otobiografinya, Selangkah Tapak Tiga Zaman: Mahasiswa Pejuang Kedokteran menyebut, antara 1930 hingga 1942, harga emas tiap gram berkisar 1,5 hingga 2 gulden. Satu gulden senilai 100 sen. Waktu itu, harga beras sekitar 6 sen tiap liter dan pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak berani menaikan harganya.
“Pada zaman itu targetnya sersan. Rasanya kalau sudah jadi sersan sudah merupakan prestasi yang dapat dibanggakan,” kata Soegih Arto, mantan Jaksa Agung, dalam Sanul Daca.
Maksud Soegih Arto, menjadi sersan merupakan pencapaian yang cukup baik bagi kebanyakan orang Indonesia. Kala itu, jarang pemuda pribumi punya ijazah SMA dan karenanya sedikit sekali pemuda Indonesia jadi perwira KNIL. Sedangkan untuk sersan, ijazah SD saja sudah cukup. Soeharto contohnya.
Masa-masa Yani menikmati gaji 120 gulden tidak lama. Sebab, pertahanan Hindia Belanda sangat buruk dalam mengantisipasi serbuan kilat balatentara Jepang. Yani sempat mengalami pertempuran di daerah Ciater. Setelah pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada tentara Jepang pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Yani harus menganggur.
Di zaman Jepang, Yani diterima sebagai calon perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Dia menjalani pelatihan di Bogor. Setelah lulus, dia menjadi komandan peleton (shodancho) lalu komandan kompi (chudancho) di Purworejo, daerah asalnya.
Setelah Indonesia merdeka, karier militer Yani melesat. Sepanjang revolusi 1945–1949, dia termasuk letnan kolonel TNI yang memimpin brigade di Jawa Tengah. Seperti juga Soeharto.
Di awal era 1950-an, Yani termasuk panglima penumpasan DI/TII di Jawa Tengah. Dia merintis pasukan Banteng Raiders di Jawa Tengah. Di akhir era 1950-an, dia sekolah staf di Amerika Serikat, kemudian berhasil menumpas pemberontakan PRRI di Sumatra.
Puncak karier militer Yani menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat dari 1962 hingga 1965. Dia menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) ketika dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Semasa hidupnya, Yani tergolong orang yang tidak lupa pada masa lalunya. “Di kemudian hari, bertahun-tahun kemudian, ketika pemuda Yani itu telah menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat, dalam suatu perjalanan inspeksinya ke wilayah Indonesia Timur, dapat mengenali kembali penolongnya ini (Kopral KNIL Lopias) dan berkesempatan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya,” kata Yayuk Ruliah.
Henriette Latuharhary, istri Letnan Jenderal TNI Josef Muskita yang pernah jadi pembantu Yani, pernah mengatakan bahwa Yani sangat sayang kepada orang Ambon
Kassian Cephas adalah fotografer pribumi yang pertama di Indonesia. Sayang sekali namanya berpuluh-puluh tahun tenggelam dan nyaris tak dikenal di negerinya sendiri. Namanya memang tidak seharum dan melekat di benak banyak orang seperti nama Wahidin Sudirohusodo atau KH. Dewantara yang sama-sama berasal dari Yogyakarta dan hidup satu jaman dengannya. Walau begitu kita harus berterimakasih kepada Kassian Cephas karena memiliki peran dan jasa besar dalam sejarah keberadaan fotografi di negeri ini. Kalau saja pada bulan Juni 1999 tidak diselenggarakan pameran foto-foto karya Kassian Cephas di Keraton Yogyakarta, Nama Kassian Cephas mungkin tidak diketahui banyak orang di Indonesia.
Kassian Cephas lahir di Yogyakarta tanggal 15 Februari 1844 dari pasangan Kartodrono dan Minah, beliau asli pribumi yang kemudian diangkat anak oleh pasangan Adrianus Schalk dan Etaphilipina Kreeft. Nama Kassian Cephas mulai terlacak dengan karya fotografi tertuanya buatan tahun 1875. Kassian Cephas belajar fotografi dari Simon Willem Cemerik, fotografer Belanda untuk urusan pemerintahan Sultan Yogyakarta pada saat itu. Nah selain Simon, Kassian Cephas juga menimba ilmu fotografi dari Isaac Groneman (dokter resmi Sultan Hamengkubuwono VI). Orang ini jenius, Penasaran dan sangat kreatif, dengan peralatan dan teknologi fotografi yang masih sangat minim pada saat itu, Kassian dapat menghasilkan foto-foto yang indah dan diakui oleh dunia. Foto-foto Kassian selalu memiliki ciri dan konsep yang sangat orisinil.
Cephas memiliki sebuah studio foto di daerah Loji Kecil yang sekarang letaknya berada di Jalan Mayor Suryotomo dekat Sungai Code di Jawa Tengah. Cephas pun mempunyai seorang asisten foto yang bernama Damoen. Nama Cephas semakin bersinar ketika Isaac Groneman yaitu seorang dokter resmi sultan asal belanda memujinya di sebuah artikel yang ia tulis untuk untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada tahun 1884. Kemudian Cephas bergabung dengan sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Isaac Gronemandan J.W. Ijzerman mendirikan Vereeniging voor Oudheid-, Land,- Taal- en Volskenkunde te Yogjakarta (Union for Archeology, Geography, Language and Etnography of Yogyakarta) pada tahun 1885 ( yang selanjutnya disebut Vereeniging voor Oudheid). Karir Cephas pun semakin meningkat ketika ia bergabung dengan perkumpulan tersebut. Terbukti ketika karya – karya foto Cephas masuk ke dalam dua buah buku yang dibuat oleh Isaac Groneman, In den Kedaton te Jogjakarta dan De garebeg’s te Ngayogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di kota Leiden pada tahun 1888. Inden Kedaton berisi tulisan dan gambar collotypes tarian tradisional Jawa. Sedangkan De garebeg’s berisi tulisan dan gambar upacara Garebeg. Semua gambar foto collotype dibuat Chepas atas ijin dari Sultan Hamengkubuwono VII. Kompilasi karya Cephas pun kemudian dijadikan souvenir bagi kaum elit eropa yang akan pulang ke negaranya serta kaum pejabat baru belanda yang mulai bertugas di Kota Yogyakarta.
Pada masa Kesultanan Yogyakarta diperintah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Kassian Cephas diangkat sebagai fotografer keraton. Dalam kedudukannya sebagai fotografer Keraton, ia dapat memotret berbagai peristiwa budaya atau momen – momen khusus yang diadakan didalam Keraton. Ketika pada tahun 1889-1890 pemerintah kolonial Belanda melalui Archaeologische Vereeniging atau Archeological Union (AVAU) di Yogyakarta melakukan proyek penelitian di kompleks Candi Prambanan (Candi Loro Jongrang), Kassian Cephas dipercaya untuk membantu pemotretan. Saat AVAU melakukan penggalian dasar Candi Borobudur, Kassian Cephas juga dilibatkan. Selama proyek penggalian dasar candi itu berlangsung, ia menghasilkan sedikitnya 300 lembar foto.
Pada saat Cephas berumur 60 tahun, beliau mulai pensiun dari bisnis fotografi yang digelutinya. Tanggal 16 November 1912 menjadi hari yang bersejarah, Kassian Cephas meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Cephas dimakamkan di Kuburan Sasanalaya yang terletak antara pasar Beringharjo dan Loji kecil. Begitulah sekelumit episode singkat tentang kehidupan Kassian Cephas, seorang pahlawan fotografi indonesia yang menjadi legenda. Yang ironisnya kadang dilupakan oleh sebagian individu yang menyebut dirinya fotografer indonesia.
Kerajaan Islam Negeri Saribas telah ditubuhkan pada tahun 1560. Pada abad ke-17, seorang putera daripada pewaris Datuk Basa Ampek Balai Minangkabau telah mula tiba di Tandang Sari sampai ke Sarawak.
Beliau yaitu Raja Umar Bin Datuk Bendahara Harun atau Dikenal sebagai DATO GODAM yang berasal daripada Negeri Minangkabau, telah berlayar membawa diri ke Saribas kerana kecewa dengan kegagalan dalam pemilihan menjadi pewaris ayahandanya. Perlayarannya ke Saribas (1660M) telah mempertemukannya dengan Temenggung Abdul Kadir pengiran dari Brunei yang telah melepaskan diri daripada Kerajaan Brunei kerana telah membuat penentangan keatas istana. Dato Godam telah diberikan persyaratan untuk membawa puteri Temenggung Kadir untuk pulang ke Saribas (Sanib.S, 2013), (Mohd Zulfitri,). Dipendekkan cerita, Dato Godam telah mempunyai anak bersama puteri Temenggung Abdul Kadir di Saribas. Salah seorang Putera Dato Godam bernama Abang Abdul Rahman telah kunjung dewasa. Abang Abdul Rahman telah disuruh pulang oleh ayahandanya ke Pagarruyung minangkabau untuk bertemu bapak saudaranya Dato Bendaharo Putih. Datuk Bendaharo putih mengurniakan Pedang Jenawi kepada anak saudaranya untuk tanda sebagai Putera Minang sejati. Temenggung Kadir sakit tua dan Abang Drahman pulang semula ke Saribas membawa jenawi sekali bersamanya. Temenggung Kadir pembuka kepada Kerajaan Melayu Negeri Saribas telah mangkat lalu digantikan dengan Dato Godam sebagai pengganti Raja di Saribas. Bermula lah zaman pemerintahan daripada keluarga Minangkabau dari Pagarruyung di Saribas dan Abang Drahman sebagai Raja Muda. Alat kebesaran Minangkabau yang dibawa dari Pagarruyung seperti Jenawi, Bendera, dan alat-alat kebesaran lain seperti gong dan tombak digunakan di Saribas sebagai alat kebesaran Negeri (Sanib.S, 2013), (Mohd Zulfitri,2023). Bermulalah masa pemerintahan dan kekuasaan sebuah Kerajaan Minangkabau di Sarawak.
SARIBAS merujuk kepada Masyarakat Melayu yang tinggal di kawasan Bahagian Betong di Sarawak. Nama asalnya adalah SARIBAS namun pada tahun 1991 telah ditukarkan menjadi Betong. Bahasa yang digunakan oleh Orang Melayu Saribas adalah 80 peratus menyamai bahasa Minangkabau.
Menurut Mohd Zulfitri, di SARIBAS terdapat (iaitu kawasan Betong) penduduk Melayu Saribas seramai 36,758 (atau 59.16 peratus), diikuti penduduk Iban seramai 21,785 (atau 35.06 peratus), dan penduduk Cina hanya 2,415 (atau 3.88 peratus) tidak termasuk yang sudah pergi merantau ke luar. Berbanding data demografi 1970, peratusan orang Melayu di Sungai Saribas telah meningkat daripada 45.9 peratus kepada 59.16 peratus (Jabatan Perangkaan Malaysia 1981). Membandingkan profil demografi ini dengan keseluruhan penduduk Sarawak mendedahkan perbezaan yang besar.
Antara tokoh-tokoh yang lahir daripada susur galur orang Minang dari Saribas adalah seperti Premier Sarawak dan Ahli Dewan Undangan Negeri N. 35 SARIBAS YB Mohd Razi Bin Sitam.
Ketika membuka atlas, ada hal yang mengherankan, ada nama “asing” dalam peta pulau Kalimantan. Ternyata, dia penjelajah di masa kolonial yang tidak ingin dihilangkan jasa-jasanya begitu saja.
Sejarah nama Muller-Schwaner Lebih dari satu setengah abad yang lalu, seorang ahli geologi, biologi dan petualang bernama gustaaf Adolf Frederik Molengraaff (1860-1942) menamakan wilayah ini dengan sebutan Pegunungan Muller dan Pegunungan Schwaner, yang ditujukan sebagai penghargaan bagi dua orang penjelajah Borneo yang berhasil melakukan ekspedisi yang luar biasa melintasi rimba Borneo yang nyaris tak pernah dimasuki oleh penjelajah sebelumnya (pristine forest). Mayor Georg. Muller, pimpinan misi pemerintahan Kerajaan Belanda, pada tahun 1825 melakukan ekspedisi melintasi Hutan Borneo dari ujung timur hingga ujung barat. Tujuh belas tahun kemudian, seorang petualang berkebangsaan Jerman, C.A.L.M. Schwaner, melakukan dua rangkaian ekspedisi (1843 dan 1848) melintasi Borneo dari bagian selatan hingga barat Borneo.
~Cakupan Kawasan dan Fungsi Muller – Schwaner~ Luas keseluruhan kawasan pegunungan ini adalah sekitar 2.252.000 hektar, yang tersusun dari tipe hutan primer dan sekunder. Secara administrative, kawasan Muller – Schwaner berada di tiga Provinsi, yaitu : Kalimantan Barat (Kab. Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu), Kalimanan Tengah (Kab. Murung Raya, Gunung Mas, dan Katingan), dan kalimantan Timur (Kab. Kutai Barat). Status fungsi kawasan hutan Muller – Schwaner meliputi Hutan Lindung, yaitu Bukit Batikap (Kalteng) dan Pangihan Lambuanak (Kalbar) yang pengelolaannya berada dalam kewenangan pemerintah daerah (dinas Kehutanan); serta sebagian Hutan Produksi (HP) dan HP Terbatas.
Kawasan Muller – Schwaner, dengan beragam sumber daya alam yang dikandungnya, tidak dapat dipungkiri lagi fungsi dan peranannya dalam mendukung keberlangsungan hidup masyarakat adat lokal. Beratus-ratus tahun lamanya masyarakat adat (suku dayak) memenuhi kebutuhan hidup, agama, dan tradisibudayanya dari pemanfaatan kawasan ini. Suku dayak terbagi dalam 11 dialek merupakan masyarakat yang dikenal arif dalam pemanfaatan sumber daya alam (hutan). Pegunungan Muller yang bersambungan dengan Pegunungan Schwaner merupakan kawasan tangkapan air bagi sungai-sungai besar di Kalimantan dan berperan sebagai “menara air” di jantung Pulau Borneo. Singai-sungai besar itu antara lain Sungai Kapuas, Katingan, Kahayan, Barito, dan Mahakam.
~Nasib Malang Mayor Muller~ Georg Muller, seorang perwira zeni dari tentara Napoleon I, sesudah Waterloo masuk dalam pamongpraja Hindia Belanda. Mewakili pemerintah kolonial, ia membuka hubungan resmi dengan sultan-sultan di pesisir timur Borneo. Pada tahun 1825, kendatipun Sultan Kutai enggan membiarkan tentara Belanda memasuki wilayahnya, Muller memudiki Sungai Mahakam dengan belasan serdadu Jawa. Hanya satu serdadu Jawa yang dapat mencapai pesisir barat.
Berita kematian Muller menyulut kontroversi yang berlangsung sampai tahun 1850-an (van Kessel 1849-55, van Lijnden & Groll 1851, Veth 1854-56, Hageman 1855), dan dihidupkan kembali sewaktu-waktu setiap kali informasi “baru” muncul (Molengraaff 1895, Nieuwenhuis 1898 dan 1900, Enthoven 1903). Sampai tahun 1950-an pengunjung-pengunjung daerah itu masih juga menanyakan nasib Muller (Helbig 1941, Ivanoff 1955).
Sampai hari ini hal-hal sekitar kematian Muller belum juga terpecahkan. Memang, daerah ini tetap merupakan terra incognita sampai 1894. Namun diperkirakan Muller telah mencapai kawasan Kapuas Hulu dan dibunuh sekitar pertengahan November 1825 di Sungai Bungan, mungkin di jeram Bakang, tempat ia harus membuat sampan guna menghiliri Sungai Kapuas – pada saat itu ia berada hanya beberapa hari pelayaran dari tempat yang aman. Sangat mungkin bahwa pembunuhan Muller dilakukan atas perintah Sultan Kutai – disampaikan secara berantai dari satu suku kepada suku berikutnya di sepanjang Mahakam – dan akhirnya dilaksanakan oleh sebuah suku setempat, barangkali suku Aoheng (menurut dugaan Nieuwenhuis). Karena Muller dibunuh di pengaliran Sungai Kapuas, dengan sendirinya Sultan tidak dapat dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Bagaimanapun, ketika ekspedisi Nieuwenhuis berhasil melintasi daerah perbatasan hampir 70 tahun kemudian – pada hari nasional Perancis tahun 1894 – barisan pegunungan ini diberi nama Pegunungan Muller.
(Sumber: • buku “Nakhoda, Leadership Dalam Organisasi Konservasi” oleh Wiratno via halamanagus.blogspot.com • suarakaltim.com)
Pejuang kemerdekaan Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun 1961. Bersama istrinya, Zaenatun Nahar, mereka berdua adalah contoh orangtua yang berhasil mendidik sendiri anak-anaknya di rumah. Tanpa sekolah.
Sumber Foto: tirto.id
Dari delapan anaknya—Theodora Atia (Dolly), Jusuf Tewfik Salim (Totok), Violet Hanifah (Jojet), Maria Zenobia (Adek), Ahmad Sjewket Salim, Islam Basari Salim, Siti Asiah (Bibsy), dan Mansur Abdur Rachman Ciddiq—hanya si bungsu yang disekolahkan secara formal.
Ketujuh anaknya dididik sendiri di rumah atau yang saat ini dikenal dengan homeschooling. Mirip situasi kini: belajar di rumah saat krisis Covid-19.
Alasan Homeschooling Agus Salim Seperti ditulis kompas.com, pada awal abad ke-20, hampir semua tokoh bangsa Indonesia menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang paling tinggi. Meskipun itu sekolah kolonial yang dikendalikan pemerintah Hindia Belanda. Bahkan tak sedikit yang menyekolahkan anak hingga ke luar negeri.
Tapi, pemilik nama lahir Mashudul Haq kelahiran Agam, Sumatera Barat, ini memiliki pandangan berbeda dengan para pemimpin bangsa yang hidup sezaman. Dia memilih mendidik anak-anaknya di rumah.
Padahal, dia sendiri menempuh jenjang pendidikan formal. Agus Salim pernah meraih prestasi sebagai lulusan terbaik Hogere Buger School (HBS) tahun 1903 di tiga kota besar, yakni Batavia, Semarang, dan Surabaya.
HBS adalah sekolah menengah setara SMA milik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang hanya menerima siswa berkebangsaan Belanda atau Eropa dan beberapa siswa pribumi yang orangtuanya terpandang atau punya pangkat.
Namun, usai lulus HBS, harapan Agus Salim mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Belanda yang sangat diimpikannya kandas. Gara-garanya, ia seorang pribumi.
Pengalaman pahit itulah yang menurut kompas.com membuat Agus Salim akhirnya kecewa dan memutuskan agar anak-anaknya tidak masuk pendidikan kolonial.
Alasan Ideologis
Mengutip buku Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa (KPG, 2013), Agus Salim tidak menyekolahkan anaknya karena alasan ideologis.
Dia menganggap pendidikan saat itu adalah sistem pendidikan kolonial. Agus Salim tidak ingin anaknya dicekoki pemikiran dan kebudayaan penjajah.
Dia juga menilai pendidikan saat itu amat diskriminatif. Seperti pemberian nilai rendah bagi pribumi meskipun kemampuan mereka sama atau bahkan melebihi orang Belanda.
Agus Salim juga menilai sekolah Belanda bukan mendidik kemandirian jiwa, melainkan kepentingan penjajah. “Jiwa tak diberi kebebasan tumbuh sesuai jiwa masing-masing anak didik,” kata Emil Salim—mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup era Orde Baru—menggambarkan alasan pamannya itu.
Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, Agus Salim menyekolahkan anak bungsunya—Mansur Abdur Rachman Ciddiq yang lahir pada tahun 1939—ke sekolah formal. Dia menilai, meskipun masih diawasi Jepang, sekolah Indonesia kala itu sudah tak lagi bersifat kolonial.
Tekad Agus Salim tidak menyekolahkan anaknya secara formal itu sudah diucapkan sebelum anak-anaknya lahir. “Nanti kalau kita punya anak tidak akan kita sekolahkan mereka,” kata Bibsy—anak ketujuh—menirukan ucapan Agus Salim seperti dituturkan ibunya. “Dan Ibu menerima itu”.
Keputusan Agus Salim itu dianggap aneh oleh kerabat dan tetangga. Sebab di masa itu, anak yang tak sekolah formal dianggap aneh dan tak wajar. Apalagi Agus Salim orang terpelajar dan berpendidikan tinggi.
Begini Haji Agus Salim Mendidik di Anaknya di Rumah
“Tidak ada kelas dan jam pelajaran yang mengikat,” kisah Siti Asiah alias Bisby, anak ketujuh Agus Salim, menceritakan bagaimana ayah-ibunya mengajar di rumah. Belajar bisa dilakukan di mana saja di rumah. Bisa di beranda atau di ruang tamu.
Dia menceritakan, ibunya mengajar dia membaca, menulis, dan berhitung. Sedangkan ayahnya mengajarkan segala hal. “Pelajaran membaca dan berhitung disampaikan dengan santai, seolah-olah kami sedang bermain,” kata Bisby.
Dikisahkan, Agus Salim dan Zaenatun Nahar memulai memberi pelajaran kepada anak-anaknya sejak lahir. Keduanya mengajak anak-anak berbicara bahasa Belanda sejak lahir. Saat itu bahasa Belanda penting karena menjadi bahasa sehari-hari kalangan terpelajar. Juga bahasa ilmu pengetahuan.
Soal efektivitas pendidikan anggota BPUPKI itu diakui tokoh Masyumi Mohamad Roem. Suatu hari ia datang ke rumah sahabat dekatnya itu.
Saat itu, Ahmad Sjewket Salim, anak kelima, keluar dari kamar tidurnya dan meminta ayahnya menggaruk punggungnya. “Bocah empat tahun iu sudah bisa berbahasa Belanda dengan baik,” komentar Roem.
Bisby mengungkapkan, ayah dan ibunya mengajar dengan memberi tahu sesuatu, bercerita, dan menyanyikan lagu yang liriknya sajak-ajak pujangga dunia.
Pelajaran sejarah misalnya, disampaikan seperti tengah membacakan buku cerita. Dengan begitu, kata Bisby, dia tertarik mencari ilmu sendiri lewat berbagai cara—termasuk lewat buku-buku yang disediakan di rumah.
“Di rumah selalu ada buku, karena kaka-kaka saya adalah anggota perpustakaan,” kata Bisby seperti dikutip buku Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa.
Tekankan Daya Kritis
Meski begitu, ayah-ibunya tak mengharuskan dia membaca ini-itu. Saat dia berusia sekitar 11 tahun, di atas meja kecil di dalam kamarnya terdapat buku cerita Little Red Riding Hood, yang merupakan terjemahan bahasa Prancis, Le Petit Chaperon Rouge, karya Charles Perrault.
Isinya tentang seorang anak kecil berjubah merah dan seekor serigala. “Dari buku itu, saya belajar tentang suatu masa di zaman dahulu kala,” ujarnya. “Saya senang bisa menemukan hal-hal baru dari buku itu.”
Mengutip tirto.id, Agus Salim menerapkan sikap terbuka dan memberi bimbingan sebaik-baiknya dalam mendidik putri-putrinya. Saat mengajar, ia tak keberatan dibantah. Dalam menerangkan persoalan, ia tak akan berhenti sebelum anak-anaknya paham.
Agus Salim juga memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya, mengkritik, bahkan membantah jika tak sependapat dengan apa yang ia sampaikan.
Tampaknya ia punya cara jitu yang merangsang anak-anaknya untuk tidak hanya menerima pelajaran saja. Dia ingin para “muridnya” memiliki daya kritis. Agus Salim sendiri dikenal sebagai sosok vokal dan jago debat berjuluk singa podium.
Meski pekerjaan dan kegiatan politiknya amat padat, tapi ia memastikan waktunya tersedia untuk mengajar anak-anak. Biasanya saat makan pagi, siang, atau malam.
Sambil makan, dia bercerita hingga berjam-jam. “Karena pandai berhumor, pembicaraannya memikat dan tak membosankan,” kata Solichin Salam ditulis Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (KPG-Tempo, 2013).
Dia juga tak pernah marah. Kepada Solichin-penulis tokoh-tokoh sejarah, istri Agus Salim sempat menceritakan sikap suaminya dalam pendidikan anak-anaknya. “Kami dilarang memberikan kualifikasi kepada anak-anak, misalnya, ‘kamu nakal’ atau ‘kamu jahat’, itu tidak boleh.”
Prinsip dasarnya membuat anak-anak menjadi senang dan bukan semata-mata membuat mereka pintar. Intinya, dia menghendaki agar pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak tak terkekang oleh kehendak dan perintah orangtua.
Orangtua hanya berkewajiban membimbing dan menuntun. Kebebasan diberikan untuk memberi kesempatan tumbuh-kembang jiwa serta bakat anak secara wajar.
Hasil Didikan di Rumah
Nah, dengan model pendidikan itu, anak-anak Agus Salim meraih sukses dalam hidup mereka. Putri sulungnya, Theodora Atia, aktif dalam Gerakan Wanita Islam dan organisasi Lembaga Indonesia Amerika.
Jangan heran atas kesuksesan itu. Dolly sapaan akrabnya, pada umur enam tahun sudah menggemari bacaan-bacaan anak remaja, semisal kisah-kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister.
Anak Kedua, Jusuf Taufik Salim, pernah bekerja pada Inter Visa, sebuah biro iklan, dan kemudian menjadi penerjemah.
Di usia 10 tahun, ia sudah merampungkan bacaan Mahabarata yang ditulis dalam buku berbahasa Belanda. Tidak hanya membaca, Totok—sapaannya—bahkan piawai menjelaskan makna yang terkandung dalam epos kepahlawanan India nan legendaris itu.
Islam Basari Salim, anak keenam, menjadi tentara dengan pangkat kolonel dan pernah menjabat atase militer Indonesia di Cina.
Semasa kecinya, Islam Basari Salim yang sangat lancar berbahasa Inggris membuat jurnalis Belanda Jef Last terkaget-kaget saat itu.
Melihat Jef Last terkaget-kaget dengan rasa tidak percaya, Agus Salim berujar: “Apakah Anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris, dan Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.”
Sementara itu Bisby bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebelum menikah dengan Soenharjo, mantan konsul di Jepang. Bibsy juga pernah bekerja di perusahan asing dan dikenal sebagai penyair.
Pada 1998, dia meluncurkan antologi Hearts & Soul, kumpulan puisi yang ditulis sepanjang 1962-1998.
Dalam antologi tersebut, dari 50 sajak, tercatat 11 sajak ditulis dalam Bahasa Indonesia, dua dalam Bahasa Prancis, dan sisanya dalam Bahasa Inggris.
Bibsy, yang mulai aktif menulis puisi sejak 1962, memang seorang poligiot—mampu menguasai banyak bahasa—seperti halnya sang ayah.
Seperi ditulis tirto.id, Agus Salim menguasai banyak bahasa bangsa lain. Di antaranya Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Arab, dan Turki.
Tulisan Begini Haji Agus Salim Mendidik Anaknya di Rumah semoga menginspirasi! (*)
Opsi perang tak pernah dianggap sebagai ujung tombak mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kemampuan militer Indonesia yang terbatas jadi muaranya. Pemimpin bangsa pun bersiasat. Diplomasi dimajukan sebagai strategi. Sutan Sjahrir ada di baliknya. Langkah itu efektif. Diplomasi banyak membuka dukungan internasional. Republik Sosialis Soviet Ukraina, salah satunya. Dukungan Ukraina pada 1946 berarti sekali bagi Indonesia. Berkatnya, Indonesia langgeng sebagai negara merdeka.
Fase awal kemerdekaan Indonesia adalah periode penuh kesukaran. Fondasi pemerintahan baru tak cukup kuat untuk menahan laju keinginan Belanda menguasai Indonesia kali kedua. Apalagi, Indonesia sendiri belum kuat secara institusional ataupun kekuatan militer. Karenanya, opsi mengangkat senjata untuk mengakhiri dominasi Belanda tak pernah dianggap ujung tombak.
Sebagai gantinya, pemerintah hanya dihadapkan oleh pilihan: menghindari sikap permusuhan atau hancur lebur dalam peperangan. Semua itu karena Belanda dalam panji Netherland Indies Civil Administration (NICA) telah membonceng sekutu, Inggris. Demi memuluskan agenda penjajahan, pikirnya.
Boleh jadi narasi perang terus dikobarkan. Tapi perang bukan satu-satunya solusi. Pemimpin Indonesia pun segara putar otak. Sutan Sjahrir, utamanya. Diplomasi dipilihnya sebagai kunci utama untuk Indonesia bisa menjaga kemerdekaan. Artinya, diplomasi dapat menjadi kunci bagi kelangsungan hidup negara baru: Indonesia.
Langkah itu lalu memantik perdebatan. Banyak pihak yang tak setuju upaya diplomasi dijadikan ujung tombak. Sebab, perang adalah jalan satu-satunya mengusir penjajah. Namun, Sutan Sjahrir menganggap sepi saja komentar yang mengkritik langkahnya. Bung Sjahrir tetap menjalankan agenda diplomasinya untuk mencari dukungan dunia. Upaya itu besar artinya bagi Indoensia.
“Menoleh kembali ke tahun-tahun pertama peperangan kemerdekaan kita, saya kini (meskipun waktu itu sebagai seorang muda juga sering merasa tidak sabar dengan politik perundingan) tak begitu yakin dengan sikap kawan-kawan yang menganut ‘paham keras.’ Saya kini cenderung membenarkan politik yang digariskan Bung Sjahrir pada masa itu.”
“Cobalah bayangkan dengan kekuatan persenjataan apa kita pada masa itu akan dapat menghadapi kekuatan perang Inggris dan Belanda, yang menguasai udara dan lautan, angkatan perang serikat yang baru tampil penuh kemenangan gemilang dari sebuah peperangan dunia? Kini setelah kita tidak perlu menghadapi bahaya maut lagi, tentu saja mudah mengatakan bahwa politik ‘garis keras’ akan lebih efektif daripada politik perundingan,” ungkap Rosihan Anwar dalam buku Mengenang Sjahrir(2013). #Ukraina Dukung Indonesia
Pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Upaya-upaya diplomasi untuk menghubung Indonesia ke dunia luar dilakukan secara masif. Tujuannya tak lain supaya perjuangan Indonesia untuk merdeka mendapatkan dukungan dari warga dunia. Bung Sjahrir pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia dengan tegas mengungkap Indonesia butuh campur tangan PBB untuk melanggengkan kemerdekaan Indonesia pada 4 Desember 1945.
Sejarawan Rushdy Hoesein mengungkap campur tangan PBB dianggap Bung Sjahrir sbeagai jalan terbaik supaya Belanda segera angkat kaki. Semuanya dalam rangka melanggengkan narasi negara merdeka. Khususnya, supaya jalan kekerasan yang diaplikasikan oleh Belanda terhadap Indonesia segara diakhiri.
Langkah pria yang akrab disapa Bung Kecil berlanjut. Sebuah surat lengkap dengan dokumen-dokumen ditujukan Sjahrir kepada Konferensi PBB yang sedang berlangsung di Church House Westminster, London, Inggris pada 10 Januari 1946.
Isi surat itu antara lain Bung Sjahrir meminta supaya masalah Indonesia segara dibicarakan dalam konferensi. Sjahrir paham benar kemampuan PBB bisa jadi membuat Indonesia mendapatkan dukungan dunia. Gayung pun bersambut. Perdebatan pro dan kontra konflik Indonesia-Belanda dari negera anggota PBB.
Tak mau kalah, Menteri Luar Negeri Belanda, Eelco van Kleffens menanggapi surat Sjahrir dan menantang Indonesia. Ia berbicara usul tersebut akan dipenuhi kalau Indonesia mendapatkan minimal satu negara yang disokong PBB.
Republik Sosialis Soviet Ukraina lalu muncul memberikan dukungan. Dukungan itu sangat berarti bagi Indonesia. Setelahnya dukungan kepada Indonesia mengalir. Sebagai bentuk terima kasih, ralyat Indonesia menggelar pawai yang membawa narasi rasa terima kasih atas Ukraina di berbagai kota. Dua di antara pesan yang paling mengemuka digaungkan dalam pawai itu adalah “Hidoep Manuilsky” dan “Terima Kasih Ukraina.”
“Padahal, dalam kesempatan lain, pada 17 Januari 1946 Van Kleffens, Menteri Luar Negari Belanda, telah mengomentari surat Sjahrir tersebut dan berbicara kepada wartawan bahwa usul Indonesia bisa dibicarakan kalau Indonesia disokong salah satu negara anggota PBB. Tanpa direkayasa, ternyata telah muncul dukungan kuat dari utusan Ukraina di Sidang PBB, yaitu dari Dr. Dmitri Manuilsky.”
“Ia bahkan menyurati Dewan Keamanan, yang juga sedang bersidang di London, yang isinya: Keadaan di Indonesia membahayakan perdamaian dunia. Ini merupakan kemenangan diplomasi awal di dunia internasional bahwa Republik Indonesia atas usaha beberapa anggota utusan, termasuk Dr. Manuilsky akhirnya diusulkan masuk agenda dan bisa dibicarakan dalam Sidang Dewan Keamanan PBB,” tutup Rushdy Hoesein dalam buku Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati (2010).
Hidup bergemilang materi adalah mimpi banyak orang. Proses mencapainya berbeda-beda. Ada yang berjuang keras. Ada pula yang mendapatkan kekayaan secara mendadak. Orang-orang itu dicitrakan sebagai orang kaya baru (OKB). OKB telah langgeng sejak zaman Belanda, termasuk sifat-sifat mereka yang identik dengan sok pamer, norak, dan doyan foya-foya. Kekayaan tak menyelamatkan mereka dari perilaku yang tak jauh dari budak.
OKB yang notabene adalah orang Belanda, banyak berseliweran di seluruh wilayah Nusantara sejak abad ke-17. Kebanyakan mereka bukan berasal dari keluarga terhormat, apalagi bangsawan. Mereka adalah kelompok orang Belanda yang terpinggirkan, dipecat, dan berpendidikan rendah.
Namun, setibanya, di Indonesia mereka kemudian memanfaatkan hak istimewa sebagai warga kelas satu di Hindia-Belanda. Senapas dengan itu, orang Belanda mendapatkan akses menjadi kaya raya.
Pemberian hak istimewa itu, kata Sejarawan Hendrik E. Niemeijer adalah hal yang lazim. Sebab, hampir di jalan-jalan Batavia para OKB sering kali mempertontonkan kebiasaan suka pamer kekayaan yang berselera rendahan.
Barang-barang yang dipamerkan tampak beragam. Ada yang memamerkan perhiasaan mahal, kereta kuda, hingga memamerkan berapa banyak budak yang mengiringi mereka.
Lebih lengkap terkait budak sebagai lambang kekayaan orang di zaman Belanda pernah kami ulas dalam tulisan “Ketika Perbudakan jadi Simbol Kekayaan di Nusantara”.
“Yang dimaksud sebagai barang mewah saat itu antara lain adalah busana mahal dan perhiasan yang sering dipakai serta dipertontonkan para warga yang sebenarnya di luar batas kemampuan mereka. Begitu juga pesta makan berlebihan, pesta pernikahan, berbendi ria yang semakin sering dilakukan ketika itu, serta berpayung sutra yang sering dilakukan para warga perempuan. Selain itu, memiliki budak dalam jumlah besar sebagai pembantu rumah tangga juga termasuk memiliki barang mewah,” tulis Hendrik E. Niemeijer dalam buku Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012).
Sebentuk kekayaan itu dianggap oleh OKB sebagai tanda kemakmuran. Lebih lagi, orang Belanda yang terlanjur kaya dikenal suka foya-foya melalui pesta dansa. Lewat aktivitas itu, “kemunafikan” orang Belanda dapat dilihat dalam bidang keuangan.
Sikap ini diyakini adalah bentuk perpaduan aneh dari kebiasaan orang Belanda di tanah airnya yang cenderung pelit, berpadu dengan kebiasaan Portugis di Hindia-Belanda yang cenderung memamerkan kekayaannya.“Pada pesta-pesta atau upacara-upacara yang bisa dilihat orang lain, mereka sangat boros.”
“Namun untuk keperluan lain yang tidak tampak oleh orang banyak, mereka sangat pelit. Mungkin pula sikap ini diambil karena kekayaan pejabat-pejabat kompeni yang banyak tidak halal,” tulis Siswandi dalam buku Ketoprak Jakarta (2001).
Pamer Kekayaan di Societeit
Salah satu bukti keborosan mereka adalah sikap foya-foya dan suka pesta. Kemunculan-kemunculan klub eksklusif seperti Societeit de Concordia dan Societeit de Harmonie di Batavia mendukungnya.
Saking eksklusifnya, klub tersebut tidak dapat diakses oleh sembarang orang, terutama bagi kaum bumiputra dan Belanda miskin yang gajinya dibawah 500 gulden. Kalaupun memaksa, dapat dipastikan Belanda miskin harus bekerja keras selama beberapa tahun agar pangkatnya naik.
Buahnya, mereka termasuk orang penting yang berpesta di Harmonie. Oleh karena itu, Societeit dijadikan sebagai tempat ajang pamer kekayaan. Di sana, para OKB mengobrol, lobi jabatan, dan berpesta.
Ikut kebiasaan budak
Akan tetapi, penghidupan yang mudah itu tak serta-merta mengubah standar peradaban penduduk Belanda di Batavia. Sejak bayi, anak-anak orang Belanda banyak diserahkan ke dalam pengasuhan budak perempuan.
Pengasuhan itu dilakukan budak perempuan karena orang tua Belanda banyak yang tak mampu atau terlalu malas mengasuh anaknya. Imbasnya, boleh jadi anak laki-laki mungkin mendapatkan pendidikan dari guru privat, tapi anak perempuan nyaris tidak belajar apa-apa.
Kadang-kadang bahasa Belanda tak dikuasai sepenuhnya oleh anak-anak Belanda. Alhasil, anak-anak itu banyak menggunakan bahasa campuran Melayu, Portugis, dan Belanda.
Bahasa campuran itu menjadi satu-satunya alat ekspresi anak-anak Belanda seumur hidup, yang mana pengaruh pengasuhan itu membuat kebanyakan anak Belanda menjadi berpikir, bekerja, dan bertingkah laku seperti budak.
“Karena dibesarkan oleh para budak dan mengadopsi tingkah laku mereka, berikut kebiasaan-kebiasaannya. Anak-anak itu mampu berbicara bahasa Malabar, Sinhala, Benggali, dan Portugis itu. Dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka kesulitan berbahasa Belanda dengan baik dan benar, tanpa mencampurkan dengan bahasa Portugis pasar di dalamnnya.” Tutup De Graaf dikutip Jean Gelman Taylor dalam buku Kehidupan Sosial di Batavia (2009).
Pada awal September 2020, Studio Disney resmi merilis film ”Mulan” (yang diperankan artis Liu Yifei). Pada tahun 1740, di pulau Jawa terdapat kisah serupa, dimana seorang gadis Tionghoa yang ikut berperang melawan VOC (Kongsi Dagang; Perusahaan Hindia Timur Belanda) atau kompeni Belanda, dalam peristiwa Perang Geger Pecinan.
Dalam film Mulan, bercerita tentang seorang pahlawan wanita dalam sejarah Tiongkok abad ke-4 Masehi, dimana dia menyamar menjadi seorang lelaki untuk menggantikan ayahnya dalam menjalani dinas militer dan berperang melawan musuh di wilayah utara Tiongkok.
Ternyata di pulau Jawa ada kisah serupa. Kisah ini terjadi pada tahun 1740. Seorang gadis Tionghoa yang bernama Tan Peng Nio, kelak menikah dengan bangsawan Jawa dan ikut berperang melawan VOC Belanda dalam Perang Geger Pecinan.
Perempuan tersebut adalah RA Tan Peng Nio¹, istri dari KRT Kolopaking III¹ (Sulaiman Kertowongso).
Novelis Seno Gumira Aji Darma menyebut Tan Peng Nio sebagai ”Mulan van Java”.
Tan Peng Nio disebut2 sebagai kerabat Kapitan Sepanjang, Panglima Pasukan Tionghoa yang bertugas di bawah Raden Mas Garendi, atau Sunan Kuning dalam perang gerilya melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur pada masa itu.
Keberadaan Tan Peng Nio sebagai seorang petempur perempuan, memberi warna dalam historiografi Nusantara dan Jawa tentang hubungan antara masyarakat Jawa dan Tionghoa sebagai teman seperjuangan.
Sejarawan dari Pura Mangkunegara, KRMH Daradjadi Gondodiprodjo, yang menulis buku Geger Pecinan 1740 – 1743 “Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC“, menjelaskan, Tan Peng Nio menjadi bagian dari pasukan Kapitan Sepanjang, dan bertempur di garis depan dalam perang gerilya masa itu.
Para prajurit Tionghoa yang bergerak bersama para prajurit Mataram (Jawa) sama2 mengenakan busana hitam-hitam, dan bergerak dari satu pertempuran ke wilayah pertempuran lainnya, membuat pihak kompeni Belanda dan tentara bala bantuan yang didatangkan (terutama dari Sumenep, Madura) kewalahan.
Kisah tentang prajurit2 perempuan dan kepiawaian mereka dalam berperang, juga diabadikan dalam ragam tari Bedhaya di Surakarta dan Yogyakarta.
Sebagai contoh, tarian Retno Tinandhing yang diilhami olah gerak prajurit perempuan Jawa, masih ditampilkan di Keraton Surakarta.
Sejarawan Ann Kumar dalam bukunya “Prajurit Perempuan Jawa“, mengutip keterangan utusan VOC dari Batavia, Rijklof van Goens pada pertengahan abad ke-17 di Keraton Mataram di Kartasura, telah menyaksikan kepiawaian ”Prajurit Estri”, yakni 150 prajurit perempuan dalam menggunakan senjata, menyanyi, menari, dan memainkan alat musik.
Selang beberapa waktu kemudian, pada abad ke-18 semasa berjuang dalam Perang Geger Pecinan, Tan Peng Nio berkenalan dengan KRT Kolopaking III, alias Sulaiman Kertowongso.
Keluarga Kolopaking adalah keluarga bangsawan yang berkuasa di wilayah Banyumas, dekat perbatasan Jawa Barat.
Sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, yang mempelajari sejarah Pangeran Diponegoro sejak tahun 1970-an, mengatakan bahwa keturunan keluarga Kolopaking pasca Perang Geger Pecinan (1740-1743), pada masa Perang Diponegoro (1825-1830) juga ikut bertempur bersama Pangeran Diponeogoro.
Menurut Peter Carey, keberadaan prajurit2 perempuan di tanah Jawa dikenal karena kemampuan mereka dalam berkuda dan menggunakan berbagai senjata.
Setelah Perang Geger Pecinan berakhir, diketahui bahwa Tan Peng Nio (yang dinikahi KRT Kolopaking III) telah diberi gelar Raden Ayu (RA) sebagai tanda merupakan bagian dari keluarga bangsawan Jawa, yang menetap di Kutowinangun, Kebumen.
Pada batu nisan (bongpay) RA Tan Peng Nio, terdapat daftar nama anak dari pernikahannya dengan KRT Kolopaking III :
1. KRT Endang Kertawangsa 2. RA Mulat Ningrum dan menantu RA Jati Arum 3. R Tjondro Dahono 4. R Kertalaksana
Daftar nama para cucu :
5. R Kertawangsa Gandawijaya 6. R Kertawangsa Tjandrawijaya 7. RA Eguningrum 8. R Bintara Ajiwijaya 9. R Harjo Jadmiko
KRT Kolopaking III sendiri memiliki wilayah kekuasan di daerah Panjer, Kebumen, Jawa Tengah.
Pada makam RA Tan Peng Nio di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, dibangun dengan gaya makam khas etnis Tionghoa. Makamnya terletak di tengah persawahan, dan masih sering diziarahi orang hingga hari ini.
Raden Ayu Tan Peng Nio sendiri adalah Istri kedua dari K.R.A.T. Kolopaking III (Sulaiman Kertowongso). Ke-4 istri dari Kolopaking III masing2 bernama :
1. Raden Ayu Sekar Mayang Sari (putri Kyai R. Ngabei Reksoprojo II) 2. Raden Ayu Tan Peeng Nio (putri dari Champa², anak dari Jenderal Tan Wan Swee) 3. Raden Ayu Ambini (putri K.R.T. Arung Binan II) 4. Raden Ajeng Sekar Lasih (putri K.R.A. AryoDanurejo II)
Secara tidak langsung, tayangnya film Mulan (2020) bisa menjadi pengingat, bahwa di bumi nusantara ini dulunya terdapat seorang perempuan berdarah Tionghoa, yang pernah ikut berperang bersama pasukan Jawa dalam melawan tentara VOC Belanda pada abad ke-18.
Perang itu berdampak pada perjanjian Giyanti tahun 1757, ketika Keraton Surakarta dan Keraton Yogjakarta berbagi wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Mataram, serta dampak politiknya yang berujung pada Perang Jawa, atau Perang Diponegoro 1825-1830.
Konklusi Tan Peng Nio adalah anak dari Jenderal Tan Wan Swee, yang berselisih pendapat dan melakukan pemberontakan yang gagal terhadap Kaisar Qian Long (25 September 1711-1799) dari Dinasti Qing.
Jenderal Tan Wan Swee lalu menitipkan putrinya yang bernama Tan Peng Nio kepada sahabatnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri. Saat kudeta gagal, Tan Peng Nio menjalani pelarian bersama Lia Beeng Goe ke Singapura, kemudian berpindah ke Sunda Kalapa (Jakarta).
Pada tahun 1740, terjadi huru-hara yang terkenal dengan nama Geger Pecinan, dimana terjadi pembantaian terhadap etnis Tionghoa oleh tentara VOC Belanda. diceritakan bahwa Lia Beeng Goe dan Tang Peng Nio mengungsi ke arah Timur, hingga tiba di Kutowinangun (Kebumen, Jawa Tengah) dan bertemu dengan Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.
Ketika terjadi peperangan dan penyerbuan selama 16 tahun (1741-1757) oleh Pangeran Garendi, Tan Peng Nio dikabarkan ikut bergabung ke dalam 200 pasukan bentukan KRAT³ Kolopaking II, yang dikirimkan untuk membantu pasukan Pangeran Garendi. Tan Peng Nio juga dikabarkan sempat menyamar menjadi seorang prajurit laki-laki. Peperangan kemudian berakhir dalam perundingan Giyanti, pada tanggal 13 Februari 1755.
Putra KRAT Kolopaking II (Raden Sulaiman Kertowongso) juga pernah tergabung dalam 200 pasukan Panjer Rina, yang dikirim untuk bergabung dengan pasukan Pangeran Garendi, pada akhirnya menikahi Tang Peng Nio. Beliau kemudian menggantikan ayahnya menjadi KRAT Kolopaking III.
By Herman Tan
Sumber referensi :
1. R. Tirto Wenang Kolopaking dalam catatan Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Kiai Geng Mangir – Kolopaking – Arung Binang, Trah Kolopaking, 2005:256). 2. Raden Ayu Tan Peng Nio, ”Mulan” dari Tanah Jawa 3. Grup Facebook Indonesia Tempo Doeloe
Catatan :
1. Raden Ayu (RA), Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). 2. Champa : orang2 beretnis Melayu di selatan Vietnam, dan di provinsi kampong Cham di Kamboja. 3. Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT).
Dua foto lawas ini sama-sama diambil pada 1948. Yang atas merupakan koleksi IPPHOS (hasil jepretan Frans Mendoer) dan yang bawah merupakan koleksi Flip Peeters (mantan serdadu Belanda yang pernah bertugas di Indonesia). Kedua foto ini menarik buat saya karena melukiskan bagaimana dua generasi yang hidup pada zaman yang sama namun harus berhadapan di medan perang.
Foto I
Foto I : memperlihatkan para prajurit muda KL yang akan dikirim ke palagan Indonesia. Sekitar 150.000 anak-anak muda Belanda dikirimkan oleh pemerintahnya ke tanah Hindia. Doktrin yang mereka terima: bertujuan untuk “mengamankan” rakyat Hindia dari teror para “begal”, “bajingan” dan “para perampok” pimpinan Sukarno. Menurut organisasi veteran tentara Belanda (VOMI), sekitar 8000 (ada yang bilang 15.000) dari mereka, tak pernah kembali pulang ke tanah airnya. Kalau tidak gugur, mereka hilang di hutan-hutan tropis dan jadi sasaran ranjau-ranjau tentara Republik.
Foto II
Foto II : memperlihatkan serombongan prajurit TNI dari Divisi Siliwangi yang baru saja sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta dan disambut oleh gadis-gadis Yogya. Salah satu hasil kesepakatan Perjanian Renville adalah seluruh kekuatan republik termasuk Divisi Siliwangi harus meninggalkan Jawa Barat. Hingga 22 Pebruari 1948, telah selesai dihijrahkan kurang lebih 29.000 prajurit Siliwangi dan keluarganya meninggalkan kantong-kantong gerilya di Jawa Barat. Route perjalanan hijrah terbagi dua jalur yaitu melalui jalan darat dengan menggunakan kereta api dan melalui laut dengan kapal laut.
Mereka yang nampak ceria di kedua foto ini tentunya tak semua bisa kembali ke kampung halamannya masing-masing, Sebagian bisa jadi gugur saat harus saling berhadapan di medan laga.
Sejarah Danau Lido dimulai pada masa kolonial dulu. Danau itu dibuat oleh seorang berkebangsaan Belanda tahun 1889, saat mereka pada waktu yang sama memperbaiki Jalan Raya Bogor-Sukabumi. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mencarikan lokasi peristirahatan untuk rekan mereka yang mengawasi proyek pembangunan jalan tersebut, juga pemilik perkebunan.
Sumber air Danau Lido berasal dari aliran sungai dan mata air alam yang dibendung. Hal ini amat mungkin dilakukan karena posisi yang strategis. Danau itu berlokasi di lembah dan diapit dua gunung yang memiliki air berlimpah. Di dekat danau pun terdapat air terjun Curug Cikaweni yang mengalirkan air jernih dan segar dari Gunung Gede Pangrango.
Meski telah ada sejak era Hindia Belanda, kawasan Lido baru dibuka untuk umum sekitar tahun 1940, setelah Ratu Belanda Wilhelmina berkunjung dan beristirahat di Lido. Ketika itu, restoran pertama diresmikan sebagai pelengkap fasilitas kawasan wisata, juga untuk menjamu Sang Ratu. Restoran tersebut sekarang bernama Oranje Lido. Di sebelah kiri bawah di pinggiran Danau Lido, terdapat beberapa bangunan vila atau pondok (cottage) yang menyimpan beragam kisah.
Konon, cottage itu didedikasikan untuk Catharina Anna Beemster oleh Antonius Johanes Ludoficus Maria Zwijsen, seorang polisi yang ditugaskan pemerintah Hindia Belanda bekerja di Batavia (Jakarta). Setelah bebas tugas sebagai polisi, Zwijsen bekerja di Hotel Nederlande di Gondangdia, Batavia. Saat usahanya berkembang, Zwijsen membeli sebuah hotel di daerah Harmoni dan mengembangkan usahanya dengan mendirikan penginapan di pinggir Danau Lido.
Kisah Anna dan Zwijsen berawal pada 1935. Zwijsen bertemu seorang putri perwira polisi Belanda yang bertugas di Sukabumi, Catharina Anna Beemster, dan memutuskan menikahinya pada 1937. Hingga saat ini, foto-foto keluarga Zwijsen-Anna tergantung di dinding ruang tunggu cottage di Lido itu. Penginapan di Lido menjadi tempat bagi Zwijsen dan Anna menghabiskan waktu bersama. Namun karena pecahnya Perang Dunia membuat mereka harus keluar dari Lido. Akhirnya tahun 1953, Anna dan Zwijsen beserta anak-anak mereka pulang ke Belanda.
Perang Dunia dan masuknya tentara Jepang ke Indonesia juga membuat kawasan Lido sempat terancam musnah, Hotel Lido pun rusak. Namun pejuang kemerdekaan Indonesia kemudian merebut kawasan Lido dari Jepang. Kehancuran berikutnya adalah ketika Hotel Lido dibakar (bumi hangus) yang dilakukan oleh pihak pejuang Republik dalam menghadapi Agresi Militer Belanda part One pada tahun 1947.
Paraga, begitulah nama populernya di tanah muasalnya, Makassar. Paraga! Jenis permainan klasik perpaduan olahraga, seni tari dan beladiri. Dalam permainan A’raga, dibutuhkan konsentrasi batin, penyatuan pikiran dan keseimbangan gerakan yang padu satu sama lain.
Dimainkan sebanyak 6-7 orang, dengan atraksi memainkan bola yang dianyam dari bahan pohon rotan. Sebuah jenis pohon endemik yang tumbuh dihutan tropis kawasan Asia Tenggara.
Permainan Takraw
Para Paraga saat memainkan pertunjukan atau atraksi, memiliki ciri khusus dengan memakai ikat kepala warna merah yang disebut “Patonro’ atau Passapu” dan busana khas Makassar baju merah dan sarung, diikat di bagian pinggang.
Selain Paraga, dalam tradisi pertunjukan ini, biasanya ada kelompok pengiring lainnya seperti Paganrang (penabuh gendang) dan Puik-Puik sebagai media instrumen bagi Paraga itu sendiri.
A’raga/Ma’raga, dimasa lampau merupakan atraksi bagi para ksatria untuk menunjukkan kebolehannya dalam memainkan sikulit bundar yang disebut “A’raga” di depan sang raja (sombayya) di alun-alun istana kerajaan. Biasanya tradisi pertunjukan semacam ini diadakan pada saat ada sayembara dan hari-hari tertentu, seperti menyambut kedatangan para pelaut Makassar yang baru saja tiba dari bepergian jauh, dan atau para pelaut itu sendirilah pada saat berada di rantau, mereka melakukan pertunjukan A’raga di pantai dimana kapal-kapal mereka sedang bersandar- beristirahat menyambut senja, sesekali memainkan tradisi A’raga/Ma’raga untuk menghibur diri sekaligus mengenalkan budaya mereka kepada penduduk lokal setempat. Tradisi A’raga ini, di Makassar, Sulawesi Selatan telah dikenal oleh masyarakat luas sejak abad ke 17 M.
Dikemudian hari. Paraga inilah diyakini sebagai cikal-bakal muasal lahirnya cabang olahraga modern sepak Takraw. Tak heran, jika Sulawesi Selatan selalu menjadikan olahraga sepak Takraw sebagai cabang olahraga unggulan disetiap perhelatan akbar baik dilevel nasional maupun internasional.
Selain tradisi A’raga. Apalagi ya, yang sering diperkenalkan oleh pelaut Makassar ke suku lain ?
“Adakah diantara kalian yang tahu, kira-kira Allah sedang apa sekarang,” tanya Raja Harun kepada para ulama tersebut.
“Tidak elok rasanya Baginda bertanya seperti itu. Jangan samakan dzat Allah dengan manusia,” ujar mereka.
“Sudah saya katakan, saya tidak menyamakan dzat Allah dengan apapun, apalagi dengan manusia. Saya hanya ingin tahu kira-kira Allah sedang apa sekarang? Sejenak suasana menjadi hening. Lalu Baginda Raja teringat dengan sosok Abu Nawas.
“Mungkinkah Abu Nawas bisa menjawab pertanyaanku ini?,” ucap Baginda dalam hati. Kemudian, Baginda Raja menyuruh para pengawal untuk segera memanggil Abu Nawas ke istana.
Berangkatlah beberapa pengawal pergi menuju rumah Abu Nawas.
“Abu Nawas, kamu dipanggil untuk menghadap Baginda Raja sekarang,” kata salah satu pengawal itu. “Sini ke depan Abu Nawas,” titah Baginda.
“Ini para ulama yang ada di sini tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan saya. Saya ingin menguji kecerdasanmu. Apa kamu bisa menjawabnya atau tidak?,” kata baginda raja kepada Abu Nawas.
“Tadi saya bertanya kepada para ulama di sini, kira-kira Allah Sedang apa sekarang, tapi tak ada satupun yang bisa menjawabnya. Apakah kau tahu Allah sedang apa sekarang?,” tanya raja. Mendengar pertanyaan yang aneh itu, sejenak Abu Nawas terdiam.
“Saya bisa menjawab pertanyaan itu, tapi ada syaratnya,” sahut Abu Nawas. “Apa syaratnya?,” tanya Baginda sedikit terkejut.
“Syaratnya adalah saya harus duduk di singgasana Baginda Raja dan Baginda Raja harus duduk di bawah bersama para ulama,” jawab Abu Nawas.
Meski masih heran dan penuh tanda tanya dengan syarat itu, Raja Harun menuruti permintaan tersebut karena penasaran dengan jawaban Abu Nawas.
Setelah Abu Nawas duduk di singgasana Baginda Raja Harun al-rasyid, Abu Nawas berkata dengan lantang. “Kalau Baginda ingin tahu, Allah sedang apa sekarang, saksikanlah Allah sedang mengangkat Abu Nawas jadi raja, dan Harun Al-rasyid jadi rakyat biasa,”.
Jawaban Abu Nawas itu memiliki makna bahwa apa yang dilakukannya merupakan kehendak Allah SWT.
“Kamu memang pintar Abu Nawas, kamu malah memanfaatkan pertanyaan ini untuk bisa duduk di atas Singgasanaku. Tapi memang yang kamu katakan itu benar aku tidak akan marah”. Kata raja
Seperti yang diketahui, PT PAL merupakan perusahaan galangan kapal pelat merah yang sarat akan sejarah. Semua berawal saat Gubernur Jendral Van Der Capellen (1778-1848) membentuk komisi yang bertugas menyelidiki tempat dan sarana yang tepat untuk mendirikan industri perkapalan.
PT. PAL, diujung Surabaya
Tujuannya untuk menunjang Armada Laut Kerajaan Belanda di wilayah Asia. “Sejak 1822 observasi mulai dilakukan. Merujuk hasil penelitian komisi tersebut, Van Der Capellen menetapkan Ujung, Surabaya sebagai daerah yang memenuhi syarat untuk mendirikan industri perkapalan,” tulis peneliti sejarah Wenri Wanhar mengutip buku Jejak Intel Jepang seperti yang dilansir JPNN (Jawa Pos Group).
Nah, memasuki 1849, wujud nyata proyek tersebut mulai berkembang. Di Ujung sudah ada sarana perbaikan dan pemeliharaan kapal. Seiring berjalannya waktu, sesuai dengan kemajuan teknologi pada masa itu, galangan kapal itu terus dikembangkan.
Setelah benar-benar rampung, galangan kapal di Ujung, Surabaya diresmikan pemerintah Belanda pada 1939 dengan nama Marine Establishment (ME). ME merupakan galangan kapal terbesar di Asia pada masanya.
Di masa kejayaannya, ME memiliki pekerja sebanyak 6.000 orang. Lebih dari separuhnya pribumi. “Orang Indonesia yang bekerja di sana 5000-an. Orang Belanda tak banyak, cuma kepala-kepalanya saja,” kenang Affandi, pekerja ME generasi awal, sebagaimana dilansir dari dokumen arsip sejarah PAL, Dinas Penerangan Angkatan Laut Republik Indonesia.
Menurut cerita Affandi, jabatan tertinggi orang Indonesia di ME adalah Opsiter Kelas I, antara lain dijabat Supono. Bagian Kapal dijabat Susilo. Bagian Administrasi yang tertinggi Komisi I yang dijabat Moh. Harun dan dirinya Affandi sendiri di Komisi Kelas III.
“Pekerjaan yang dilakukan di ME meliputi reparasi kapal, mengadakan percobaan instrumen-instrumen atau alat-alat kapal seperti foto-foto, keker dan persenjataan yang agak komplet,” papar Affandi.
Pada awal perang dunia kedua, ME masih beroperasi sebagaimana biasanya. Nah, memasuki 1942, beredar desas-desus kabar rencana kedatangan Jepang. Ini sangat mengkhawatirkan. “Propaganda yang diembuskan Jepang berhasil. Belanda menutup ME sebelum diserbu Jepang,” tulis buku Jejak Intel Jepang.
Nah, ketika Belanda menutup ME pada awal 1942, Orang-orang Indonesia yang bekerja di sana tidak ada yang diperbolehkan keluar. Pemerintah Hindia Belanda hendak mengevakuasi pekerja-pekerja itu ke Australia.
Dari Ujung, pekerja-pekerja ME diangkut naik bus ke Cilacap dan kemudian diberangkatkan dengan kapal ke Australia. “Saya termasuk. Tetapi, saat akan berangkat, saya meloncat,” kenang Affandi.
Ternyata evakuasi pemerintah Hindia Belanda di Ujung tidak berjalan lancar. Hanya sebagian pekerja yang berhasil diberangkatkan. “Hanya satu kapal. Sebagaian besar tidak bisa berangkat karena telat. Jepang sudah keburu datang,” sambung Affandi.
ME, galangan kapal terbesar di Asia pun diduduki Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, peranan ME tidak berubah. Hanya namanya diganti menjadi Nagamatsu Butai. Nama itu digunakan selama empat bulan pertama. Selanjutnya diganti lagi menjadi Kaigunse 21-24 Butai.
Jumlah pekerja pun ditambah hingga 9.000 orang. “Zaman Jepang, 1942-1945, Direktur 21-24 Butai bernama Meringa,” ungkap Affandi. Bahkan, saat zaman Jepang, kapal selam juga mangkal di situ.
Masih mengutip buku Jejak Intel Jepang, pada suatu sore, petugas Angkatan Laut Jepang meminta Affandi mendirikan Hokokai SE 21/24 Butai di Ujung. Mereka mendapat pelatihan militer semacam Peta (Pembela Tanah Air) dengan nama Hokodan.
Berdasarkan penuturan Affandi, satu kelompok jumlahnya 300 orang. Mereka dilatih selama dua minggu. Selama mengikuti pelatihan, peserta menginap di Asrama Sidotopo, Surabaya. “Mereka ini mendapat gaji dan makan tiga kali sehari. Setelah dua minggu mereka dipulangkan dan datang lagi kelompok berikutnya dengan jumlah yang sama,” kenang Affandi.
Pelatihan itu terus menerus dilakukan hingga 10 periode dan memiliki lebih dari 3.000 orang terlatih.
Suasana di Ujung, di galangan kapal terbesar di Asia itu berubah lagi ketika Jepang kalah di tangan sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Affandi lantas mengorganisir para pekerja hingga mendirikan PAL. PAL merupakan singkatan dari Penataran Angkatan Laut. Organisasi ini didirikan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh bekas pekerja galangan kapal terbesar di Asia, yang berlokasi di Ujung, Surabaya. (wow/mas/jpnn/jpg)
Pada tahun 1808, William Herman Daendels, Gubernur Jenderal Belanda yang tengah berkuasa saat itu mendirikan bengkel untuk pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan alat-alat perkakas senjata Belanda bernama Contructie Winkel (CW) di Surabaya dan inilah awal mulanya PT. Pindad (Persero) sebagai satu-satunya industri manufaktur pertahanan di Indonesia. Selain bengkel senjata, Daendels kala itu juga mendirikan bengkel munisi berkaliber besar bernama Proyektiel Fabriek (PF) dan laboratorium Kimia di Semarang. Kemudian, pemerintah kolonial Belanda pun mendirikan bengkel pembuatan dan perbaikan munisi dan bahan peledak untuk angkatan laut mereka yang bernama Pyrotechnische Werkplaats (PW) pada tahun 1850 di Surabaya.
Pejabat Hindia Belanda Berpose Bersama Karyawan ACW di Lokasi PT. Pindad Saat Ini
Pada tanggal 1 Januari 1851, CW diubah namanya menjadi Artilerie Constructie Winkel (ACW). Kemudian pada tahun 1861, dua bengkel persenjataan yang berada di Surabaya, ACW dan PW disatukan di bawah bendera ACW. Kebijakan penggabungan ini, menjadikan ACW mempunyai tiga instalasi produksi yaitu; unit produksi senjata dan alat-alat perkakasnya (Wapen Kamer), munisi dan barang-barang lain yang berhubungan dengan bahan peledak (Pyrotechnische Werkplaats), serta laboratorium penelitian bahan-bahan maupun barang-barang hasil produksi. Perang Dunia I pada pertengahan 1914, melibatkan banyak Negara Eropa, termasuk Belanda. Demi kepentingan strategis, pemerintah kolonial Belanda pun mulai mempertimbangkan relokasi sejumlah instalasi penting yang dinilai lebih aman. Bandung dinilai tepat sebagai tempat relokasi yang baik karena selain kontur daerahnya berupa perbukitan dan pegunungan yang bisa dijadikan bentang pertahanan alami terhadap serangan musuh, posisi Bandung juga sangat strategis karena sudah memiliki sarana transportasi darat yang memadai, dilalui oleh Jalan Raya Pos (De Grote Postweg)dan dilalui jalur kereta api Staats Spoorwegen kota Bandung juga berada tidak jauh dengan pusat pemerintahan Hindia Belanda, Batavia.
ACW dipindahkan pertama kali ke Bandung, pada rentang waktu 1918-1920. Pada tahun 1932, PW dipindahkan ke Bandung, bergabung bersama ACW dan dua instalasi persenjataan lain yaitu Proyektiel Fabriek (PF) dan laboratorium Kimia dari Semarang, serta Institut Pendidikan Pemeliharaan dan Perbaikan Senjata dari Jatinegara yang direlokasi ke Bandung dengan nama baru, Geweemarkerschool. Keempat instalasi tersebut dilebur di bawah benderta Artilerie Inrichtingen (AI).
Di era pendudukan Jepang, AI tidak mengalami perubahan, penambahan instalasi, maupun proses produksinya. Perubahan hanya berada pada segi perubahan administrasi dan organisasi sesuai dengan sistem kekuasaan militer Jepang. Perubahan pun terjadi di segi nama menjadi Daichi Ichi Kozo untuk ACW, Dai Ni Kozo untuk Geweemarkerschool, Dai San Kozo untuk PF, Dai Shi Kozo untuk PW, serta Dai Go Kazo untuk Monrage Artilerie, instalasi pecahan ACW. Pada saat Jepang menyerah kepada Sekutu dan terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Beragam upaya terjadi guna merebut instalasi-instalasi pertahanan di kota Bandung. Pada akhirnya, tanggal 9 Oktober 1945, Laskar Pemuda Pejuang berhasil merebut ACW dari tangan Jepang dan menamakannya Pabrik Senjata Kiaracondong.
Pendudukan pemuda tidak berlangsung lama, karena sekutu kembali ke Indonesia dan mengambil alih kekuasaan. Pabrik Senjata Kiaracondong dibagi menjadi dua pabrik. Pabrik pertama yang terdiri dari ACW, PF, dan PW digabungkan menjadi Leger Produktie Bedrijven (LPB), serta satu pabrik lain yang bernama Central Reparatie Werkplaats, yang sebelumnya bernama Geweemarkerschool.
Hari itu, 5 April 1815, suara ledakan terdengar keras. Asalnya dari letusan pertama Gunung Tambora yang memuntahkan lava dan awan abu dengan ketinggian lebih dari 30 meter.
Ilustrasi Ledakan Gunung
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamfford Raffles kala itu berada di Batavia, 1.287 kilometer jauhnya dari Tambora. Ia mengira suara itu berasal dari ledakan meriam.
Dan, bukan dia seorang yang salah sangka.
Sementara itu di Yogyakarta, komandan pasukan Inggris langsung mengerahkan pasukan. Ia mengira pihak lawan — Belanda atau Prancis — sedang melancarkan serangan.
Para pejabat yang berada di wilayah pesisir menduga, itu adalah sinyal dari kapal yang menemui masalah di tengah laut. Mereka pun memberangkatkan kapal penyelamat untuk mencari korban selamat.
Di Makasar, komandan kapal British East India Company, Benares juga melaporkan keberadaan tembakan meriam yang kian mendekat — yang mungkin berasal dari para perompak.
Kecurigaan melanda hati Raffles yang juga seorang ilmuwan, saat suara ledakan dari arah tenggara terus-menerus terjadi hingga pagi berikutnya. Sesaat setelah fajar, hujan abu melanda, menandakan sebuah gunung — entah di mana berada — sedang meletus.
Bapak pendiri Singapura modern itu sama sekali tak mengira Tambora jadi ‘biang keladinya’. Gunung yang sebelumnya tidur panjang selama 1.000 tahun itu sudah lama diyakini mati.
“Suara itu sepertinya sangat dekat…secara umum dikira letusan Merapi, Kelud, atau Bromo,” tulis Raffles dalam memoarnya History of Java, seperti dikutip dari situs Scientific American.
Awan abu menyelubungi Jawa, cahaya Matahari memudar, udara panas dan lembab terasa mencekik, segala sesuatu terlihat tak alami. Namun, beberapa hari kemudian, letusan mereda, abu vulkanik juga tak sepekat sebelumnya.
Ternyata, itu baru permulaan. Lima hari kemudian, pada 10 April 1815, malapetaka terjadi. Tambora meletus dahsyat. Kekuatannya mencapai level 7 Volcanic Explosivity Index (VEI).
Kekuatannya jadi yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Empat kali lipat dari amuk Krakatau pada 1883, dan 10 kali lipat dari erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991.
Erupsi diiringi halilintar sambung-menyambung, bunyinya menggelegar bagaikan ledakan bom atom, terdengar hingga ratusan kilometer. Langit gelap. Batu dan abu turun deras dari langit, mengubur apapun yang ada di bawahnya.
“Sekitar pukul 19.00 malam tiga bola api besar keluar dari Gunung Tombora. Kemudian tiga bola api itu bergabung di udara dalam satu ledakan dahsyat,” demikian keterangan Raja Sanggar pada Letnan Owen Philips yang diutus Raffles, seperti dikutip dari BBC.
Suara dentuman yang dihasilkan jauh lebih keras dari sebelumnya. Awak kapal Benares mengungkapkan, bunyinya mirip tiga atau empat meriam ditembakkan sekaligus. “Saking kuatnya, kapal sampai terguncang.” Setelah itu hujan abu datang dan kegelapan melanda.
Nyi Roro Kidul atau Tarung Para Jin.
Di Sumatera, pemimpin lokal yang mendengar suara ledakan keras pada 11 April 1815 cepat-cepat menuju Fort Marlborough, pemukiman Inggris di Bengkulu. Mereka mengira, konflik sedang pecah.
Pun dengan pemimpin lainnya lain di Sumatera dan sekitarnya. Setelah menerima informasi bahwa tak ada serangan yang terjadi, mereka mengaitkannya dengan kejadian supranatural.
“Para tetua menyimpulkan itu adalah adu kuat para jin, demikian dilaporkan pejabat di Fort Marlborough.
Sementara itu di Gresik, Jawa Timur, penduduk setempat sepakat bahwa suara itu adalah ‘meriam supranatural’ penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul yang ditembakkan untuk merayakan pernikahan salah satu anaknya.
“Dan abu adalah ampasnya,” demikian dikutip dari buku The Year Without Summer: 1816 and the Volcano That Darkened the World and Changed History Paperback karya William K. Klingaman.
Tsunami pertama mencapai Jawa Timur sekitar tengah malam pada 10-11 April. Tremor melanda wilayah tengah, 18 jam setelah letusan.
Yang paling menderita dari letusan Tambora adalah para manusia.
Vulkanolog dari Cambridge University, Clive Oppenheimer dalam bukunya Eruptions that Shook the World memperkirakan, 60.000-120.000 nyawa terenggut, baik secara langsung — oleh awan panas, tsunami — maupun tak langsung, akibat kelaparan dan wabah penyakit yang berjangkit berbulan-bulan kemudian.
Kabar pertama meletusnya Tambora mencapai Inggris pada November 1815. Media The Times mempublikasikan secarik surat dari seorang pedagang di Hindia Belanda. “Kita baru mengalami letusan paling luar biasa yang mungkin belum pernah terjadi di manapun di muka Bumi,” tulis dia, seperti dimuat situs sains, NewScientist.
Lautan sejauh mata memandang dipenuhi batang pohon, batu yang mengapung, juga jasad manusia gembung, yang menghalangi laju kapal.
Dua hari setelah letusan dahsyat, Sumbawa gelap gulita. “Tanaman padi sama sekali rusak, tak ada yang tersisa. Manusia dalam jumlah besar tewas seketika, lainnya meregangnyawa setiap harinya.”
Dampak Global
Erupsi Tambora juga berdampak global. Abu dan panas sulfur dioksida menyembur melubangi atmosfer, suhu rata-rata global merosot 2 derajat Celcius atau sekitar 3 derajat Fahrenheit.
Di belahan dunia lain, efek Tambora juga merenggut ribuan nyawa. Bukan karena letusannya, melainkan akibat epidemi tifus dan kelaparan merata di wilayah Eropa. Rusuh tak terelakkan, rumah-rumah dan toko dibakar dan dijarah.
Badai salju melanda New England Juli tahun itu, panen gagal. Eropa pun mengalami kondisi yang sama parahnya.
Demikian pula di Yunan, Daratan Tiongkok, orang-orang terpaksa memakan tanah liat, karena cuaca yang buruk menggagalkan panen padi.
Penyair Li Yuyang dalam puisinya mengisahkan tentang rumah-rumah yang tersapu banjir. Para orangtua terpaksa menjual anak-anak mereka, ditukar dengan sekantung gandum. Suami menyaksikan istri dan buah hatinya mati perlahan akibat kelaparan.
Tambora bahkan mengubah peta sejarah, 18 Juni 1815, cuaca buruk yang diakibatkan Tambora konon ikut membuat Napoleon Bonaparte kalah perang di Waterloo. Hari terpedih dalam sejarah gilang-gemilang Sang Kaisar Prancis.
Profil Charles Tambu tak banyak terdengar sebagai Pahlawan Pejuang Kedaulatan RI di PBB. Padahal kiprahnya dalam peristiwa ini begitu besar, dan berarti bagi perjuangan Republik Indonesia dalam memperoleh dukungan merdeka dari dunia Internasional.
Charles Tambu tercatat sebagai seorang Diplomat Indonesia di PBB yang berasal dari bangsa Asing. Charles merupakan imigran dari Tamil Srilanka yang sejak kecil sudah bergaul bersama pribumi di Hindia Belanda.
Akibat pergaulannya dengan anak-anak pribumi, masa kecilnya di Hindia Belanda kemudian membentuk Charles peka terhadap persoalan-persoalan yang sedang melanda bangsa Indonesia dalam memperoleh kedaulatan di meja Internasional.
Charles yang pernah bersekolah di Perguruan Tinggi terkemuka di Inggris lantas membantu diplomat Indonesia yang memperjuangkan kedaulatannya di PBB tahun 1947. Namanya tercatat menjadi tamu penting PBB perwakilan Srilanka untuk Indonesia.
Menurut berbagai literasi, profil Charles Tambu lahir pada tahun 1907 di Tamis Srilanka. Kedatangan Charles Tambu ke Hindia Belanda karena ikut dengan ayah dan ibunya yang melakukan migrasi untuk mencari kehidupan yang lebih layak.
Sebagai anak-anak yang dibawa menyeberang ke Hindia Belanda dengan harapan memiliki kehidupan lebih layak, Charles Tambu akhirnya tumbuh menjadi dewasa yang jatuh cinta dengan Indonesia.
Seluruh kekayaan Indonesia, Alam, Budaya, dan Sosial begitu diminati oleh Charles. Saat keluarga Charles menyekolahkan anaknya ke Inggris, Indonesia masih menjadi negara idaman, dan menyimpan banyak kenang-kenangan indah bagi Charles.
Ketika Charles selesai studi dari Inggris, Indonesia saat itu sedang mengalami kesulitan. Pelanggaran HAM yang dilakukan Belanda terjadi pada tahun 1947. Akibatnya Sutan Sjahrir, Agus Salim, Soedjatmoko, dan Sumitro Djojohadikusumo menempuh diplomasi dengan negara-negara Barat dalam PBB.
Sebagai kawan lama Sjahrir dan Hatta, Charles Tambu memiliki tugas dalam kongres PBB ini sebagai pencatat diskusi kedaulatan Indonesia di PBB sampai selesai.
Buku ”Kumpulan Tulisan Tentang Sutan Sjahrir” yang ditulis oleh Sabam Siagian menyebut Charles yang lulusan Perguruan Tinggi terkemuka di Inggris ini begitu lancar mencatat dan menyimpulkan isi diskusi Sjahrir di PBB.
Alhasil Sjahrir pun memetik poin-poin penting dalam pidato pembelaan di PBB, dan merumuskan kesimpulan yang berisi tujuan Indonesia mendatangi PBB.
Karena terstruktur dan runtut, Sjahrir pun berhasil mematahkan satu persatu omongan delegasi Belanda yang berusaha membatalkan Indonesia merdeka sejak tahun 1947-1949.
Membela Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Dalam madjalah Merdeka berjudul, ”Charles Tambu: Turunan Asing Tapi Djiwanya Indonesia”, (No. 43, th. II, 22 Oktober 1949) menyebut Charles Tambu mantan imigran gelap dari Srilanka, secara tabah dan ikhlas membela kedaulatan Indonesia di PBB tahun 1947.
Perjuangan Charles Tambu di PBB untuk mempertahankan pemerintah Indonesia yang baru merdeka 17 Agustus 1945, berujung pemberian hadiah paspor Indonesia dari Presiden Sukarno secara gratis.
Artinya Paspor yang diberikan presiden RI pertama ini berlaku selama Charles Tambu betah di Indonesia. Sukarno juga sangat berterima kasih pada Charles Tambu karena sebagai orang Asing minatnya tinggi dalam mendukung Indonesia menjadi negara yang merdeka.
Karena Charles juga merupakan teman-teman Sjahrir, Hatta, dan Sukarno sendiri pada masa Jepang. Pada tahun 1947-1953 Sukarno mempercayakan jabatan Konsul Jenderal Indonesia di Manila dipegang oleh Charles Tambu.
Maka dari itu, Charles juga kerap dikenal sebagai orang Asing yang dipercaya oleh bangsa Indonesia. Sukarno, Hatta, dan Sjahrir melihat kejujuran Charles Tambu yang dalam. Mereka percaya Charles orang baik dan tidak mungkin merugikan kedaulatan RI.
Menjadi Sorotan Positif Dunia Internasional
Kehadiran Charles Tambu sebagai bagian dari perwakilan Indonesia di PBB telah menjadi sorotan positif bagi dunia Internasional. Pasalnya duduknya Charles di PBB menyimbolkan dukungan Srilanka untuk Indonesia memperoleh kedaulatannya.
Karena peristiwa ini banyak media yang menyoroti Charles Tambu sebagai seorang asing yang pertama membela kedaulatan RI di PBB (1947). Saat itu juga Charles Tambu tampil jadi orang asing yang dihormati bangsa Indonesia.
Apabila pada zaman kolonial Hindia Belanda keluarga Tambu direndahkan Belanda sebagai “Imigran Gelap dari Ceylon”, maka kali ini berbalik. Keluarga Tambu justru bangga akibat anaknya berperan aktif akibat memperjuangkan kedaulatan RI di PBB.
Seluruh bangsa Indonesia menghargai jasa-jasa Charles Tambu. Fotonya pun kerap muncul dalam pelajaran-pelajaran sejarah. Namun sayang tak banyak narasi sejarah mengenai Charles Tambu.
Nama Charles Tambu dikenang sebagai tokoh pejuang kedaulatan RI di PBB. Selain menjadi tokoh kedaulatan RI di PBB, Charles Tambu juga dimanifestasikan jadi figur Asing yang rendah hati, dan banyak dihargai karena jasa-jasanya yang berarti bagi bangsa Indonesia.
Kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi pada masa tampuk pimpinan dipegang oleh Hayam Wuruk sebagai raja dan Gajahmada sebagai patih berlangsung antara tahun 1350 sampai dengan 1389.
Hayam Wuruk memerintah Majapahit selama 39 tahun. Ia naik tahta di usia , muda yaitu saat berumur 16 tahun dan menjadi raja keempat menggantikan Tribhuwana Tunggadewi (diambil dari Wikipedia Indonesia).
Jangan dilihat bahwa Majapahit dijalankan oleh dua orang, sepasang legendaris dwitunggal yang membangun kerajaan dari ujung barat sampai ujung timur nusantara. Dalam struktur hirarkis dari komandan sampai prajurit ikut ambil bagian dalam membangun wilayah dari timur ke barat, utara ke selatan. Itupun menurut kabar yang tidak terekam dalam sejarah, wilayah kekuasaannya “beyond” yang tertulis dalam catatan para empu terkenal masa itu. Tercatat dalam buku negara kertagama.
Nama para komandan kapal perang yang bergerak mengikuti gerak gelombong terlampau banyak kalau ditulis di sini. Belum lagi para fieldmarshal, jendral lapangan yang menaklukkan kerajaan sepanjang garis katulistiwa membuat raja raja itu berkuasa dalam kerajaan Majapahit.
Majapahit adalah kerajaan besar yang tidak melihat lautan sebagai hambatan. Lautan adalah infrastruktur yang dipakai untuk menggerakan kapal perang besar sedang kecil, membawa pasukan, logistik, penduduk dari satu pulau ke pulau lain. Menyiapkan lumbung lumbung makanan, perkampungan untuk menyiapkan penguasaan yang lebih luas.
Kehebatan Kerajaan Majapahit tidak sebanding dengan kehebatan Gajahmada dan Hayam Wuruk menurut kacamata rakyat Jakarta. Majapahit, Hayam Wuruk dan Gajahmada diabadikan sebagai jalan agak timpang.
Hayam Wuruk dan Gajahmada oleh rakyat Jakarta diabadikan pada nama jalan kira kira dari stasiun kota sampai perapatan Harmoni. Jalan lurus paralel dengan kanal sungai ciliwung. Cukup panjang, dan sepanjang kiri kanannya deretan lokasi perdagangan. Dagang serba ada berupa barang dan jasa yang jasmani maupun rohani.
Kerajaan Majapahit yang menjadi ikon persatuan dan kesatuan Indonesia tidak terlalu menonjol. Majapahit diabadikan menjadi nama jalan dari monas sampai perapatan harmoni. Bukan jalan yang panjang lagi pula bukan jalan yang popular. Orang Jakarta lebih kenal Harmoni daripada Majapahit untuk jalan yang sama. Harmoni atau Sosietiet De Harmonie. Gedung dipojokan jalan itu tempat kumpul kaum sosialita Belanda di Batavia jauh lebih dikenal daripada Majapahit.
Biar gedungnya tempat dansa dan kumpul para petinggi Belanda sudah nggak ada, tempat dan kawasan itu tetap disebut Harmoni. Jalan Majapahit, jalan sepanjang setengah kilometer, masuk jalan utama yang menhubungkan jalan glodok ke Monas, hampir tidak ada tempat usaha, tidak seperti tetangganya Gajahmada dan HayamWuruk. Disitu zaman dahulu cukup populer ada apotik Radja Farma (sekarang menjadi Kimia Farma) dan distributor Mesin Jahit Singer. Hanya itu yang saya ketahui. Mestinya banyak yang lainnya.
Sepuluh tahun yang lalu saya punya sebuah kisah saat menaiki kendaraan ini. Dimana pada saat itu sekitar pukul kurang lebih 05.30 pagi saya naik mobil ini dari Plaju ke jalan Museum Balaputra Dewa untuk mengikuti kegiatan akhir perkuliahan di kampus tepatnya di Bumi Perkemahan Cadika.
Selama perjalanan menaiki kendaraan ini tidak ada hal-hal yang aneh dan mencurigakan, namun pada saat pas didepan kantor Kodam II Sriwijaya penumpang mobil yang tadinya penuh sesak lama-lama akhirnya semakin berkurang sehingga hanya tinggal lima orang, sopir, kernet, dan tiga penumpang. Ketiga penumpang ini kebetulan duduk di bangku paling belakang. Diantara ketiga penumpang tersebut salah satunya saya.
Ketika didepan pasar palima, ada seorang penumpang berbicara pada kernet bus sambil mengeluarkan sesuatu di balik jaket yang ia pakai. Penumpang tersebut menceritakan pada kernet bahwa di bawah jembatan Ampera dia baru saja berkelahi dan membunuh seseorang, sambil memperlihatkan Sajam yang mengkilap penuh darah segar ia melanjutkan ceritanya pada kernet tersebut bahwa setelah menusuk korban ia melarikan diri kemudian melompat naik bus yang saya tumpangi bersamanya tersebut.
Dalam hati dan pikiran saya penuh was-was, dimana pada saat itu didalam bus hanya ada tiga penumpang yang tidak lama kemudian satu penumpang turun dan kini tinggal saya dan preman tersebut. Pikiran saya campur aduk, sambil berdoa dalam hati agar dilindungi oleh Allah. Preman tadi berkata pada saya, kenapa anda takut? Sambil ia terus memperlihatkan Sajam yang mengkilap penuh lumuran darah segar tersebut ke saya. Tatapan matanya melihat kearah saya yang keringat dingin ketakutan.
Walaupun cuaca dalam keadaan hujan, tapi saya merasakan panas keringat dingin didalam bus tersebut. Yang sangat saya khawatirkan preman itu terus berbicara dan melirik kearah tas yang saya rangkul. Dimana dalam tas yang saya rangkul berisi laptop, laporan – laporan berkas skripsi, dan uang untuk pembayaran wisuda. Rasa cemas saya menjadi – jadi saat saya merasakan mobil berjalan agak melambat, hati saya pun tergerak untuk segera turun dari bus tersebut walaupun jalan yang saya tuju masih jauh. Namun, saat kaki saya ingin melangkah keluar bus, preman berkata lagi ke saya, pulang kemana? Langsung saya jawab palima.
Mendengar jawaban saya itu dia terdiam. Tanpa basa-basi lagi saya langsung turun dari bus meskipun tujuan saya masih jauh, saya sudah tidak nyaman berada dalam bus tersebut karena saya melihat gelagat sopir, kernet, dan preman tersebut sangat mencurigakan. Pikiran saya campur aduk, dimana sebentar lagi saya akan diwisuda. Semua berkas-berkas skripsi, laptop, dan uang pembayaran wisuda saya bawa. Meskipun hujan mengguyur dan tujuan perjalanan masih agak jauh, saya paksakan turun dari bus tersebut.
Baju kurung adalah salah satu pakaian adat masyarakat Melayu di Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand bagian selatan. Baju kurung sering diasosiasi dengan kaum perempuan. Ciri khas baju kurung adalah rancangan yang longgar pada lubang lengan, perut, dan dada. Pada saat dikenakan, bagian paling bawah baju kurung sejajar dengan pangkal paha, tetapi untuk kasus yang jarang ada pula yang memanjang hingga sejajar dengan lutut. Baju kurung tidak dipasangi kancing, melainkan hampir serupa dengan t-shirt. Baju kurung tidak pula berkerah, tiap ujungnya direnda. Beberapa bagiannya sering dihiasi sulaman berwarna keemasan.
Mulanya, baju kurung biasa dipakai untuk upacara kebesaran melayu oleh kaum perempuan di dalam kerajaan, dipakai bersama-sama kain songket untuk dijadikan sarungnya, aneka perhiasan emas, dan tas kecil atau kipas. Karena sebagian besar masyarakat melayu memeluk Islam, banyak perempuan pengguna baju kurung yang menyerasikannya dengan jilbab, meskipun demikian terdapat juga yang tidak menggunakannya. Kini baju kurung banyak dipakai oleh masyarakat biasa, digunakan anak-anak untuk mengaji, atau ibu-ibu untuk ke pasar, tanpa disertakan pernak-pernik yang terkesan mewah.
Sejarah perkembangan Catatan dari Tiongkok mengabarkan bahwa masyarakat Melayu baik perempuan maupun lelaki di abad ke-13 hanya mengenakan penutup tubuh bagian bawah. Dalam perkembangannya, perempuan Melayu memakai sarung dengan model “berkemban” yakni melilitkan sarung di sekeliling dada. Celana juga mulai dipakai, dengan model “Gunting Aceh” yaitu celana yang panjangnya hanya sedikit di bawah lutut.
Namun kemudian perdagangan membawa pengaruh budaya asing. Barang-barang dari Tiongkok, India, dan Timur Tengah berdatangan. Selain perniagaan, hal ini juga memaparkan masyarakat Melayu kepada cara berpakaian orang-orang asing tersebut. Orang Melayu juga mengadopsi Islam sebagai agama mereka, dan ini memengaruhi cara berpakaian karena di dalam agama baru ini terdapat kewajiban untuk menutup aurat baik bagi perempuan maupun laki-laki. Puncaknya adalah pada tahun 1400an, di mana pakaian Melayu digambarkan dengan jelas dalam karya kesusasteraan Sejarah Melayu (Malay Annals). Di sinilah kita dapat melihat kemunculan baju kurung, di mana sudah mulai lazim bagi orang Melayu untuk memakai semacam tunik untuk menutupi tubuh mereka.
Tunik adalah pengaruh dari timur tengah, ditunjukkan dalam bentuk kerah baju yang dipakai oleh orang Arab. Menurut Judi Achjadi dalam buku “Pakaian Daerah Wanita Indonesia”, baju kurung diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Islam dan India barat. Ini terlihat dari leher berbentuk tunik. Baju kurung pada masa Malaka pada awalnya berpotongan ketat dan juga pendek. Konon, Tun Hassan merupakan orang yang mengubah potongan baju kurung menjadi lebih longgar dan panjang. Menurut Dato’ Haji Muhammad Said Haji Sulaiman dalam buku “Pakaian Patut Melayu”, baju kurung seperti yang kita kenal sekarang berasal dari masa pemerintahan Sultan Abu Bakar pada tahun 1800 di Teluk Belanga, Singapura. Sementara Mattiebelle Gettinger menjelaskan bahwa baju kurung telah dipakai oleh penari istana di Palembang dan telah menjadi jenis pakaian populer di Sumatera pada abad ke-20.
Ciri-ciri Baju kurung tradisional berpotongan longgar, berlengan panjang, dan berpesak serta melebar di bagian bawahnya. Baju kurung yang dipakai kaum perempuan dipakai dengan kain sarung berikatan “ombak mengalun”. Baju kurung kaum lelaki dipakai dengan celana (seluar) dan kain samping.
Baju Kurung Perempuan dan Laki-laki Baju kurung sebenarnya merupakan jenis pakaian yang dipakai oleh laki-laki maupun perempuan. Namun sekarang ini ada kecenderungan untuk mengaitkan baju kurung hanya dengan kaum perempuan. Di Malaysia, baju kurung untuk laki-laki dikenal dengan sebutan “baju Melayu”. Di Indonesia, baju kurung untuk laki-laki disebut sebagai “teluk belanga”. Ini adalah salah kaprah, karena “teluk belanga” sendiri adalah salah satu varian dari baju kurung selain baju kurung cekak musang. Baju kurung untuk laki-laki dipakai dengan pasangan celana dan kain samping.
Perbedaan antara baju kurung perempuan dan baju kurung laki-laki menurut buku “Pakaian Patut Melayu”:
Baju kurung perempuan jatuhnya di bawah lutut, dengan alas leher yang sempit dan tidak memiliki saku. Baju kurung lelaki jatuhnya di bawah bokokng, dengan alas leher melebar, dan dilengkapi dua saku. Jenis Baju Kurung Terdapat dua jenis baju kurung, yaitu Baju Kurung Teluk Belanga dan Baju Kurung Cekak Musang.
Baju Kurung Teluk Belanga
Baju ini mula di perkenalkan di Teluk Belanga, Singapura dan tersebar luas sebagai ciri khas Johor khususnya pada abad ke-19. Ia juga dikatakan sejenis pakaian lelaki yang dikatakan telah direka oleh Sultan Abu Bakar pada tahun 1866 untuk meraikan perpindahan ibu negeri Johor dari Teluk Belanga di Singapura ke Johor Bahru. Ia menggabungkan ciri-ciri kebudayaan Melayu, Bugis dan Orang Laut.
Baju Kurung Teluk Belanga mempunyai alas leher berbentuk bulat dan belahan di bagian depan. Pada keliling leher baju dilapisi dengan kain lain dan dijahit “sembat halus” sementara bagian pinggiran bulatannya dijahit “tulang belut halus”. Bagian pangkal belahan dibuatkan tempat untuk mengancingkan baju yang disebut “rumah kancing” dengan menggunakan jahitan benang “insang pari”.
Potongan lengan baju panjang dan longgar, berkekek sapu tangan atau berkekek gantung. Potongan badan lurus dan mengembang di bagian bawah.
Tata cara pemakaian: Bagi laki-laki, Baju Kurung Teluk Belanga dipakai dengan baju dipakai di luar (menutupi) celana dan kain samping. Baju ini dipakai dengan bagian lehernya dikaitkan dengan satu kancing. Jika kancing yang digunakan diikat dengan sebiji batu maka disebut dengan kancing “garam sebuku”. Jika diikat dengan beberapa batu maka disebut sebagai “kunang-kunang sekebun”.
Baju Kurung Cekak Musang
Baju Kurung Cekak Musang dipengaruhi oleh baju gamis yang biasa dipakai oleh masyarakat timur tengah. Baju gamis yang biasanya panjang, dipendekkan hingga ke bawah bokong dan disesuaikan dengan bentuk Baju Kurung Teluk Belanga. Bentuk baju kurung jenis ini mirip dengan Baju Kurung Teluk Belanga, tetapi bagian lehernya tegak dan bagian belahan di depan tertutup oleh tiga, lima, tujuh, atau sembilan anak kancing.
Ada kecenderungan untuk menganggap Baju Kurung Cekak Musang lebih bersifat resmi dibandingkan dengan Baju Kurung Teluk Belanga. Kaum laki-laki Melayu biasa memakai baju jenis ini ke acara formal, seperti kaum perempuannya memakai baju kebaya. Baju ini tercantum dalam buku “Life and Customs” oleh R.O. Winstedt yang dikutip dari Logan, J.I.A. cetakan tahun 1909. Di dalamnya, disinggung mengenai jenis baju yang disebut sebagai “baju kurung Chikah Munsang”.
Tata cara pemakaian: Cara pemakaian Baju Kurung Cekak Musang mirip dengan Baju Kurung Teluk Belanga. Namun khusus bagi kaum lelaki, baju kurung dimasukkan ke dalam kain samping (kain samping menutupi baju). Ini kebalikan dari Baju Kurung Teluk Belanga yang bajunya dipakai di luar (menutupi) kain samping.
Kelengkapan Ada beberapa jenis pakaian lain yang lazim dipakai bersamaan dengan baju kurung.
Kelengkapan Perempuan 1. Sarung
Baju kurung biasanya dipasangkan dengan sarung, dan sarung itu sendiri dikenakan dengan ikatan “ombak mengalun” yaitu lipatan kain yang berlipit-lipit (berombak-ombak). Lipatan ini ada di bagian kiri atau kanan badan.
2. Kain Dagang
Kain dagang adalah kain sarung yang digunakan sebagai kerudung di saat bepergian. Ini dimaksudkan untuk melindungi diri dari terik matahari. Apabila berada di dalam ruangan, maka kain dagang diikatkan pada pinggang atau disangkutkan di lengan.
3. Selendang
Selendang biasanya disampirkan di bahu. Jika sedang memakai kain dagang, alih-alih memakai selendang panjang biasanya yang dipakai adalah kain mantul. Kain mantul adalah semacam selendang pendek bersulam, disampirkan di bahu apabila sedang memakai kain dagang sebagai kelengkapan baju kurung.
Kelengkapan Laki-laki 1. Celana
Bagi lelaki, baju kurung biasa dipasangkan dengan celana panjang yang disebut seluar.
Jenis seluar yang digunakan:
Seluar panjang; celana panjang yang jatuh di atas pergelangan kaki. Seluar Aceh; celana yang jatuhnya di atas betis, sedikit di bawah lutut. Seluar katuk; celana yang jatuhnya di atas lutut. Seluar sampit; celana yang jatuhnya di paha. Jika lelaki memakai baju kurung dengan sarung saja tanpa memakai celana, maka ini disebut dengan istilah “ketumbing”. Biasanya jenis pemakaian ini hanya untuk di dalam rumah atau bisa juga untuk ke masjid atau surau.
2. Kain Samping
Kain samping adalah kain sampingan yang dipakai bersama-sama dengan baju dan celana.
Terdapat beberapa cara untuk memasang kain samping:
a. Ikatan Pancung
Cara memakai kain samping yang menggunakan kain lepas. Kain dililitkan di pinggang dan sebelum sampai ke ujung kain, kain ini “dipancung”, yaitu kain disemat sambil membiarkan ujung kain terkulai ke bawah.
b. Ikatan Kembung
Ini adalah cara memakai kain samping yang biasa dipakai oleh mempelai laki-laki dalam acara pernikahan adat Melayu. Kata “kembung” berasal dari kesan menggembung saat memakai ikatan ini. Kain sarung ditarik ke bagian tengah atau tepi badan untuk kemudian diikat dan disimpul dalam berbagai macam cara agar melekat di pinggang.
c. Ikatan Lingkup
Ini adalah cara memakai kain samping yang paling sering dipakai orang. Kain sarung digulung ke atas dan dilingkup ke bagian depan atau bagian samping. Mirip dengan cara memakai sarung untuk keperluan sehari-hari.
Persaingan memang kerap terjadi di berbagai tempat dan kondisi, seperti di sekolah atau dalam pekerjaan. Sayangnya, ada orang-orang yang lebih memilih untuk menjatuhkan orang lain demi meraih suatu pencapaian dibandingkan berusaha dan bersaing secara sehat. Hal ini tentunya tidak baik untuk dilakukan.
Kita mungkin merasa tidak habis pikir ketika ada orang yang berusaha menjatuhkan orang lain untuk meraih suatu pencapaian. Nyatanya, berikut ini ada berbagai alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.
1. Tidak punya kepercayaan diri
Orang yang meraih pencapaian dengan menjatuhkan orang lain biasanya tidak punya kepercayaan diri untuk mengungguli kompetitornya jika dengan cara bersaing sehat. Akibatnya, ia memilih jalan yang tidak baik.
Ia tahu bahwa kemampuan orang yang ingin ia ungguli berada di atasnya. Namun, alih-alih mengevaluasi dan mengasah diri untuk bisa menjadi lebih baik, ia justru menggunakan cara yang licik untuk menjatuhkan saingannya.
2. Terbiasa melakukan cara curang
Tak sedikit orang yang berusaha menjatuhkan orang lain demi meraih sesuatu, karena ia memang terbiasa melakukan cara curang dan merasa hal tersebut lebih mudah dilakukan daripada harus susah payah berusaha dengan cara yang baik.
3. Dilatarbelakangi rasa iri dan tidak suka
Seseorang yang menjatuhkan orang lain untuk meraih sesuatu bisa juga dilatarbelakangi oleh rasa iri pada pencapaian orang lain atau perasaan tidak suka yang ada dalam hatinya kepada orang tersebut, sehingga ia berusaha menjatuhkan dan merebut apa yang orang lain miliki.
4. Tidak siap menerima kekalahan
Dalam persaingan, tentunya kemenangan dan kekalahan adalah sesuatu yang wajar. Namun, ada beberapa orang yang tidak siap menerima kekalahan dari orang lain, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk bisa tetap unggul, termasuk juga dengan menjatuhkan orang lain.
Itulah alasan seseorang menjatuhkan orang lain untuk meraih pencapaian. Kita tentunya akan merasa marah ketika ada orang lain yang berusaha menjatuhkan kita. Oleh karena itu, kita juga harus menjaga diri dari perilaku tersebut. Mari raih pencapaian kita dengan usaha dan cara yang baik.
Kaum perempuan di Minangkabau sedang “marandang” (memasak rendang) di sebuah perkampungan (nagari) di Solok Selatan, Sumatra Barat.
RENDANG MINANGKABAU DALAM PERJALANAN SEJARAHNYA DAN CATATAN-CATATAN LAMA
Menurut Asnan (2007), rendang telah menjadi masakan yang tersebar luas sejak orang Minang memutuskan untuk melakukan ekspansi berdagang dengan cara merantau dan berlayar ke Malaka.
“Karena perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan tepat saat itu sebagai bekal.” Hal ini karena rendang kering sangat awet, tahan disimpan hingga berbulan lamanya, sehingga tepat dijadikan bekal kala merantau atau dalam perjalanan niaga. Lebih lanjut, dalam karya Asnan itu juga diungkapkan mengenai rendang yang muncul secara implisit dari catatan Jenderal Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers, panglima militer dan residen Padang pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tentang kuliner dan sastra Sumatera Barat pada 1827. Stuers seperti dikutip Asnan (2007) menjelaskan bahwa ada satu teknik membuat masakan yang menggunakan susu kelapa yang dihanguskan. Kalimat ini mengarah ke masakan rendang yang secara eksplisit baru disebutkan dalam catatan Belanda pada abad ke-20.
RENDANG DALAM CATATAN PERS INDONESIA
Persebaran orang-orang Minangkabau ke luar pulau Sumatera meningkatkan popularisme rendang ke setiap pelosok nusantara. Selain berkat kegiatan merantaunya, kepopuleran rendang didukung pula oleh sebuah surat kabar asal Sumatera Barat bernama Soenting Melajoe (Sunting Melayu) yang didirikan pada 1912 oleh seorang tokoh kaum muda Minangkabau, yaitu Mahyuddin Datuk Sutan Maharadja. Pembaca surat kabar ini meliputi perantau Minang di luar Minangkabau yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia seperti Bandung, Medan, Bengkulu, Gorontalo, Pulau Pisang (Lampung Barat), Tanjung Karang (Lampung) dan wilayah lainnya. Sebenarnya, surat kabar ini memuat informasi-informasi seputar wanita, sesuai dengan semboyannya yang berbunyi “Soerat Chabar Perempoean di Alam Minangkabau“ (Surat Kabar Perempuan di Alam Minangkabau). Oleh karena itu, salah satu topik yang dimuat dalam surat kabar ini adalah menu-menu resep dan juga resep-resep memasak yang terutama jarang didapat dalam buku-buku masak Jawa.
Akhirnya, resep-resep masakan Minangkabau seperti rendang berhasil dipopulerkan melalui berita-berita yang dimuat pada Soenting Melajoe di awal dasawarsa kedua abad ke-20. Pada masa ini, dilaporkan oleh Mahyuddin Datuk Sutan Maharadja bahwa terdapat banyak surat-surat dari orang-orang Eropa di Palembang, Batavia, hingga Kupang yang dikirim ke kantor redaksi Soenting Melajoe. Dalam surat itu, beberapa di antaranya bersedia mengirim uang tunai demi meminta kiriman “Rendang Alam Minangkabau“. Orang-orang Eropa yang telah mencicipi rendang meyakini bahwa daging awetan seperti rendang dapat mengeraskan pembuluh darah sehingga tak heran jika mereka memohon-mohon kepada perempuan Minangkabau via redaktur Soenting Melajoe agar dibuatkan dan dikirimkan rendang meski jarak jauh memisahkan mereka.
RENDANG DAN PERJALANAN MENUNAIKAN IBADAH HAJI
Tidak hanya menjadi masakan primadona yang diminati bangsa Eropa, rendang pun dijadikan sebagai lauk pilihan yang paling disukai untuk dijadikan bekal makanan perjalanan jauh oleh masyarakat Sumatera Barat. Perjalanan jauh mereka mencapai ke mancanegara, salah satunya negara Arab Saudi. Dengan latar belakang masyarakat yang begitu religius, yakni pengaruh agama Islam yang begitu menjalar dalam sendisendi penduduk Minangkabau, maka tak heran tanah suci Mekkah dijadikan negara tujuan utama untuk mereka singgahi, sekaligus untuk menunaikan ibadah haji.
Seorang Minang berdarah Sunda, Sri, memiliki kenangan masa kecil tentang rendang semasa ia tinggal di Padang Panjang. Sekitar tahun 1940-an, beliau pernah menyaksikan neneknya memasak 5-10 kg daging kerbau dalam sebuah wajan besar, sambil berkisah bahwa rendang adalah bekal penting bagi orang-orang Islam yang akan menunaikan haji. Rendang dianggap memiliki nutrisi tinggi dan tahan lama tanpa harus disimpan di lemari pendingin, dan tidak harus selalu sering dipanaskan atau digoreng ulang. Hal ini juga membuat rendang disukai untuk disimpan lama dan dapat disajikan sewaktu-waktu untuk pesta keluarga dan selamatan. Catatan sejarah ini membuahkan kesimpulan bahwa daging kerbau masih dijadikan bahan utama pembuatan rendang pada pertengahan abad ke-20.
FILOSOFI RENDANG BAGI MASYARAKAT MINANGKABAU
Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatra Barat, yaitu musyawarah dan mufakat, yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang. Secara simbolik, dagiang (daging sapi) melambangkan “niniak mamak” (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) melambangkan “cadiak pandai” (kaum Intelektual), lado (cabai) melambangkan “alim ilama” yang tegas untuk mengajarkan syariat agama, dan pemasak (bumbu) melambangkan keseluruhan masyarakat Minangkabau.
Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap perayaan adat, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan.
DAFTAR PUSTAKA: 1) Asnan, Gusti. 2007. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra. Yogyakarta: Penerbit Ombak
2) Darmayanti, Nani dkk. Relevansi Masakan Rendang dengan Filosofi Merantau Orang Minangkabau. Jurnal Metahumaniora Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran. 7(1). 119-127.
SEKAYU- Kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Muba diakui masih jadi persoalan serius dan harus ditanggapi dengan cepat. Oleh sebab itu, Dinas PUPR Muba melalui Tim Reaksi Cepat di UPTD masing-masing Kecamatan membuka layanan pengaduan 24 jam melalui telepon seluler.
“Kalau ada jalan dan jembatan yang kondisi kerusakannya sudah darurat, warga bisa lapor ke nomor telepon 082177769922,” dan atau melalui Call Centre 112 Panggilan Kedaruratan 112 Pemkab Musi Banyuasin sehingga semua persoalan bisa kita mapping dan akan segera kita tindak lanjuti ungkap Kepala Dinas PUPR Muba, Alva Elan SST MPSDA
Ia mengaku, pada Tahun Anggaran 2023 Dinas PUPR Muba sudah menganggarkan pemeliharaan rutin Jalan dan Jembatan untuk di setiap Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin.
“Yang mana anggaran ini digunakan untuk perbaikan jalan yang belum dianggarkan di tahun berjalan,” terangnya.
Alva menambahkan, Terkait robohnya jembatan di Desa Mulyo Rejo Kecamatan Sungai Lilin, pihaknya telah melakukan survey.
“Jembatan ambruk tersebut disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga aliran debit air yang kencang menggerus jembatan yang sebelumnya memang sudah rusak,” terangnya.
Lanjutnya, Dinas PUPR bersama perangkat desa telah melakukan antisipasi agar mobilitas masyarakat tidak terganggu dengan mengalihkan sementara jalur transportasi masyarakat ke jalan lingkar dlm desa.
“Masyarakat juga telah bergotong royong membuat jembatan darurat dari papan kayu untuk jalur kendaraan roda 2, dan untuk pembangunan jembatan yang roboh akan diusulkan dalam Renja Dinas PUPR Tahun Anggaran 2024 dengan dana yang diusulkan lebih kurang Rp2,3 Miliar,” tandasnya. (FB. Berita Muba)
Pada 767, pantai Tonkin (Vietnam modern) dilanda serangan Jawa dan Kunlun (Indonesia modern), di sekitar Hanoi modern ibu kota Tonkin (Annam). Di sekitar Son-tay mereka dikalahkan di tangan gubernur Chang Po-i, setelah Kunlun dan Jawa (Shepo) menyerang Tongking pada tahun 767.
Champa kemudian diserang oleh kapal-kapal Jawa atau Kunlun pada tahun 774 dan 787. Pada tahun 774 sebuah serangan diluncurkan ke Po-Nagar di Nha-trang di mana para perompak menghancurkan kuil-kuil, sedangkan pada tahun 787 sebuah serangan diluncurkan ke Phang-rang. Beberapa kota pesisir Champa mengalami serangan angkatan laut dan serangan dari Jawa. Armada Jawa disebut sebagai Javabala-sanghair-nāvāgataiḥ (armada Jawa) yang tercatat dalam prasasti Champa. Semua serangan ini diyakini diluncurkan oleh Sailendras ot Sanjaya, penguasa Jawa / Sriwijaya. Kemungkinan penyebab serangan Sailendra di Champa mungkin didorong oleh persaingan perdagangan dalam melayani pasar Cina. Prasasti 787 berada di Yang Tikuh sedangkan prasasti 774 adalah Po-nagar.
Relief Armada
Di provinsi Kauthara pada tahun 774, kuil Siva-linga Champa di Po Nagar diserang dan dihancurkan. Sumber Champa menyebutkan penyerbu mereka sebagai orang asing, pelaut, pemakan makanan rendahan, penampilan menakutkan, luar biasa hitam dan kurus. Serangan 774 oleh orang Jawa terjadi di bawah kekuasaan Isvaraloka (Satyavarman). Catatan Cham menyebutkan bahwa negara mereka dihantam oleh perampok laut yang ganas, kejam, dan berkulit gelap, yang diyakini oleh para sejarawan modern oleh orang Jawa. Jawa memiliki hubungan komersial dan budaya dengan Champa. Dan penyerangan dimulai di Kamboja. Serangan Jawa diluncurkan melalui pulau Pulo Condor. Sumatera atau Jawa semua bisa menjadi asal mula para penyerang. Kuil Kauthara Nha Trang di Po Nagar hancur ketika pria-pria ganas, kejam, berkulit gelap yang lahir di negara lain, yang makanannya lebih mengerikan daripada mayat, dan yang ganas dan ganas, datang dengan kapal. . . mengambil [lingga kuil], dan membakar kuil. Pada 774 menurut prasasti Nha Trang dalam bahasa Sansekerta oleh Chams. Pria yang lahir di negeri lain, hidup dengan makanan lain, menakutkan untuk dilihat, gelap dan kurus secara tidak wajar, kejam seperti kematian, melewati laut dengan kapal yang diserang pada tahun 774.
Pada tahun 787, para pejuang dari Jawa yang ditumpangi dengan kapal-kapal menyerang Champa. Di Phan-rang, kuil Sri Bhadradhipatlsvara dibakar oleh pasukan laut Jawa pada tahun 787, ketika Indravarman berkuasa di tangan orang Jawa. Disebutkan bahwa tentara Jawa, yang datang dengan kapal penyerangan 787, dan serangan sebelumnya, bahwa Satyavarman, Raja Champa mengalahkan mereka saat mereka diikuti oleh kapal-kapal bagus dan dipukuli di laut dan mereka adalah orang-orang yang hidup dari makanan. lebih mengerikan daripada mayat, menakutkan, benar-benar hitam dan kurus, mengerikan dan jahat seperti kematian, datang dengan kapal di prasasti Nha-trang Po Nagar dalam bahasa Sansekerta, yang disebut pria hem lahir di negara lain. Reruntuhan candi di Panduranga pada tahun 787 terjadi di tangan para penyerang.
Champa adalah penghubung perdagangan penting antara Cina dan Sriwijaya. Majapahit dan para pendahulunya Mataram Jawa memiliki hubungan dengan Champa.
Selain itu angkatan laut Jawa kuno juga menaklukkan Indrapura/Chenla/Khmer, Lavo/Dravawati bahkan sampai ke pulau luzon (Filipina modern sekarang).
Referensi: Boisselier, Jean (1963). La statuaire du Champa (dalam bahasa Prancis). Paris, Prancis: cole Française d’Extrême-Orient. ASIN B0014Y6TPQ. Lê, Thanh Khoi (1990). Histoire du Vietnam des origines 1858 (dalam bahasa Prancis). Paris, Prancis: Sudestasie. ISBN 9782858810017. Ngô, Văn Doanh (2012). Champa. Hanoi: Publikasi pemerintah nasional, Penerbit Thé̂ Giới. ISBN 9786047703913. Ngô, Văn Doanh (2005). peninggalan Mỹ Sn. Hanoi: Penerbit Thế Giới. OCLC 646634414.
Pangeran Diponegoro ditangkap saat menghadiri undangan perundingan damai di Magelang 28 Maret 1830. Jenderal Hendrik Merkus De Kock pun menahan rasa bersalah karena mencurangi Pangeran Diponegoro di Magelang.
Jenderal De Kock mendapat tudingan buruk akibat penangkapan sang pangeran yang kemudian dibawa ke Batavia dan berlanjut dengan pembuangan ke Makassar hingga wafat tahun 1855.
Sikap De Kock yang tiba-tiba meringkus Diponegoro saat perundingan masih berlangsung dianggap sebagai perbuatan tidak jujur dan tidak ksatria. Bagi De Kock, pengakhiran Perang Jawa (1825-1830) dengan cara curang itu menjadi kenangan buruk dalam kehidupannya. “Barangkali kenangan itu tidak pernah terlepas dari perasaan yang menganggu. Seperti dia sendiri telah mengakui bahwa perbuatannya di Magelang tidak ksatria dan tidak jujur,” tulis Harm Stevens dalam buku Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600.
Jenderal De Kock sebelumnya dikenal sebagai tentara yang memiliki profil cukup humanis. Rasa kemanusiaan itu timbul dari pengalaman pahit yang pernah dideritanya. De Kock pernah mengalami pahitnya jadi tawanan perang di Benggala dan Inggris (1811-1813). “Ia sedikit menaruh simpati pada orang Jawa, yang menurut dia lebih baik daripada orang-orang pemberontak Belgia yang lebih tak terkira buasnya,” kata Peter Carey, seperti dikutip dari buku Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Kebaikan pribadi Jenderal De Kock terlihat saat Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Belanda yang baru, Johannes Van den Bosch menginstruksikan tidak ada negoisasi dengan Diponegoro. Perintah itu terbit pada 6 Januari 1830. De Kock didesak segera menangkap hidup-hidup Pangeran Diponegoro, atau bila perlu membunuhnya. “Jangan lakukan perundingan apa pun dengannya. Hanya penjara seumur hidup apabila ia menyerah atau tertangkap yang akan dikenakan.
Tidak ada pemikiran di luar itu (yang diizinkan),” kata Van den Bosch. Sebagai bawahan, De Kock tidak berani membantah perintah itu. Tapi sebagai manusia yang memiliki rasa humanis, ia mencoba menegosiasikan pemikirannya yang itu membuat Van den Bosch sedikit melunak. Perundingan damai di Magelang pun akhirnya diizinkan meskipun Van den Bosch tetap memperingatkan: bermurah hati kepada seorang yang menginspirasi pemberontakan akan dipandang sebagai kelemahan yang tidak dapat dimaafkan. Pangeran Diponegoro yang memegang janji bahwa pertemuan dengan Jenderal De Kock hanya bersifat ramah tamah dan dirinya tidak akan diapa-apakan, bersedia datang ke Magelang. Dalam pertemuan itu, De Kock juga memperlihatkan sikap persahabatan dan penuh rasa hormat.
Bahkan mereka saling bertukar cerita lelucon dan menemukan kesenangan yang sama. Namun, bagaimana pun De Kock tetaplah bawahan yang setiap saat harus menjalankan perintah atasan. Apalagi bocoran yang diterima dari mata-matanya dari karsidenan Kedu, Diponegoro tetap kukuh dengan pendiriannya untuk melawan Belanda. Pangeran Diponegoro sudah bulat pada niatnya untuk menjadi Ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya (raja pemelihara dan pengatur agama di seluruh Tanah Jawa). Pemerintah kolonial tidak mungkin mewujudkan keinginan Diponegoro tanpa lebih dulu berkompromi dengan para raja Jawa. Pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock memutuskan menangkap Pangeran Diponegoro. Tindakannya sekaligus mengakhiri Perang Jawa yang banyak menguras kas keuangan Belanda. Usai penangkapan Diponegoro, yakni masih di tahun 1830, di Belanda De Kock mendapat penghargaan dari negara. Kedatangannya dari Hindia Belanda disambut dengan Grootkruis der Militaire Willems Orde (Bintang Penghargaan Militer). Ia juga diangkat sebagai panglima pasukan-pasukan Belanda di Zeeland.
Dalam perjalanan karirnya, derajat kepegawaian Jenderal De Kock naik sebagai Menteri Dalam Negeri. Kendati demikian, kenangan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang terus mengganggunya. Untuk menangkis semua tudingan buruk, ia membuat laporan tertulis terkait peristiwa yang terjadi. De Kock melakukan upaya bersih diri. “Mungkin pihak-pihak tertentu akan mencemooh cara penangkapan Pangeran Diponegoro berlangsung, namun saya menghibur diri bahwa setelah mereka baca laporan saya ini pada umumnya tindakan saya akan dibenarkan,” kata De Kock.
Tidak hanya itu, upaya menangkis tudingan tidak ksatria dalam penangkapan Diponegoro juga dilakukan De Kock dengan memerintahkan Letnan Satu Francois De Stuers, ajudan pribadi yang kemudian menjadi menantunya, untuk membelanya.
Pada tahun 1833 atau tiga tahun setelah penangkapan Diponegoro, De Stuers menerbitkan buku berjudul Memoirs sur la guerre d’ile. Buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Gedenkschrift van den oorlog op Java van 1825 tot 1830 (Buku peringatan Perang Jawa dari tahun 1825 sampai 1830). Inti dari buku itu membela sekaligus membenarkan tindakan yang sudah dilakukan Jenderal De Kock terhadap Diponegoro. “Perbuatan-perbuatan yang terhormat, yang semakin cemerlang mengingat terjadi di tempat yang jauhnya lebih dari empat ribu jam dari Tanah Air”. Kendati demikian, semua pembelaan bersih diri itu tidak mampu melunturkan tudingan rakyat Jawa, khususnya pengikut Diponegoro kepada Jenderal De Kock dan Belanda. Pangeran Jawa yang sangat dihormati itu hanya bisa ditaklukkan dengan cara curang dan tidak ksatria.
1. Makkah adalah kawasan yg mempunyai gravitasi sangat stabil
2. Karena tekanan gravitasinya sangat tinggi, di situlah berpusatnya suara – suara yg tidak dapat didengar oleh telinga
3. Tekanan gravitasi yg tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit
4. Doa akan terkabul karena situlah tempat gema atau ruang dan masa serentak
5. Apa yg diniatkan di hati adalah gema yg tidak dapat didengar tetapi dapat dirasakan frekuensinya. Pengaruh elektron menyebabkan kekuatan dalam kembali tinggi atau penuh semangat untuk melakukan ibadah, tidak ada sifat putus asa, dan ingin terus hidup untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
6. Teknologi satelit & gelombang radio pun tidak dapat menangkap apa yg ada di dalam ka’bah. Frekuensi radio bahkan tidak mungkin mendengar apa – apa yg ada di dalam ka’bah karena tekanan gravitasinya yg tinggi.
7. Tempat yg paling tinggi tekanan gravitasinya sehingga mempunyai kandungan garam dan aliran anak sungai di bawah tanah yg banyak. Itulah sebabnya jika bersembahyang di masjidil haram yg walaupun terbuka tanpa atap tetap terasa sejuk.
8. Tidur dengan posisi menghadap kabah secara otomatis otak tengah akan terangsang sangat aktif hingga tulang belakang & menghasilkan sel darah merah.
9. Pergerakan mengelilingi ka’bah berlawanan arah jarum jam membuat peredaran darah didalam tubuh meningkat. karna itulah kita jadi bertenaga dan rata – rata orang yg berada di makkah senantiasa sehat dan panjang umur.
10. Angka 7 itu membawa maksud kepada bahwasanya Allah telah menciptakan bumi dan langit dengan 7 lapis. . Begitu juga diciptakan hari dalam 7 hari.. dan juga surat al fatiha terdiri atas 7 ayat.
11. Larangan memakai topi, songkok, atau menutup kepala karana rambut dan bulu roma (lelaki) adalah ibarat antena untuk menerima gelombang yg baik selama berada di ka’bah.
12. Setelah selesai semua barulah bercukur. Tujuannya untuk melepaskan diri daripada larangan – larangan di dalam ihram. Namun rahasia sebenarnya adalah untuk membersihkan “antena” kita dari segala kotoran. Agar hanya gelombang yang baik saja yg diterima oleh tubuh.
Karena itulah selepas kita melakukan ibadah haji dan Umrah, kita seperti dilahirkan kembali, sebab segala yg buruk telah dibuang keluar dan digantikan dengan nur atau cahaya yang baru.
Rasanya hampir semua orang Indonesia, terutama yang tinggal di daerah Jawa, pasti mengenal Herman Willem Daendels. Ya, nama ini pernah sangat melekat di hati rakyat, terutama rakyat sepanjang Anyer – Panarukan, karena kekejamannya pada suatu masa di sekitar tahun 1808 – 1810. Sebutannya pada waktu itu beragam. Rakyat mengenalnya sebagai Raden Mas Galak, Raden Guntur, Marsekal Besi.
DAENDELS DALAM BUKU SEJARAH SEKOLAH Yang saya ingat tentang Daendels saat belajar sejarah saat di bangku sekolah bahwa orang ini adalah diktator garis keras. Dia disebut-sebut bertangan besi, yang artinya sangat kejam saat menjalankan mega proyeknya membangun jalan yang menghubungkan ujung Barat dan Timur Pulau Jawa. Saya ingat dalam buku sejarah disebutkan bahwa Daendels menerapkan sistem kerja rodi, yang memaksa rakyat Indonesia untuk bekerja tanpa upah, dan siapa pun yang membangkang, maka akan dijatuhi hukuman berat, bahkan tembak mati. Salah satu tugu peringatan mengenai kerja rodi ini ada saat kita melewati Cadas Pangeran, yang juga merupakan jalur yang termasuk dalam mega proyek Jalan Anyer – Panarukan. Di buku-buku sejarah belum pernah saya temukan mengenai kehidupan lain sang gubenur jenderal ini selain kehidupan keras seorang tentara. Sampai saya membaca mengenai kedatangannya pertama kali di Anyer, setelah menempuh perjalanan panjang dari benua Eropa, hampir 1 tahun lamanya (10 bulan).
PENDARATAN DAENDELS PERTAMA KALI DI PULAU JAWA
Siapa menyangka bahwa ternyata Daendels mendarat pertama kali di Anyer tanpa pengawalan yang berarti. Konon kabarnya Daendels hanya ditemani seorang ajudan. Daendels berangkat secara diam-diam di bulan Maret 1807 setelah mendapat perintah langsung dari raja Belanda saat itu, Louis Napoleon yang masih merupakan saudara Napoleon Bonaparte. Keberangkatannya yang sembunyi-sembunyi ini dilakukan supaya tidak diketahui oleh pihak Inggris, karena keberangkatannya ke Pulau Jawa ini mempunyai misi untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Daendels berangkat melalui Paris, kemudian ke Lisbon dengan menaiki kapal Amerika setelah mengubah namanya menjadi H.W. van Vlierden. Dari Lisabon berlayar menuju Pulau Kanari dan selanjutnya menuju Pulau Jawa. Daendels mendarat di Anyer, dan menuju Batavia melalui perjalanan darat untuk menemui Gubenur Jenderal yang berkuasa saat itu. Pada tanggal 14 Januari 1808, Daendels menerima tampuk kekuasaan sebagai Gubenur Jenderal Hindia Belanda yang baru.
MEGA PROYEK AMBISIUS JALAN ANYER – PANARUKAN Ada cerita bahwa Jalan Anyer – Panarukan yang terbentang sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer ini sesungguhnya bukan membangun jalan baru secara keseluruhan, tetapi membangun jalan untuk menghubungkan jalan-jalan yang telah ada sebelumnya. Jalur Anyer – Batavia, menurut het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14, sudah ada sebelum kedatangan Daendels. Sang jenderal hanya tinggal meratakan dan mengeraskan jalan. Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg (Bogor) menuju Cisarua dan seterusnya sampai Pekalongan. Jalur Pekalongan – Surabaya telah ada, karena tahun 1806, Gubenur Pantai Timur Laut Jawa telah menggunakan jalan ini saat membawa pasukan dari Madura ke Cirebon. Peranan Daendels hanya memperlebar jalan ini. Daendels kemudian memerintahkan pembukaan jalan dari Surabaya hingga Panarukan yang menjadi pelabuhan ekspor paling ujung Jawa Timur. Mungkin itu sebabnya jalan sepanjang 1.000 km, selain karena kedisiplinan, sikap keras serta kekejaman Daendels, dapat diselesaikan dalam waktu 1 tahun, yang pada waktu itu merupakan prestasi yang sangat luar biasa. Tapi betulkan Daendels mempekerjakan pribumi tanpa upah? Disebut dalam salah satu sumber dari Majalah Historia, ternyata Daendels menerapkan sistem kerja upah. Direktur Jenderal Keuangan saat itu, Van Ijsseldijk menyiapkan dana untuk upah pekerja dan mandor, peralatan, dan konsumsi. Daendels menyiapkan dana sebesar 30.000 ringgit ditambah uang kertas dalam jumlah besar. Menurut berita dari Majalah Historia ini, besarnya upah disesuaikan dengan beratnya lokasi. Konon kabarnya ada bukti-bukti pemberian dana ke level prefek (setingkat residen) dari pemerintah, kemudian dari prefek ke para bupati. Tetapi dari bupati ke para pekerja, belum ditemukan bukti.
Diberitakan pula saat pembangunan jalan di daerah Sumedang yang medannya cukup sulit karena harus membelah batuan cadas, Daendels memerintahkan komandan pasukan zeni Brigadir Jenderal von Lutzow untuk mengatasinya, setelah mendapat laporan dari Pangeran Kornel yang meminta pengertian Daendels atas penolakan para pekerja melanjutkan pembuatan jalan. Bebatuan cadas pun digempur dengan tembakan artileri dan berhasil diratakan sehingga pekerjaan dapat dilanjutkan. Daendels juga mengundang semua bupati di pantai utara Jawa, pada Juli 1808 saat dana 30.000 gulden yang disediakan habis diluar dugaan. Dalam pertemuan di Semarang ini, Daendels menyampaikan bahwa proyek pembuatan jalan harus terus berlangsung karena kepentingan mensejahterakan rakyat. Daendels memerintahkan para bupati untuk menyediakan tenaga kerja dan para pekerja yang bekerja untuk pembangunan jalan dibebaskan dari tugasnya melayani bupati. Para bupati juga bertanggung jawab untuk menyediakan segala kebutuhan pangan bagi para pekerja. Diceritakan bahwa tujuan pembuatan Jalan Raya Pos ini adalah untuk mempercepat informasi dan sebagai upaya menghalangi Inggris dari merebut Pulau Jawa. Tetapi sepertinya ini bukan alasan utama Daendels membangun Jalan 1.000 km ini. Melihat daerah-daerah yang dipilih untuk disatukan melalui jalan ini, kepentingan ekonomi sangat kental terasa. Kenapa dipilih Anyer sebagai titik awal dan Panarukan sebagai titik akhir? Anyer pada masa Kesultanan Banten sangat terkenal sebagai penghasil rempah-rempah. Banyak kapal pedagang internasional singgal di Pelabuhan Banten Lama. Pada masa Daendels, Sultan Banten diminta untuk mengerahkan rakyatnya untuk membantu pembangunan pelabuhan militer di daerah Panimbang Pandeglang dan membantu pembangunan jalan di Anyer. Banyak percabangan jalan dari jalan utama yang dibuat pada masa Daendels. Jelas, ini untuk mempermudah pengangkutan rempah-rempah dari seluruh pelosok Anyer untuk dikirim ke Belanda sebagai upeti. Demikian juga Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan ekspor. Manfaat dari pembuatan jalan ini adalah produk-produk dari pedalaman semakin banyak dapat di angkut menuju pelabuhan-pelabuhan, sehingga produk-produk ini tidak membusuk di gudang-gudang setempat. Contohnya kopi dari pedalaman Priangan yang selama ini sering tertimbun dan membusuk di gudang-gudang kopi di Sumedang, Limbangan, Cisarua dan Sukabumi. Kopi dapat diangkut semakin banyak ke pelabuhan-pelabuhan di Cirebon dan Indramayu, sehingga otomatis menggerakan roda perekonomian. Yang paling signifikan adalah jarak tempuh perjalanan. Yang sebelumnya jarak Batavia dan Surabaya ditempuh kurang lebih 40 hari, dengan adanya jalan ini dapat dipersingkat menjadi 7 hari. Tentu saja ini sangat bermanfaat bagi pengiriman pos yang kemudian oleh Daendels dikelola dalam dinas pos. Selain alasan ekonomi ini, tentunya ada strategi militer dan politik. Saat datang ke Indonesia, satu-satunya koloni Belanda yang belum jatuh ke tangan Inggris, Daendels menyadari bahwa kekuatan Belanda tidak mungkin untuk menghadapi pasukan Inggris. Daendels bertindak cepat, selain membangun jalan yang akan mempercepat pengerahan tentara dari satu tempat ke tempat lainnya, Daendels juga membangun rumah sakit-rumah sakit, pabrik senjata, pabrik meriam, sekolah militer, dan benteng-benteng pertahanan.
KEHIDUPAN HERMAN WILLEM DAENDELS SEBELUM MENJADI GUBERNUR HINDIA BELANDA Herman Willem Daendels lahir di sebuah kota di Belanda pada 21 Oktober 1762. Hattem nama tempat itu, terletak di provinsi Gelderland, Belanda. Berjarak sekitar 81 km dari Amsterdam, 127 km dari Den Haag.
Terlahir sebagai putra dari Burchard Johan Daendels, seorang walikota (sebagian sumber menyebut sekertaris walikota), dan Josina Christina Tulleken. Sebelum menjadi tentara, Daendels mempunyai banyak pekerjaan. Awalnya dia bekerja di perusahaan manufaktur batu bata sambil menyelesaikan kuliah di bidang hukum tahun. Menjadi pengacara di Hattem pada tahun 1781. Daendels juga tergabung dalam kelompok politik, mendukung kelompok Patriot yang dan memimpin pergerakan kaum Patriot menentang kelompok Orange (kelompok pendukung William V, Pangeran Orange). Tahun 1787 Daendels ikut dalam peperangan melawan tentara Prusia yang menyerang Belanda untuk mengembalikan kekuasaan William V. Daendels kemudian lari ke Perancis, setelah kelompot Patriot berhasil dipukul mundur. Daendels kembali ke Belanda pada tahun 1794 sebagai jenderal dalam pasukan tentara revolusioner Perancis. Daendels membantu politisi melancarkan 2 kali kudeta ditahun 1798 (Januari dan June). Daendels mengajukan aplikasi 2 tahun cuti tanpa upah di tahun 1800, setelah adanya invansi Anglo-Rusia di provinsi Noord-Holland, dan kembali ke Hattem. 2 tahun kemudian atas keinginannya sendiri, Daendels mengundurkan diri dari tentara dan memutuskan menjadi petani di De Dellen, Heerde. Pada masa ini Daendels tinggal bersama anak dan istrinya di De Dellen House.
Saat Belanda menjadi kerajaan di tahun 1806, Herman Willem Daendels bergabung kembali dengan militer setelah dipanggil Raja Belanda, Raja Louis (adik Napoleon Bonaparte) dengan pangkat Kolonel Jenderal. Ia kemudian berhasil mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Pada tahun 1807, atas saran Kaisar Napoleon, Daendels dikirim ke Hindia Belanda sebagai Gubenur Jenderal. Daendels menuju Hindia Belanda dengan menggunakan nama samaran H.W. van Vlierden, yang tidak lain adalah nama keluarga istrinya, Alieda van Vlierden.
KISAH CINTA ROMEO & JULIET ANTARA DAENDELS & ALIEDA VAN VLIERDEN
Siapa yang menyangka ternyata sang Gubenur Jenderal yang kejam ini memiliki kisah cinta yang mirip dengan Romeo & Juliet. Adalah Alieda Elisabeth Reinera, putri dari pasangan Constantius Vlierden dan Petronella Geertruida Greve, yang membuat Daendels jatuh cinta. Namun kisah cinta mereka terhalang karena suhu ketegangan meningkat antara partai patriot dan partai orange. Dimana Daendels merupakan pendukung partai Patriot yang dianggap sebagai kelompok pemberontak, sedangkan Alieda datang dari keluarga yang merupakan tentara sejati, pendukung partai Orange. Daendels membawa lari Alieda pada suatu malam di bulan Agustus 1787, meninggalkan Hattem melalui sebuah gerbang di tembok selatan kota, yang dikemudian hari gerbang tersebut dikenal dengan sebutan Daendelspoortje. Saat itu Alieda berusia 19 tahun. Mereka melangsungkan pernikahan di Lage, Jerman, tanpa restu kedua orang tua. Dari pernikahannya, mereka memiliki 15 orang anak, 5 diantaranya meninggal.
DAENDELS & KORUPSI, ANOTHER SIDE OF HERMAN WILLEM DAENDELS
Kedatangan Daendels sebagai Gubenur Jenderal Hindia Belanda membawa dua misi utama dari Louis Napoleon, yaitu membela Jawa dari serangan Inggris dan membuat pemerintahan bersih di Hindia Timur. Yang harus dihadapi Daendels di Jawa, selain ancaman serangan Inggris, juga ketidakefisienan serta korupsi dalam pemerintahan kompeni Belanda. Bukan hanya menghubungkan desa-desa dengan Jalan Raya Pos, Daendels juga menyusun kembali administrasi pemerintahan. Dibentuknya badan-badan seperti kehakiman, perpajakan, keuangan, dan membuat undang-undang yang ketat. Daendels melahirkan berbagai kebijikan untuk memberantas korupsi. Para pejabat negara dilarang terlibat dalam bisnis perdagangan, tidak boleh ada suap untuk pejabat, timbangan barang juga diatur, termasuk penetapan bobot minimum. Daendels juga memberlakukan larangan penebangan kayu liar (ilegal logging). Penebangan kayu jati di Utara Jawa Tengah dilarang. Di Semarang, Daendels mengeluarkan peraturan untuk melestarikan hutan. Korupsi dianggap sebagai tindak pidana. Pegawai yang korupsi, menyalahgunakan aset negara akan divonis dengan hukuman mati. Daendels berusaha menaikan gaji karyawan. Ia beranggapan bahwa korupsi terjadi karena rendahnya upah. Para bupati diberikan sebidang tanah sebagai gaji atas kesetiaannya pada Belanda yang pada zaman sebelumnya Bupati tidak pernah mendapat gaji. Daendels membuat peraturan baru yang menyebutkan pemberian gaji kepada semua pegawai, termasuk Bupati dan para staff.
AKHIR KISAH HIDUP SANG GUBENUR JENDERAL, HERMAN WILLEM DAENDELS
Daendels dipanggil pulang dan kekuasaan diserahkan kepada Jan Willem Janssens. Banyak pejabat yang tidak suka dengan aturan yang diterapkan Daendels. Mereka membuat laporan bahwa Daendels memperkaya diri sendiri dan memberlakukan kerja rodi dalam pembangunan Jalan Anyer – Panarukan. Daendels sendiri melaporkan langsung ke Perancis, sehingga bukti-bukti semua aktivitasnya banyak tersimpan di Perancis. Sedangkan di Belanda, banyak informasi yang menyudutkannya, sehinggaDaendels dianggap sebagai biang penyakit. Di salah satu sumber disebutkan bahwa pemanggilan pulang Daendels ini sehubungan dengan rencana penyerangan ke Rusia. Napoleon memerlukan seorang jenderal yang handal dan pilihannya jatuh pada Daendels. Daendels ditugaskan memimpin kesatuan legium asing Perancis (berisi tentara-tentara dari raja-raja sekutu Perancis). Saking pentingnya Daendels, Napoleon sendiri yang menyambutnya dengan permadani merah di Istana Tuiliries, Paris. Daendels kemudian bergabung kembali dengan tentara Perancis dan ikut serta dalam penyerbuan ke Rusia. Setelah Napoleon dikalahkan di Waterloo, dan Belanda kembali menjadi negara bebas, Daendels menawarkan diri berbakti pada Raja Willem I. Sayangnya raja diliputi ketakutan bahwa Daendels akan menjadi pemimpin oposisi yang membahayakan istana, karena track recordnya menjadi pemimpin kelompok Patriot yang revolusioner. Di tahun 1815, akhirnya pemerintah Belanda menunjuknya sebagai Gubenur Jenderal di koloni Belanda di Afrika, Gold Coast (sekarang Ghana). Sekali lagi Daendels meninggalkan keluarganya menuju benua Afrika
Di Gold Coast, Daendels mencoba menata ulang koloni perkebunan orang Afrika yang bobrok. Di Gold Coast, Daendels juga berambisi menghubungkan jalan antara Elmina dan Kumasi di Ashanti. Pemerintah Belanda memberikan bantuan dan menyediakan budget untuk rencana proyeknya yang sangat ambisius. Dilain pihak, Daendels juga melihat peluang bahwa penunjukannya sebagai Gubernur Jenderal Gold Coast adalah kesempatan untuk membangun monopoli bisnis pribadi. Hanya sayang, sebelum rencananya terlaksana, Daendels harus menyerah pada malaria yang akhirnya merengut hidupnya dari dunia fana ini. Daendels meninggal di Elmina Castle (St. George d’Elmina). Jurnal Elmina hanya mencatat sedikit mengenai penyakit Daendles. Dalam jurnal tersebut dituliskan pada tanggal 2 Mei, Daendels meninggal, dan pada tanggal 3 Mei, jam 4 sore, jasad Daendels dikebumikan ditandai dengan 15 tembakan. Daendels dikebumikan di central tomb, pemakaman Belanda di kota Elmina. Alieda sendiri meninggal di Hattem pada tahun 1848, 30 tahun setelah kematian Daendels.
Tradisi seperti ini ternyata bukanlah hal baru dalam kehidupan masyarakat kita sejak dulu. Sebuah perputaran ekonomi sejak Zaman Kolonial Belanda dulu, Setidaknya sudah berjalan sejak berakhirnya Era Cultuur Stelsel yang Otomatis dimulainya Era Agrarisch Wet tahun 1870 an disetiap Gajian (Bayaran Mingguan pekerja) baik di Perkebunan ataupun pabrik industri, disamping jatah rutin yang sudah ada berupa beras serta minyak (Bahan bakar pelita) untuk penerang gelapnya suasana malam di lokasi rumah – rumah bedeng para pekerja perkebunan, maka pasar mingguan pun akan selalu ikut hadir dalam memenuhi kebutuhan warga, dari mulai makanan, pakaian, perabotan rumah tangga dll.
Pelabuhan Ratu
Sebagai gambaran masa lalu, realitanya ternyata pihak Onderneming pun jauh lebih memperhatikan hal seperti ini, selain pasar minguan yang digilir berputar lokasi sesuai jadwal hari, mengikuti waktu bayaran, maka tidak jarang tersedia juga Koperasi bagi keluarga pekerja yang akan mengambil berbagai barang, termasuk makanan serta minuman yang langka serta mewah untuk saat itu seperti Roti, Keju, Kornet, Sardencis, Mentega, Syrup dll yang tentu saja bisa dibayarkan dengan cara dipotong gaji saat bayaran berikutnya. Food And Beferage.
Sukabumi
Tidak jarang untuk moment – moment Tertentu Pasar malam, Pagelaran seni etnik, Sandiwara, bahkan Layar tancap (Film bisu Hitam – putih) seperti Charly Chaplin pun akan ikut memeriahkan suasana, bahkan di lokasi lain ada pula yang disertai dengan Hiburan malam & lotere. Untuk perkebunan seperti Sinagar (Nagrak), Hardjasari (Cireungas), Parakan Salak dll, Pihak Administrateur pun mengeluarkan Token/Alat tukar untuk transaksi yang hanya berlaku internal di dalam area bersangkutan saja.
Malam istimewa pun akan terlewati meriah seiring bingar bingarnya Suasana malam, yang disertai terang benderangnya cahaya lampu seluruh area implasemen yang dihasilkan dari Generator – Turbin pembangkit listrik yang mayoritas sudah banyak dimiliki setiap Perkebunan, dengan sumber energi dari aliran sungai yang melimpah di sekitar lokasi, sebagai Ciri khas suburnya tanah Priangan/Preanger.
Sutan Sjahrir, salah satu tokoh pegerakan Indonesia yang mengenyam pendidikan di Eropa memiliki sebuah kisah cinta yang unik. Kisah Sjahrir layaknya sebuah cerita roman tentang cinta buta hingga tragedi yang membuat keduanya terpisah jauh. Dia lah Maria Duchateau, seorang perempuan asal Belanda yang tak sengaja ditemui Sjahrir di negeri kincir angin saat mengenyam studi pada tahun 1931. Di dalam buku “Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia”, Maria dituliskan sebagai istri dari tokoh Sosialis Belanda, Sol Tas yang memiliki dua orang anak. Sol Tas juga merupakan salah satu teman Sjahrir dalam berdiskusi di Belanda. Hubungan asmara antara Sjahrir dengan Maria terjalin di saat pernikahannya dengan Sol Tas renggang. Maria juga tidak lagi tinggal satu rumah dengan suaminya itu.
Maria Duchateau saat tiba di Bandara Schipol, Belanda (kiri) dan Sutan Sjahrir (kanan).(geheugenvannederland.nl/Wikipedia)
Namun, di bulan November 1931, Sjahrir memutuskan kembali ke tanah air untuk bergabung dengan kelompok pergerakan di Indonesia dan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) Baru bersama Bung Hatta. Hubungan antara Sjahrir dan Maria terus dilakukan meski keduanya terpisahkan jarak. Surat menjadi satu-satunya cara mereka memadu kasih di tengah era penjajahan Belanda di Indonesia saat itu. Empat bulan sesudah Sjahrir meninggalkan Belanda, Maria bersama kedua anaknya bertolak ke Indonesia untuk menyusul pria kelahiran Padang Panjang, 5 Maret 1909 itu. Tak sabar menunggu perempuan yang dicintainya, Sjahrir pun menyusul dari Batavia ke Medan, tempat berlabuhnya kapal yang dinaiki Maria dan kedua anaknya. Keduanya kemudian memutuskan menikah tak lama setelah itu, tepatnya pada 10 April 1932 di sebuah masjid di Medan. Mereka pun tinggal di sebuah rumah di kota Medan, berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Kesawen, ataupun sekedar berjalan santai bergandengan tangan mesra di Grand Hotel yang disebut terlarang bagi pribumi.
Maria dipulangkan ke Belanda
Pernikahan dua ras yang berbeda itu menjadi perhatian mencolok. Dengan cepat, berita soal Sjahrir bersama Maria tersiar ke kalangan masyarakat Belanda hingga penduduk pribumi. Surat kabar setempat bahkan memuat artikel untuk mendesak pemerintah bertindak terhadap Sjahrir dan istrinya. Maria pun pernah dihentikan di tengah jalan oleh orang kulit putih lain yang bertanya apakah dia butuh bantuan. Surat kabar De Sumatra Post mengangkat berita utama soal pasangan eksentrik ini dengan judul “Wanita memakai sarung dan kebaya, di bawah pegawasan polisi” pada 13 Mei 1932. Dengan semakin maraknya pemberitaan Sjahrir dan Maria, kabar pun dengan cepat tersiar bahwa Maria belum resmi bercerai dari suami sebelumnya, Sol Tas yang ada di Belanda. Sehingga, pernikahan Sjahrir dengan Maria dianggap tidak berlaku oleh pejabat Islam, hanya berselang satu bulan pasca pernikahan mereka. Atas keputusan itu, pejabat Belanda memulangkan Maria kembali ke kamung halamannya dengan menggunakan kapal. Peristiwa ini juga dijadikan peringatan dari pemerintah Belanda kepada aktivits PNI. Setelah dipulangkan ke Belanda, Maria terus mencari akal untuk bisa kembali bertemu sang suami. Dia bersurat kepada Ratu Belanda untuk bisa membawa kembali Sjahrir untuk melanjutkan studi di Belanda, namun permintaan itu ditolak. Maria terus berkirim surat, kali ini alasannya ingin kembali ke Inodnesia untuk bertemu dengan suami, namun permintaan itu tak pernah dijawab oleh sang ratu. Hingga pada tahun 1934, pemerintah Belanda meringkus puluhan anggota PNI, tak terkecuali Bung Hatta dan Sjahrir. Sjahrir ditangkap hanya saat hendak bertolak ke Belanda menyusul perempuan yang begitu dicintainya. Sebuah tiket kapal SS Aramis sudah dipesannya jauh-jauh hari, namun percuma saja. Pertemuan Sjahrir dengan Maria kembali gagal karena yang memiliki pengetahuan luas di bidang hukum, sosiologi, dan politik itu harus mendekam di balik jeruji penjara Cipinang.
Surat cinta untuk Maria
Setelah empat bulan di penjara Cipinang, kontak Sjahrir dengan dua luar terputus. Satu-satunya kontak yang dilakukan Sjahrir hanyalah surat yang secara rutin satu bulan lima kali dia kirimkan untuk Maria. Sjahrir dikenal orang yang tidak tahan akan kesendirian. Maka dari itu, berkiirm surat kepada orang yang dikasihinya menjadi satu-satunya cara Sjahrir terselamat dari depresi kesendirian. Apa pun diceritakan Sjahrir kepada Maria dalam bahasa Belanda mulai dari ukuran sel tahanannya hingga makanan di penjara. “Makin lama aku makin banyak melupakan apakah selera dan perangsang itu. Aku kini menganggap makan sebagai kewajiban, dan dengan demikian rasa kenyang beralih dari makan ke arah yang dimakan, kira-kira cara yang sama degan orang yag merasa puas menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kepuasan rohain dari jiwa lebih banyak daripada kepuasan hawa nafsu perut jadi kepuasan dengan spiritualital ‘yang lebih tinggi’. Kamu dapat melihat apa yang ditekan jika makan memakai semangkok dari kaleng,” tulis Sjahrir dalam suratnya untuk Maria. Pada tanggal 16 November 1934, diputuskan bahwa lima pimpinan PNI diasingkan ke Boven Digul yang sangat terpencil. Bung Hatta dan Sjahrir turut di dalamnya. Mereka menganggap pengasingan itu sebagai sebuah tamasya yang tak jelas kapan selesainya. Kisah perjalanan mereka menuju Boven Digul yang saat itu ditakuti karena wabah malaria yang mematikan pun diceritakan Sjahrir kepada Maria dengan pandangan lebih optimis. Dia juga menceritakan buku-buku bacaanya selama menjadi tahanan yakni kitab Injil, novel, sama sekali tidak ada mengenai politik. Dia pun bercerita soal interaksinya dengan “orang buangan” di Digoel yang tidak terpelajar. Selama di sana, tingkah laku Sjahrir cukup aneh. Sjahrir lebih senang berkelana melalui perahu kano menyusuri Sungai Digoel, berenang, hingga bermain bola. Sjahrir pun dikenal sebagai “pengelana jenaka”. Selama berada di pengasingan, Sjahrir seolah melepaskan diri dari dunia politik. Hal ini berbeda dengan rekannya, Bung Hatta yang masih aktif mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar. Setelah ditelusuri, ternyata Sjahrir membuat kesepakatan dengan pemerintah Belanda untuk tidak menuliskan atau pun terlibat dalam pergerakan politik apa pun. Dengan membuat kesepakatan itu, Sjahrir mendapat tambahan uang dari Belanda untuk biaya korespondensi dengan Maria dari yang semula 2,6 gulden menjadi 7,5 gulden. Bagi Sjahrir, Maria adalah penyemangat hidupnya. Tidak pernah dia, semenjak ibunya Rabiah meninggal, begitu sungguh-sungguh berbicara dengan wanita. Ketika Perang Dunia II meletus, Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman sehingga seluruh korespondensi terputus. Mulai dari 1931-1940, Maria menerima 287 surat dengan panjang antara 4-7 halaman dari Sjahrir. Dia sempat berpikir untuk membakarnya namun Maria dibantu suaminya yang jug adik Sjahrir, Sutan Sjahsyam memutuskan membukukannya dengan judul Indonesische Overpeinzingen, diterbitkan di Amsterdam pada 1945 di bawah nama samaran Sjahrazad.
Armin News – Kebijakan agraria dan pertanahan secara legal formal, tercatat dalam sejarah Indonesia dimulai dari kebijakan Gubernur Jenderal Raffles dalam pemerintahannya yang singkat, antara tahun 1811-1816.
Ia menyatakan kebijakannya dengan domein theory yang intinya menyatakan, semua tanah di Negeri Hindia-Belanda adalah “milik raja atau pemerintah.”
“Atas dasar kebijakan itu pula Raffles, melakukan penarikan pajak bumi yang dikenal sebagai landrente,” tulis Hotman M. Siahaan dalam buku 1000 Tahun Nusantara yang terbit pada tahun 2000.
Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (George Francis Joseph)
Landrente mengharuskan petani membayar pajak 2/5 dari hasil tanahnya. Pajak ini berdasarkan asumsi, rakyat—para petani pribumi—adalah penyewa, sedangkan pemilik tanah adalah pemerintah kolonial.
Inilah teori domein yang sangat mempengaruhi kebijakan agraris Pemerintah Hindia Belanda, khususnya ketika Gubernur Jenderal van den Bosch memberlakukan Cultuurstelsel pada tahun 1830.
Tanam paksa atau Cultuurstelsel pada dasarnya mendasarkan diri pada teori domein ala Raffles, di mana para kepala desa dianggap menyewa kepada pemerintah, selanjutnya kepala desa meminjamkan kepada petani.
Potret Petani Lokal dalam Penerapan Kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di Hindia – Belanda Sejak 1830 (Het-Cultuurstelsel/Kolonialisme Jouwweb Nederlands)
“Kebijakan tanam paksa ala van den Bosch memaksa petani menanam sepertiga dari tanahnya dengan tanaman yang ditentukan pemerintah,” lanjut Hotman.
Adapun tanaman yang ditentukan pemerintah kolonial berupa nila, kopi, dan tembakau yang merupakan komoditas komersial yang hasilnya diserahkan pada pemerintah kolonial.
Dihapuskannya Cultuurstelsel yang penuh penindasan tersebut, mengubah kebijakan agraria yang mengarah pada hadirnya modal swasta di Negeti Hindia-Belanda.
Hotman menjelaskan, “Penghapusan itu juga menandai babak baru dalam sejarah agraria di negeri jajahan ini, yaitu diundangkannya pada 9 April 1870, undang-undang Agraria.”
RUU Agraria yang diajukan Menteri Jajahan, de Waal, disahkan menjadi UU yang disebut Agrarische Wet, atau penyebutan kurang populernya, Akkerwet (Staatsblad No. 55 /1870).
UU Agraris yang semula dinyatakan hanya berlaku bagi Jawa dan Madura, intinya memuat antara lain memberikan legitimasi kepada negara sebagai penguasa tanah-tanah terlantar (woeste gronden) yang tidak atau belum digarap.
Selain itu, Agrarische Wet memberikan dasar kewenangan pada negara untuk melepaskan hak penguasaannya atas tanah-tanah itu, dan memberikannya pada pengusaha perkebunan dalam bentuk erfpacht berjangka 75 tahun.
Hal terpenting dalam Agrarische Wet ini adalah diterapkannya Agrarische Besluit (Staaatsblad No.118/1870) yang intinya menerapkan asas domein verklaring.
Domein verklaring merupakan suatu prinsip yang menyatakan, “semua tanah yang tak terbukti pemiliknya atau tanah terlantar adalah domein atau milik negara,” terang Hotman.
Latar belakang kebijakan pertanahan itulah yang menjadi konteks gerakan petani, dalam menghadapi kekuasaan negara atau pemerintahan kolonial. Kebijakan agraria ala Raffles dengan teori domein-nya yang kemudian diterapkan Pemerintah Hindia-Belanda, telah mengundang sejumlah gerakan petani untuk menentang
Armin News-Di masa lalu, ketika Raffles tinggal di Nusantara – pernah menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda pada dekade awal 1810an – dia pernah terbengong melihat ada orang Melayu melakukan kekerasan tanpa arah di sebuah pasar.
Raffles kemudian bertanya kepada warga: ada apa gerangan? Mereka menjawab ada orang mengamuk (melakukan amuk). Penulis buku kondang tentang Jawa, ‘History of Java’ yang sebagian di datanya dapat dari hasil merampok Kraton Jogjakarta, kemudian pergi untuk melihatnya secara langsung.
Foto : Zoological Society of London
‘’Ah, dia orang gila. Di Inggris dia disebut orang gila,’’ ujarnya. Yang mengantarkan dan kebetulan orang Melayu dia menjawab membantahnya.’’Tidak. Hanya orang ‘ngamuk’, tidak gila. Dia mengamuk saja,’’ tukas si Melayu. Orang itu kemudian mengatakan dia sadar dan melakukannya karena kesal saja, kecewa, atau karena dorongan hal lain. Bisa juga karena luapan emosi jiwa yang tak tertahan.
Raffles hanya diam mengamati. Dan ketika amuknya reda, dia melihat orang itu kembali seperti orang waras biasa. Orang mengamuk itu sama sekali tidak gila. Bahkan bisa kemudian tertawa-tawa gembira seperti orang waras lainnya. Di titik Raffles sadar bahwa yang mengamuk itu bukan gila. Hanya mengamuk. Raffles pun tersadar pula istilah Eropa atau Inggris untuk menerangkan keadaan seperti itu tidak ada kamus bahasa di negerinya. Gila ya gila, lalu amuk itu apa padanan kosa kata bahasa Inggrisnya. Di situlah Raffles kemudian memasukan kata ‘amuk’ ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘Amock’ yang diartikan sebagai tindakan mata gelap. Kata ini juga diartikan sebagai situsi perbuatan yang tidak didasarkan kesadaran diri yang penuh. Dan kata ini berkat Raffles memasukannya ke kamus Inggris, ‘amuk’ kini telah menjadi kosa kata milik dunia.
Pemerintah memastikan akan memberikan paket kompor listrik kepada 300.000 penerima. Adapun paket tersebut diberikan secara gratis sebagai implementasi dari program konversi kompor yang menggunakan elpiji 3 kg ke kompor listrik.
Sekjen Kementerian ESDM Rida Mulyana mengungkapkan, paket kompor listrik diberikan kepada masyarakat yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Satu paket terdiri dari kompor listrik dua tungku, satu alat masak, dan satu miniature circuit breaker atau MCB. Satu paket kompor listrik siap pakai itu nilainya seharga Rp 1,8 juta.
“Rencananya tahun ini 300.000 (penerima). Jadi satu rumah itu dikasih satu paket, kompornya sendiri, alat masaknya sendiri, dana dayanya dinaikin,” ujar Rida, dikutip pada Rabu (21/9/2022).
Paket kompor listrik seharga Rp 1,8 juta terbilang mahal. Namun, menurut Rida, hal itu wajar karena tiap tungku berukuran 800 watt, tetapi nantinya salah satu tungku akan dinaikkan menjadi di atas 1.000 watt.
Peningkatan daya salah satu tungku kompor listrik itu yang membuat nilai paket diperkirakan mencapai Rp 2 juta per rumah tangga miskin. Adapun peningkatan daya bertujuan agar waktu memasak menjadi lebih cepat.
“Jadi ada usulan yang satu tungkunya diubah lebih gede. Nah, itu lagi dikalkulasi berapa harganya, harusnya kan enggak Rp 1,8 juta lagi, mungkin Rp 2 juta, pasti lebih naik,”
Lebih lanjut, ia mengatakan, untuk mendorong keinginan masyarakat menggunakan kompor listrik, pemerintah akan menjamin keselamatan dan kemudahan penggunaannya. Nantinya, uji coba penggunaan kompor listrik ini pun akan dievaluasi secara berkala.
“Uji coba ini yang akan kita evaluasi sampai Oktober nanti,”
Kompor listrik lebih mahal atau murah?
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, setidaknya terdapat beberapa manfaat jika program ini dijalankan dengan benar.
Salah satunya, biaya yang dikeluarkan masyarakat jika menggunakan kompor induksi dapat 10-30 persen lebih rendah dibandingkan penggunaan kompor gas.
“Manfaatnya adalah buat masyarakat, memasak dengan kompor induksi 10-30 persen lebih lebih rendah daripada memasak dengan menggunakan elipji 3 kg,”
Namun, kata dia, penerapan konversi kompor gas ke kompor listrik ini harus dibarengi dengan pengonversian daya listrik masyarakat miskin dengan benar.
Hal ini agar masyarakat miskin tidak terbebani dengan biaya pembayaran listriknya di mana untuk menggunakan kompor listrik ini masyarakat harus menambah daya listrik.
“Yang bikin masyarakat bertanya-tanya, ‘Kalau misal daya kami dinaikkan, lalu tarif listriknya berapa?’ Ya kalau tarif listriknya sama dengan tarif listrik pelanggan PLN yang biasa, ya enggak ada penghematan dari sisi biaya bagi pengguna kompor induksi,”
“Bisa lebih rendah itu karena ada tarif listriknya (tetap disubsidi), kan yang elpiji disubsidi. Kita bandingkannya begitu,”
(Penulis Cerita Oleh : ARMINOTO Silamudin Tarmizi Jabak H. Majid)
Ilustrasi gambar di Perkampungan
Kolonialisme atau Penjajahan adalah suatu sistem di mana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain tetapi masih tetap berhubungan dengan negara asal, istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.
Perlawanan rakyat Musi Banyuasin terjadi khususnya daerah Langkan, Sungai Guci, Lubuk Kepayang, Jirak, Pagar Kaya, Tebing Bulang, Kertajaya, Gajah Mati dan Rantau Sialang terhadap penjajah pasca kemerdekaan terjadi dimana-mana. Berita bahwa Indonesia telah merdeka pada umumnya belum tersebar secara luas pada masyarakat Sekayu pada khususnya dan masyarakat Muba pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan saat itu sarana komunikasi dan transportasi masih sangat terbatas. Baru pada tanggal 3 September 1945 AS Mattjik bersama – sama Wasik datang dari Palembang ke Sekayu menemui Dr. Slamet memberi penjelasan tentang telah diproklamirkan Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan M. Hatta mewakili bangsa Indonesia.
Pertempuran-pertempuran yang terjadi di Musi Banyuasin ada berbagai macam, salah satunya Pertempuran di Dusun Kertajaya, dimana pada saat itu rakyat Musi Banyuasin tidak terima Belanda menguasai kembali daerahnya dengan memboncengi NICA yang bertujuan untuk menguasai kembali perkebunan–perkebunan dan kilang-kilang Minyak di Musi Banyuasin yang dahulunya milik Kolonial Belanda. Selain itu Belanda melucuti senjata – senjata Jepang yang diambil para pemuda di Musi Banyuasin yang membuat rakyat melawan Belanda.
Para pejuang yang terlibat dalam peristiwa tersebut merupakan rakyat Musi Banyuasin yang tergabung dalam berbagai macam kumpulan seperti: pasukan dari Kompi I dan Kompi II Batalyon XI dan 38, Polisi Tentara, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Badan Keamanan Rakyat (BKR), Barisan Pelopor Republik Indonesia (BPRI), GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) dan pasukan Laskar serta rakyat biasa tidak terima Belanda menguasai Musi Banyuasin kembali.
Beberapa contoh – contoh yang lain Perlawanan rakyat Musi Banyuasin adalah Pertempuran di Front Langkan, Musi Pait, Musi Landas, Betung, Lais, Sekayu, Karang waru, Babat Toman, Mangunjaya, Keluang, Sungai Lilin, Sungai Guci salah satu petempuran yang cukup sengit yang sekarang didirikan monumen perjuangan dan lain-lain. Adapun yang dimaksud dengan perjuangan masyarakat Musi Banyuasin dalam melawan Kolonial Belanda.
Pada jaman penjajahan Jepang ini pun terjadi di Desa Teluk Kijing, Muba. Dimana penduduk pribumi berusaha mengusir para penjajah Jepang tersebut keluar meninggalkan Desa Teluk Kijing. Tentara-tentara hutan dan rakyat sipil berjibaku berperang melawan tentara Jepang agar pergi meninggalkan desa Teluk Kijing. Banyak rakyat sipil dan tentara hutan yang berguguran dalam peperangan ini.
Perbuatan melawan atau menentang dari masyarakat di daerah ini diwujudkan dalam bentuk perlawanan fisik (kekerasan/mengangkat senjata) maupun nonfisik (tanpa kekerasaan/ membangkang), merupakan manifestasi protes terhadap kesewenang – wenangan pemerintah kolonial di daerah ini. Motif perlawanan – perlawanan itu ada rasa tidak senang/tidak puas terhadap peraturan – peraturan kolonial (dengan kecurangan – kecurangan yang ditimbulkan) seperti bermacam – macam peraturan pajak, kerja rodi, pelanggaran hak dan tradisi.
Pahlawan – pahlawan rakyat pada abad ke-20 di daerah ini boleh dianggap sebagai lanjutan atau masih berkaitan dengan perlawanan abad sebelumnya (abad ke-19) yang semuanya diilhami oleh antara lain ajaran Islam dan semangat jihad.
Tempat Perjuangan rakyat Teluk Kijing, Muba ini dikenal dengan Pancuran Darah yang terletak di tengah hutan di perkebunan warga disebelah Utara desa Teluk Kijing dan monumen (Besi Berbentuk bambu runcing yang dicor didalam semen), perjuangan rakyat Teluk Kijing ini masih berdiri kokoh di depan kantor Kepala Desa Teluk Kijing I.
Gurbernur Sumatera Selatan dan PJ. Bupati Musi Banyuasin saat menandatangani Peresmian Masjid Abdul Kadim
LAIS- Ribuan jemaah dari berbagai daerah memadati Masjid Raya Abdul Kadim, Rabu (12/4/2023) di Desa Epil Kecamatan Lais Kabupaten Muba. Rangkaian tersebut merupakan kegiatan peresmian Masjid megah kebanggaan warga Bumi Serasan Sekate.
Proses peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Sumsel Herman Deru, bersama Pj Bupati Muba Apriyadi Mahmud dan Ketua TP PKK Muba Asna Aini Apriyadi yang juga dalam kesempatan itu menghadirkan langsung Ustadz Abdul Somad (UAS).
“Saya bangga Kabupaten Muba dipimpin dan diisi orang orang yang memakmurkan Masjid,” ucap UAS.
Ia mengingatkan, agar para pejabat di Sumsel dan Kabupaten Muba terus memakmurkan Masjid dan mensejahterahkan umat. “Semua ini kuasa Allah SWT, jaga dan ramaikan untuk ibadah Masjid Raya Abdul Kadim ini,” katanya.
Sementata itu dalam sambutannya Pj Bupati Apriyadi Mahmud menyebut bahwa Masjid Raya Abdul Kadim sebagai ikon Kabupaten Muba. Untuk itu ia berpesan agar masyarakat merawat kondisi masjid tersebut.
“Masjid ini sangat mewah, dan harus diiringi kemakmuran. Banyak-banyak di gunakan untuk peribadatan, shalat lima waktu diusahakan berjamaah di masjid ini,” ucapnya.
Apriyadi mengucapkan terimakasih kepada yang telah mempelopori pembangunan masjid tersebut yakni Prof Dr Abdul Kadim salah satu putra terbaik Kabupaten Muba, dengan harapan amal ibadahnya akan diterima Allah SWT.
“Kita berharap muncul Abdul Kadim lainnya, yang sukses di luar dan kembali ke daerah membantu membangun Kabupaten Muba,” kata Pj Bupati Muba.
Ia juga mengungkapkan terimakasih kepada Gubernur Sumsel H Herman Deru yang telah bersedia hadir langsung meresmikan Masjid Raya Abdul Kadim.
“Kita bangga Pak Gubernur sering sekali hadir di Muba, itu berarti beliau sangat mencintai masyarakat Muba. Oleh karena itu kami berharap, kiranya alokasi program untuk Kabupaten Muba di tambah. Tahun ini, Pak Gubernur sudah memberikan bantuan gubernur sebesar Rp50 Miliar,” tandasnya.
Senada Gubernur Sumsel H Herman Deru juga mengucapkan terimakasih kepada Prof Dr H Abdul Kadim yang telah menginisiasi pembangunan Masjid Abdul Kadim.
“Kami pemerintah provinsi dan Kabupaten Muba mengucapkan terimakasih kepada Pak Abdul Kadim. Masjid ini sangat bagus, untuk itu tolong masjidnya dijaga dan di makmur kan,” ucapnya.
Sementara itu Ketua Dewan Pembina Masjid Abdul Kadim, Prof Dr H Abdul Kadim bersyukur pembangunan masjid tersebut berjalan lancar tidak ada kendala hingga dapat diresmikan.
“Masjid ini bukan milik kami pribadi tapi masjid ini milik umat Islam di Sumatera Selatan, Indonesia dan pihak lainnya. Terimakasih kepada Gubernur dan Pj Bupati Muba Apriyadi Mahmud telah hadir langsung, mungkin baru kali ini peresmian masjid dihadiri Gubernur dan Bupati langsung.” Ujarnya
Melansir dari travel.detik.com Pandeglang – Abuya Muhamad Hasan Armin adalah kyai tersohor dari Pandeglang. Selama hidupnya, Ia dikenal sakti. Dia pernah mendorong mobil mogok Bung Karno cuma pakai lidi.
Cucu Abuya Muhamad Armin, H. Heri mengisahkan karomah yang dimiliki oleh kakeknya tersebut. Kakeknya diketahui mampu mendorong mobil Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno ketika mogok.
Diceritakan Heri, pada malam hari mobil yang ditunggangi Soekarno mengalami mogok yang berjarak sekitar 4 kilometer dari Pondok Pesantren Abuya.
Beberapa orang coba membantu untuk mendorong mobil yang ditumpangi Bung Karno tersebut. Namun, mobil tersebut sama sekali tidak bergerak. Kemudian beberapa rombongan berjalan kaki untuk meminta bantuan kepada Abuya Muhamad Armin.
Abuya Armin kemudian mendatangi rombongan tersebut. Dikatakan Heri, dengan kesaktiannya, Abuya mampu mendorong mobil tersebut hanya dengan menggunakan satu lidi.
“Bade kadie mogok, pakai sapu lidi jalan, didorong mah teu jalan, ari make sapu lidi mah jalan,” (Mau ke sini mogok, pakai sapu lidi jalan, didorong nggak jalan, kalau pakai lidi mah jalan),” kata dia.
Menurut cerita Heri, Abuya juga bisa menghidupkan mesin diesel pembangkit listrik dengan bahan bakar air. Di zaman itu, listrik termasuk barang ‘langka’ dan tidak semua orang bisa mengaksesnya.
Diceritakan Heri, pada sekitar tahun 30-an pondok pesantren yang didirikan oleh Abuya sudah memiliki pembangkit listrik sendiri. Alat tersebut digunakan untuk menerangi seluruh komplek pondok pesantren. Beberapa santri ditugaskan untuk menjadi mekanik mesin tersebut.
Heri mengisahkan pada suatu malam, saat banyak tamu dan para santri sedang belajar agama, tiba-tiba lampu padam. Padamnya lampu tersebut karena mesin kehabisan bahan bakar.
Stok bahan bakar pada saat itu kebetulan sedang habis, para santri ditugaskan untuk mencari bahan bakar sampai ke luar kampung. Para santri yang sudah berupaya mencari, namun tidak membuahkan hasil. Mereka pulang dengan tidak membawa bahan bakar.
Tidak ingin santri dan para tamu terganggu, kemudian Abuya Armin memanggil para santri untuk membawakan satu ember air. Heri mengatakan Kemudian Abuya mencelupkan telunjuk tangan ke air tersebut. Setelah dicelupkan, kemudian Abuya memerintahkan para santri untuk memasukkan air tersebut ke mesin diesel.
Mendapatkan perintah tersebut, dikatakan Heri para santri merasa kebingungan. Tak pikir panjang santri tersebut menuruti apa yang diperintahkan oleh Abuya. Tak lama berselang, tiba-tiba mesin tersebut hidup dan lampu di pondok pesantren kembali menyala.
“Mana kadie cai sa ember diasupken jari ke air, masukin ke mesin, nyala sampai isuk, (Mana sini air satu ember, dimasukkan jari telunjuk ke air, masukin ke mesin, nyala sampai pagi), kata Heri saat berbincang dengan detikcom di Cibuntu-Pandeglang, belum lama ini.
“Kelebihanna didinya, bahan bakar tina cai,” (Kelebihannya di situ, bahan bakar dari air),” imbuhnya.
Semasa hidupnya, Abuya Armin malang melintang menimba ilmu selama 17 tahun di tanah Arab seperti, Mesir, Palestina, Siria, Libanon, Yordania, Turki, Qatar, Bahrain dan Irak.
Setelah melakukan perjalanan panjang berguru agama ke beberapa negara tersebut, kemudian Abuya Armin pulang kembali ke Cibuntu, Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk-Pandeglang. Di Cibuntu, kemudian ia mendirikan pondok pesantren.
Ratusan santri belajar padanya. Proses belajar yang diberikan oleh Abuya Armin juga bisa dinikmati oleh masyarakat. Bahkan banyak jamaah dari luar daerah yang mengikuti pembelajaran agama di pondok pesantren tersebut. Abuya mengajarkan Tafsir Al Qur’an hingga Tarekat Naqsyabandiyah kepada mereka.
“Ratusan santri belajar kitab, tafsir Al-Quran. Tarekat Naqsyabandiyah tiap malam Jum’at. Ka tampi sadanyana anu bade ngiring bae, (Diterima semuanya yang mau ikut),” ujar Heri.
Pada 30 November 1988 Abuya menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-108 tahun. Berkat jasanya dalam memberikan ajaran agama Islam ke seluruh masyarakat di Pandeglang, sampai saat ini makamnya selalu ramai dihadiri oleh para peziarah.
“Masih seer anu ziarah, malam Jum’at rame nu ziarah (Masih banyak yang ziarah, malam Jum’at ramai yang ziarah),” katanya.
Penulis Cerita Oleh: Arminoto Silamudin Tarmizi Jabak Haji Majid.
Jaman dahulu kala, di Desa Teluk Kijing, hiduplah seorang wanita dan anaknya. Mereka tinggal di sebuah gubuk, gubuk tersebut tidak jauh dari tebing di pinggiran sungai Musi, yang bermuara dengan sungai Batang Hari Leko, Provinsi Sumatera Selatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ibu dan anak tersebut mencari kayu bakar di tengah hutan. Ranting-ranting pohon yang sudah rapuh mereka kumpulkan, yang kemudian nanti akan mereka bawa pulang ke rumahnya. Selesai membantu ibunya mengumpulkan kayu bakar, sang anak pergi ke sungai untuk memancing. Dan ia pun membawa pulang hasil pancingannya.
Foto Ilustrasi Gubuk orang tua Dempo Awang
Keesokan harinya, mereka kembali pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu – kayu bakar. Namun, didalam perjalanan pulang sang anak tersebut, Dempo Awang namanya, tidak sengaja melihat “Tenawan”, yang dalam bahasa Teluk Kijing, berarti Jamur.
Dempo Awang berkata pada ibunya, “Mak, ade Tenawan Gerigit di batang kayu itu”. Ibu Dempo Awang pun berkata pada Dempo Awang. “Ao adak Nang, banyak nian Tenawan di batang kayu itu”. “Payo Mak, kitek pongot Tenawan itu, pacak Anang nyualnye. Pasti banyak nyang nak melinye”. Timpal Dempo Awang kepada ibunya. Selesai memungut jamur tersebut, Dempo Awang dan ibunya bergegas pulang karena seperti yang sudah disampaikan oleh Dempo Awang bahwa dia akan menjajakan jamur tersebut kepada warga Desa Teluk Kijing.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Dempo Awang kepada ibunya, ternyata jamur yang ia jajakan tersebut sudah habis terjual dengan cepat. Dempo Awang pun berlari pulang ke rumah dan memberitahukan kepada ibunya bahwa jamurnya sudah habis terjual. Sang ibu pun sangat bangga pada Dempo Awang. Sambil menerima uang hasil penjualan jamur dari Dempo Awang, sang ibu menyodorkan sepiring nasi beserta tumisan jamur yang mereka pungut di kebun tadi.
Dengan lahapnya, Dempo Awang menghabiskan nasi dan tumisan jamur pemberian ibunya tersebut.
Dari hari ke hari, bahkan tahun pun berlalu, sampai tiba waktunya, Dempo Awang beranjak dewasa. Seperti biasanya Dempo Awang membantu ibunya mengumpulkan kayu bakar dan jamur di hutan, lalu menjualnya ke warga sekitar. Tiba-tiba, Dempo Awang bertemu dengan Juragan Kaya raya dari Palembang, dan sang juragan itu menawarkan pekerjaan kepada Dempo Awang.
Tanpa pikir panjang, Dempo Awang menyetujui tawaran juragan tersebut. Namun, Dempo Awang ingin memberi tahu dan meminta izin terlebih dahulu kepada ibunya di rumah. Setibanya di rumah, Dempo Awang menyampaikan hal tersebut kepada ibunya, bahwa ia ingin merantau ke Palembang bersama juragan kaya raya tersebut. Dengan berat hati dan perasaan yang sangat sedih sang ibu merelakan anaknya pergi meninggalkannya sendiri.
Singkat cerita, sudah bertahun-tahun Dempo Awang pergi merantau meninggalkan ibunya sendiri di rumahnya, tanpa memberikan kabar berita. Ibunya yang sudah tua renta dan sudah sakit-sakitan, siang dan malam merindukan anaknya, Dempo Awang yang tidak kunjung pulang menemuinya, bahkan kabar pun tidak ia terima.
Suatu hari, ibu Dempo Awang pergi menuju tebing dipinggir sungai Musi, dengan membawa sebungkus nasi dan tumis jamur. Sambil menatap ke tengah aliran sungai Musi yang sedang pasang, ibu Dempo Awang berkata, “anak ku Dempo Awang, Mak rinu nian dengan kau, Nang. Ini Mak maweke Anang nasi dengan tumisan Tenawan, nyang Anang hobi nian makannye”. Karena hari sudah mulai senja dan matahari hampir terbenam, sang ibu dengan berlinang air mata dan dengan langkah yang tertatih, pulang menuju gubuknya. Begitupun keesokan harinya, ibu Dempo Awang kembali ke pinggir tebing sungai Musi, berharap Dempo Awang datang menemui sang ibu.
Namun, sama seperti hari – hari sebelumnya, ibu Dempo Awang tidak juga bertemu dengan anaknya. Ibunya selalu berdoa, berharap Dempo Awang pulang ke kampung halamannya. Bertahun-tahun sudah berlalu, sehingga pada suatu hari datanglah beberapa kapal yang menepi ke tebing sungai Musi di Desa Teluk Kijing. Nampak terlihat didalam kapal juragan itu banyak barang-barang, dan disalah satu kapal yang penumpangnya adalah Dempo Awang bersama seorang wanita cantik yang ternyata itu adalah istri Dempo Awang, putri juragan kaya raya yang pada waktu itu menawarkannya untuk ikut juragan tersebut.
Setibanya di tebing sungai Musi, Dempo Awang dan istrinya turun dari kapal dan mencoba mendarat ke tebing untuk melihat kampung halaman kelahirannya. Tiba-tiba, di tebing itu ada seorang ibu yang sudah tua renta memanggil Dempo Awang, akan tetapi Dempo Awang merasa malu mengakui sesosok ibu yang tua renta itu sebagai ibunya kepada istrinya, lalu Dempo Awang mengajak istrinya kembali menaiki kapal mereka.
Foto Ilustrasi Kapal Dempo Awang
Dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya, sang ibu sangat kecewa dan bersedih sekali melihat anaknya seperti itu. Sambil menangis dan melangkahkan kakinya yang sudah ditopang dengan tongkat, ibu Dempo Awang pergi meninggalkan kapal rombongan Dempo Awang. Tidak lama kemudian, sebelum tiba di gubuknya, sambil melihat ke langit, ibu Dempo Awang mendengar gemuruh angin kencang diiringi kilatan petir, dan hujan deras dengan gelombang air sungai Musi yang seketika menggulung rombongan kapal Dempo Awang yang dalam sekejap menenggelamkan kapal-kapal Dempo Awang tersebut.
Akhirnya, kapal Dempo Awang yang membawa barang-barang dagangan, seperti beras, dan ketan tenggelam didalam dasar air sungai Musi. Yang kini dikenal dengan, “Tanampo”, (Tanah Hampa). Oleh masyarakat desa Teluk Kijing sendiri, Tanampo tersebut, dapat dijadikan obat.
Sedangkan Dempo Awang sendiri, konon berubah menjadi burung “But-but”, sejenis burung Beo.
Oleh : Arminoto Armin Bin Silamudin Tarmizi Jabak H. Majid
Sumber : Dikutip dari berbagai sumber
Puyang Candi (puyang saw) adalah julukan dari Ki Abdullatif Bin H. Somad Bin Halimah. Nama Puyang Candi diambil dari penemuan Batu Bata yang berbentuk candi di areal makam tersebut, makam itu terletak tak jauh dari persimpangan antara sungai musi dan sungai batang hari leko di desa Teluk Kijing.
Teluk Kijing memiliki asal nama desa yang sangat unik di ambil dari nama hewan dan air, desa Teluk Kijing adalah salah satu desa tertua yang ada di kecamatan Lais Musi Banyuasin, karena sebelumnya ada pemerintah desa, desa tersebut di perintah oleh pesirah atau setingkat Camat.
Desa Teluk Kijing di ambil dari nama aliran sungai musi dimana terdapat sebuah Teluk yang banyak terdapat Kijing (sejenis Kerang Sungai) yang artinya muara sungai terdapat hamparan Kijing.
Ki Abdullatif mempunyai Istri bernama Sunaryah Bin Ahad Binti Sukarmi,dan mempunyai anak berjumlah 5 (Lima) orang bernama : Sukartini Ujang Azhari Soleh Ibrahim Sohibah
Berasal dari Jawa Tengah ia pergi merantau ke Palembang setelah itu pergi menuju Teluk Kijing Kecamatan Lais Kab. Musi Banyuasin pada Tahun 1620-1670 M.
Ia mempunyai kesaktian : – Bisa berjalan di atas air – Menjinakkan binatang liar seperti Buaya, Ular dan lain-lain – Mencari ikan – Pengobatan dan lain-lain
Pada waktu merantau ia membawa alat musik tradisional Jawa seperti Kromong, Gendang, Gong dan lain-lain. Gong di gunakan selain untuk bermain musik juga di gunakan untuk: Pemberitahuan masuknya waktu maghrib dan Imsak pada bulan Ramadhan (Puasa). Sebagai Tawak-tawak (alat bunyi yang di gunakan untuk mengumpulkan warga) ketika ada berita atau hal-hal yang akan di sampaikan pada warga. Sebagai pertanda adanya musibah atau huru-hara di dalam kampung.
Semenjak kepergiannya (Meninggal) Gong tersebut menghilang entah di mana, sampai saat ini masyarakat tidak mengetahui dimana pasti keberadaannya ada yang mengatakan di dalam sungai musi pertemuan antara sungai musi dengan sungai batang hari leko, ada juga yang mengatakan tertanam di dalam tanah.
Menurut cerita warga desa Teluk Kijing I dan Teluk Kijing II kecamatan Lais, makam puyang Candi sangat berkaitan erat dengan berbagai cerita yang pernah terjadi di desa teluk Kijing, pada Tahun 1994 mayoritas Masyarakat Teluk Kijing pernah mendengar suara keras semacam bunyi GONG dari arah sungai musi tak jauh dari makam tersebut, tidak lama kemudian terjadi bencana kebakaran yang mengakibatkan puluhan rumah warga hangus terbakar dilalap api. Pada saat terjadi kebakaran tersebut saya sebagai penulis artikel ini sedang menginap di rumah saudari saya dan malam peristiwa kejadian itu saya sudah tertidur. Namun, saudari saya langsung menyeret saya dari tempat tidur dan sambil membawa gulungan pakaian kami melompati api yang sedang melalap tangga rumah saudari saya tersebut.
Ada juga kejadian tenggelamnya kapal pencari ikan yang tenggelam ratusan tahun silam, saat menjaring ikan tiba-tiba tersangkut dengan rantai emas yang merupakan tali dari sebuah Gong, kemudian nelayan terebut menarik rantai tersebut dengan tujuan hendak mengambil Gong tersebut, namun tiba-tiba di dekati oleh sebuah Burung yang mengatakan ”sudah cukup, jangan di tarik lagi”, namun sang nelayan masih saja menarik rantai tersebut hingga membuat Burung yang di duga Jelmaan Puyang Candi marah dan menabrakkan kapal nelayan tersebut hingga pecah dan karam.
Makam puyang candi pertama kali ditemukan pemilik kebun yang tak lain orang tua dari kades Teluk Kijing II bernama H. Hasuni H. Hasan pada tahun 1970-an, sebuah makam tua yang memiliki nisan di bagian depan dan belakang yang saat ini sudah terlihat rapuh. Peninggalan sejarah adalah susunan batu bata yang menyerupai candi.
Hingga saat ini masyarakat percaya kalau bunyi GONG sebagai tanda bahaya atau musibah yang akan menimpa masyarakat desa tersebut, seperti kena penyakit, kebakaran, kelaparan dan lain- lain.
Cerita Dibalik Kebiasaan Warga Makan Tanah di Teluk Kijing
Salah seorang warga menunjukkan tanah yang bisa dimakan di Desa Telukkijing, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Tanah yang biasa dikonsumsi Desa Teluk Kijing II, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), tidak terlepas dari ceritanya yang panjang. Cerita asal muasal tanah ini hampir sama dengan Malin Kundang (di Sumatera Barat). Konon, ada seorang pemuda bernama Dempo Awang.
Sekitar tahun 1800-an, Dempo Awang merantau ke Palembang menumpang sebuah kapal. Di Palembang dia berkenalan dengan anak Ginde yang kemudian memberinya modal untuk berjualan. Pada akhirnya, dia juga menikahi anak Ginde yang memiliki paras cantik jelita, dengan sebutan Putri Ginde. Beberapa tahun kemudian, Dempo Awang diajak istrinya jalan-jalan menyusuri Sungai Musi menggunakan kapal pribadi yang disebut Kapal Rejong. Saat melintas di Desa Telukkijing, kapal bermuatan beras, ketan, gandum dan kebutuhan pokok lainnya itu tiba-tiba rusak. Dengan berat hati, Dempo Awang yang tahu desa itu tanah kelahirannya pun terpaksa menepi.
Mendengar kabar anaknya pulang dan telah menjadi saudagar kaya, dengan bergegas ibu Dempo Awang menyambutnya. Sang ibu mendatangi kapal di tepi Sungai Musi. Sayang, meski tahu itu ibunya, Dempo Awang tak mau mengakuinya. Singkat cerita, sambil menangis sang ibu berdoa jika memang Dempo Awang benar anaknya, dia mohon Tuhan memberikan hukuman. Tak lama setelah sang ibu berdoa, tiba-tiba terjadi hujan petir disertai angin kencang, membuat kapal Dempo Awang beserta isinya tenggelam. Konon, mayarakat setempat meyakini persediaan makanan Dempo Awang menjadi tanah yang kemudian dikenal dengan sebutan Tanah Tanampo Sakti.
Menurut masyarakat Teluk Kijing, hingga saat ini tumpukan bahan makanan Dempo Awang yang sudah menjadi tanah masih sering dikonsumsi warga. Warga percaya, tanah tersebut memiliki khasiat dan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sekarang tanah itu hanya bisa dilihat ketika air surut, biasanya di bulan Agustus. Jejak permukiman kuno juga ada dalam rentang 4 km di tepi Musi, dan temuan fragmen-fragmen keramik kuno di kebon karet desa itu diduga dari abad VIII Masehi. Desa Teluk Kijing, mungkin pernah jadi kampung internasional, disinggahi pedagang China dan India.
Di masa sekarang, sangat wajar kita menjumpai persaingan antara perusahaan-perusahaan. Perusahaan itu sama-sama berusaha mendapatkan keuntungan, pangsa pasar, dan jumlah penjualan. Para perusahaan biasanya berusaha mengungguli persaingan dengan membedakan harga, produk, distribusi dan promosi.
Ternyata jauh sebelumnya, di masa kolonial, persaingan seperti ini antara perusahaan ternyata telah terjadi, bahkan persaingan itu jauh lebih ketat. Pada masa kolonial di Nusantara, terdapat dua perusahaan dagang besar yang saling bersaing untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Kedua perusahaan itu adalah VOC dan EIC. VOC milik Belanda dan EIC milik Inggris.
Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. VOC merupakan persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.
Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia sekaligus merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian saham.
Kemunculan perusahaan ini bermula pada tahun 1596, empat kapal ekspedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman berlayar menuju Nusantara, dan merupakan kontak pertama Nusantara dengan Belanda. Ekspedisi ini mencapai Banten, pelabuhan lada utama di Jawa Barat, di sini mereka terlibat dalam perseteruan dengan orang Portugis dan penduduk lokal.
Cornelis de Houtman berlayar lagi ke arah timur melalui pantai utara Jawa, sempat diserang oleh penduduk lokal di Sedayu yang mengakibatkan ia kehilangan 12 orang awak, dan terlibat perseteruan dengan penduduk lokal di Madura yang menyebabkan terbunuhnya seorang pimpinan lokal. Setelah kehilangan separuh awak maka pada tahun berikutnya mereka memutuskan untuk kembali ke Belanda.
Pada tanggal 31 Desember 1600 Inggris memulai mendirikan perusahaan dagang di Asia yang dinamakan Perusahaan Dagang Hindia Timur Britania atau British East India Company (EIC) dan berpusat di Kalkuta, India. Kemudian Belanda menyusul tahun 1602 dan Prancispun tak mau ketinggalan dan mendirikan French East India Company tahun 1604.
Pada 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan VOC. Di masa itu, terjadi persaingan sengit di antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, Prancis dan Belanda, untuk memperebutkan hegemoni perdagangan di Timur.
Untuk menghadapai masalah ini, oleh Staaten Generaal di Belanda, VOC diberi wewenang memiliki tentara yang harus mereka biayai sendiri.
Selain itu, VOC juga mempunyai hak atas nama Pemerintah Belanda yang waktu itu masih berbentuk republik, untuk membuat perjanjian kenegaraan dan menyatakan perang terhadap suatu negara. Wewenang ini yang mengakibatkan bahwa suatu perkumpulan dagang seperti VOC, dapat bertindak seperti layaknya satu negara.
Hak-hak istimewa yang diberikan kepada VOC itu tercantum dalam Hak Oktrooi (Piagam) tanggal 20 Maret 1602 yang meliputi hak monopoli untuk berdagang dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri.
Hak kedaulatan sehingga dapat bertindak layaknya suatu negara untuk memelihara angkatan perang, memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian. Merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Negeri Belanda, memerintah daerah-daerah tersebut, menetapkan/mengeluarkan mata-uang sendiri, dan memungut pajak.
Perusahaan ini mendirikan markasnya di Batavia (sekarang Jakarta) di pulau Jawa. Pos kolonial lainnya juga didirikan di tempat lainnya di Hindia Timur yang kemudian menjadi Indonesia, seperti di kepulauan rempah-rempah (Maluku), termasuk Kepulauan Banda di mana VOC manjalankan monopoli atas pala dan fuli.
Metode yang digunakan untuk mempertahankan monompoli perdaganhan yaitu termasuk melakukan kekerasan terhadap masyarakat lokal, dan juga pemerasan dan pembunuhan massal.
Tahun 1603, VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor perwakilan, dan pada 1610 Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama (1610-1614), namun ia memilih Jayakarta sebagai basis administrasi VOC yang selanjutnya diubah namanya menjadi Batavia.
Sementara itu, Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon (1605-1611) dan setelah itu menjadi Gubernur untuk Maluku (1621-1623).
Pada 1669, VOC merupakan perusahaan pribadi terkaya dalam sepanjang sejarah, dengan lebih dari 150 perahu dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, angkatan bersenjata pribadi dengan 10.000 tentara, dan pembayaran dividen 40%.
Perusahaan ini hampir selalu mengalami konflik dengan perusahaan pesaingnya EIC milik pihak Inggris. Hubungan keduanya memburuk ketika terjadi Pembantaian Ambon pada tahun 1623, di mana banyak orang Inggris yang dibunuh oleh Belanda.
Pada pertengahan abad ke-18, VOC mengalami kemunduran karena beberapa sebab sehingga dibubarkan. Alasannya beragam, diantaranya kerena banyak pegawai VOC yang melakukan kecurangan dan korupsi. Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan, contoh perang melawan Sultan Hasanuddin dari Gowa.
Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai yang banyak. Pembayaran dividen (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah VOC mengalami kekurangan pemasukan.
Bertambahnya saingan dagang di Asia, terutama Inggris dan Prancis. Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Batavia 1795 yang demokratis dan liberal menganjurkan perdagangan bebas.
Berdasarkan alasan di atas VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan utang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasaan di Nusantara. Aset-asetnya dialihkan kepada pemerintahan Belanda.
Sama seperti Belanda, Inggris juga mendirikan perusahaan dagang yang mereka namai Perusahaan Dagang Hindia Timur Britania atau East India Company (EIC).
Perusahaan ini merupakan sebuah perusahaan saham-gabungan dari para investor yang didirikan oleh Ratu Elizabeth I pada 31 Desember 1600, dengan tujuan untuk memonopoli perdagangan di Asia terutama di India.
Royal Charter atau Piagam Kerajaan secara efektif memberikan perusahaan yang baru berdiri ini sebuah monopoli dalam seluruh perdagangan di Hindia Timur. Perusahaan berubah dari sebuah gabungan perusahaan dagang menjadi kekuatan politik yang memerintah di India ketika perusahaan ini mengambil fungsi pemerintahan dan militer.
Awalnya perusahaan EIC yang bergerak dalam usaha perdagangan rempah-rempah harus bersaing dengan VOC milik Belanda yang sudah mapan. Pada awalnya EIC membuka kantor dagang dan pabrik yang besar di India selatan, tepatnya di kota Machilipatnam di Pantai Coromandel di Teluk Bengal.
Selain di India, EIC juga sempat mendirikan kantor dagangnya di wilauah Nusantara, tepatnya di daerah Banten, Jawa Barat. Impor lada dari Jawa adalah bagian penting dari perdagangan perusahaan selama dua puluh tahun.
Pada tahun 1683, kantor dagang dan pabrik EIC di Banten ditutup karena sedang berkonflik dengan VOC. EIC kemudian pindah ke daerah Bengkulu pada tahun 1685 dan bertahan di sana sampai dengan bulan Maret 1825, ketika seluruh kekuatan Inggris meninggalkan Bengkulu.
EIC terus bertahan hingga lebih dari dua setengah abad kemudian sampai terjadi pemberontakan tahun 1857 di India. Hampir sama dengan nasib VOC, latar belakang pemberontakan ini adalah korupsi yang meluas dalam EIC dan rasa tidak puas raja-raja di wilayah India atas dominasi EIC.
Para pemberontak di India mendapat dukungan dari raja-raja di wilayah India yang sebelumnya terampas kekuasaannya oleh EIC. Kemudian secara bersama-sama mengangkat Maharaja Mughal (penguasa India sebelum EIC) sebagai pemimpin perlawanan.
EIC berhasil memadamkan pemberontakan setelah mendatangkan bantuan pasukan dari Eropa dan koloninya yang lain terutama Burma (sekarang Myanmar), dengan dibantu para bangsawan India yang masih setia kepada EIC dari kaum Sikh.
Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan, EIC dibubarkan pada tahun 1858. Selanjutnya, kekuasaan di India dijalankan secara langsung oleh Kerajaan Inggris.
Kolonel Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI pertama sekaligus termuda melalui Konferensi TKR, 12 November 1945. Konferensi TKR digelar karena Supriyadi tak pernah muncul sejak ditetapkan sebagai Menteri Keamanan Rakyat sekaligus Panglima TKR oleh Presiden Soekarno.
Keberadaan Supriyadi hingga detik ini masih misterius. Entah ia masih hidup atau wafat. Menurut versi keluarga, Supriyadi telah wafat dalam pemberontakan PETA di Blitar. Kalahnya Supriyadi dan pasukan disebabkan strategi pemberontakan mereka bocor ke pihak Jepang.
Ayah Supriyadi, yakni Darmadi merupakan anggota PETA angkatan pertama. Darmadi satu angkatan dengan Suharto dan AH Nasution. Tahun 1945, Darmadi menjabat sebagai petinggi kejaksaan di Kediri. Darmadi telah mengetahui anaknya akan melakukan pemberontakan PETA di Blitar. Namun posisi Darmadi saat itu sedang ditahan kempeitai Jepang di Kediri.
Adik Supriyadi, yakni Suroto sudah mengikhlaskan kepergian kakaknya, sebagaimana pesan ayahnya yang legowo atas kematian anaknya di medan tempur. Namun yang membuat Suroto dan keluarga besar Supriyadi kesal adalah sikap pemerintah yang sejak dulu sampai sekarang membiarkan rumor kehidupan Supriyadi menjadi misteri.
“Bangsa Jepang yang dibilang biadab saja, usai perang masih mencari dan mengumpulkan tulang belulang pejuangnya di pulau-pulau seluruh Indonesia. Lha, kita yang katanya bangsa religius menghargai jasa pahlawan, kenapa ini terus dibiarkan. Kenapa terus ditutupi,” tutur Suroto, dikutip Detik edisi 16 Agustus 2018.
Tidak jelasnya keberadaan Supriyadi membuat para pimpinan TKR resah. Letnan Jenderal Urip Sumohardjo –yang sebelumnya telah dipanggil oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dan diberi mandat sebagai staf umum TKR– kemudian berkoordinasi dengan pejabat sementara Menteri Keamanan Rakyat, Muhammad Soeljoeadikoesumo. Mereka membentuk empat komandemen di Jawa dan Sumatera.
Komandemen I Jawa Barat dipimpin Jenderal Mayor Didi Kartasasmita. Komandemen II di Jawa Tengah dipimpin Jenderal Mayor Suratman. Komandemen III Jawa Timur ada di bawah pimpinan Jenderal Mayor Muhammad, dan Komandemen IV Sumatera dipimpin oleh Jenderal Mayor Suharjo Harjowardoyo.
Selain memilih empat komandemen, Letnan Jenderal Urip Sumohardjo juga memilih Yogyakarta sebagai Markas Tinggi TKR. Semula, berada di gedung yang kini menjadi Hotel Inna Garuda, lalu dipindahkan ke gedung yang sekarang menjadi Museum TNI AD Yogyakarta. Selanjutnya, untuk menindaklanjuti desakan TKR agar disegerakan pemilihan pimpinan tentara, maka Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, atas izin pemerintah pusat berinisiatif mengumpulkan semua komandemen, panglima divisi dan resimen TKR dan mengadakan rapat besar. Maka lahirlah Konferensi Tentara Keamanan Rakyat di Markas Besar Tentara di Yogyakarta pada 12 November 1945.
Letnan Jenderal Urip Sumoharjo mengundang pimpinan TKR Jawa dan Sumatera, serta para komandan resimen dan divisi ke Yogyakarta untuk menghadiri Konferensi TKR. Pada 12 November, terlaksanalah Konferensi TKR walau jumlahnya tidak komplit. Jawa Timur, misalnya, di mana sebagian petinggi TKR tak datang karena masih sibuk bertempur menghadapi tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Untuk wilayah Sumatera pun tak semua petinggi TKR dapat hadir karena berjaga-jaga akan pecahnya perang seperti di Surabaya. Ternyata kewaspadaan itu benar. Sejak Oktober 1945 sampai 10 Desember 1946 terjadi pertempuran Medan Area, sebuah pertempuran yang memakan waktu lebih lama daripada di Surabaya. Atas kondisi tersebut, maka enam divisi dari Sumatera diwakili oleh satu perwira, yakni Kolonel Mohammad Noeh.
Sementara, wilayah lain tidak terlibat karena masih menjadi wilayah Belanda. Seperti penuturan Pengamat Sejarah Militer, Sarif Idris. “Indonesia Timur dan Kalimantan ketika itu masih dibawah komando Sekutu yang kemudian diserahkan kepada Belanda. Yang milik Republik Indonesia, Jawa dan Sumatra. Makanya nanti ada agresi tahun 1947 dan 1948 untuk rebut Jawa dan Sumatra kan” ujar Sarif saat diwawancarai VOI.
Nama Sudirman Tidak lengkapnya kehadiran petinggi TKR tersebut tak membuat konferensi batal dilaksanakan. Konferensi TKR dibuka pada pukul 10.00 WIB. Hadir pula sejumlah tokoh, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sunan Pakubuwono XII, Mangkunegoro X serta pejabat sementara Menteri Keamanan Rakyat Muhammad Seoljoadikoesumo.
Dikutip dari buku Guru bangsa: sebuah biografi Jenderal Sudirman karya Sardiman A.M, suasana rapat sempat memanas saat pemilihan kandidat Panglima TKR. Rapat sempat dihentikan beberapa waktu karena kondisi tersebut. Saat itu muncul nama dua tokoh yang dinilai layak menjadi pimpinan TKR, yaitu Letnan Jenderal Urip Sumohardjo dan Kolonel Sudirman. Urip Sumohardjo ketika itu menjabat Kepala Staf Umum TKR dan mendapat dukungan suara mantan anggota KNIL. Sementara, Sudirman kala itu menjabat Panglima Divisi V Banyumas, Jawa Tengah yang didukung mantan anggota PETA.
Setelah berhenti beberapa waktu, sidang yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Holland Iskandar kembali dimulai. Untuk mencegah kembalinya situasi memanas, maka Holland Iskandar meminta seluruh peserta untuk menuliskan nama calon Panglima TKR di atas kertas lalu dituliskan di papan tulis. Hasilnya terdapat delapan nama:
1. M. Nazir (KNIL Laut)
2. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Bangsawan)
3. Wijoyo Suryokusumo
4. Urip Sumohardjo (Staf Umum TKR, ex-KNIL)
5. GPH Purwonegoro (Bangsawan)
6. Sudirman (Panglima Divisi V, ex-PETA)
7. Suryadi Suryadarma (Mantan Perwira KNIL)
8. M. Pardi (Laksamana Kepala TKR Laut)
Pemilihan dilakukan secara langsung. Setiap peserta konferensi cukup mengangkat tangan sebagai wujud dukungan kepada calon Panglima TKR yang disebutkan panitia pemilihan. Dikutip dari Warta Budaya Dinas Kebudayaan Yogyakarta, jalannya pemilihan berlangsung alot hingga tiga putaran.
Dua calon gugur di putaran pertama. Dua calon lainnya gugur di putaran kedua. Putaran ke tiga terdapat empat nama calon, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, Suryadi Suryadarma dan Kolonel Sudirman. Voting putaran terakhir menetapkan Kolonel Sudirman sebagai pemenang. Sudirman berhasil memperoleh 22 suara. Sementara, Letnan Jenderal Urip didukung oleh 21 suara.
Kolonel Sudirman terpilih menjadi Panglima TKR di usia 29 tahun. Masih sangat muda dibanding kandidat lain yang lebih senior. Selain memilih Panglima TKR, konferensi juga menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Dalam menyikapi hasil pemilihan tersebut, Kolonel Sudirman terkejut dengan hasil pemilihan dan menawarkan diri untuk melepas posisi tersebut kepada Urip Sumohardjo.
Hal ini senada dengan ucapan pengamat sejarah militer, Sarif Idri. “Sikap Sudirman agak enggak enakan terhadap pemenangan dirinya. Tadinya Sudirman maunya dipilih saja, jangan voting. Biar bagaimanapun Oerip kan lebih experienced dan senior. Cuma loyalis Sudirman mendesak. Akhirnya diiyakan,” tutur Sarif.
Dalam konferensi TKR saat itu memang kenyataannya banyak peserta yang mantan prajurit PETA. Para prajurit mantan PETA ini jelas ragu jika harus memilih Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, mengingat beliau sejak tahun 1914 sudah mengabdi menjadi tentara Belanda, yaitu KNIL. Terlebih lagi kondisi saat itu Belanda sedang bertempur dengan pihak Indonesia, sehingga bagi mereka, lebih aman memilih Kolonel Sudirman yang berlatar belakang mantan tentara PETA bikinan Jepang.
Selain itu, Sarif Idris juga menambahkan terpilihnya Kolonel Sudirman kala itu dibantu pula dukungan Abdul Haris Nasution. “Terpilihnya Sudirman juga tak lepas dari dukungan Nasution waktu itu dengan loyalisnya. Awalnya Nasution setuju saja dengan diangkatnya Oerip. Tapi kemudian karena mayoritas suara pro Sudirman, Nasution ikut suara terbanyak. Kalau ada clash, saya juga yakin Nasution dan loyalisnya merapat ke kubu Oerip karena faktor ‘didikan Eropa’ (sama-sama ex-KNIL tadi,” Sarif.
Kebesaran hati Jenderal Urip Konferensi TKR tetap rumit dan alot meski telah ada keputusan final. Ada kendala lain untuk sepakati. Kali ini adalah pemerintah pusat, seperti Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Syahrir meragukan kapasitas Sudirman menjadi Panglima Besar TKR. Hal ini akibat Sudirman kala itu baru dua tahun menjadi tentara. Padahal kondisi Indonesia saat itu dalam keadaan perang menghadapi sekutu. Akibatnya dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk melantik Sudirman.
Alasan keraguan pemerintah pusat pun beragam. Wakil Presiden Mohammad Hatta menaruh harapan agar Letnan Jenderal Urip Sumohardjo menduduki posisi Panglima TKR karena dinilai lebih berpengalaman dan memiliki pendidikan militer yang tinggi saat menjadi tentara Belanda. Sementara Sutan Syahrir berpandangan pengangkatan menteri tidak dapat dilakukan melalui Konferensi TKR karena hal tersebut merupakan wewenang pemerintah pusat. Apalagi, Sutan Syahrir sudah memiliki calon Menteri Keamanan Rakyat lain, yakni Amir Syafruddin.
Sementara, Bung Karno sempat memanggil Letnan Jenderal Urip Sumohardjo terkait hasil keputusan Konferensi TKR. Dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan kekalahan tipis satu suara dalam pemilihan itu. Beliau juga bahkan meyakinkan Bung Karno walau baru sebentar menjadi tentara, Sudirman memiliki kualitas baik sebagai prajurit maupun sebagai pemimpin.
Terkait sikap Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, Safir Idris mengatakan, “Andai Oerip bukan ex-KNIL, dia yang menang (dalam Konferensi TKR). Oerip bukan tipe orang yang ambisius, kalau dia mau, bisa clash antara pendukung. Yang pro dia kan banyak juga.”
Lamanya tenggat waktu sejak Konferensi TKR 12 November 1945, barulah pada 18 Desember 1945 Presiden Sukarno melantik Kolonel Sudirman sebagai Panglima Besar TKR di Yogyakarta. Tentu saja proses ini dapat terlaksana setelah Bung Karno berhasil meyakinkan Bung Hatta dan Bung Syahrir untuk menerima hasil Konferensi TKR yang menetapkan Sudirman sebagai Panglima TKR. Kecuali untuk posisi Menteri Keamanan Rakyat, tidak disepakati menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, jabatan itu dipercayai kepada Amir Sjarifuddin. Barulah kelak pada 15 Juli 1948 Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat sebagai Menteri Pertahanan di Kabinet Hatta. Sedangkan Letnan Jenderal Urip Sumohardjo tetap mengisi jabatan sebagai Staf Umum TKR.
Minum Arak Batavia atau Mati: Ketika Minuman Beralkohol Menangkal Penyakit di Zaman Belanda
Eksistensi minuman keras jenis arak punya sejarah panjang di Jakarta. Pada masa kolonial minuman itu disebut Batavia Arrack atau Arrack van Batavia. Cita rasanya yang khas membuat arak Batavia masyhur hingga ke daratan Eropa. Bahkan di era Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen, arak ini dimanfaatkan untuk mencegah penyakit tropis.
Kehadiran arak di Batavia pada waktu itu tak terlepas dari peran orang China yang sudah bermukim sedari dulu dan menjadi produsen arak. Meski begitu, asal-usul arak sendiri banyak versinya.
Ada yang bilang, kata arak diserap dari bahasa Arab yakni araq, yang artinya “*sweet liquor*.” Seperti dijelaskan dalam *Kitab Lisanularabi*, *araq* diartikan sebagai “sesuatu yang keluar dari pangkal rambut atau kulit (keringat).” Maknanya kemudian berkembang menjadi distalasi atau penyulingan.
Sementara itu menurut penjelasan Asep Rahmat Hidayat, seorang peneliti bahasa dalam tulisannya di *Majalah Tempo* (2018) mengungkapkan, meskipun kata arak berasal dari Arab, sulit untuk menyatakan masyarakat Indonesia menerima bulat-bulat racikan itu dari Arab. Lebih jauh, Asep bilang kata *Harak* (minuman keras) ternyata sudah muncul pada pupuh ke 90 dari kitab *Kakawin Nagarakretagama* yang ditulis pada 1365, dan pada masa itu pengaruh India lah yang dominan.
“Menurut satu sumber, teknologi distilasi arak berkembang pada masa Kesultanan Delhi, kemudian menyebar ke Cina dan sampai di Jawa oleh orang Mongol pada masa Dinasti Yuan. Konon, minuman keras Korea, soju, awalnya juga disebut arkhi,” ungkap Asep.
Jejak di Batavia
Selain itu, keberadaan arak buatan Batavia banyak dicatat dalam laporan-laporan perjalanan penjelajah Belanda ke Jakarta pada masa lalu. Arak bahkan sudah ada jauh sebelum Belanda berkuasa di Nusantara.
Tercatat, armada Belanda di bawah pimpinan Wybrand van Warwijck dalam pelayaran kedua ke Nusantara sempat mampir ke Jaccatra (nama awal Jakarta) dalam perjalan ke Maluku. Di Jaccatra mereka mempersiapkan dan mengisi kapal dengan segala macam perbekalan pada 16 November 1599. Disela-sela mereka mengumpulkan air minum, mereka juga membeli arak beras dalam jumlah besar dari orang China.
Tak berhenti sampai situ, masih menurut Asep Rahmat Hidayat, Laksamana Cornelis Matelied de Jonge yang berlabuh di Jakarta pada 1607, turut memberikan kesaksian. “Raja ini tampaknya orang cakap, yang bertanya dengan ingin tahu tentang berbagai hal di Belanda. Ia sendiri membuat bedil dan meriam besar. Kapal-kapal memperoleh 17 legger (9.894 liter) *arrack* di sini,” tulisnya.
Selanjutnya, Gubernur Jenderal kongsi dagang Belanda VOC, Gerard Rejnst (1614-1615) turut menandatangani pejanjian kerja sama antara dirinya dengan pangeran Jayakarta pada 1614. Selain diberikannya kuasa kepada VOC untuk membangun gudang, Pangeran Jayakarta pun turut menjanjkan untuk menghapus bea atas arak.
Jadi Obat
Sementara itu pada masa Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen berkuasa yang menjabat pada 1619-1623 dan 1627-1629, arak Batavia semakin populer di kalangan orang-orang Eropa di Batavia. Bahkan meski dikenal sebagai penganut taat ajaran Calvinisme, Coen sempat menyerukan konsumsi arak kepada warganya agar terhindar dari penyakit tropis.
Coen menyarankan agar warganya meminum segelas arak saat perut masih kosong setiap hendak memulai aktivitas. “Bangsa kita harus minum atau mati,” ungkap Coen pada 1619.
Kebalikan dengan saat ini yang pemerintahnya akan melarang miras, maka pada zaman Coen, warga Belanda di Batavia melakukan pencegahan penyakit dengan rutin mengonsumsi arak dan cerutu kasar yang diproduksi lokal. Aturan pakainya, segelas saat pagi untuk membuka hari, dan malam hari sebelum tidur.
Oleh karena itu, tak heran jika penyulingan arak menjadi salah satu industri utama Batavia. Produk tersebut bahkan terkenal di senatero Asia, sebab, sebagian besar arak diekspor ke Benggala (Bangladesh), Koromandel, dan Sri Lanka. Beberapa bagian lainnya dikirim ke Eropa. Sebagian kecil lagi dibawa ke Eropa. Kala itu arak tak lagi dibuat dari beras yang ditanak dan dicampur tuak, tetapi dengan mellase atau sirup gula.
Sementara itu menurut Windoro Ari dalam buku *Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi* (2010), jumlah penyulingan arak di Batavia bahkan mencapai 20 pabrik. Produksi tertinggi yang pernah dicapai tiap pabrik adalah mencapai 100 drum setiap harinya pada 1793.
Terkenal di Eropa
Di Eropa, arak Batavia terkenal sampai ke Swedia lewat perjalanan panjang dari kapal Gotheborg yang mampir ke Batavia pada 1743. Orang-orang yang Skandinavia itu banyak yang menyukai cita rasa arak Batavia yang beraroma sitrus dan coklat dengan kandungan alkoholnya mencapai 5 persen.
“Orang-orang kita saling merangkul dan memberkati diri sendiri karena mereka berhasil tiba di tempat yang begitu luar biasa dengan racikan punch-nya,” cerita seorang Kapten Britania, Woodes Rogers, pada awal abad ke-18, dikutip Bernard H.M Vlekke dalam buku *Nusantara* (2008).
Selain itu Vlekke juga mencatat testimoni dari Kapten James Cook seorang penjelajah terkenal asal Inggris, yang kebetulan pernah singgah di Batavia untuk memperbaiki kapalnya. Cook menceritakan salah satu awak kapalnya yang tak pernah jatuh sakit selama tinggal di Batavia, padahal usianya sudah 70 tahun.
Cook pun lantas membeberkan rahasia anak buahnya itu tak lain karena tidak berhenti mabuk. Ia mengakui daya tangkal alkohol terhadap penyakit terbukti.
“Pencegahan lain ialah merokok. Masa itu adalah zaman emas ketika cerutu Belanda yang baik dijual seribu batang tiga dolar, dan bahkan cerutu Havana hanya berharga 10 dolar per seribu batang. Tapi orang Batavia lebih suka rokok pipa daripada cerutu. Mereka merokok pipa ketika menghadiri upacara pemakaman dan ketika naik kuda dalam parade sebagai pengawal kota Batavia yang penuh kebanggaan, dan tentu saja mereka merokok pipa ketika duduk malam-malam di depan rumah masing-masing menikmati udara ‘segar’ dari kanal,” tutup Bernard.
Sampai saat ini beragam teori dan pemikiran tentang dari mana asal kata dan nama bumi berasal. Belum ada kepastian resmi yang menjadikan sebuah teori pasti akan nama tersebut.
Dalam bahasa inggris “Earth” merupakan kata benda yang digunakan di dalam kosakata bahasa Inggris sejak sekitar tahun 1137. bahasa tersebut merupakan evolusi dari bahasa Inggris-Jerman (Anglo-Saxon), jauh sebelum penggunaan kata earth, sudah ada juga kata seperti eorthe (sebelum tahun 725) dari bahasa Inggris Kuno, ertho, erda, erde dari bahasa Jerman, aarde dari bahasa Belanda, jord dari bahasa Swedia dan Norwegia.
Bahkan nama jord tersebut juga muncul di mitologi Norse (paham pagan di Jerman) yaitu Joro yang berarti ibu dari dewa Thor. Ada juga pendapat bahwa kata “Earth” dalam bahasa inggris berasal dari resapan bahasa arab yaitu “أرض” atau “Ardh” dimana memiliki arti yang sama yaitu Bumi.
Dengan banyaknya pemikiran, opini, bukti tertulis atau yang tidak tertulis sampai dengan hipotesa, sampai sekarang belum ada teori pasti yang menyebutkan dari mana kata earth atau bumi berasal termasuk siapa pemrakasanya dan kapan dicetuskan.
Sebagai pemikiran, semua bangsa, peradaban dan negara di dunia memiliki satu kata untuk menyebutkan bumi ini seperti, earth (bahasa Inggris modern), eorthe (Anglo-Saxon), ertho, erda, erde (Jerman kuno), jord (Swedia dan Norwegia), joro (mitologi Norse), plow (Mesir kuno), terra, tellus (bahasa latin), aardd/ardh/’ard (Arab), era, gaia (Yunani kuno), eretz, ha’aretz (Israel), jardar (Islandia), ereds (Aramaic), diqiu (China), chinkyuu (Jepang), jigu (Korea), try da (Vietnam), prthvi (India), lok (Thailand) dan bumi (Indonesia dan beberapa bangsa rumpun Melayu).
Tanah Boleh Dimakan Itu ‘Tanampo Sakti’ dan Sastra Tutur Teluk Kijing
LamanQu.com – Dibalik cerita tanah bisa dimakan di kampung hulu Musi, tepat nya di desa Teluk Kijing yang ramai dibicarakan orang mengundang cibiran,”ahk masak iya?”Sesuatu yang tak masuk diakal pikiran sehat. Perhatikan frase kata ‘tanah bisa dimakan’ yang memiliki makna ‘tanah syah untuk dimakan’ atau ‘Boleh boleh saja mau makan tanah tersebut’. Ngapain juga harus ditanya ke Dinkes para ahli kesehatan dan seterus nya, tentang keberadaan tanah tersebut. Repot amat. Pelajari dulu cerita orang orang yang tinggal disana. Latar belakang nya seperti apa? Dari penelusuran kami, memang disana ada bekas banker kapal yang bersemayam. Menurut cerita orang orang tua, kapal tersebut merupakan kapal milik saudagar kaya yang durhaka pada ibu nya, karena tidak mengakui ibu nya yang tua miskin, renta, pakaian compang camping. Saudagar kaya tersebut bernama Dempo Awang, tiba di desa Teluk Kijing dengan menaiki kapal Rejong megah dari negeri seberang. Bersama istri cantik anak pejabat kerajaan, kapal berisi dengan segala persediaan makanan dan pakaian serbah berkecukupan. Hingga singkat cerita ibu nya yang melahir kan dia sangat merindukan nya itu datang menemui dia dan ingin memeluk nya, sontak saja si Dempo Awang menolak dan tidak mau mengakui bahwa perempuan itu sebenar nya ibu kandung nya. Dengan rasa sedih ibu nya berdoa jika memang Dempo Awang itu bukan anak nya, maka dia memohon minta diberi petunjuk. Tak lama berselang. Melintas lah ular lidi (ular kecil berwarna hijau) melompati kapal nya itu. Langsung terdengar dentuman halilintar dan air dibawah kapal nya beriak membentuk pusaran sangat besar mau menengelamkan kapal nya itu. Dempo Awang lalu berteriak, emak emak maafkan aku. Dia berteriak trus hingga kapal nya tenggelam. Dempo Awang dan istri nya menjelma jadi sepasang burung Enggang. Tiap musim kemarau sepasang burung enggang itu sering muncul melintas disekitar kapal tenggelam tadi. Jika sepasang burung itu melintas masyarakat berbisik ‘Tu suara Dempo Awang’. Atau dikejauhan suara burung enggang itu bergema masyarakat juga mengingat kan ‘Tu suara Dempo Awang sama istri nya’. Banker kapal itu akan muncul ketika sungai Musi surut. Masyarakat setempat sering mengambil onggokan tanah liat bekas persediaan makanan kapal Dempo Awang itu. Onggokan tanah liat dimana pun posisi nya disebut orang orang disini ‘Tanampo’ . Kemudian onggokan tanah liat dimana tempat kapal terbaring itu dinamakan ’Tanampo Sakti’. Lantas bagaimana cara nya masyarakat disini menjadikanya obat? Masyarakat mengambil Tanampo itu, lalu dibentuk bulat sebesar buah pinang lalu diasapi hingga tidak ada kandungan air nya. Hingga rasa nya seperti rasa getah gambir. (Bingung juga bagi yang belum tahu seperti apa getah gambir itu) Hingga menurut keyakinan, jika ada yang sakit perut salah satu anggota keluarga, dengan diberi obat tersebut, Tanampo Sakti tersebut maka akan segera sembuh. Cerita singkat diatas ini merupakan salah satu judul dan jenis ‘seni tutur’ atau ‘Sastra Tutur’ yang berkembang di masyarakat Sumatera Selatan pada umum nya. Tetapi ‘Cerita Dempo Awang’ adalah asli yang dimiliki masyarakat desa Teluk Kijing, Kecamatan Lais, Musi Banyuasin. Kata sastra secara etimology (asal usul kata) yaitu dari (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Menurut Plato, Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Sedangakan,AristotelesSastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Lain lagi Sapardi (1979: 1), Memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social. Sastra Tutur menurut para ahli adalah sebuah rangkaian kisah yang tersebar dari mulut ke mulut (tidak melalui tulisan) menceritakan sebuah kejadian dari masa lalu yang dikaitkan dengan bukti bukti masa kini mengandung pesan pesan bernilai untuk kehidupan masa sekarang dan akan datang sehingga menjadi pedoman untuk kebaikan, baik itu berupa larangan maupun ajakan. Lalu kembali ke kisah ‘Dempo Awang’ dan ‘Tanampo Sakti’ nya, cerita tersebut merupakan cerita yang wajib diketahui oleh anak anak di desa Teluk Kijing semenjak usia anak anak batas mampu bercerita dan faham makna cerita. Tentu saja karena pesan yang terkandung sangat kaya makna. Ya secara umum setiap anak dimanapun berada diajarkan untuk hormat dan tidak durhaka pada orang tua. Lantas bagaimana seni tutur ini diceritakan pada anak anak di desa ini? Para orang tua biasa nya bercengkrama dengan anak anak nya di malam hari setelah keseharianya kerja di sawah, kebun atau ladang (Talang). Ketika hendak menjelang tidur ibu atau ayah meminta untuk memijit atau memijak tubuh ayah atau ibu yang meminta dengan perjanjian bahwa si anak akan diberi “anai anai’. (Riwayat, kisah cerita). Sedangkan jika di kota atau era ‘jaman Now’ cerita disampaikan dengan membacakan kumpulan cerita ketika anak anak kota mau tidur ‘dininabobokan’, kebalikanya ya gak? Ada pelajaran lain juga dari cara sastra tutur itu disampaikan ke anak anak di desa Teluk Kijing ini. Anak anak disini terbiasa untuk mendapatkan sesuatu harus ada usaha terlebih dahulu itu nilai nilai yang turun temurun. Tentu saja yang lain nya anak anak bukan hanya hormat saja pada orang tua nya lebih dari itu yaitu sentuhan ungkapan sayang menyayangi terbiasa dari situ. Ada lagi pesan yang tersimpan dari masyarakat disini untuk menghormati saudara yang lebih tua. Dan tabu untuk menyebut nama. Sehingga sebutanya berbeda untuk saudara laki laki, mulai dari ‘Anang’, ‘Kakcik’, ‘Kaknga’, ‘Kakcak’, ‘Kakcek’, ada juga yang memakai ‘Kakning’ selain itu ada juga yang memakai sebutan ’Gulu’ , kemudian dibawah nya nomor dua dari terakhir biasa dipanggil ‘Uju’ serta yang terakhir biasa nya panggil ‘Pisat’. Sedangkan untuk anak perempuan biasa dengan panggilan membuang imbuhan ‘Kak” karena ‘Kak” berarti Kakak untuk laki laki. Ya untuk perempuan ‘Cak’, ‘Cek”, ‘Cik’, ‘Gulu’ dan nomor dua dari terakhir dan terakhir untuk perempuan dan laki sama, ‘Uju’ dan ‘Pisat’. Bagaimana dengan ‘Tanampo Sakti’ dari kisah ini? Dimana letak kesaktian ‘Tanampo’ itu sendiri? Setuju jika kita maknai Sakti tidak berarti kebal dan kuat saja kan. Merujuk pada lagu Bang haji Rhoma berjudul ‘Kramat’. Disini ‘Kramat’ bukan berarti ketika orang sakti atau atau orang yang dianggap soleh meninggal, lantas makam nya akan membentuk gundukan dan seperti gunung. Bukan demikian kan, tetapi bang haji lebih menekan kan bahwa hormat pada ibu lah adalah “kramat’ itu. Baca lyric nya lagu bang haji biar lebih jelas. Sakti di ‘Tanampo Sakti’ itu adalah mempuni kisah nya. Yang sarat akan pesan selain kewajiban untuk hormat dan Sayang pada orang tua, apa lagi yang telah melahirkan kita, juga tidak boleh sombong dan takabur, itu yang pertama. Dan yang kedua dari pendapat Plato dan Supardi diatas, tercermin Tanampo itu adalah bagian dari alam yang bisa menjadi saksi awal dan akhir nya sebuah kejayaan kerajaan manusia. Ketiga, durhaka pada orang tua yang berjasa pada kita itu kesombongan, namun lebih luas dari situ dalam konteks ini bahwa melupakan orang yang pernah berbuat kebaikan pada kita juga tidak baik. Terakhir ada pesan politik dari kisah desa yang jalan akses nya belum diperbaiki ini, yaitu melupakan janji janji politik pada rakyat yang telah memilih untuk Pilkada, Pileg, Pil-DPD dan Pilpres juga dapat akibat nya. Mumpung masih ada waktu untuk memenuhi janji itu, jika tidak berakhir sepert kisah ‘Tanampo Sakti’. Wallahualam. Tim LamanQu.com