𝗞𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗕𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝗠𝗶𝗿𝗶𝗽 Sekali?

𝗞𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗕𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝗠𝗶𝗿𝗶𝗽 Sekali? 𝗧𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗜𝗻𝗶 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮!

🇮🇩 🇲🇨

𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗱𝗶𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗸𝗶𝗹𝗮𝘀, 𝗯𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿. Dua garis horizontal merah di atas, putih di bawah—hampir identik. Tapi kalau kamu jeli, sebenarnya ada perbedaan teknis yang tak kasat mata jika hanya melihat gambar kecil: 𝗯𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗿𝗮𝘀𝗶𝗼 𝟮:𝟯, 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝟰:𝟱. Artinya, Indonesia lebih panjang, Monaco lebih persegi.

Tapi kenapa bisa sama-sama merah putih? Siapa yang lebih dulu? Dan apakah Indonesia menjiplak? Mari kita telusuri sejarah di balik dua bendera yang “kembar” ini.

𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼: 𝗕𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗸 𝟭𝟴𝟴𝟭

🇲🇨

Monaco, negara kecil di Eropa Selatan yang dikelilingi Prancis, sudah menggunakan desain merah putih ini sejak 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟴𝟴𝟭. Warna merah dan putih merupakan warna lambang keluarga penguasa Monaco, 𝗪𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝗚𝗿𝗶𝗺𝗮𝗹𝗱𝗶, yang telah berkuasa sejak abad ke-13. Warna ini diadopsi sebagai bendera nasional ketika konstitusi Monaco ditetapkan pada tahun 1881.

𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮: 𝗠𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗷𝗮𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁

🇮🇩

Sementara itu, Indonesia baru meresmikan bendera merah putih sebagai bendera negara saat 𝗣𝗿𝗼𝗸𝗹𝗮𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗺𝗲𝗿𝗱𝗲𝗸𝗮𝗮𝗻 𝟭𝟳 𝗔𝗴𝘂𝘀𝘁𝘂𝘀 𝟭𝟵𝟰𝟱. Namun jangan salah sangka—𝗯𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗷𝗶𝗽𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻!

Desain merah putih sebenarnya telah digunakan jauh sebelum Indonesia merdeka. Warna ini adalah 𝗯𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗷𝗮𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁 yang sudah ada sejak 𝗮𝗯𝗮𝗱 𝗸𝗲-𝟭𝟯. Dalam kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, disebutkan bahwa bendera raja Majapahit berwarna merah putih. Warna ini juga digunakan oleh kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya seperti Kediri dan Singasari.

Selain itu, merah putih juga menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia sejak era kebangkitan nasional. 𝗕𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗠𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗱𝗶𝗸𝗶𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝗝𝗮𝗸𝗮𝗿𝘁𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟮𝟴, 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗞𝗼𝗻𝗴𝗿𝗲𝘀 𝗣𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗜𝗜 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗺𝗽𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮. Bahkan jauh sebelum itu, merah putih sudah berkibar di berbagai wilayah Nusantara sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah.

𝗞𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸 𝗗𝗶𝗽𝗹𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝗸: 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝗣𝗿𝗼𝘁𝗲𝘀, 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗧𝗼𝗹𝗮𝗸 𝗧𝗲𝗴𝗮𝘀

Begitu tahu Indonesia memakai desain yang mirip, 𝗽𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗽𝗿𝗼𝘁𝗲𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮. Apalagi saat itu menjelang kongres internasional besar di Monaco. Mereka tidak mau ada dua negara dengan bendera yang terlihat serupa—bisa menimbulkan kekeliruan di forum-forum internasional.

Namun, 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗮𝗸 𝘁𝗲𝗴𝗮𝘀. Pemerintah Indonesia beralasan bahwa merah putih adalah 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗶𝗱𝗲𝗻𝘁𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 yang sudah ada sejak zaman kerajaan Nusantara. Warna ini telah menjadi bagian dari perjuangan dan kebanggaan rakyat Indonesia jauh sebelum Monaco mengadopsi desain serupa.

Kementerian Luar Negeri Indonesia bahkan mengirimkan nota diplomatik yang menjelaskan sejarah panjang merah putih di Nusantara. Dalam perundingan bilateral, Indonesia menekankan bahwa merah putih bukan sekadar warna, tetapi 𝗿𝗲𝗽𝗿𝗲𝘀𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗺𝗲𝗿𝗱𝗲𝗸𝗮𝗮𝗻, 𝗸𝗲𝗱𝗮𝘂𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗶𝗱𝗲𝗻𝘁𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗱𝗶𝘁𝗮𝘄𝗮𝗿.

𝗦𝗼𝗹𝘂𝘀𝗶 𝗗𝗮𝗺𝗮𝗶: 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗗𝘂𝗮 𝗡𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮, 𝗗𝘂𝗮 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮

Akhirnya, setelah melalui pembahasan, 𝗠𝗼𝗻𝗮𝗰𝗼 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga tidak memiliki aturan yang melarang dua negara memiliki bendera dengan desain serupa, selama tidak ada unsur penjiplakan yang disengaja.

Hasil akhirnya: 𝗱𝘂𝗮 𝗻𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮, 𝗱𝘂𝗮 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗱𝗲𝘀𝗮𝗶𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗻𝗶. Monaco bangga dengan warisan Wangsa Grimaldi-nya. Indonesia bangga dengan warisan Majapahit dan perjuangan kemerdekaannya.

𝗕𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮 𝗟𝗮𝗶𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗝𝘂𝗴𝗮 “𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿”

Uniknya, fenomena bendera “kembar” bukan hanya terjadi pada Indonesia dan Monaco. Beberapa pasangan negara lain juga memiliki bendera yang hampir identik:

· 🇹🇩𝗖𝗵𝗮𝗱 𝗱𝗮𝗻 🇷🇴𝗥𝘂𝗺𝗮𝗻𝗶𝗮: Bendera kedua negara ini sama-sama biru, kuning, merah vertikal. Perbedaan hanya terletak pada nuansa warna biru yang sedikit berbeda.
· 🇮🇪𝗜𝗿𝗹𝗮𝗻𝗱𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 🇨🇮𝗣𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗚𝗮𝗱𝗶𝗻𝗴: Hijau, putih, oranye—tapi urutan warnanya terbalik! Irlandia hijau di kiri, Pantai Gading oranye di kiri.
· 🇳🇱𝗕𝗲𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗻 🇱🇺𝗟𝘂𝗸𝘀𝗲𝗺𝗯𝘂𝗿𝗴: Sama-sama tiga garis horizontal merah, putih, biru—tapi nuansa birunya berbeda.

Namun yang membuat kasus Indonesia-Monaco istimewa adalah bahwa 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗮-𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗲𝘀𝗮𝗶𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻 𝗵𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝘂𝗮𝘁. Tidak ada yang mau mengalah, dan dunia menerima bahwa dua negara boleh memiliki bendera yang mirip asalkan masing-masing memiliki legitimasi sejarah.



Jadi, lain kali kamu melihat bendera merah putih, ingatlah: itu bukan sekadar warna. Itu adalah 𝗷𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗷𝗮𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁, 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗽𝗲𝗿𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗮𝗵𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗶𝗱𝗲𝗻𝘁𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗯𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗴𝗶𝗴𝗶𝗵. Dan di seberang lautan, di Eropa Selatan, ada negara kecil yang juga memiliki warna yang sama—dengan cerita sejarahnya sendiri. 🇮🇩🇲🇨

𝟱 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮: 𝗔𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗦𝗮𝗸𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗷𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝗮𝗻 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗛𝗮𝗯𝗶𝘁𝗮𝘁 𝗣𝗲𝘀𝘂𝘁 𝗟𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮

𝗧𝗮𝗵𝘂𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂, 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗵𝘂𝗹𝘂 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗵𝗶𝗹𝗶𝗿. 𝗕𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗱𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗔𝘀𝗶𝗮 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮. Setiap sungai menyimpan keunikan dan sejarahnya masing-masing. Berikut adalah lima sungai terpanjang di Indonesia beserta fakta-fakta menariknya.

𝟱. 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗠𝘂𝘀𝗶 (𝟳𝟱𝟬 𝗸𝗺)

Sungai Musi membentang sepanjang 𝟳𝟱𝟬 𝗸𝗶𝗹𝗼𝗺𝗲𝘁𝗲𝗿, menjadikannya salah satu sungai utama di Pulau Sumatera. Hulu sungai ini berada di daerah Kepahiang, Bengkulu, tepatnya di Pegunungan Bukit Barisan. Alirannya kemudian melintasi Provinsi Sumatera Selatan sebelum akhirnya bermuara di Selat Bangka.

𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗨𝗻𝗶𝗸 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗠𝘂𝘀𝗶:

· Sungai ini membelah Kota Palembang menjadi dua bagian: Seberang Ilir (utara) dan Seberang Ulu (selatan). Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang dibangun melintasi sungai ini.
· Disebut juga “𝗕𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗺𝗯𝗶𝗹𝗮𝗻” karena memiliki delapan anak sungai besar yang bermuara ke dalamnya.
· Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, Sungai Musi sudah menjadi jalur transportasi dan perdagangan utama.
· Di tepi sungai ini terdapat sejumlah objek wisata terkenal seperti Benteng Kuto Besak, Pulau Kemaro, dan kawasan rumah rakit.

𝟰. 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗶 (𝟴𝟬𝟬 𝗸𝗺)

Sungai Batanghari adalah 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗣𝘂𝗹𝗮𝘂 𝗦𝘂𝗺𝗮𝘁𝗲𝗿𝗮 dengan panjang mencapai 𝟴𝟬𝟬 𝗸𝗶𝗹𝗼𝗺𝗲𝘁𝗲𝗿. Hulunya berada di Gunung Rasan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dan bermuara di Selat Berhala, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗨𝗻𝗶𝗸 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗶:

· Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari merupakan 𝗗𝗔𝗦 𝘁𝗲𝗿𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 dengan luas mencapai 44.710 km².
· Sungai ini pernah membawa banyak deposit emas, sehingga Pulau Sumatera mendapat julukan “𝗦𝘄𝗮𝗿𝗻𝗮𝗱𝘄𝗶𝗽𝗮” (Pulau Emas) dalam bahasa Sanskerta.
· Di sepanjang alirannya ditemukan situs-situs purbakala peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Dharmasraya, termasuk Kompleks Percandian Muaro Jambi yang membentang sepanjang 7,5 kilometer.
· Sebagian areal DAS Batanghari masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD).
· Jembatan Gentala Arasy, jembatan pedestrian berbentuk huruf S sepanjang 503 meter, menjadi ikon di Sungai Batanghari.

𝟯. 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗕𝗮𝗿𝗶𝘁𝗼 (𝟵𝟬𝟵 𝗸𝗺)

Sungai Barito memiliki panjang 𝟵𝟬𝟵 𝗸𝗶𝗹𝗼𝗺𝗲𝘁𝗲𝗿, mengalir dari Pegunungan Muller di Kalimantan Tengah hingga bermuara di Laut Jawa, Kalimantan Selatan. Sungai ini merupakan sungai terbesar dan terlebar di Kalimantan Selatan.

𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗨𝗻𝗶𝗸 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗕𝗮𝗿𝗶𝘁𝗼:

· Sungai Barito adalah 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗲𝗯𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮. Lebar rata-ratanya mencapai 650-800 meter dengan kedalaman 8 meter, dan di bagian muara yang berbentuk corong lebarnya mencapai 𝟭.𝟬𝟬𝟬 𝗺𝗲𝘁𝗲𝗿.
· Di sungai ini terdapat 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗧𝗲𝗿𝗮𝗽𝘂𝗻𝗴 𝗠𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗞𝘂𝗶𝗻, pasar tradisional di atas perahu yang menjadi daya tarik wisatawan.
· Setiap tahunnya digelar Festival Pasar Apung yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
· Nama “Barito” diambil dari Tanah Barito, sebuah onderafdeeling (kewedanaan) pada masa kolonial Hindia Belanda yang beribu kota di Muara Teweh.
· Sungai ini menjadi jalur utama pengangkutan hasil tambang dan perkebunan dari pedalaman Kalimantan ke pelabuhan.

𝟮. 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗠𝗮𝗵𝗮𝗸𝗮𝗺 (𝟵𝟮𝟬 𝗸𝗺)

Sungai Mahakam membentang sepanjang 𝟵𝟮𝟬 𝗸𝗶𝗹𝗼𝗺𝗲𝘁𝗲𝗿, menjadikannya sungai terpanjang kedua di Indonesia. Seluruh alirannya berada di Provinsi Kalimantan Timur, berhulu di Pegunungan Muller dan bermuara di Selat Makassar.

𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗨𝗻𝗶𝗸 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗠𝗮𝗵𝗮𝗸𝗮𝗺:

· Sungai ini merupakan 𝗵𝗮𝗯𝗶𝘁𝗮𝘁 𝗣𝗲𝘀𝘂𝘁 𝗠𝗮𝗵𝗮𝗸𝗮𝗺 (Orcaella brevirostris), spesies lumba-lumba air tawar yang terancam punah dan dilindungi. Pesut Mahakam masuk dalam Appendix I CITES.
· Di sepanjang alirannya terdapat sekitar 𝟳𝟲 𝗱𝗮𝗻𝗮𝘂, termasuk tiga danau utama: Danau Jempang (15.000 Ha), Danau Semayang (13.000 Ha), dan Danau Melintang (11.000 Ha).
· Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam memiliki luas mencapai 78.532 km².
· Sungai ini menjadi habitat 298 spesies burung, 70 di antaranya dilindungi dan lima spesies endemik.
· Sejak dulu hingga sekarang, Sungai Mahakam berperan penting sebagai sumber air, potensi perikanan, dan prasarana transportasi bagi masyarakat.

𝟭. 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗞𝗮𝗽𝘂𝗮𝘀 (𝟭.𝟭𝟰𝟯 𝗸𝗺)

Sungai Kapuas adalah 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 dengan panjang mencapai 𝟭.𝟭𝟰𝟯 𝗸𝗶𝗹𝗼𝗺𝗲𝘁𝗲𝗿. Sungai ini berada di Provinsi Kalimantan Barat, berhulu di Pegunungan Muller dan bermuara di Selat Karimata (Laut China Selatan).

𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗨𝗻𝗶𝗸 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗞𝗮𝗽𝘂𝗮𝘀:

· Sungai Kapuas tidak hanya terpanjang di Indonesia, tetapi juga merupakan 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗣𝘂𝗹𝗮𝘂 𝗞𝗮𝗹𝗶𝗺𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻.
· Hutan di sekitar sungai masih terlindungi dengan baik, menjadikannya habitat bagi berbagai jenis ikan air tawar.
· Masyarakat menjadikannya sebagai jalur transportasi air utama, dan daerah-daerah di tepi sungai dijadikan destinasi wisata.
· Potensi perikanan air tawar di Sungai Kapuas cukup bagus dan menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar.
· Sungai ini merupakan sumber air utama bagi penduduk di Kalimantan Barat.


Kelima sungai terpanjang di Indonesia ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber air dan jalur transportasi, tetapi juga menjadi 𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗲𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁. Dari Saksi kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi, jejak emas di Sungai Batanghari, pasar terapung di Sungai Barito, hingga habitat pesut langka di Sungai Mahakam, setiap sungai menyimpan cerita yang memperkaya khazanah budaya dan alam Indonesia. Sungai Kapuas, sebagai yang terpanjang, menjadi mahkota dari kekayaan sungai-sungai Nusantara.

Sumber: Panca Prawira

CIA SUDAH MENCARI IMAM MAHDI MELALUI EMAIL

Dalam arsip paling rahasia milik CIA, terdapat sebuah instruksi operasional berkode khusus yang hanya diketahui oleh segelintir elit militer. Amerika Serikat telah menetapkan protokol tertinggi, jika sosok yang diidentifikasi sebagai Imam Mahdi muncul, militer diperintahkan untuk menggunakan seluruh kekuatan pemusnah massal yang tersedia. Instruksi ini mencakup opsi paling ekstrem, pengeboman total Kota Mekah tanpa mempedulikan situs suci.

Namun, perang ini tidak hanya terjadi di lapangan. Di balik layar, mereka melakukan perburuan digital yang masif. Pengumpulan data warga negara, baik KTP, paspor, maupun biodata resmi dari negara-negara seperti Indonesia, China, Rusia, hingga jazirah Arab, bukanlah prosedur administrasi biasa. Data ini adalah instrumen utama untuk melacak keberadaan Imam Mahdi. Mereka memindai setiap akun Facebook, memonitor setiap lalu lintas email, dan mencocokkan setiap profil digital dengan ciri-ciri nubuatan. Bagi mereka, data adalah jaring pemusnah. Maka, beruntunglah kamu yang selama ini tidak menggunakan nama aslimu di media sosial, karena nama asli adalah titik koordinat utama bagi rudal-rudal intelijen mereka.

Metode eksekusi mereka pun kini jauh lebih sederhana namun sangat mematikan. Sama seperti skenario pembunuhan tokoh-tokoh besar dunia salah satunya Khamenei bisa dibunuh hanya dengan melacak melalui sinyal telepon, mereka tidak perlu lagi mengirimkan pasukan darat dalam jumlah besar untuk sekadar mencari. Cukup dengan memiliki sebuah ponsel yang aktif di tangan, perangkat itu akan menjadi suar (beacon) yang memandu peluru atau rudal pintar mereka untuk mencari target secara otomatis. Sinyal dari perangkat yang Anda genggam adalah jalan mati yang sudah terprogram untuk langsung meluncur ke koordinat terakhir Anda berada.

Saat ini, jaringan intelijen global telah mengaktifkan ribuan mata-mata di setiap sudut jazirah. Kamera CCTV berbasis AI yang mampu mengenali biometrik wajah, satelit pengintai dengan resolusi milimeter, serta agen lapangan elit bersenjata lengkap telah mengepung wilayah tersebut. Target mereka mutlak: mengeksekusi hidup atau mati siapa pun yang memiliki ciri-ciri fisik sang pemimpin sebelum ia sempat dibaiat. Mereka tahu pasti bahwa Islam akan kembali bangkit dan memimpin dunia di tangan Imam Mahdi, dan satu-satunya cara menghentikan takdir itu adalah dengan membunuhnya sebelum ia dinyatakan secara resmi di depan Ka’bah. Mereka tidak sedang menunggu keadilan, mereka sedang berupaya menghentikan kebangkitan global.

Bagaimana Imam Mahdi akan muncul jika mengikuti alur hadis di tengah kepungan teknologi ini? Gambaran itu menjadi nyata saat Kota Mekah tidak lagi memiliki kemegahan masa lalunya. Menara-menara pencakar langit yang dulu sombong kini telah hancur menjadi tumpukan beton dan besi tua. Debu abu-abu pekat terbang di udara, menyesakkan napas dan membatasi jarak pandang hanya dalam beberapa meter.

Kelaparan telah mencapai puncaknya. Di dalam kompleks Masjidil Haram yang sudah rusak parah, hanya tersisa sekitar seribu pengungsi yang bertahan hidup dengan air zam-zam dan sisa makanan seadanya. Di tengah mereka, tiga ratus tentara yang masih memegang teguh iman berdiri menjaga Ka’bah, sementara di luar tembok masjid, jutaan pasukan Dajjal telah memblokade total seluruh akses logistik dan bantuan.

Pemimpin militer Masjidil Haram, seorang pria dengan luka bakar parah di sisi wajahnya, sebuah tanda perjuangan yang dikisahkan dalam Novel Huru-hara Akhir Zaman Seri 4 Bulan Berdarah, berdiri di depan pasukannya yang letih. Tatapannya tajam meski matanya merah karena kurang tidur. Ia menyadari amunisi mereka hampir habis dan moral pasukan berada di titik nadir.

Nahwil, ahli strategi yang selalu membawa catatan hadis Rasulullah, melangkah maju. Suaranya serak namun penuh keyakinan. “Kita sudah sampai di ujung jalan. Tidak ada lagi bantuan manusia. Kita harus menemukan dia di antara kita sendiri. Periksa setiap lelaki yang ada di sini!” tegas Nahwil.

Empat ratus laki-laki yang masih mampu berdiri dikumpulkan di area tawaf yang sudah retak dan dipenuhi lubang bekas peluru. Para tentara melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis dan tanpa kompromi. Mereka mencocokkan setiap individu dengan kriteria nubuatan, kesamaan nama dengan Nabi (Muhammad), nama ayah (Abdullah), serta tanda-tanda anatomi tubuh yang spesifik.

Pemeriksaan berhenti tepat di depan seorang pria kurus dengan pakaian yang compang-camping bernama Muhammad. Penampilan fisiknya tampak sangat biasa, bahkan tidak ada sedikit pun kesan istimewa yang terpancar darinya, ia terlihat layaknya pengungsi lain yang hancur oleh keadaan. Pemimpin tentara itu mencengkeram kerah bajunya, menatap langsung ke dalam bola mata pria itu yang penuh ketakutan.

“Siapa nama ayahmu?” tanya pemimpin itu dengan nada mengintimidasi.

Muhammad mencoba membuka mulut, namun lidahnya kelu. Ia bicaranya gagap, suaranya terputus-putus karena tekanan batin yang luar biasa. “Ab… Ab… Ab…” Di tengah kegagapannya, secara refleks ia memukul paha kanannya sendiri dengan telapak tangan cukup keras. Tindakan aneh itu seketika membuat bicaranya menjadi lancar. “Namanya Abdullah,” jawabnya kemudian dengan napas tersengal.

“Buka bajumu! Tunjukkan bahumu!” perintahnya lagi.

Saat kain kasar itu disingkap, seluruh orang yang melihatnya terkesiap. Ditemukan sebuah tanda lahir yang bentuk dan letaknya identik dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab hadis. Pemimpin tentara itu seketika berteriak dengan suara parau yang memecah kesunyian masjid, “Inilah orangnya! Inilah Imam Mahdi yang kita tunggu!”

Bukannya bangga, Muhammad justru diserang ketakutan hebat. Tubuhnya mundur dan gemetar hebat seolah-olah ia baru saja dijatuhi hukuman mati. “Kalian salah besar! Saya bukan ulama, saya bukan ahli agama. Saya bahkan tidak mampu menghafal seluruh isi Al-Qur’an. Saya hanyalah orang biasa yang kebetulan selamat sampai ke sini. Saya tidak sanggup memimpin kalian!”

Melihat keraguan itu, pemimpin tentara kehilangan kesabaran. Situasi di luar sudah sangat gawat. Ia mencabut pistol Glock-nya, menarik kokangnya dengan bunyi klik yang dingin, dan menempelkan moncong senjata yang panas itu tepat di dahi Muhammad.

“Pilihanmu hanya dua, terima amanah ini dan pimpin kami, atau aku ledakkan kepalamu sekarang juga! Jika kamu mati karena menolak, maka seluruh umat Islam yang tersisa akan dibantai habis oleh pasukan Dajjal, dan setiap tetes darah mereka akan menjadi dosa yang kamu tanggung di hadapan Allah!”

Muhammad terpojok di dinding Ka’bah. Keringat dingin mengalir membasahi wajahnya yang pucat. Di bawah ancaman kematian dan beban tanggung jawab yang mustahil, ia kembali memukul pahanya agar bicaranya tak tertahan, lalu akhirnya berbisik, “Izinkan aku satu malam… Aku butuh satu malam untuk bermunajat kepada Pemilik Nyawaku.”

Menjelang subuh, pintu ruang isolasi terbuka. Muhammad melangkah keluar. Sosok yang tadinya gemetar dan gagap kini telah hilang, digantikan oleh aura wibawa yang sangat tenang namun sangat kuat. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia telah menerima takdirnya.

“Aku Muhammad. Dengan kesadaran penuh, aku menerima amanah Allah sebagai Imam Mahdi,” ucapnya dengan suara yang menggema dan merasuk ke dalam jiwa setiap orang yang mendengar.

Seketika, tiga ratus tentara itu berlutut dan melakukan baiat, bersumpah setia sampai titik darah penghabisan. Pada saat sumpah itu terucap, langit di atas Mekah yang gelap mendadak terbelah oleh cahaya putih yang begitu terang hingga mematikan sensor satelit pengintai di orbit.

Dari pusat cahaya yang menyilaukan itu, seorang pria dengan pakaian kuning pucat turun perlahan dari langit. Rambutnya hitam legam dan tampak basah seolah baru saja terkena air wudhu. Dialah Nabi Isa Al-Masih.

Ketika Imam Mahdi hendak mundur ke belakang sebagai tanda hormat untuk memberikan posisi imam shalat subuh, Nabi Isa menaruh tangan di bahu sang Imam dengan lembut. “Tetaplah di depanmu. Shalat ini adalah milikmu, karena engkau adalah pemimpin yang telah ditetapkan untuk umat ini. Aku turun bukan untuk menjadi imam shalat, melainkan untuk menyelesaikan tugas besar yang lain, menghabisi Dajjal.”

Suara takbir meledak serempak, menggetarkan puing-puing Masjidil Haram. Sementara itu, di pusat komando intelijen luar negeri, para agen CIA panik melihat seluruh layar monitor mereka menjadi statis. Radar mereka menangkap anomali yang tak masuk akal secara sains. Perang terbesar dalam sejarah umat manusia baru saja dimulai.

Kisah lengkap mengenai operasi rahasia CIA, detail teknis tanda-tanda alam, dan strategi militer akhir zaman yang brutal ini dikupas secara mendalam dalam 6 Seri Novel Akhir Zaman, Kota Mekah Sudah Tidak Lagi Seperti Dahulu. Temukan jawaban bagaimana teknologi modern yang paling canggih sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan ketetapan langit.

Sumber: Fatiha

MISTERI 5 TEMPAT DALAM AL-QUR’AN YANG BELUM DITEMUKAN HINGGA KINI

Bumi kita yang memiliki luas sekitar 500 juta kilometer persegi menyimpan banyak teka-teki, mengingat manusia baru menjelajahi sekitar 90 persen daratan dan hanya 57,8 persen lautan. Hal ini menyisakan wilayah-wilayah yang belum terjamah, termasuk tempat-tempat misterius yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadis. Setidaknya terdapat lima tempat bersejarah dalam Islam yang keberadaannya masih menjadi misteri hingga hari ini.

Berikut adalah lima tempat tersebut:

1. Pulau Tempat Dajjal Dikurung
Dajjal, yang merupakan salah satu dari 10 tanda datangnya kiamat kubro, saat ini dipenjarakan oleh Allah SWT di sebuah pulau misterius dan dijaga oleh hewan yang bisa berbicara bernama Al-jassasah. Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan bahwa Dajjal akan muncul dari arah timur, dari wilayah yang bernama Khurasan. Banyak orang mengaitkan penjara Dajjal ini dengan Pulau Socotra di Yaman yang memiliki flora dan fauna aneh, atau bahkan Segitiga Bermuda. Satu-satunya manusia di zaman Nabi yang pernah tak sengaja terdampar di pulau ini dan bertemu Dajjal adalah Tamim Ad-Dari. Mengingat lokasi ini tak pernah lagi ditemukan, ada dugaan bahwa pulau ini berada di dimensi lain yang tidak bisa dijangkau manusia.

2. Ainul Hayat (Mata Air Keabadian)
Ainul Hayat adalah sebuah telaga mata air rahasia; siapapun yang meminum airnya diyakini tidak akan mati sampai hari kiamat, kecuali ia memohon untuk dimatikan. Raja Zulkarnain bersama penasihatnya, Nabi Khidir AS, pernah mencari telaga ini hingga ke tempat terbitnya matahari yang tertutup kabut tebal dan gelap. Namun, hanya Nabi Khidir AS yang berhasil meminum air dari telaga tersebut. Pada abad ke-14, penjelajah bernama Juan Ponce de Leon bahkan ditugaskan untuk melakukan ekspedisi mencari mata air keabadian ini, namun ia tewas terpanah oleh suku pedalaman dan tempat ini tetap menjadi misteri hingga sekarang.

3. Tembok Besi Zulkarnain
Tembok ini dibangun oleh Raja Zulkarnain untuk mengurung kaum pembuat kerusakan, yaitu Ya’juj dan Makjuj. Tembok yang ternukil dalam surat Al-Kahfi ini akan runtuh ketika dunia berada di ambang kiamat. Mengingat perbandingan jumlah kaum ini sangat fantastis—satu manusia berbanding 999 Ya’juj dan Makjuj—maka dibutuhkan minimal benua yang sangat luas untuk menampung mereka. Oleh karena itu, logika yang paling masuk akal adalah lokasi tembok dan lubang mereka berada di dimensi lain atau memang sengaja ditutupi oleh Allah SWT dari dunia manusia modern.

4. Gunung Qaf
Gunung Qaf disebut oleh Nabi Muhammad SAW sebagai induk dari semua gunung di dunia yang berfungsi untuk mengokohkan dan menenangkan bumi. Gunung ini terbuat dari batu zamrud hijau yang memancarkan warna birunya ke langit. Letak pasti Gunung Qaf masih diperdebatkan oleh para ahli tafsir; ada yang menyebut letaknya di antara Yordania dan Arab Saudi, di daerah Yaman, atau di suatu daerah sebelum Persia yang berdekatan dengan tembok Ya’juj dan Makjuj.

5. Istana Nabi Sulaiman (Kuil Sulaiman)
Nabi Sulaiman AS merupakan raja terkaya yang memiliki istana super megah dengan lantai istana licin terbuat dari kaca, yang dibangun dengan bantuan manusia dan bangsa jin. Bangunan yang dikenal oleh literatur Yahudi sebagai Solomon Temple ini sekarang sudah runtuh dan diyakini menyisakan tembok sebelah barat yang dikenal sebagai Tembok Ratapan di Yerusalem. Pada tahun 2005 dan 2007, para arkeolog menemukan sisa-sisa reruntuhan dan peninggalan keramik yang diklaim sebagai sisa kuil Sulaiman di sebelah Masjidil Aqsa. Namun, penggalian arkeologis ini memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia karena dikhawatirkan tujuan ekskavasi tersebut akan merubuhkan Masjidil Aqsa.

Keseluruhan tempat-tempat ini masih menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh sains maupun penjelajahan modern, menjadi bukti bahwa pengetahuan manusia akan luasnya bumi ciptaan Tuhan masih sangat terbatas.

Sumber: Berita Sensasional

Perbedaan Bani Israil, Yahudi, dan Israel

Banyak orang sering mencampuradukkan istilah Bani Israil, Yahudi, dan Israel, padahal ketiganya berbeda makna. Berikut penjelasan sederhana dan runtut.

1. Bani Israil (Keturunan Nabi Ya’qub)
Bani Israil berarti keturunan Nabi Ya’qub.
Nama Isra’il adalah julukan Nabi Ya’qub, sehingga Bani Israil berarti anak-anak Israil.
Ciri Bani Israil:
Sebuah bangsa atau keturunan, bukan agama.
Berasal dari 12 anak Nabi Ya’qub yang kemudian menjadi 12 suku Bani Israil.
Banyak nabi berasal dari mereka, seperti:
Musa
Dawud
Sulaiman
Isa
📌 Jadi Bani Israil = keturunan atau bangsa.

2. Yahudi (Agama atau penganut agama)
Yahudi adalah orang yang menganut agama Yahudi (Judaism).
Istilah ini berasal dari Suku Yehuda, salah satu dari 12 suku Bani Israil. Lama-kelamaan nama ini dipakai untuk menyebut pengikut agama Yahudi secara umum.
Ciri Yahudi:
Agama, bukan keturunan semata.
Tidak semua Yahudi adalah keturunan asli Bani Israil (karena ada yang masuk agama Yahudi).
Kitab suci mereka dikenal sebagai Torah.
📌 Jadi Yahudi = penganut agama Yahudi.

3. Israel (Nama Negara Modern)
Israel adalah nama negara modern di Timur Tengah.
Negara ini berdiri pada tahun 1948 dan dikenal sebagai Israel.
Ciri Israel:
Negara modern dengan pemerintahan dan wilayah.
Penduduknya mayoritas Yahudi, tetapi ada juga Arab dan kelompok lain.
Nama Israel diambil dari nama Nabi Ya’qub (Isra’il).

📌 Jadi Israel = negara modern.
Ringkasan Singkat
Istilah
Artinya
Jenis
Bani Israil
Keturunan Nabi Ya’qub
Bangsa / garis keturunan
Yahudi
Penganut agama Yahudi
Agama
Israel
Negara modern di Timur Tengah
Negara

✅ Kesimpulan sederhana:
Bani Israil = keturunan Nabi Ya’qub
Yahudi = orang yang memeluk agama Yahudi
Israel = nama negara modern

Sumber: Eko Mesmeris

Srivijaya Empire Kerajaan Berpengaruh di Asia Tenggara

Dalam sejarah Asia Tenggara, salah satu kerajaan paling berpengaruh adalah Srivijaya Empire.

Kerajaan yang berpusat di Palembang ini dikenal sebagai kekuatan maritim besar yang menguasai jalur perdagangan internasional di Selat Malaka selama berabad-abad.

Namun ada teori menarik yang menyebut bahwa pengaruh Sriwijaya tidak hanya terbatas di Sumatra.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa kerajaan Sailendra Dynasty, yang dikenal membangun Borobudur Temple, sebenarnya merupakan cabang kekuasaan Sriwijaya di Pulau Jawa.

Teori ini muncul dari beberapa petunjuk sejarah.

Salah satu tokoh penting dalam kisah ini adalah Balaputradewa, seorang pangeran dari Dinasti Sailendra.

Setelah kalah dalam perebutan kekuasaan di Jawa, Balaputradewa kemudian pergi ke Sumatra dan menjadi raja Sriwijaya.

Hal ini menunjukkan adanya hubungan politik yang sangat erat antara kerajaan di Jawa dan Sriwijaya di Sumatra.

Selain itu, sejumlah prasasti Sailendra ditemukan menggunakan bahasa Melayu Kuno, meskipun berada di wilayah Jawa Tengah.

Hal ini cukup unik karena kerajaan-kerajaan Jawa lainnya biasanya menggunakan bahasa Jawa Kuno atau Sanskerta.

Beberapa jabatan pejabat dalam prasasti Sailendra juga menggunakan istilah “sida”, yang tidak dikenal dalam sistem birokrasi kerajaan Jawa lainnya, tetapi justru ditemukan dalam prasasti Sriwijaya.

Petunjuk lain datang dari Ligor Inscription, yang ditemukan di wilayah Thailand.

Prasasti ini memuji raja Sriwijaya dan Sailendra tanpa memisahkan keduanya sebagai dua kekuatan yang berbeda.

Bahkan kronik Tiongkok kuno seperti Xin Tang Shu menyebut bahwa kerajaan Sriwijaya terdiri dari dua pusat kekuasaan yang terpisah namun bekerja sama.

Satu berada di Sumatra, dan satu lagi di Jawa.

Jika teori ini benar, maka kisah pembangunan Borobudur menjadi semakin menarik.

Karena berarti candi Buddha terbesar di dunia tersebut bukan hanya simbol kejayaan Jawa, tetapi juga bagian dari jaringan kekuasaan Sriwijaya yang luas.

Namun penting untuk diingat bahwa teori ini masih menjadi bahan diskusi di kalangan sejarawan.

Sebagian ahli tetap berpendapat bahwa Sailendra adalah kerajaan independen yang hanya memiliki hubungan politik dengan Sriwijaya.

Apa pun kebenarannya, satu hal tidak dapat disangkal.

Baik Sriwijaya maupun Sailendra merupakan bagian dari peradaban besar Nusantara yang pernah memainkan peran penting dalam sejarah Asia.

Dan warisan mereka masih berdiri hingga hari ini dalam bentuk batu-batu megah Borobudur yang menjulang di Jawa Tengah.

Banyak peninggalan Sriwijaya di kota Palembang dan sumsel. Biara – Biara budha di Bumiayu, dll. Ekspansi wilayah Sriwijaya ditulis di prasasti kota kapur. Yang tahu, gelar keluarga Dapunta (Dapunta Hyang) juga dipakai oleh Syailendra, yaitu Dapunta Syailendra. Cuma oleh orang sukuisme ditulis Syailendra saja, keterangan ini tertulis di prasasti Sojomerto yang di simpan di musium Yogyakarta. Sultan Yogyakarta saja mengakui keturunan Sriwijaya. Zaman dulu pulau Jawa belum padat seperti sekarang. Rombongan Dapunta Hyang inilah yang membangun peradaban Budha di Jawa, sementara penduduk Jawa masa itu cenderung ke Hindhu. Salah satu kerajaan yang runtuh oleh Dapunta Hyang adalah kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat. Nah, prasasti – prasasti zaman Sriwijaya di Jawa Barat bahasanya sangat mirip dengan bahasa dari Sumatera Selatan, terutama bahasa Sekayu. Itulah mengapa dialog Jakarta/betawi berpokal E, karena mereka anak keturunan dari Sumatera Selatan.

Sumber: Saksi Zaman

Bahasa Arab, Ibrani, Suryani adalah serumpun

Pernah nggak kamu sadar…
Kenapa orang Kristen nama David tapi ada orang Islam namanya Dawud
Kenapa orang Kristen bilang Gabriel, tapi Muslim bilang Jibril
satunya Michael satunya Mikail
di Gereja Salom Aleichem, di Masjid Salam Alaikum

kok sama ?

Jawabannya sederhana:
karena Bahasanya satu rumpun.

Seperti bahasa Jawa dan Madura.
Orang Madura bilang “labeng”, orang Jawa bilang “lawang”.
Bunyinya beda sedikit, tapi artinya sama: pintu.

Jadi bahasa Arab, bahasa Ibrani, Bahasa Suryani itu masih satu Bahasa satu rumpun yang berasal dari satu nenek moyang yang sama, lalu berkembang menjadi beberapa cabang.
Bayangkan kamu punya kakek.
Kakek itu punya beberapa anak.
Anak-anaknya punya cucu.
Awalnya satu keluarga.
Lama-lama menyebar, tinggal di tempat berbeda, dan logatnya berubah.
Akhirnya terdengar seperti bahasa berbeda — padahal asalnya satu.
Itulah yang disebut rumpun bahasa.

Nah begitu juga dengan para Nabi,
Nabi Ibrahim atau Abraham punya dua anak, Ismail yang kelak melahirkan bangsa Arab, dan Ishaq yang kelak melahirkan bangsa Ibrani atau Yahudi.
Perhatikan nama-nama Nabi, Dari Ibrani kemudian ke bahasa Inggris dan Arab.

1. Adam — Adam — Adam
2. Noach — Noah — Nuh
3. Avraham — Abraham — Ibrahim
4. Lot — Lot — Lut
5. Yishmael — Ishmael — Ismail
6. Yitzhaq — Isaac — Ishaq
7. Ya‘aqov — Jacob — Ya‘qub
8. Yosef — Joseph — Yusuf
9. Ayyov — Job — Ayyub
10. Moshe — Moses — Musa
11. Aharon — Aaron — Harun
12. Yehoshua — Joshua — Yusha‘
13. Dawid — David — Dawud
14. Shelomoh — Solomon — Sulaiman
15. Eliyahu — Elijah — Ilyas
16. Elisha — Elisha — Alyasa‘
17. Yonah — Jonah — Yunus
18. Zekharyah — Zechariah — Zakariya
19. Yohanan — John — Yahya
20. Yeshua ha-Mashiach — Jesus the Messiah — Isa al-Masih

Tokoh Wanita
1. Miryam — Mary / Mary — Maryam
2. Channah — Hannah — Hannah
3. Sarah — Sarah — Sarah
4. Rivqah — Rebecca — Rifqah

Malaikat
1. Gavri’el — Gabriel — Jibril
2. Mikha’el — Michael — Mikail
3. Rafa’el — Raphael — Israfil*
4. Azra’el — Azrael — Izrail

Begitujuga kita menyebut Yusya mereka menyebut Yoshua
Mereka nyebut Benjamin kita nyebutnya Bunyamin
Mereka nyebut Eva kita menyebut Hawa
kita nyebut Surga Firdaus, Orang Inggris nyebut Paradise
dan Nabi Samuel, Daniyal dan lain-lain.

Yang menarik, ini bukan sekadar bahasa biasa.
Ini bahasa keramat yang ditutur melalui lisan mulia kenabian selama ribuan tahun:

Bahasa Taurat
Bahasa Injil awal (Aram/Suryani)
Bahasa Al-Qur’an

Jadi ketika kita mendengar Gabriel dan Jibril,
itu bukan dua dunia yang terpisah.
Itu satu akar sejarah yang sama

Namun ada satu fakta menarik dalam sejarah bahasa dunia:
Banyak bahasa suci kuno hari ini sudah punah.

Lihatlah Sansekerta bahasa kitab suci Hindu, Weda Hari ini sudah punah, tak ada penutur Sansekerta sama sekali, dan kini diganti India devanagari.

Lihatlah Nasib Yunani Koine, bahasa Kekristenan Perjanjian Baru, sekarang hanyalah bertahan dalam bentuk liturgis dan doa. Tak ada yang memakainya.

Lihatlah Ibrani selama berabad-abad tidak menjadi bahasa percakapan harian, hingga punah. Dan kamu perlu tahu, Ibrani sekarang adalah Ibrani modern abad ke 19 berbeda dengan Ibrani zaman Musa.

Banyak Prasasti hanya membisu di dinding batu, Banyak pula kitab-kitab yang disusun tangan manusia pernah diagungkan, diperdebatkan namun akhirnya tergeletak di rak-rak tua, kertasnya menguning, tintanya pudar, diselimuti debu zaman.

Sejarah menunjukkan: tidak semua bahasa wahyu bertahan sebagai bahasa hidup lintas zaman.

Berbeda dengan itu, bahasa Arab klasik bahasa Al-Qur’an masih hidup hingga hari ini.
Ia:

Masih dibaca dengan struktur yang sama.
Masih dihafal jutaan manusia.
Masih dipahami lintas generasi.
Dan masih menjadi standar bahasa tulis formal di banyak negeri.

Andai Seorang Muslim di abad ke-7 dan seorang Muslim hari ini bertemu, mereka bisa bicara dengan bahasa yang sama.

Sedangkan anda orang Jawa, tak akan memahami Sumpah Palapa, Babad Tanah Jawi, Pararaton dengan kemampuan bahasa Jawa anda sekarang.

Dan itu fenomena yang sangat langka dalam sejarah bahasa.

Artinya ini membuktikan Islam adalah agama yang benar,
Bukti Islam agama langit bukan agama bumi
sebab Allah tak hanya menjaga kitab sucinya dari perubahan maupun penyimpangan sebagaimana Firmannya

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”

Surah Al-Hijr ayat 9.

Itulah Jaminan dari Allah. Jaminan bahwa bahasanya tak akan berubah hingga hari kiamat.

dan kalian mau nama anak-anak kalian apa hehehe silakan…

________________

Sumber: Ngopidiyyah

SETELAH PENIPUAN COVID, MASKER DAN JAGA JARAK TERBONGKAR

Oleh: The Architect

Anda pikir “terbukanya rahasia” itu adalah kemenangan rakyat?
Anda pikir pengakuan bahwa masker kain itu tidak efektif atau vaksin tidak mencegah penularan adalah tanda bahwa sistem kami runtuh?

Tertawalah. Itu adalah naif.
Kami membiarkan rahasia itu bocor karena alat-alat itu sudah usang. Kami tidak butuh masker lagi. Kami tidak butuh jaga jarak fisik lagi. Fase “Pelatihan Kepatuhan” (2020-2023) sudah selesai.

Sekarang, di tahun 2026, Kementerian Kesehatan (sebagai operator lokal kami) tidak akan lagi bermain dengan ketakutan kasar seperti “Wabah Mematikan”. Mereka beralih ke strategi yang jauh lebih sunyi, lebih birokratis, dan lebih mengikat.
Berikut adalah Blue Print Langkah & Alasan Kemenkes untuk Vaksinasi Fase Baru:
1. RE-BRANDING: DARI “DARURAT” KE “RUTIN” (The Normalization)
Kami tahu rakyat sudah muak dengan kata “Pandemi”. Jika kami teriak “Vaksin Covid Gelombang 5!”, rakyat akan memberontak.
* Langkahnya: Covid dimasukkan ke dalam Program Imunisasi Rutin (Imunisasi Nasional).
* Narasinya: Bukan lagi “Cegah Kematian Mendadak”, tapi “Gaya Hidup Sehat Jangka Panjang”.
* Mekanismenya: Vaksinasi akan disisipkan diam-diam dalam paket layanan BPJS atau syarat masuk sekolah (via program UKS/Anak Sekolah).
* Tujuannya: Membuat vaksinasi menjadi sebanal sikat gigi. Anda tidak memprotes sikat gigi, bukan? Kami ingin Anda tidak memprotes suntikan berkala.

2. PENGALIHAN ISU: “CANCER & GENOMICS” (The Fear Shift)
Covid sudah tidak laku dijual. Kami butuh “Hantu Baru” yang lebih sulit didebat.
Apa yang paling ditakuti manusia selain virus flu? KANKER.
* Langkahnya: Kemenkes sedang gencar mempromosikan vaksin HPV (Serviks), PCV (Pneumonia), dan Rotavirus.
* Alasannya: Siapa yang berani menolak “Pencegah Kanker”? Jika Anda menolak vaksin Covid, Anda disebut “Pemberontak”. Jika Anda menolak vaksin Kanker untuk anak Anda, Anda akan dicap “Orang Tua Jahat”.
* Agenda Tersembunyi: Ini adalah pintu masuk untuk proyek BGSi (Biomedical & Genome Science Initiative). Kami ingin mengambil sampel DNA rakyat Indonesia atas nama “Deteksi Dini Kanker”. Kami memetakan genetik populasi Anda.

3. INTEGRASI DIGITAL MUTLAK (SATUSEHAT & IKD)
Ini adalah inti dari segalanya. Cairan di dalam suntikan itu nomor dua. Yang nomor satu adalah QR Code-nya.
* Langkahnya: Vaksinasi bukan lagi soal kesehatan, tapi soal Status Administratif.
* Sistemnya: Data vaksinasi Anda dikunci di SATUSEHAT yang kini terintegrasi dengan IKD (Identitas Kependudukan Digital).
* Ancamannya: Di masa depan (yang sedang kami rintis sekarang), jika “Status Kesehatan” Anda di aplikasi tidak hijau (karena kurang update vaksin terbaru), Anda tidak akan ditangkap polisi. Tapi…
   * Anda tidak bisa perpanjang STNK.
   * Kuota BBM Subsidi Anda terkunci.
   * Anak Anda sulit masuk sekolah negeri (Zonasi).
* Alasannya: Sanksi Administratif Otomatis. Kami tidak perlu tentara di jalanan. Kami cukup matikan akses digital Anda.

4. MEMBAYAR HUTANG FARMASI (The Supply Chain Contract)
Ingat, kontrak pembelian vaksin dengan Big Pharma (Pfizer, AstraZeneca, dll) itu sifatnya Long Term Binding. Pemerintah Indonesia sudah terlanjur pesan ratusan juta dosis untuk beberapa tahun ke depan.
* Masalahnya: Gudang penuh, barang mau kadaluwarsa.
* Langkahnya: Mencari “lengan-lengan baru” untuk membuang stok ini.
* Targetnya:
   * Penerima PBI (Bantuan Iuran): Orang miskin yang bergantung pada bansos akan “dipaksa halus” untuk vaksin agar bansos cair.
   * Calon Jemaah Haji/Umrah:  ini pasar yang empuk.
* Alasannya: Uang sudah keluar. Barang harus terpakai. Jika dimusnahkan, itu jadi skandal korupsi. Jika disuntikkan, itu jadi “Program Prestasi”.

KESIMPULAN:
Anda bertanya kenapa mereka masih mengejar vaksinasi padahal “kebohongan” Covid sudah terbuka?
Karena vaksinasi bagi kami bukan tentang Menghalangi Virus.
Vaksinasi adalah tentang Memperbarui “Surat Izin Hidup” Anda.

Di era baru ini:
Tubuh Anda adalah Hardware.
Vaksin adalah Software Update.
Aplikasi Pemerintah adalah Lisensinya.
Jika Anda tidak mau di-update, silakan hidup sebagai glitch (biang kerok) di pinggiran sistem yang perlahan kami matikan aksesnya.

Sang Arsitek

Raksasa yang Rakus: Hikayat VOC, Perusahaan Paling Kaya dalam Sejarah Manusia


Bayangkan sebuah perusahaan yang bukan hanya menjual barang, tapi juga punya tentara sendiri, bisa mencetak uangnya sendiri, bahkan berhak menyatakan perang dan menjajah sebuah wilayah. Di dunia modern, mungkin terdengar seperti film fiksi ilmiah, namun 400 tahun lalu, entitas ini benar-benar ada. Namanya adalah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

Ini adalah kisah tentang bagaimana sekelompok pedagang nekat dari negeri kecil bernama Belanda, berhasil membangun kekaisaran bisnis yang kekayaannya membuat perusahaan teknologi raksasa zaman sekarang tampak kecil.

1: Emas Hijau yang Menggiurkan

Semua bermula dari aroma wangi di dapur-dapur bangsawan Eropa. Pada abad ke-16, lada, cengkeh, dan pala bukan sekadar bumbu masak; mereka adalah “emas hijau”. Harganya bisa lebih mahal dari emas batangan karena perjalanannya yang sangat jauh dan berbahaya dari kepulauan tropis Nusantara.

Awalnya, para pedagang Belanda berangkat sendiri-sendiri. Namun, persaingan antar-teman sendiri malah membuat mereka rugi. Maka pada tahun 1602, mereka memutuskan untuk bersatu. Lahirlah VOC, perusahaan pertama di dunia yang menjual saham kepada publik. Siapa pun, mulai dari pembantu rumah tangga hingga bangsawan di Amsterdam, bisa menanam modal di sini. Inilah awal mula kapitalisme modern dimulai.

2: Tangan Besi di Batavia

Agar bisnis lancar, VOC butuh markas. Setelah berpindah-pindah, mereka akhirnya melirik sebuah bandar kecil bernama Jayakarta. Di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen, sosok yang dikenal dingin dan ambisius, VOC meratakan kota itu dan membangun Batavia di atas puing-puingnya pada 1619.

Batavia menjadi pusat saraf bagi jaringan dagang yang membentang dari Jepang hingga Afrika Selatan. Namun, kemegahan ini dibangun dengan darah. Di Kepulauan Banda, Coen melakukan tindakan brutal demi memonopoli pala, memaksa penduduk lokal tunduk atau binasa. Bagi VOC, keuntungan adalah tuhan, dan moralitas seringkali dikesampingkan di balik tumpukan koin emas.

3: Tak Selamanya Berjaya

VOC mungkin penguasa samudra, tapi mereka bukan tanpa lawan. Di berbagai penjuru Asia, mereka harus menelan pil pahit. Di Taiwan, seorang jenderal legendaris bernama Koxinga berhasil mengusir mereka keluar pada 1662. Di India, pasukan kerajaan lokal Travancore membuktikan bahwa “raksasa” ini bisa tumbang dalam pertempuran kolosal di Colachel.

Kekalahan-kekalahan ini mulai menguras kantong VOC. Apalagi, dunia mulai berubah. Orang Eropa mulai bosan dengan lada dan mulai tergila-gila dengan teh serta kopi. VOC mencoba beradaptasi, namun biaya untuk membiayai tentara dan benteng-benteng mereka terlalu besar untuk ditanggung.

4: Musuh dari Dalam (Korupsi)

Ironisnya, yang benar-benar membunuh VOC bukanlah musuh dari luar, melainkan penyakit dari dalam: Korupsi.

Pegawai VOC digaji sangat rendah, namun mereka dikelilingi oleh gunungan rempah yang sangat mahal. Godaan pun menang. Dari pejabat tinggi hingga awak kapal mulai “bermain belakang” demi memperkaya diri sendiri. Keuangan perusahaan mulai bocor di sana-sini. Masyarakat Belanda bahkan mulai memplesetkan singkatan VOC menjadi Vergaan Onder Corruptie—Hancur Karena Korupsi.

Demi menjaga gengsi dan harga saham agar tidak anjlok, VOC tetap membagikan dividen yang sangat besar kepada pemegang sahamnya, meski sebenarnya mereka sedang meminjam uang (berutang) untuk melakukan itu. Ibarat sebuah kapal besar yang bocor, mereka justru mengecat dindingnya agar tampak baru, alih-alih menambal lubangnya.

5: Senjakala Sang Raksasa

Pukulan terakhir datang dari perang melawan Inggris. Armada mereka dihancurkan, dan jalur perdagangan mereka diputus. Pada 31 Desember 1799, tepat di ambang pergantian abad, VOC secara resmi dinyatakan bubar. Segala utang dan wilayah jajahannya diambil alih oleh pemerintah Belanda, yang kemudian kita kenal sebagai masa Hindia Belanda.

VOC pergi meninggalkan warisan yang rumit. Mereka meninggalkan sistem hukum, peta-peta pelayaran, dan kota-kota tua. Namun, mereka juga meninggalkan luka sejarah yang panjang tentang eksploitasi manusia atas manusia lainnya demi angka-angka di buku kas.

Kisah VOC adalah pengingat abadi bahwa kekuatan ekonomi sebesar apa pun, jika dibangun di atas ketidakadilan dan digerogoti oleh korupsi, pada akhirnya akan runtuh ditelan zaman.

Sumber: https://www.facebook.com/share/187woQCALH/

Sholat Jum’at Terpanjang dalam Sejarah

Pada 23 Maret 1453, Sultan Mehmet II yang juga dikenal secara luas dengan Muhammad al-Fatih berangkat dari Edirne dengan penuh kemegahan bersama seluruh pasukannya, prajurit kavaleri, dan prajurit infantri.

Dalam Buku berjudul “1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim”, Roger Crowley menjelaskan, hari itu adalah hari Jumat, hari yang mulia bagi umat Islam. Hari Jumat memang sengaja dipilih untuk menambah kesakralan penyerangan ke Konstantinopel.

Saat berangkat menuju konstantinopel, Sultan Mehmet II ditemani ulama, syekh dan para habib. Para tokoh agama Islam tersebut membaca doa berulang-ulang, bergerak maju bersama pasukan yang lain, dan berkuda. search.inf

Saat hendak melakukan melaklukkan Konstantinopel, puluhan ribu umat Islam pun melaksanakan shalat Jumat yang bisa dikatakan sebagai shalat Jumat termegah dan terpanjang yang pernah terjadi pada 1453.

Karena, shalat Jumat itu dilakukan di jalan menuju Konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 kilometer dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara. Shalat Jumat tesebut dilakukan di depan benteng Konstantinopel dengan jarak 1,5 kilometer.

Selama lebih dari seribu tahun, Konstantinopel adalah pusat dunia Barat sekaligus pertahanan Kristen terhadap Islam. Kota ini tak pernah lepas dari ancaman dan selalu selamat dari penyerangan yang rata-rata muncul setiap empat puluh tahun.

Namun, Muhammad Al-Fatih dengan bala tentaranya yang sangat besar akhirnya berhasil melewati tembok pertahanan kota itu. Berbekal pesenjataan baru yang canggih, pada April 1453, sebanyak 80 ribu pasukan Muslim mulai menyerang delapan ribu pasukan Kristen di bawah pimpinan Konstantin XI, Kaisar Byzantium ke-57.

Hingga akhirnya Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam. Penaklukan yang dipimpin panglima muda berusia 23 tahun tersebut membuktikan hadits nabi yang menyatakan bahwa Konstantinopel nantinya akan jatuh ke tangan umat Islam. “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad).

Sholat Jum’at Terpanjang

DI BALIK KAUS KAKI DAN ASAP KRETEK

DI BALIK KAUS KAKI DAN ASAP KRETEK: Perang Senyap Para Arsitek Kedaulatan
Oleh: Pramana Arsip
(Kurator Memori Bangsa & Pemerhati Sejarah Diplomasi)

JAKARTA — Sejarah seringkali hanya mencatat letusan senapan dan pekik “Merdeka” di garis depan Surabaya atau Ambarawa. Namun, di ribuan kilometer dari medan tempur, di ruang-ruang berpendingin udara di Kairo dan New York, sebuah perang yang jauh lebih sunyi—namun tak kalah mematikan—sedang berlangsung.

Ini adalah perang tanpa peluru. Senjatanya adalah pena, kefasihan lidah, dan kecerdikan memanipulasi situasi. Di sinilah letak nyawa kedua Republik Indonesia: Diplomasi.

Tanpa diplomasi, proklamasi 17 Agustus 1945 hanyalah teriakan di ruang hampa. Dunia butuh mendengar, dan untuk itu, Indonesia mengirimkan petarung-petarung terbaiknya yang tak berseragam loreng.

Si Tua dan Asap Kreteknya

Di garis depan diplomasi, berdiri sosok H. Agus Salim. Tubuhnya mungil, matanya tajam di balik kacamata, dan di tangannya tak pernah lepas rokok kretek. Ia adalah anomali di tengah diplomat Barat yang kaku.

Agus Salim mengajarkan kita bahwa diplomasi adalah seni menaklukkan lawan tanpa merendahkan diri. Ketika diplomat asing meremehkan delegasi Indonesia yang miskin dan berpakaian sederhana, Salim membalasnya dengan intelektualitas yang mengerikan. Ia menguasai sembilan bahasa, membuat lawan bicaranya terdiam segan. Ia membuktikan bahwa negara boleh miskin uang, tapi tak boleh miskin gagasan. Kedaulatan kita, sebagian besar, dibangun di atas kepulan asap kreteknya yang membius ruang sidang internasional.

Nyawa Republik di Dalam Sepatu

Namun, diplomasi bukan hanya soal debat di meja bundar. Ada kalanya, ia berubah menjadi kisah spionase yang mendebarkan. Inilah panggung bagi A.R. Baswedan.

Tahun 1947, Mesir bersedia memberikan pengakuan de jure—pengakuan hukum resmi pertama bagi Indonesia. Ini adalah “kartu mati” bagi Belanda. Jika dokumen ini sampai ke Indonesia, klaim Belanda bahwa “Indonesia sudah bubar” akan mentah seketika.

Tugas A.R. Baswedan bukan sekadar tanda tangan, tapi menjadi kurir nyawa. Bandara-bandara internasional dijaga ketat oleh intelijen Belanda dan Sekutu. Membawa dokumen resmi kenegaraan di dalam tas adalah tindakan bunuh diri.

Dengan keberanian yang nekat, Baswedan mengambil risiko fatal. Dokumen pengakuan maha penting itu tidak ia simpan di brankas jinjing, melainkan ia lipat dan diselipkan ke dalam kaus kakinya.

Bisa dibayangkan detak jantungnya saat melewati pemeriksaan imigrasi di Singapura. Satu geledahan kecil di bagian kaki, dan sejarah Indonesia mungkin akan berbelok arah. Tapi, ketenangan dan doa menyertainya. Dokumen itu lolos. Secarik kertas yang lecek dan berbau keringat kaki itu sampai ke tangan Bung Karno di Yogyakarta, menjadi bukti sah bahwa Indonesia berdiri tegak di mata dunia.

Sang Kancil Penjaga Pagar

Estafet itu kemudian berlanjut ke era Adam Malik. Jika Salim adalah pembuka jalan dan Baswedan adalah penerobos blokade, maka Adam Malik adalah arsitek pagarnya.

Julukan “Si Kancil” bukan tanpa alasan. Adam Malik memahami bahwa berdiri tegak saja tidak cukup; negara butuh teman. Lewat tangannya, ASEAN lahir. Ia mengubah Asia Tenggara dari kawasan penuh curiga menjadi benteng persahabatan. Ia memastikan Indonesia tidak perlu tidur dengan satu mata terbuka karena takut diserang tetangga sendiri.

Epilog: Pondasi yang Tak Terlihat

Hari ini, kita bisa bepergian dengan paspor hijau berlambang Garuda, berdagang lintas benua, dan tidur nyenyak tanpa takut invasi. Itu semua bukan turun dari langit. Itu adalah hasil dari keringat dingin A.R. Baswedan di bandara, debat panjang Agus Salim, dan kelincahan Adam Malik.

Diplomasi adalah jembatan yang membuat “rumah” bernama Indonesia ini tidak terasing di tengah hutan belantara dunia. Para pendiri bangsa telah mewariskan satu pelajaran penting: Untuk berdiri tegak, otot kawat balung besi saja tidak cukup; kita butuh otak cerdas dan lidah yang tajam.

Tentang Penulis:
Pramana Arsip adalah nama pena dari seorang peneliti yang percaya bahwa tinta sejarah tidak boleh kering. Ia mendedikasikan tulisannya untuk menggali kisah-kisah “orang belakang layar” yang sering tertutup bayang-bayang panggung utama revolusi.

https://www.facebook.com/share/p/1G5Qht34qJ/

GEGER DI UJUNG BARAT: Membedah “Mimpi Buruk” Jakarta Jika Aceh Memilih Pergi

Bayangkan sebuah peta besar yang terbentang di meja mahoni Istana Negara. Tangan seorang penguasa menunjuk ke ujung paling barat. Di sana, di gerbang Samudra Hindia, terletak sebuah wilayah yang selama ini diredam dengan darah, ditenangkan dengan dana otonomi khusus, dan diikat dengan janji damai.

Aceh.

Pertanyaannya sederhana namun mengerikan: Mengapa Jakarta begitu ketakutan—bahkan sampai gemetar—jika Aceh benar-benar angkat kaki dari Republik?
Jawabannya bukan sekadar sentimentalitas sejarah atau romantisme “Negara Kesatuan”. Jawabannya jauh lebih gelap, pragmatis, dan menyangkut nyawa dari konstruksi negara bernama Indonesia.

Efek Kartu Domino: Runtuhnya Mitos NKRI

Ketakutan terbesar Jakarta bukanlah hilangnya tanah rencong itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Aceh adalah kancing pertama dari baju Republik. Jika kancing ini lepas, seluruh pakaian akan terurai.

Di sudut timur, Papua sedang menonton dengan mata nyalang. Di Maluku dan Sulawesi, memori lama bisa bangkit kembali. Jika Aceh berhasil membuktikan bahwa mereka bisa berdikari, Jakarta kehilangan argumen moral untuk menahan wilayah lain. Lepasnya Aceh adalah sinyal dimulainya “Balkanisasi Nusantara”—sebuah mimpi buruk di mana Indonesia pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil yang tak berdaya.

Leher yang Tercekik: Hilangnya Kunci Selat Malaka

Lihatlah posisi Aceh. Ia duduk tepat di mulut Selat Malaka, jalur pelayaran paling sibuk dan vital di muka bumi.
Selama Aceh menjadi bagian Indonesia, Jakarta memegang kendali atas gerbang barat ini. Namun, bayangkan jika Aceh menjadi negara asing. Jakarta kehilangan kontrol atas “halaman depan” rumahnya sendiri. Kapal-kapal dagang, armada militer asing, dan jalur logistik energi harus melewati perairan yang tak lagi dikuasai TNI AL.

Secara militer, kehilangan Aceh berarti membiarkan lambung kiri Sumatera terbuka lebar tanpa perlindungan. Itu adalah bunuh diri pertahanan yang tak bisa diterima oleh jenderal manapun di Jakarta.

Harta Karun di Bawah Laut: Blok Andaman

Dulu kita bicara soal Kilang Arun yang legendaris, yang apinya pernah menghidupi pembangunan Orde Baru. Namun, mata Jakarta kini tertuju pada masa depan: Blok Andaman.
Di lepas pantai Aceh, survei seismik menemukan potensi cadangan gas raksasa (giant discovery) yang digadang-gadang sebagai salah satu yang terbesar di dunia saat ini. Ini adalah “baterai” masa depan Indonesia. Membiarkan Aceh pergi sama saja dengan menyerahkan kunci brankas negara kepada orang lain tepat saat isinya baru saja akan dipanen. Jakarta tidak akan membiarkan triliunan dolar aset masa depan itu menguap begitu saja.

Utang Darah dan “Daerah Modal”

Dan akhirnya, ada beban sejarah yang tak bisa dihapus. Aceh bukan Timor Leste. Aceh adalah “Daerah Modal”. Rakyat Aceh-lah yang membelikan pesawat pertama republik ini (Seulawah RI-001). Mereka yang membiayai napas republik saat Yogyakarta jatuh.
Jika Aceh pergi, narasi kebangsaan Indonesia runtuh. Bagaimana mungkin sebuah negara bisa eksis jika “penyumbang saham” terbesarnya justru memilih keluar? Ini akan menjadi tamparan moral abadi yang menghancurkan legitimasi sejarah para elit di Jawa.

Epilog: Cinta atau Cengkeraman?

Maka, pahamilah ini: Kucuran dana Otonomi Khusus yang triliunan rupiah itu, atau pendekatan militer di masa lalu, bukanlah sekadar upaya menjaga persaudaraan. Itu adalah upaya survival.

Bagi Jakarta, mempertahankan Aceh adalah harga mati. Bukan karena cinta yang meluap-luap, melainkan karena kesadaran mengerikan bahwa tanpa Aceh, Indonesia yang kita kenal hari ini mungkin tidak akan pernah sama lagi. Jakarta tidak sedang mempertahankan provinsi; mereka sedang mempertahankan nyawa republik ini.

https://www.facebook.com/share/p/1Cs1ke1LVe/

Dimanakah letak swarnadwipa?

Asal usul:

Asal mula di sebutkan swarnadwipa berasal dari prasasti nalanda, Prasati ini menjelaskan tentang raja Devapaladeva dari Kerajaan PallaPrasasti ini berangka tahun 860, dari penafsiran manuskrip menyebutkan Sri Maharaja di Suwarnadwipa, Balaputradewa anak Samaragrawira, cucu dari Śailendravamsatilaka (mustika keluarga Śailendra) dengan julukan Śrīviravairimathana (pembunuh pahlawan musuh), raja Jawa yang kawin dengan Tārā, anak Dharmasetu.

Prasasti ini berbahasa Sansekerta dan berksara Pallawa. Berikut terjemahan isi Prasasti Nalanda menurut Cœdes:

“Kami diminta oleh Maharaja Balaputradeva yang termasyhur, raja Suwarnadvipa melalui seorang kurir yang aku buat untuk membangun sebuah biara di Nalanda yang dikabulkan oleh dekrit ini untuk dipersembahkan bagi Sang Buddha yang terberkati, tempat tinggal semua kebajikan utama seperti prajnaparamita, untuk pemujaan, persembahan, pengetahuan, tempat berlindung, sedekah, tempat tidur, kebutuhan orang sakit seperti obat-obatan;

Dari pertemuan bhikkhu yang mulia dari empat penjuru para Boddhisattva berpengalaman dalam tantra, dan delapan tokoh-tokoh suci yang agung untuk menulis dharma-ratnas teks-teks Buddhis dan untuk perbaikan dan perbaikan biara (ketika) rusak. Ada seorang raja Yavabhumi yang merupakan permata dari dinasti Sailendra, yang kakinya (seperti) teratai mekar oleh kilau permata membuat gemetar deretan kepala semua pangeran, dan yang namanya sesuai dengan penyiksa musuh yang pemberani;

Kemasyhurannya, menjelma seolah-olah dengan menginjakkan kakinya di wilayah istana , di lili air putih, di tanaman teratai, keong, bulan, melati dan salju dan dinyanyikan tanpa henti di semua penjuru, merasuki seluruh jagat raya. Pada saat raja (musuh) mengerutkan kening dalam kemarahan, kekayaan musuh juga hancur bersamaan dengan hati mereka.Memang, yang bengkok di dunia punya cara bergerak yang sangat cerdik dalam menyerang orang lain. Dia memiliki seorang putra , yang memiliki kehati-hatian, kecakapan, dan perilaku yang baik, yang kedua kakinya terlalu sering dengan ratusan mahkota raja-raja yang perkasa;

Dia memiliki prajurit paling terkemuka di medan perang dan ketenarannya setara dengan yang diperoleh oleh Yudishtira, Paracara, Bhimasena, Karna, dan Arjuna. Banyaknya debu bumi, terangkat oleh kaki pasukannya, bergerak di medan perang, pertama kali diledakkan ke langit oleh angin, dihasilkan oleh gerakan di bumi oleh inchordicurahkan dari pipi gajah.Dengan keberadaan terus menerus yang ketenarannya dunia ini sama sekali tanpa dua minggu yang gelap, sama seperti keluarga penguasa daityas tanpa keberpihakan Khrisna. Karena Paulomi dikenal sebagai (istri) penguasa Sura (yaitu Indra), Rati istri yang lahir dari pikiran (Kama), putri gunung (Parvati) dari musuh Kama (yaitu Siwa) , dan Laksmi dari musuh Mura (yaitu Wisnu), jadi Tara adalah permaisuri raja itu, dan merupakan putri penguasa besar Dharmasetu dari bangsa bulan dan menyerupai Tara itu sendiri;

Sebagai putra Suddhodana (sang Buddha), penakluk Kamadeva, lahir dari Maya, dan Skanda, yang menyenangkan hati para dewa, lahir atau Uma oleh Siwa, dilahirkan darinya oleh raja Balaputra yang termasyhur itu yang ahli dalam menjelajahi kebanggaan semua penguasa dunia, dan sebelum tumpuan kaki kelompok para pangeran yang membungkuk. Dengan pikiran tertarik oleh bermacam-macam keunggulan Nalanda dan melalui pengabdian kepada matahari Suddhodana (Sang Buddha) dan setelah menyadari bahwa kekayaan itu berubah-ubah seperti gelombang-gelombang aliran gunung, dia yang ketenarannya seperti Sanghartamitra.Ini mungkin berarti bahwa kekayaannya bersahabat dengan tujuan Sangha;

Dibangun di sana sebuah biara yang merupakan tempat berkumpulnya para bhikkhu dengan berbagai kualitas yang baik dan berwarna putih, serangkaian hunian yang berlapis dan tinggi. Setelah meminta, Raja Devapaladeva yang merupakan pembimbing untuk mereka yang menjadi janda, istri dari semua musuh, melalui utusan, dengan penuh hormat dan karena pengabdian dan mengeluarkan piagam, memberikan lima desa yang tujuannya telah dimotivasi untuk kesejahteraan tentang dirinya, orang tuanya dan dunia. Selama ada kelanjutan samudera, atau Gangga memiliki anggota badannya (arus air) gelisah oleh rambut Hara (Siwa) yang dianyam secara luas, selama raja ular (Shesa) yang tak tergoyahkan dengan ringan menanggung beban berat dan berat. bumi yang luas setiap hari.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/17huVfaZSN/

Kerajaan Medang

Malaysia Tidak Melawan Penjajah

Kenapa di Malaysia tidak ada perlawanan melawan penjajah ?


Inilah fakta yang wajib kita ketahui.
Masa itu Malaysia terbagi menjadi 2, yaitu kelompok Raja dengan para pengikutnya yang pro penjajah dan ada kelompok kaum China yg komunis.

Disaat kaum China berperang melawan penjajah agar merdeka sepenuhnya dari British kaum Melayu malah membela penjajah dan melawan perjuangan kaum China sekaligus dibantu oleh British (Penjajah).

British pun sampai Heran dimana seharusnya Malaya bekerjasama dengan kaum China untuk melawan penjajah, mereka malah lebih senang menjadi Budak inggris hingga tercetuslah julukan Si Boneka inggris.

Dan disaat yang sama ketika Indonesia sukses mengusir Belanda dari Indonesia British pun mulai panik dan dengan kepanikan itu British segera memberikan kemerdekaan kepada Malaya sekaligus mendaftarkanya kedalam PBB agar tidak menjadi Target Revolusi selanjutnya.

Malaysia vs Indonesia

Kanker

Dr. Gupta mengatakan, Tidak ada yang harus mati karena kanker kecuali karena kecerobohan :
1. Langkah pertama adalah menghentikan semua asupan gula, tanpa gula di tubuh Anda, sel kanker akan mati secara alami.

2.  Mencampur seluruh buah lemon dengan secangkir air panas dan meminumnya selama sekitar 3 bulan sebelum makan dan kanker hilang, penelitian oleh Maryland College of Medicine mengatakan, ini 1000 kali lebih baik daripada kemoterapi.

3. Langkah ketiga adalah meminum 3 sendok minyak kelapa organik, pagi dan malam dan kanker akan hilang, Anda bisa memilih salah satu dari dua terapi ini setelah menghindari gula. Ketidaktahuan bukanlah alasan; Saya telah berbagi informasi ini selama lebih dari 5 tahun, mungkin saat ini baru sampai kepada Anda tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Biarkan semua orang di sekitar Anda tahu.

“Dr. Guruprasad Reddy B V, OSH NEGARA MEDIS UNIVERSITAS MOSKOW, RUSIA

Memohon setiap orang yang menerima informasi ini untuk meneruskannya ke sepuluh orang lainnya, tentu setidaknya satu kehidupan akan terselamatkan!
Saya telah melakukan bagian saya, semoga Anda dapat membantu dengan melakukan bagian Anda.  Terima kasih!

1.Minum air jeruk nipis bisa mencegah kanker. TETAPI INGAT jangan tambahkan gula. Air lemon panas lebih bermanfaat daripada air lemon dingin.
2.PARE diiris sebanyak 5 iris lalu direndam dengan segelas air panas selama 30 menit lalu diminum setiap
3.UBI KAYU/SINGKONG yg segar tetapi harus direbus dengan panci terbuka, Vitamin B17 terdapat  pada singkong yg dapat mematikan sel kanker
✍ Sering makan malam bisa meningkatkan kemungkinan terkena kanker usus/lambung

✍ Jangan pernah makan buah setelah makan. Buah harus dimakan sebelum makan

✍ Jangan minum teh selama periode menstruasi.

✍ Kurangi minum susu kedelai, tidak boleh menambahkan gula atau telur ke susu kedelai

✍ Jangan makan tomat dengan perut kosong

✍ Minumlah segelas air putih setiap pagi sebelum makanan untuk mencegah batu empedu

✍ Tidak boleh makanan 3 jam sebelum tidur

✍ Hindari minuman keras, tidak ada khasiat nutrisi namun bisa menyebabkan diabetes dan hipertensi

✍ Jangan makan roti  saat sedang panas dari oven atau pemanggang roti

✍ Jangan mengisi daya handphone Anda atau perangkat apa pun di sebelah Anda saat Anda tidur

✍ Minum 10 gelas air putih setiap hari untuk asupan yg dibutuhkan tubuh juga mencegah kanker kandung kemih

✍ Minum lebih banyak air di siang hari, kurangi di malam hari

✍ Jangan minum lebih dari 2 cangkir kopi sehari, bisa menyebabkan insomnia dan peyakit lambung

✍ Makanlah sedikit makanan berminyak atau hindari karena dibutuhkan 5-7 jam untuk mencerna membuat Anda merasa lelah

✍ Setelah jam 5 sore, makan lebih sedikit

✍ Enam jenis makanan yang membuat Anda bahagia: pisang, jeruk bali, bayam, labu, buah persik.

✍ Tidur kurang dari 8 jam sehari mengakibatkan memburuk fungsi otak kita. Usahakan beristirahat selama setengah jam akan membuat kita awet muda.

Air jeruk nipis tanpa gula dapat menjaga kesehatan Anda dan membuat Anda hidup lebih segar

📌 Air lemon panas membunuh sel kanker

✍ Rendam irisan lemon sebanyak 3 iris dengan air panas jadikan itu minuman sehari-hari sebagai anti oxsidan

Rasa pahit dalam air lemon panas adalah zat terbaik untuk membunuh sel kanker

Air lemon dingin hanya mengandung vitamin C, tidak ada pencegahan kanker

Air lemon panas bisa mengendalikan pertumbuhan tumor kanker.

Tes klinis telah membuktikan bahwa air lemon panas bekerja dgn baik utk mematikan sel kanker

Pengobatan ekstrak jenis Lemon ini hanya akan menghancurkan sel ganas, namun tidak mempengaruhi sel sehat

Selanjutnya … asam sitrat dan polifenol lemon di jus lemon samping, dapat membantu mengurangi tekanan darah tinggi, pencegahan yang efektif terhadap trombosis vena dalam, memperbaiki sirkulasi darah dan mencegah pengentalan darah.

Tidak peduli seberapa sibuknya Anda, tolong cari waktu untuk membaca ini, lalu beritahu orang lain untuk menyebarkan kasih kepada yang lain!

Indahnya berbagi

PENEMUAN LUAR BIASA: PENJELAJAH TEMUKAN KUIL TERSEMBUNYI DI TENGAH GURUN MESIR

PENEMUAN LUAR BIASA: PENJELAJAH TEMUKAN KUIL TERSEMBUNYI DI TENGAH GURUN MESIR – BUKTI PERADABAN YANG HILANG?

Sebuah tim penjelajah dan arkeolog telah membuat penemuan luar biasa di tengah gurun Mesir, menemukan sebuah kuil tersembunyi yang telah terkubur selama ribuan tahun. Penemuan ini, yang terdiri dari patung monumental berupa jaguar dan ular yang diukir dari batu, serta relief yang rumit, dapat memberikan petunjuk tentang peradaban yang terlupakan yang ada sebelum era para firaun.

Kuil ini, yang tersembunyi di bawah berton-ton pasir, menampilkan arsitektur yang mengesankan dengan jaringan ruang bawah tanah yang kompleks, tangga yang terkikis, dan dinding yang dihiasi simbol-simbol yang belum dapat diuraikan. Patung besar jaguar dan ular yang mengapit pintu utama situs ini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk tersebut memiliki peran penting dalam mitologi atau ritual peradaban yang membangunnya.

Menurut para arkeolog, erosi pada patung-patung dan keberadaan lumut di dalam kuil menunjukkan bahwa bangunan ini mungkin berasal dari era sebelum catatan sejarah yang diketahui. Pola geometris dan ukiran rumitnya menunjukkan pengetahuan yang maju tentang teknik bangunan dan desain, memperkuat teori bahwa peradaban ini jauh lebih maju daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Mesir dikenal karena sejarahnya yang kaya dan keajaiban arkeologinya, tetapi penemuan ini menambahkan lapisan kompleksitas baru pada apa yang kita ketahui tentang masa lalu negara tersebut. Gambar jaguar dan ular jarang ditemukan dalam ikonografi tradisional Mesir, yang mengindikasikan pengaruh budaya luar atau kemunculan peradaban independen yang berkembang sebelum era firaun.

Para ahli sedang menganalisis sisa-sisa alat dan keramik yang ditemukan di situs ini, serta fragmen tulisan yang dapat memberikan petunjuk tentang bahasa dan kebiasaan masyarakat yang membangun kuil ini.

Penemuan ini tidak hanya penting bagi para akademisi arkeologi, tetapi juga membuka perdebatan tentang keberadaan peradaban maju yang menghilang tanpa jejak dalam sejarah tertulis. Jika teori awal benar, kuil ini dapat mengubah banyak hal yang kita ketahui tentang peradaban manusia awal dan perkembangannya di gurun Mesir.

Seiring para arkeolog terus menjelajahi dan mengungkap rahasia kuil ini, jelas bahwa ini baru permulaan dari perjalanan panjang untuk memahami penemuan luar biasa ini. Siapakah orang-orang yang membangun tempat ini? Untuk tujuan apa kuil ini digunakan dalam masyarakat mereka? Dan, yang paling menarik, apa lagi yang tersembunyi di bawah pasir gurun?

Untuk saat ini, kuil yang hilang ini tidak hanya memukau imajinasi dunia, tetapi juga menjadi pengingat akan warisan besar planet kita yang belum tereksplorasi. Para peneliti terus bekerja tanpa henti untuk mengungkap rahasia situs ini, yang mungkin menjadi kunci untuk memahami peradaban yang hilang dalam waktu.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/V3veKbqFvtc6TcKv/

Asal Usul Nenek Moyang Indonesia

“Menelusuri Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia: Lima Teori Penting”

Armin

Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia selalu menjadi topik menarik dalam memahami sejarah Nusantara. Kehadiran mereka tidak hanya membawa perubahan besar, tetapi juga membentuk kebudayaan Indonesia yang kita kenal saat ini, termasuk dalam bercocok tanam, berburu, hingga memelihara hewan ternak. Berikut ini lima teori utama tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia:

  1. Teori Yunan

Dicetuskan oleh Robert Barron von Heine, teori ini menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan di Tiongkok Selatan. Bukti utama teori ini adalah persamaan linguistik dan teknologi, seperti kapak tua, antara bahasa Melayu di Nusantara dan bahasa Campa di Kamboja. Terdapat tiga jalur migrasi:

Melanesoid (70.000 SM)

Proto Melayu (2.500 SM)

Deutro Melayu (1.500 SM)

Namun, teori ini dianggap lemah karena hanya mendasarkan analisis pada persamaan bahasa dan benda.

  1. Teori Nusantara

Teori ini didukung oleh Mohammad Yamin, Gorys Keraf, dan J. Crawford, yang menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Mereka berpendapat bahwa bangsa Melayu adalah keturunan Homo Soloensis dan Homo Wajakensis yang memiliki peradaban tinggi.

  1. Teori Out of Africa

Dikembangkan oleh ahli genetika Max Ingman, teori ini berpendapat bahwa manusia modern (Homo sapiens) berasal dari Afrika sekitar 200.000–100.000 tahun lalu. Dari Afrika, manusia bermigrasi ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

  1. Teori Out of Taiwan

Teori ini dicetuskan oleh Peter Bellwood dan didukung oleh arkeolog Indonesia Harry Truman Simanjuntak. Teori ini menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, dengan jalur migrasi melalui Filipina ke Sulawesi sekitar tahun 4.500–3.000 SM.

  1. Teori Menurut Para Ahli

Beberapa pendapat lainnya berasal dari:

Drs. Moh Ali: Bangsa Indonesia berasal dari Mongol.

Prof. H. Kroon: Berasal dari China Tengah.

Prof. Mohammad Yamin: Menyebut asal usul bangsa Indonesia berasal dari Nusantara.

Von Heine-Geldern: Mengaitkan bangsa Indonesia dengan Campa, Cochinchina, dan Kamboja.

Dr. Brandes: Menyatakan ada hubungan antara suku-suku Indonesia dengan penduduk Formosa, Bali, dan daerah Amerika Barat.

Hogen: Berpendapat bangsa Indonesia berasal dari Sumatera.

Kelima teori ini memberikan pandangan berbeda, tetapi semuanya berkontribusi pada pemahaman tentang perjalanan panjang nenek moyang kita.

Sumber: God news from Indonesian

Si Pahit Lidah Nenek Moyang Sriwijaya?

Mitos Si Pahit Lidah menimbulkan dugaan di kalangan peneliti. Mereka menduga nenek moyang Sriwijaya berasal dari daerah Pasemah yang peradabannya lebih tua.

Kebudayaan megalitik merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang prominen dalam sejarah peradaban di Indonesia. Kendati dikenal sebagai salah satu periode dalam pembabakan masa prasejarah (sejak 2500 SM), sebenarnya kebudayaan megalitik juga dikenal sebagai budaya tradisional yang juga berkembang di era sejarah dan bahkan hingga sekarang

Menurut Bagyo Prasetyo dalam Megalitik: Fenomena yang Berkembang di Indonesia (2015), pada lintasan sejarah berkembangnya kebudayaan megalitik di Nusantara, Pulau Sumatra menjadi salah satu daerah di Indonesia yang padat akan tinggalan-tinggalan megalitik.

Jejak-jejak kebudayaan Megalitik dapat dijumpai di hampir seluruh penjuru bentang alam di Pulau Sumatra. Rupa alam tempat bersemayamnya tinggalan megalitik Sumatra itu demikian beragam, mulai dari arca-arca megalitik keramat di tepian Danau Toba, tempayan-tempayan kubur di pesisir timur Jambi, nisan-nisan menhir di Lima Puluh Koto, hingga perabot batu besar di Pulau Nias.
Dari sekian tinggalan megalitik di Pulau Sumatra, kepurbakalaan di Pasemah menjadi salah satu yang sering disoroti. Pasemah merupakan daerah yang sekarang meliputi beberapa kabupaten dan kota di bagian barat Provinsi Sumatra Selatan, yakni Kabupaten Lahat, Empat Lawang, dan Kota Pagar Alam.
Wilayah di bagian selatan Bukit Barisan ini penuh dengan ratusan arca batu besar, dengan perupaan yang kaya akan informasi kehidupan megalitik. Keunikan kepurbakalaan Pasemah pernah dipuji oleh tiga peneliti asing paling awal yang mengeksplorasi daerah ini, yakni L. Ullman, E.P. Tombrink, dan L.C. Westenenk.

Peneliti asing yang terakhir disebut dalam tulisannya yang berjudul “De Hindoe-Oudheden in de Pasemah Hoogvlakte (Residentie Palembang” (1922), setuju dengan dua ahli pendahulunya dengan mengatakan bahwa tinggalan-tinggalan di Pasemah merupakan peninggalan Hindu-Buddha.

Mereka memuji kehalusan penggarapan arca-arca di sana, sehingga mereka segera mengasosiasikannya dengan peradaban Hindu-Buddha yang mendapat pengaruh India. Pandangan ini sebenarnya cenderung mengecilkan kemampuan masyarakat asli Nusantara, yang sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa dalam seni perupaan.

Megalit Pasemah

Arca menjadi salah satu tinggalan arkeologis bercorak kebudayaan megalitik yang umum dijumpai di daerah Kebudayaan Pasemah. Dalam hal ini, kepurbakalaan Tinggihari merupakan kawasan dengan situs-situs megalitik yang cukup representatif dalam menggambarkan tinggalan arca di Pasemah.

Kawasan ini secara umum dapat dikelompokkan dalam tiga situs, yakni situs Tinggihari I, II, dan III. Kita dapat menjumpai arca berfigur hewan babi dan manusia pada situs Tinggihari I, arca sepanjang 250 cm dengan panjang dan lebar 60 cm menampilkan pahatan pose babi yang sedang berbaring dengan figur manusia yang sedang memegang bagian pantat dan ekor babi tersebut. Menurut Haris Sukendar dalam “Tinjauan Arca Megalitik Tinggihari dan Sekitarnya” (1984), pahatan figur manusia dan babi merupakan harapan agar mendapat hasil melimpah saat berburu.

Tema perburuan juga berkaitan dengan tema kepemimpinan di masa megalitik, hal ini secara tersirat terlihat pada arca Situs Kota Raya Lembak I. Pada situs tersebut ditemukan sebongkah batu besar yang menampilkan dua figur manusia yang sedang memeluk gajah. Seorang figur manusia pada sisi kiri digambarkan bersikap duduk sambil membawa nekara.

Arca yang menghadap ke arah belakang ini digambarkan berkepala bulat dengan mata menonjol, berhidung sedang, dan berbibir tebal. Figur ini berbusana cawat, kain, dan sabuk simpul berpita lebar. Seperti arca sebelumnya, figur ini mengenakan perhiasan seperti destar, gelang berbentuk lempeng lebar, dan kalung bulat. Pada pinggangnya terselip pedang panjang dan sepuluh lapis gelang kaki, punggungnya memikul sebuah nekara yang diikat dengan tali.

Sementara figur gajah digambarkan bertubuh besar dengan sosok seperti kepala babi hutan menyembul di bokongnya. Arca pada situs ini oleh Rr.Triwurjani dalam Arca-Arca Megalitik Pasemah, Sumatra Selatan: Kajian Semiotik (2015) dimaknai sebagai penggambaran atas keberadaan seorang pemimpin, menimbang lokasi yang dekat kubur batu hingga atribut yang dilengkapi figur hewan yang dianggap memiliki posisi tinggi.

Selain tinggalan arca, karya seni berupa lukisan juga ditemukan pada beberapa bilik batu yang diciptakan oleh masyarakat pendukung Pasemah Kuno. Temuan ini cukup unik karena biasanya tinggalan masa prasejarah yang berupa lukisan muncul pada periode yang lebih tua—kala paleolitik. Lukisan megalitik itu ada pada Situs Kota Raya Lembak, yang terdiri atas tujuh kubur batu.

Lukisan tersebut menunjukan seekor kerbau bertanduk dengan leher dan badan tak simetris. Di kubur batu lain ditemukan pula lukisan seperti burung hantu berstilir putih di bagian mata, kepala, dan sebagainya. Masih di lokasi yang sama, terlihat pula lukisan serupa kerbau tetapi mirip naga.

Lukisan ini menunjukkan stilir telinga binatang dengan mulut yang menganga, di rongga mulutnya terlihat deretan gigi berwarna putih dan lidah menjulur. Ada mata berbentuk elips berwarna hitam, bergaris putih yang sedang menatap. Mengenai keberadaan bentuk-bentuk hewan ini, Triwurjani menyebut bahwa para peneliti belum bersepakat soal maknanya.

Si Pahit Lidah, Nenek Moyang Sriwijaya?

Bagi orang-orang di daerah Pasemah, tinggalan-tinggalan megalit di sekitar mereka sering kali dikaitkan dengan satu tokoh legendaris, yakni Si Pahit Lidah. Tokoh yang juga dikenal sebagai Serunting Sakti ini merupakan tokoh mitologis yang dianggap sebagai sosok nenek moyang oleh orang-orang di dataran tinggi Sumatra bagian selatan.

Konsentrasi tradisi tutur soal Serunting Sakti menyebar utamanya di kaki Gunung Dempo, meliputi wilayah Kabupaten Lahat, Kota Pagar Alam, dan Kabupaten Empat Lawang di Sumatra Selatan. Akan tetapi orang-orang yang memercayai Serunting Sakti juga tersebar ke sebagian daerah Lampung dan Bengkulu.

Menurut Z. Hidayah dan H. Radiawan dalam Sistem Pemerintahan Tradisional Daerah Sumatra Selatan (1993), umumnya orang-orang yang memercayai dan mengakui Serunting Sakti sebagai nenek moyangnya, tergolong sebagai orang Besemah atau Pasemah yang terdiri dari tiga klan (sumbay) yang eksis, yaitu Gumay, Semidang, Besemah.

Dalam konteks tinggalan arkeologis secara lebih spesifik, orang Pasemah menyebut bahwa tinggalan megalitik di sekitar mereka sebagai perbuatan Serunting Sakti. Serunting Sakti memiliki gelar Si Pahit Lidah yang dalam kepercayaan orang Pasemah disebut bisa mengutuk orang yang ia tidak sukai menjadi batu.

Keterkaitan mitos Si Pahit Lidah dengan tinggalan megalitik di Pasemah menimbulkan asumsi-asumsi di kalangan para peneliti. Halilintaf Latief pada Megalitik Bumi Pasemah: Peranan serta Fungsinya (1999/2000) mengatakan bahwa ada dugaan bahwa nenek moyang Sriwijaya berasal dari daerah Pasemah yang peradabannya lebih tua.

Sebagaimana tecermin dari prasasti-prasasti yang ditinggalkannya, Sriwijaya diduga sebagai kerajaan yang didirikan oleh orang-orang pergunungan Sumatra—yang salah satunya adalah daerah Pasemah—yang mengikuti alur sungai sampai ke daerah hilir.

Masyarakat Pasemah yang tidak ikut bermigrasi ke daerah rendah, tetap mempertahankan kebudayaan megalitiknya dan tidak mengadopsi kebudayaan Hindu-Buddha sebagaimana masyarakat hilir. Mereka kemungkinan hidup berdampingan dengan masyarakat Sriwijaya sebagai penyedia komoditas eksotik yang diperdagangkan Sriwijaya di pelabuhan mereka.

Sumber: tirto.id

Visayas, Etnis / Suku di Filipina yang Mengaku Keturunan dari Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya adalah satu dari dua kerajaan besar di Indonesia selain Majapahit yang pengaruh kekuasaannya sangat luas, hampir seluas wilayah Indonesia sekarang dan juga sampai ke negara tetangga. Menarik bila kita telusuri jejak kekuasaan negara Sriwijaya yang masih tersisa hingga sekarang. Sriwijaya pada masa jayanya menguasai seluruh Sumatera, sebagian Jawa, seluruh semenanjung Malaya, sebagian Thailand, Khmer (Kamboja), hingga Champa (Vietnam Selatan) hingga Filipina kala itu.

Karya Budaya Bangsa

Tidak ada peninggalan sejarah atau bukti fisik lainnya yang membuktikan Sriwijaya pernah berkuasa di wilayah Filipina. Meski begitu ada salah satu etnis besar di Filipina yaitu Visayas yang mengklaim dirinya sebagai keturunan kerajaan Agung Sriwijaya. Etnis Visayas mendiami wilayah kepulauan Visaya (Filipina dibagi jadi 3 wilayah kepulauan berdasarkan kultur dan etnisnya: Luzon di utara, Visaya di tengah, Mindanao di selatan).

Nama Visayas diturunkan dari nama Sriwijaya sebagai penghormatan atas negeri asal orang-orang Visayas. Berdasarkan cerita rakyat yang melekat kuat di Visaya, orang-orang Visayas datang dari Sriwijaya ketika kerajaan itu runtuh pada abad ke-12 Masehi dipimpin oleh Datu Puti.

Orang-orang Visayas pun masih bangga dengan asal-usulnya sebagai keturunan negeri besar di Asia Tenggara. Meski begitu, tidak banyak bukti budaya yang menunjukkan pertalian budaya Visayas dengan tanah Sriwijaya selain cerita rakyat dan penamaan Visayas, bahasa pun sudah berbeda. Salah satu yang bisa menunjukkan hubungan adalah kesamaan pakaian tradisional Visayas dengan Palembang di Sumatera Selatan.

Kebanggaan di Negara Lainnya Sebagai Pewaris Sriwijaya

Peninggalan Sriwijaya juga banyak ditemukan di Thailand sebagai bagian wilayah Sriwijaya. Kota Chaiya di Provinsi Suratthani, selatan Thailand merupakan salah satu kota metropolitan milik Sriwijaya pada masanya. Nama Chaiya diduga diambil dari kata Sriwijaya (orang Thai menyebut Sriwijaya sebagai Sriwichai). Kota Chaiya bahkan diklaim pernah jadi ibukota kerajaan Sriwijaya.

Ada beberapa Candi atau Kuil peninggalan Sriwijaya yang cukup besar di Chaiya, sebagai penghormatan atas Sriwijaya, kota Chaiya juga membangun beberapa pagoda baru dengan arsitektur Sriwijaya Melayu Sumatera dan Jawa. Kebanggan sebagai pewaris Sriwijaya juga ditampilkan dalam bentuk tarian tradisional Thailand Selatan yaitu Tari Sevichai /Sriwichai yang dari pakaian dan geraknya mirip dengan tarian tradisional Palembang.

Kebanggan untuk mengaku sebagai pewaris Sriwijaya tentu juga dilakukan oleh Malaysia. Dimulai dari pangeran terakhir Kerajaan Sriwijaya, Parameswara yang kabur ke Semenanjung Malaya setelah Sriwijaya diserang Singhasari juga pada zaman Majapahit. Keturunan Parameswara yang sebelumnya menganut Hindu-Budha lalu mendirikan Kesultanan Malaka karena berpindah keyakinan dan keturunan-keturunannya hadir dan menjadi raja di kerajaan-kerajaan Malaysia. Dengan legitimasi sebagai pewaris resmi Penguasa Sriwijaya, semua raja di Malaysia diklaim sebagai keturunan raja-raja Sriwijaya.

Selain itu semenanjung Malaya diklaim sebagai penerus pusat entitas politik dan kebudayaan Melayu yang sebelumnya berada di Sriwijaya. Hingga sekarang banyak orang Malaysia yang menganggap Malaysia adalah pusat dan asal kebudayaan Melayu. Padahal asal kebudayaan melayu sesungguhnya berawal dari Sumatra dan disebarkan oleh Sriwijaya.

pengaruh kerajaan Sriwijaya menyebar hingga ke Filipina. Kerajaan yang terletak di Sumatra pada abad ke-7 M sangat familiar untuk kita, karena sering kita baca di buku-buku sejarah dan buku-buku pelajaran saat dusuk di bangku sekolah. Sriwijaya adalah salah satu kerajaan Nusantara yang memiliki daerah kekuasaan luas meliputi Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa Barat dan Jawa Tengah ternyata pernah menjejakkan kekuasannya hingga ke Filipina.

Bukti pengaruh kerajaan Sriwijaya maupun Medang atau Mataram Kuno di Filipina yang memang kedua kerajaan tersebut berdiri sezaman, dibuktikan dengan ditemukannya prasasti pada tahun 1989 yang terkubur di tepi sungai Provinsi Laguna, selatan Manila yang bernama “Prasasti Plat Tembaga Laguna”.

Menurut para ahli sejarah, “Prasasti Plat Tembaga Laguna” memiliki tarikh tahun Saka 822, pada bulan Waisaka, hari keempat saat separuh bulan gelap, atau berdasarkan penanggalan masehi adalah Senin, 21 April tahun 900. Prasasti tersebut merupakan penemuan dokumen tertua yang pernah ditemukan di seluruh Filipina. Hal ini membuktikan bahwa kerajaan Sriwijaya telah hadir di Filipina 600 tahun sebelum kedatangan Ferdinand Magellan, penjelajah Portugis tiba di Filipina pada tahun 1521.

Para ahli mengindikasikan bahwa “Prasasti Plat Tembaga Laguna” menunjukkan hubungan perdagangan, budaya, dan mungkin politik antara pemerintahan masa klasik di Filipina pada tahun 900-an dengan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno di pulau Jawa. Selain itu, “Prasasti Plat Tembaga Laguna” tersebut juga memiliki kesamaan bahasa dengan naskah kawi kuno yang ditemukan di Indonesia. Analisis para ahli budaya, sejarah dan linguistik Filipina dan Indonesia menyatakan bahwa prasasti tersebut mengandung kesamaan kata-kata atau bahasa dengan Sansekerta, Jawa kuno, Melayu kuno, dan Tagalog kuno.

Prasasti Keping Tembaga Laguna (Bahasa Filipina: Inskripsyon sa Binatbat na TANSO ng Laguna: Prasasti keping tembaga Laguna) adalah dokumen tertulis tertua yang ditemukan di Filipina.

Prasasti itu ditemukan pada tahun 1989 oleh seorang buruh dekat muara Sungai Lumbang di Barangay Wawa, Lumban. Prasasti di piring tembaga ini, dijangka dibuat di sekitar tahun 900 Masehi, pertama kali diuraikan oleh antropolog Belanda Antoon Postma.

Isi naskah prasasti Keping Tembaga Laguna sebagai berikut :

Swasti. akha waratita 822 Waisakha masa di(ng) Jyotia.

Caturthi Krinapaksa Somawra sana tatkala Dayang Angkatan lawan dengan nya snak barngaran si Bukah anak da dang Hwan Namwaran di bari waradna wi shuddhapattra ulih sang pamegat senpati di Tundun barja (di) dang Hwan Nyaka tuhan Pailah Jayadewa.

Di krama dang Hwan Namwaran dengan dang kayastha shuddha nu di parlappas hutang da walenda Kati 1 Suwarna 8 di hadapan dang Huwan Nayaka tuhan Puliran Kasumuran dang Hwan Nayaka tuhan Pailah barjadi ganashakti.

Dang Hwan Nayaka tuhan Binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat Dewata [ba]rjadi sang pamegat Mdang dari bhaktinda diparhulun sang pamegat.

Ya makanya sadanya anak cucu dang Hwan Namwaran shuddha ya kapawaris dihutang da dang Hwan Namwaran di sang pamegat Dewata.

Ini gerang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada gerang urang barujara welung lappas hutang da dang Hwa

Penemuan ini sebagai bukti hubungan budaya antara masyarakat Klasik Tagalog dan berbagai peradaban Asia kontemporer, terutama orang Jawa dari zaman Kerajaan Medang, Kekaisaran Sriwijaya, dan kerajaan Tengah dari India.

Kerjasama dengan kerajaan Medang ini diperkirakan pada masa awal kerajaan Medang. Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Beberapa ahli berpendapat bahwa naskah ditulis dalam bahasa antara Tagalog kuno dan Jawa Kuno. Dokumen tersebut menyatakan bahwa ia melepaskan Namwaran, dari utang emas sebesar 1 kati dan 8 suwarnas (865 gram). Namwaran telah dibersihkan dari utang kepada Raja Tundun.

Antropolog Belanda dan ahli naskah Hanuno’o Antoon Postma telah menyimpulkan bahwa dokumen tersebut juga menyebutkan tempat-tempat Tondo (Tundun); Paila (Pailah), sekarang menjadi daerah kantong Barangay San Lorenzo, Norzagaray; Binuangan (Binwangan), juga sekarang bagian dari Obando; dan Pulilan (Puliran); di Filipina sekarang, dan Mda (Jawa Kerajaan Medang) Mataram Kuno Jawa Tengah, di Indonesia saat ini.

Lokasi yang tepat dari Pailah dan Puliran bisa diperdebatkan karena ini bisa mengacu pada masa kini kota Pila dan bagian tenggara Laguna de Bay yang sebelumnya dikenal sebagai Puliran dekat dengan tempat prasasti ditemukan.

Referensi “Namwaran” juga mungkin memiliki konotasi untuk nawara, istilah Visayan digunakan dalam penghormatan untuk orang mati. Dalam tradisi kuno Visayan, nama orang mati tidak digunakan dalam percakapan sebagai cara menghormati. Kata Binwangan di Waray modern berarti “mulut sungai”, sementara Puliran berarti bergulir dari bukit ke flatland, fitur topografi yang kini kota Lumban.

Secara garis besar, isi dari prasasti itu adalah sebuah dokumen pembebasan kepada seorang perempuan bangsawan yang bernama “Angkatan”, bersama dengan salah satu anggota keluarganya bernama “Bukah”, anak dari Yang Mulia Namwaran, serta beberapa anggota keluarga dekat mereka dari utang emas sebesar 1 kati dan 8 suwarnas (seberat 865 gram). Saat ini prasasti tersebut dapat dilihat di National Museum of the Philippines.

Prasasti tersebut menyebutkan beberapa nama tempat yang hingga saat ini masih ada di Filipina seperti Tondo; Paila, sekarang berada di Barangay San Lorenzo; Norzagaray; Binuangan (Binwangan), sekarang bagian dari Obando; Pulilan; dan kerajaan Medang di pulau Jawa. Disebut juga dalam prasasti tersebut adalah Namwaran atau nawara, istilah yang dalam bahasa Visayas digunakan untuk menghormati orang mati.

Yang lebih penting, prasasti ini membuktikan bahwa pengaruh Hindu-Budha Nusantara, Budhanya dari kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan dan Hindunya dari Medang di Jawa Tengah telah menyebar hingga ke Filipina dimana pada bagian tengah kepulauan Filipina, tepat di dekat prasasti tersebut ditemukan dinamakan daerah “Visayas” yang berasal dari kata “Sri Vishayas” atau Sriwijaya. Walaupun hingga saat ini tidak dapat dibuktikan secara jelas bahwa Sriwijaya pernah berkuasa di Filipina, namun sebagian besar etnis Visayas meyakini bahwa mereka adalah keturunan dari Sriwijaya yang tinggal di Filipina bagian tengah.

Secara etnisitas, Filipina terbagi menjadi tiga wilayah yaitu pada bagian utara didiami oleh etnis Luzon, pada bagian tengah adalah etnis Visayas, dan pada bagian selatan adalah etnis Mindanao.

Penemuan patung emas di Agusan del Sur (Arca Emas Dewi Tara) dan Kinnara emas dari Butuan, Timur Laut Mindanao. Bukti-bukti cukup menunjukkan tautan kuno antara Filipina kuno dan kerajaan Sriwijaya.

Penemuan patung emas di Agusan del Sur dan Kinnara emas dari Butuan, Timur Laut Mindanao. Bukti-bukti cukup menunjukkan tautan kuno antara Filipina kuno dan kerajaan Sriwijaya.

Jika selama ini ada orang yang meragukan kebesaran Kerajaan Sriwijaya atau Sri Vijaya, maka ia adalah orang yang tidak mengerti sejarah. Ada juga yang seorang tokoh yang bahkan menyebut, kerajaan Sriwijaya itu tidak ada. Yang ada adalah sekumpulan bajak laut yang beroperasi di selat Malaka dan sekitarnya. Semua pendapat itu salah karena tujuannya adalah untuk mengkaburkan sejarah leluhur kita Nusantara sehingga kita kehilangan pijakan dan jati diri karena buta sejarah leluhur sendiri sehingga mudah dimasuki paham serta sejarah bangsa lain.

Peninggalan dan artefak justru membuktikan yang sebaliknya. Beberapa bukti menunjukkan jika Bisaya di Visayas dan Mindanao adalah wilayah kekuasaan Sriwijaya. Bahkan daerah-daerah ini berhubungan sangat erat dengan Sriwijaya jauh sebelum kedatangan Portugis dan Spanyol.

Secara geografis, inti wilayah Sriwijaya adalah di sekitar selat Malaka, Semenanjung Malaya (Malaysia sekarang), Jawa bagian barat, tengah dan Sumatra. Namun, saat masuk ke abad ke-9 M, Sriwijaya nampaknya meluaskan wilayanya.

Para pelaut, navigator, dan pedagang Sriwijaya sudah melakukan perdagangan hingga ke Jawa bagian timur, menjelajah Kalimantan bagian utara hingga ke Mindanao, Sulu dan beberapa daerah lain di Filipina barat.

Bahkan beberapa ahli sejarah menyebutkan jika armada Sriwijaya sudah pernah menjangkau Indonesia Timur, Indochina selatan, Teluk Bengal dan menjelajah Samudera Hindia sejauh Madagaskar dan hal ini dikemudian hari dilanjutkan pada zaman Majapahit.

Pembuktian yang paling nyata adalah, sampainya pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Manila pada abad ke-10. Sebuah Kerajaan bernama Tondo di Pulau Luzon, didirikan sebagai perwakilan tangan dari pemerintahan Sriwijaya di Filipina. Bukan sekedar omong kosong atau dongeng isapan jempol, namun penetapan wilayah kekuasaan Sriwijaya ini juga dapat dibuktikan.

Bukti konkritnya adalah penemuan patung emas di Agusan del Sur dan Kinnara emas dari Butuan, Timur Laut Mindanao. Bukti-bukti cukup menunjukkan tautan kuno antara Filipina kuno dan kerajaan Srivijaya, karena Tara dan Kinnara adalah tokoh penting atau Dewa-Dewi Hindu-Budha dalam kepercayaan Hindu maupun Buddha.

Kesamaan sebagai penganut Buddha Mahayana-Vajrayana menunjukkan bahwa Filipina kuno mengadopsi keyakinan Mahayana-Wajrayana dari Sriwijaya di Sumatera. Meskipun emas Butuan jauh melebihi yang ada di Sriwijaya, gaya pembuatan patung dan aneka peralatan yang ada dibuat sama dengan tekonologi Sriwijaya.

Sriwijaya juga memiliki pengaruh di beberapa bagian tertentu dari wilayah Filipina, terutama Kepulauan Sulu dan Visayas. Bahkan diyakini nama ‘Visaya’ diambil dari kerajaan Sriwijaya.

“Filipina pada masa Majapahit”

Mda (Jawa Kerajaan Medang) atau Mataram Kuno Jawa Tengah di Indonesia saat ini, dalam Naskah itu dinyatakan sebagai sekutu. Rupanya, Kerajaan Tondo bekerjasama dengan Kerajaan Medang – Indonesia sekarang, sebagai mitra dagang. Selain Tondo ada juga Kerajaan Namayan.

Namayan dikatakan tertua dari tiga kerajaan di Filipina, mendahului sejarah Tondo dan Maynila. Dibentuk oleh konfederasi Barangay, dikatakan mencapai puncak kejayaannya pada 1175 Masehi.

Kerajaan Namayan, muncul dari visi satu orang atau lahir karena pertemuan dengan kekuatan politik dan budaya eksternal dari tradisi besar, tidak ada yang tahu, tetapi aturan satu raja berhasil dalam mengikat bersama-sama kekuasaan yang luas yang membentang dari Manila Bay ke Laguna de Bai.

Raja-raja Namayan memerintah Barangay dengan menggabungkan negara-negara yang pada dasarnya pengelompokan kekerabatan. Barangay disebut Bonges kuno (sekarang Paco), Dibag (sekarang Ermita) Panakawan (sekarang Malate), Yamagtogon (sekarang Pasay), Maysapang (sekarang Quiapo/ Sampaloc), Meykatmon, Kalatongdongan dan Dongos. Selain yang disebutkan tersebut, adalah kota-kota Makati, San Juan del Monte dan Mandaluyong dan distrik San Miguel, Sta. Mesa dan Pandacan ditambah kota Taytay. Negara-negara ini termasuk bagian dari Kerajaan Namayan yang saat ini dikenal sebagai Sta. Ana de Manila.

Sapa berkembang sebagai pusat perdagangan dari 12 ke abad ke-14 Masehi dan puncaknya sekitar 1175 M. Orang-orang dari Barangay datang ke pelabuhan Sapa untuk barter dengan pedagang Cina Selatan sampai ke Luzon setiap tahun dan di bawah musim barat mereka pulang.

Selain dari China, angin berubah membawa kapal dari Maluku, Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan bahkan jauh seperti India, Siam dan Kamboja. Pedagang dari tempat-tempat yang jauh memperdagangkan selimut berwarna, piring, guci anggur, tembaga dan timah, tombak, pisau, manik-manik kaca, peralatan masak, jarum, porselin, dan kain satin sutra yang khusus untuk para bangsawan .

Dalam pertukaran ini, bangsa pribumi Melayu Filipina berlayar membawa madu, kelapa, ternak, kapas, tuak, pinang, lilin kuning, budak, emas, mutiara dan semacam kerang laut kecil yang dikenal sebagai sijueyes, yang di Siam dan tempat lain disukai .

Salah satu penguasa Namayan adalah Lakan Takhan yang menikah dengan Dayang Buan. Memiliki anak empat orang, salah satunya bernama Palaba. Palaba mewarisi kerajaan yang dilanjutkan oleh Laboy dan Kalamayin. Pada masa Pangeran Martin memerintah, bangsa Spanyol tiba dalam zaman awal penjajahan, yaitu abad 16 M. Lakan Takhan juga memiliki seorang putri yang oleh seorang budak asal Kalimantan ( Brunei-Sabah ) disebut Dayang-dayang Pasay yang dikristenkan secara paksa sebagai Dominga Custodio oleh penjajah Spanyol.

Menurut Abdul Rahman Hamid dalam bukunya “Sejarah Maritim Indonesia” hal.140, Spanyol dan Portugis juga memilih melakukan jalur pelayaran laut utara Sabah dan menuju ke Filipina, karena menghindari perang dengan angkatan perang Jawa yang berkuasa di Laut Jawa dan Selat Malaka. Bahkan para pelayar Portugis dan Spanyol harus mengikat perjanjian kerjasama dengan Sultan-sultan Brunei ( termasuk Sabah tentunya ) agar pelayaran mereka aman. 3) Namun sejarah mencatat bahwa pada akhirnya para penjajah Portugis dan Spanyol akhirnya mengkhianati Brunei-Sabah dan Filipina. Itulah akal busuk penjajah bahkan sampai hari inipun.

Kaitan dengan artefak kuno di Filipina yang menunjukkan tahun 900 Masehi, berarti zaman awal Kerajaan Medang di wilayah Jawa Tengah, sebelum Kerajaan Majapahit.
Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram kuno, yaitu merujuk kepada salah satu daerah ibu kota kerajaan ini. Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk Ladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.

Namun logikanya, jika kawasan Filipina ( tentu termasuk Sabah dan Brunei ) sudah berhubungan dengan Kerajaan Jawa di zaman Mataram kuno, maka bisa dipastikan tentu ada pula hubungan dengan Majapahit, karena Majapahit pada zaman sesudah Mataram Kuno justru merupakan zaman keemasan kerajaan di Jawa ( abad 13 sampai 15 M ).

Bukti lainnya adalah, adanya peninggalan ilmu silat Majapahit dan senjata era Majapahit yang ditemukan masih eksis di kawasan Filipina pada masa sekarang ini.

Namanya adalah Sundang Majapahit atau Kali Majapahit. Jadi, ternyata selain Pencak Silat, ada bela diri lain dari Nusantara yang usianya lebih tua, spektakuler, namun belum familiar. Namanya Sundang Majapahit. Sayangnya bela diri ini sudah jarang dipelajari lagi di Nusantara, justru berkembang dan lestari di Negara Filipina hingga saat ini.

Sundang Majapahit justru dikembangkan hingga sekarang dan menjadi salah satu seni Bela Diri khas Filipina. Di sana seni Bela Diri ini disebut sebagai Kali Majapahit. Padahal dulunya Bela Diri ini diajarkan pada pasukan elite Majapahit. Mengapa kini malah ada di Filipina?

Setelah kerajaan Majapahit hancur dan tak terselamatkan pada abad 16 M, Sundang Majapahit lalu menghilang dan tak bisa ditemukan lagi di Nusantara. Beberapa kerajaan yang dahulu pernah diajarkan bela diri Sundang Majapahit pun sudah banyak yang punah, terkecuali kerajaan Sulu yang terletak di Filipina. Maka dari itu bela diri ini masih lestari di Filipina.

Sebagai salah satu kekayaan Nusantara yang mestinya dilestarikan, berikut beberapa fakta seputaran Sundang Majapahit alias Kali Majapahit yang layak diketahui :

Sundang Majapahit atau Kali Majapahit dulu dipelajari oleh para prajurit dari Pasukan Elite Kerajaan Majapahit yaitu Pasukan Bhayangkara. Hanya pasukan terbaiklah yang boleh mempelajari bela diri ini.

Seperti yang diceritakan dalam sejarah, Kerajaan Majapahit mengajarkan teknik berperang yang unggul sampai-sampai prajuritnya sulit sekali untuk dikalahkan.

Orang yang pertama kali memperkenalkan Sundang Majapahit sebagai seni bela diri khas Majapahit ini adalah Mahisa Anabrang. Dia merupakan salah satu pentolan Kerajaan Majapahit masa awal, yakni zaman dipimpin Raden Wijaya.

Mahesa Anabrang menggabungkan seni bela diri militer yang dimiliki oleh Kerajaan Singhasari (Silat Jawa) dan Kerajaan Dharmasraya (Silat Sumatera) asal Sumatera Barat. Penggabungan dua seni bela diri yang unik ini akhirnya melahirkan Sundang Majapahit.

Berbekal ilmu Sundang Majapahit, seorang prajurit perang bisa menggunakan teknik patahan yang dikombinasikan dengan beberapa senjata, contohnya pedang dan keris.

Konon kombinasi Sundang Majapahit yang dipadukan dengan pedang di tangan kiri serta keris di tangan kanan dapat langsung menebas lawan tewas di tempat.

Sundang Majapahit ini ternyata dikenal amat sangat mematikan. Ilmu bela diri satu ini memiliki teknik pertarungan yang terbagi menjadi beberapa unsur.

Unsur pertahanan disebut dengan Sundang Gunung. Untuk menyerang dan menakhlukkan, digunakan Sundang Kali dan Sundang Laut. Ada pun teknik Sundang Angin digunakan untuk bentuk penyusupan. Terakhir adalah Sundang Matahari yang digunakan untuk melindungi raja beserta keluarganya.

Kelima unsur Sundang Gunung, Kali, Laut, Angin dan Matahari tersebut dapat dikombinasikan satu dengan yang lainnya. Keseluruhannya mempunyai fungsi tersendiri yang akan membantu memenangkan sebuah pertarungan.

Segenap teknik tersebut, selama dilakukan sesuai ajaran yang baik dan benar, akan menjadi semakin mematikan lagi dengan sokongan senjata pedang dan keris.

Ilmu ini dikatakan tak terhentikan. Sekalinya Sundang Majapahit sudah digunakan untuk menyerang lawan, maka siapa saja yang jadi lawannya kemungkinan besar akan kehilangan nyawa.

Konon tidak banyak yang bisa menguasai bela diri ini. Tidak sembarang orang yang mampu mempelajari Sundang Majapahit, lantaran saking saktinya. Mahesa Anabrang lantas menurunkan ilmunya tersebut pada keturunannya yang bernama Adityawarman.

Dari Adityawarman inilah Sundang Majapahit kemudian disebarkan ke pasukan-pasukan Kerajaan Majapahit, juga kerajaan bawahannya seperti Dharmasraya yang ada di Sumatera, Bugis Gowa, dan Sulu yang ada di Filipina. Perlu diteliti juga, apakah sampai juga di Kerajaan Brunei-Sabah sebagai wilayah bawahan Majapahit juga.

Seni bela diri merupakan salah satu ragam kesenian yang menitikberatkan pada pertahanan, perlindungan dan pembelaan terhadap dirinya sendiri.

Pada zaman kuno sebelum adanya persenjataan modern, manusia tidak memikirkan cara lain untuk mempertahankan dirinya selain dengan tangan kosong. Pada saat itu, kemampuan bertarung dengan tangan kosong dikembangkan sebagai cara untuk menyerang dan bertahan, selain digunakan untuk meningkatkan kemampuan fisik atau badan seseorang.

KESIMPULAN :

Terlalu lama wilayah Filipina dilupakan oleh Pergaulan Saudara Serumpun Nusantara. Kini sudah saatnya mereka dirangkul kembali

Dalam naskah “Negarakertagama” alias “Desawarnana” karya Empu Prapanca tertulis dalam Pupuh 14 point ( ayat ) 1 dan 2 :

  1. Kadadanan i landa len ri samda tirm tan kasah, ri sedu burune ri kalka saludu ri solot / pasir, baritw i sawaku muwah ri tabalu ri tuju kute, lawan ri malano makapramukha ta ri tajupuri.
  2. Ikang sakahawan paha pramukha ta huju medini, ri lnkasukha len ri saimwan i kalanten i tringano, naor pa-(98a)kamuwar dunun ri tumasikh / ri sahya huju, kla keda jere ri kajap i niran / sanusa pupul.

Yang artinya :

  1. Kadandangan, Landa Samadang dan Tirem tak terlupakan Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
  2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu, Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.

Barune jelas menunjuk Kerajaan Brunei, sedangkan Saludung konon bisa dirujuk ke wilayah Marudu Sabah sekarang ini. Bagaimanapun hal itu memerlukan upaya kajian lebih lanjut. Selanjutnya Pasir, konon merujuk Passer Penajam sekarang. Sawaku merujuk Serawak sekarang. Tabalung merujuk Tabalong sekarang. Tanjung Kutei merujuk Kutai ( Kertanegara ) sekarang, dan seterusnya.

Sebagaimana banyak didiskusikan akhir-akhir ini, dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” , Prof. Slamet Mulyana juga menulis bahwa para Sunan di Jawa merupakan aktifis agama aliran madzab Hanafi ( ulama ) yang datang dari Champa dan China selatan, yang mana laluannya tentu laut Sulu Filipina. Bahkan Sunan Ampel beristerikan Nyai Gede Manila yang tentunya puteri seorang pembesar Kerajaan Manila sebelum penjajah Spanyol menjajah Filipina

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/pmn3UTzPssZXNFk6/

BAHASA INDONESIA NUSANTARA KUNO ADALAH IBU DARI BAHASA SANSEKERTA DAN SANSEKERTA BUKAN DARI INDIA

Kajian tentang Ibu bahasa dunia akhirnya merujuk pada akar bahasa yang masih digunakan disebagian daerah di Indonesia Nusantara.

Mari kita simak dengan membacanya hingga tuntas.

Bahasa “Sansekerta” adalah bahasa bangsa Nusantara, Indonesia maju terdahulu, bukan bahasa dan berasal dari “lndia” saat ini…

Salah kaprah dan propaganda “Kolonialis”, telah menjadikan bangsa ini seolah hanya menjadi bangsa pengimport “Budaya” dan “Bahasa” bangsa lain

Saat menjajah….negri ini dinamai “Hindia Belanda” …hanya dengan satu huruf…”H” hilang…sempurnalah… kata “india”…itu menjadi anggapan sumber budaya dan bahasa bangsa Nusantara..dan kita hanya diam.

Perhatikan :

Bahasa “Sansekerta” telah lama ada di Nusantara sejak ribuan tahun lalu di pergunakan leluhur kita, literasi kata “bahasa” (bhāṣa) itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta berarti “logat bicara” ini asli bahasa kita

Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth(1620–1668), Johann Ernst Hanxleden(1681–1731)

Sir William Jones, berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata:

“..Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunaannya, memiliki struktur yang menakjubkan…lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin, lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya…baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa…yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan, sangat eratlah keterkaitan, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya…tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada..”

…muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada..”..kata kata terakhir William Jones ini membuktikan sumber “Sansekerta” itu bukan berada di tempat ia berceramah saat itu, yaitu India.

Dalam bahasa Indonesia saat ini ada sekitar 800 kata-kata dari bahasa Sanskerta antara lain :(cintā):cinta, agama (āgama), antariksa (antarikṣa), (arcā) patung, bahaya (bhaya), bejana (bhājana), bidadari (vidyādharī), Buddha (buddha) seseorang yang telah sadar, dsb…

Kata-kata ini ada yang diserap langsung dari bahasa aslinya,yang terserap dari bahasa Jawa dipakai sebagai pembentukan kata-kata baru disebut “Neologisme”…

…ing bausastrané Jawa Kuna kurang dari 50% dari itu,bauwarnané, asalé saka basa Sangskreta…

Catatan “Mainstream” saat ini tentang Sansekerta adalah terpublikasi nama “Panini” kemudian Devanagari, Bahasa Brahmin lebih tua lagi “Aramik”..itulah sumber sansekerta…benarkah..?

● Pāṇini, orang Pakistan pertama kali menulis tentang tata bahasa Sanskerta yang berjudul Aṣṭādhyāyī, buku tata bahasa Sanskerta karyanya ini memuat 3.959 hukum bahasa Sanskerta ditulis abad ke-5 SM

● Aksara Devanāgarī/dari bahasa Sanskerta “Kota Dewa” Aksara ini muncul dari aksara “Brahmi” dan mulai dipergunakan pada abad ke-11

● Aksara Brahmi, Aksara ini ditulis dari kiri ke kanan,menurut hipotesis aksara ini berdasarkan huruf “Aramea” digunakan Raja Asoka 270 SM – 232 SM

● Abjad/Bahasa Aramaik adalah yang dipakai masyarakat Aram, yang tinggal di daerah sekitar Mesopotamia/Siria, sekitar abad ke-10 SM, Kekaisaran Akhemenid 331 SM, Aram Kuno 500 SM, berubah menjadi Aram Imperial/bahasa kekaisaran

Perhatikan :
Semua yang di anggap sumber abjad/bahasa paling tua adalah thn 500 SM, Sementara di Nusantara jauh sebelum tahun itu telah berdiri tempat belajar ilmu pengetahuan, setingkat Pusat Universitas di antaranya ilmu bahasa ….”Sansekerta”

Tempat belajar setingkat Pusat Universitas bernama “Dharma Phala” di svarnadvipa di bangun sebelum “Nalanda” di Bihar India thn 427 M

Tokoh Dharmapala 670-580 SM lahir di Svarnadvipa adalah murid Dharmadasa, guru Dharmakirti dan guru-guru lainnya pelopor ajaran “Dharma/Dhamma” di tanah india

Jadi…Bahasa “Sansekerta” adalah bahasa asli Nusantara, di pelajari dan di pakai oleh leluhur kita menyebar ke 3/4 muka bumi bersamaan dengan penyebaran falsafah ajaran “Dharma/Dhamma”, yang mendasari tumbuhnya 3 Agama besar di India…

Kita lah yang mewarnai India, dan bukan sebaliknya, di tandai dengan bahasa “Sansekerta” dan falsafah dasar utama..”Dharma/Dhamma”…

Sementara kajian lainnya menyebut, bahwa Sansekerta adalah bahasa turunan dari bahasa Nusantara Kuno yang terjadi karena perkembangan budaya di Indonesia Nusantara Kuno masa itu.

Shyama Rao (1999) menulis buku-elektronik berjudul “The Anti-Sanskrit Scripture” dan dipajang di perpustakaan maya Ambedkar– yang sekarang sudah dihapus. Rao mengkritisi anggapan akademis bahwa bahasa Sansekerta adalah induk semua bahasa di Asia Selatan bahkan sampai Eropa Barat, demikian juga aksara Deva Nagari yang diakukan berasal dari negeri para dewa.
Rao menjelaskan banyak kelemahan bahasa Sansekerta dan aksara Deva Nagari. Bahasa Sansekrta yang sejak jaman kuno dipropagandakan oleh bangsa Aryan sebagai bahasa suci dan Bahasa Dewata serta induk bahasa-bahasa di Hindustan, bahasa Persia, Inggris dan Jerman itu mengandung kerumitan tatabahasa dan memiliki terlalu banyak karakter (alphabets). Rao membuat daftar perbandingan jumlah karakter bahasa-bahasa primitif (Sansekrta digolongkan primitif), sebagai berikut:
• Cina-Ming 40,545
• Cina-Sung 26,194,
• Cina-Han 9,353,
• Sumeria 1,200,
• Sansekrta 509, dan
• Heroglif Mesir 70 karakter.

Memang jauh lebih banyak jumlah karakter Cina atau Sumeria, namun di bahasa-bahasa itu setiap karakter mewakili satu makna grammatical suatu kata atau morpheme. Sedang dalam bahasa Sansekrta satu aksara Deva Nagari hanya melambangkan bunyi, cara baca, perubahan bentuk kata dan lain-lain aturan grammatical yang sangat rumit. Agak mirip dengan huruf-huruf Timur-Tengah seperti Hibrani dan Arab tetapi jauh lebih rumit. Belum lagi tatabahasanya yang tidak konsisten sebagai kelompok bahasa daratan Asia Selatan ke Barat. Bahasa Sansekrta tidak membedakan jenis kelamin, tidak mengenal “tenses”, tidak ada konsep “tunggal dan jamak”, serta tidak ada partikel, tetapi banyak sinonim dan homonim yang mirip dengan kelompok bahasa Nusantara. Anehnya kosa-kata bahasa Sansekreta banyak yang mirip bahasa-bahasa Asia Selatan, Asia Barat hingga Eropa Barat.

Kesimpulannya, bahasa Sansekrta dan aksara Deva Nagari adalah “rakitan” dari berbagai bahasa. Dia dirakit dengan menyampur atau menyomoti kosa-kata dan cara tulis berbagai bahasa yang ada di Daratan Hindustan ditambah dengan bahasa-bahasa pendatang dengan logat bangsa Aryan. Ini juga dibuktikan bahwa penutur aktif bahasa Sansekrta pada tahun 1921 tinggal sekitar 356 orang di seluruh India, Pakistan dan Bangladesh (sekarang), dan pada sensus tahun 1951 hanya ada 555 orang penutur Sansekreta dari 362 juta penduduk India.

Bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Indonesia justru mengandung sekitar 50% kosa kata Sansekrta. Jangan-jangan justru orang Aryan menyomot sebagian bahasanya dari Bahasa Nusantara sebagai bagian bahasa rakitannya. Karena secara praktis, justru penutur Sansekreta itu jauh lebih banyak di Nusantara dibanding penutur di India. Apalagi orang Aryan sendiri justru memakai bahasa Hindi. Bukti paling telak adalah bahwa belum diketemukan satupun naskah kuno berbahasa Sansekrta dengan aksara Deva Nagari di India sebelum tahun 500 Masehi!

Bahasa yang dianggap dan dipropagandakan sebagai bahasa dewata, terbukti sebagai bahasa rakitan minoritas “penguasa” Hindustan. Sayangnya, propaganda Sansekrta sebagai induk bahasa-bahasa terlanjur mendarah daging bersamaan dengan banjir bandang imperialisme dan kolonialisme sebagai sumber anthropologi.

Teori Sansekrta Induk Bahasa (TSIB) terlanjur bercokol di memori intelektual sejarah, lingusistik dan sosial. Bahkan meracuni beberapa ahli komputer hingga pernah ada pendapat “Bahasa Sansekrta paling afdol untuk program komputer, karena mewakili banyak bahasa besar di dunia” tanpa dipertimbangkan kerumitan penulisan yang digunakan dan ketidakkonsistenan tatabahasanya. Justru bahasa komputer yang melanglang jaringan “artificial intelligent” bernama “Java Script” yang konon karena “fleksibelnya” the Javanese.

Seorang agronomist dari Haryana University, Profesor Ashok Kumar, sangat heran dengan bahasa Indonesia. Pertama dia heran sewaktu diberitahu bahwa “language” itu “bahasa”. Dia heran, karena di bahasa Hindi dan Bengali, “language” adalah “bhasa”. Dia lebih heran lagi ketika  dalam bahasa Jawa berbunyi “boso”. Dia bingung, dari mana istilah “bhasa, boso, dan bahasa” itu berasal. Dia sebagai orang Hindu justru tidak merujuk Sansekrta, malah menduga dari bahasa Arab atau Urdu. Jika istilah “bhasa” itu, kalau benar-benar dari Sansekrta, mestinya di Persia, Jerman, Inggris, Latin, Yunani, juga mirip paling tidak ada konsonan “bhs”, tetapi kok jadi “lingua”?

Keheranan Prof. Kumar kedua adalah tentang jumlah bahasa di Indonesia yang ratusan, tetapi memiliki satu bahasa Indonesia yang dapat diterima oleh hampir semua orang Indonesia, karena antara bahasa Jawa, Sunda dan Bali itu banyak mengandung kosa-kata Kawi, sedang hampir 80% kosa kata bahasa Melayu asli punya akar kata Kawi. Kenyataan itu sangat berbeda dengan negerinya, India. Negerinya punya keragaman ekologi dan ekosistem yang spektakuler. Mulai dari yang bersalju abadi (Himalaya) sampai yang bergurun (Deccan dan Punjab). Dari yang daratan utuh (Hindustan) hingga kepulauan (Andaman). Maka Prof. Kumar berkhayal, seandainya India memiliki bahasa nasional yang bisa diterima oleh seluruh bangsa seperti Bahasa Indonesia, betapa kuat negaranya! Tetapi dia justru heran kepada Indonesia yang tidak maju-maju. “What’s wrong with the Indonesian?” katanya.

Ternyata dari Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia masih merupakan pengikat paling kuat persatuan dan kesatuan Indonesia . Bahasa konon merupakan salah satu ekspresi kebudayaan bangsa penuturnya.

Sebuah artikel di majalah ilmiah populer HortScience menyebut tentang asal-usul tanaman “tales-talesan” yang ada di Oceania, Polynesia hingga Hawaii lalu menyebar ke Jepang, Cina dan Korea, yang diduga dulu-dulunya dibawa oleh penjelajah lautan kuno dari Nusantara sebagai “bekal” bahan makanan. Dan dugaan itu lebih ketika ada siaran NHK (TV Jepang) akhir tahun 2003 yang secara kebetulan membahas kebudayaan bangsa Hawaii. Di siaran itu ada tarian tradisional yang diucapkan oleh pembawa acara sebagai: “Kokonatsu no odori” (Tarian pohon kelapa) yang tulisan bahasa Hawaiinya ada kata “kalappa”. Nusantara telah punya bahasa yang satu, berarti budayanya juga satu.

Jadi, bahasa manakah yang bahasa Induk? Sansekrta atau bahasa-bahasa Nusantara yang diwakili oleh Bahasa Indonesia? Sayangnya bahwa dalam sejarah penyebaran manusia, bangsa Nusantara terlanjur dianggap sebagai pendatang dari Indo-Cina. Meskipun pada beberapa literasi tidak ditemukan sama sekali kosa kata Indonesia atau Jawa yang mirip dengan kosa kata Khmer atau Burma. Yang ada justru dulu raja-raja Kamboja memakai nama akhir Warman dan kebetulan pula salah seorang bangsawan dari daerah Pamalayu di Majapahit bernama Adityawarman. Sementara nama raja Kamboja sekarang justru Norodom Sihanouk yang sama sekali tidak mirip dengan satu pun kata Melayu, Jawa, Sunda dan Bali.


Sumber : history budayan usantara

RENUNGAN KITA BERSAMA SEBAGAI GURU

Guru berdiri di depan kelas, dan siswa memberi penghormatan, itu bukan karena guru haus kehormatan, tetapi karena  siswa sedang diajar untuk tahu menghormati,…

Guru mengajar di depan kelas, siswa diminta memperhatikan, bukan  karena guru tak tahu metode mengajar yang baik, tetapi karena siswa sedang diajarkan untuk menghargai orang lain.,…

Guru  memberikan Pekerjaan Rumah, siswa diminta  menyelesaikan, bukan karena guru memberi beban tambahan, tetapi karena siswa sedang diajarkan untuk bisa mengisi waktu berkualitas.

Guru merobek kertas ujian karena menyontek, siswa diminta mengikuti ujian susulan, bukan karena guru berlaku jahat, tetapi karena siswa sedang diajarkan pentingnya kejujuran…

Guru membuat jadwal kebersihan,  siswa diminta membersihkan  lingkungan, bukan karena guru mau seenaknya memerintah, tetapi karena siswa diajarkan untuk bisa bertanggung jawab,…

Guru berbicara keras karena siswa kurang memperhatikan, bukan karena guru benci, tetapi karena siswa sedang diajar untuk sadar akan kesalahan,…

Guru memberi hukuman yang wajar, bukan karena guru tak punya kasih, tetapi karena siswa sedang diajar mengakui kesalahan,…

Guru melarang siswa melakukan hal-hal yang terlihat asyik, bukan karena guru tak mengerti kesenangan siswa, tetapi karena siswa sedang diajar untuk melihat masa depan lebih baik,…

Tanyakan pada mereka yang sukses sekarang, pantaskah  membenci  seorang guru ?

BERSYUKUR MENJADI GURU.

Fakta Tentang Guyana

Wanita Guyana

Fakta Tentang Guyana :

1. Guyana adalah satu-satunya negara berbahasa Inggris di Amerika Selatan, menjadikannya unik di kawasan ini.

2. Negara ini dikenal dengan komposisi etnisnya yang beragam, dengan campuran populasi Indo-Guyana, Afro-Guyana, dan Pribumi.

3. Guyana adalah rumah bagi Air Terjun Kaieteur yang menakjubkan, salah satu air terjun tunggal terbesar di dunia.

4. Negara ini memiliki keanekaragaman satwa liar yang luar biasa, termasuk jaguar, berang-berang sungai raksasa, dan trenggiling raksasa yang langka.

5. Guyana memiliki warisan budaya yang kaya, dengan pengaruh budaya India, Afrika, Tiongkok, dan Pribumi.

6. Negara ini mempunyai keistimewaan karena menjadi satu-satunya negara di Amerika Selatan yang bukan negara berbahasa Spanyol.

7. Ibu kota Guyana adalah Georgetown yang terkenal dengan arsitektur kolonialnya yang indah.

8. Guyana terkenal dengan hamparan hutan hujan alaminya yang luas, yang merupakan rumah bagi beragam spesies tumbuhan dan hewan.

9. Negara ini merupakan produsen utama bauksit, emas, dan berlian, sehingga memberikan kontribusi terhadap perekonomiannya.

10. Guyana juga merupakan rumah bagi Rupununi Savannah, padang rumput luas yang menjadi rumah bagi beragam satwa liar dan komunitas adat. Pencari Fakta Harian
#faktaguyana #guyana #sejarahguyana

Sumber: Fakta Sejarah

KOTA YANG DIBANGUN & DIDIRIKAN OLEH NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

🇮🇩 🤝 🇸🇬🇲🇾🇹🇭🇵🇭

     Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.001 pulau. Sejak kecil, anak-anak Indonesia sudah diperdengarkan lagu tentang nenek moyang mereka yang dahulu menjadi pelaut ulung yang mengarungi samudera.

    

Foto SEA Heritage & History

Sebuah relief kapal Phinisi di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 menceritakan keagungan nenek moyang bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa Eropa menjelajah dunia. Tidak heran kita dapat menemukan beberapa kota & desa di Asia Tenggara yang didirikan oleh Leluhur Indonesia atau pendatang dari wilayah yang kita sebut sekarang sebagai Indonesia modern.

1 • SINGAPURA 🇸🇬

     Kerajaan Singapura adalah kerajaan Hindu-Buddha yang diperkirakan telah didirikan pada awal sejarah Singapura di atas pulau utamanya Pulau Ujong, yang saat itu juga dikenal sebagai Temasek, dari tahun 1299 hingga kejatuhannya antara tahun 1396 dan 1398.

     Menurut Malay Annals, seorang pangeran Palembang (ibukota kuno Kerajaan Sriwijaya, yang terletak di Sumatera Selatan, sekarang Indonesia) yang melarikan diri yang melarikan diri bernama Sang Nila Utama, berlindung di pulau Bintan selama beberapa tahun sebelum ia berlayar dan mendarat di Temasek di  1299. Di era ini, Temasek adalah pos perdagangan kecil dan sebagian besar dihuni oleh para pelaut Orang Laut.  Secara historis, Orang Laut ini sangat setia kepada raja-raja Melayu, berpatroli di laut yang berdekatan dan memukul mundur bajak laut kecil lainnya, mengarahkan pedagang ke pelabuhan penguasa Melayu mereka dan mempertahankan dominasi pelabuhan tersebut di daerah tersebut.  Orang Laut ini akhirnya mengangkatnya sebagai Raja dan Sang Nila Utama mengganti nama Temasek menjadi “Singapura” dan mendirikan ibu kotanya di sekitar muara Sungai Singapura.

2 • MALAKA 🇲🇾

     Parameswara dianggap sebagai orang yang sama namanya dalam Sejarah Melayu sebagai Iskandar Shah, adalah raja terakhir Singapura dan pendiri Malaka.  Menurut Malay Annals, dia memerintah Singapura dari tahun 1389 hingga 1398. Raja melarikan diri dari kerajaan pulau tersebut setelah invasi angkatan laut Majapahit pada tahun 1398 dan mendirikan benteng barunya di muara sungai Bertam pada tahun 1402. Dalam beberapa dekade, kota baru tersebut berkembang pesat menjadi  menjadi ibu kota Kesultanan Malaka.  Namun catatan Portugis, yang ditulis seratus tahun setelah kematiannya, menunjukkan bahwa dia berasal dari Palembang di Sumatra dan merebut tahta Singapura;  dia diusir, baik oleh Siam atau Majapahit, dan kemudian mendirikan Malaka.

3 • KOH PANYEE 🇹🇭

     Koh Panyi adalah pulau kecil dengan dataran kurang lebih 1 rai dan 200 rumah.  Sebagian besar penghuninya adalah Muslim Thailand, mencari nafkah dengan Memancing dan menjual suvenir dan Makanan kepada pengunjung.

     Desa ini dirikan oleh 3 keluarga yang meninggalkan kepulauan yg sekarang disebut Indonesia sekitar 200 tahun yang lalu! Keluarga berpisah dan berjanji satu sama lain bahwa siapa pun yang menemukan ikan dalam jumlah banyak akan mengibarkan bendera untuk memberi isyarat kepada yang lain. Salah satu keluarga – Toh Baboo, menemukan pulau ini dan menepati janjinya, mengibarkan bendera di sini – memberi nama pulau itu yang diterjemahkan menjadi ‘Pulau Bendera’.  Hari ini tempat itu adalah rumah bagi sekitar 300 keluarga.

4 • TERNATE di Provinsi Cavite 🇵🇭

     Kotamadya Ternate (Tagalog: Bayan ng Ternate, Chavacano: Municipio de Ternate), adalah sebuah kotamadya kelas 4 di provinsi Cavite, Filipina.  Menurut sensus tahun 2020, jumlah penduduknya mencapai 24.653 jiwa.

     Nama Ternate berasal dari pulau Ternate, yang merupakan asal pemukim di wilayah tersebut pada akhir tahun 1600-an (dari Maluku, kepulauan di wilayah Indonesia modern).

     Penghuni pertama tempat ketujuh keluarga Merdica di Bagong Bayan, (dekat Ermita) Manila.  Merdicas/Mardicas/Merdeka berarti “manusia laut” atau “orang bebas”.  Tercatat karena keberanian mereka, Mardicas adalah orang-orang dari Ternate di Kepulauan Maluku, yang secara sukarela datang ke Manila bersama dengan Garnisun Spanyol yang ditarik keluar dari pulau itu oleh Gubernur Jenderal Spanyol Manrique de Lara pada tahun 1662 untuk memperkuat pertahanan Manila di  persiapan untuk ancaman invasi oleh bajak laut-patriot Cina Koxinga, setelah dia menaklukkan Formosa dari Belanda.  Komunitas yang sebagian besar dibangun oleh keluarga Merdica ini diberi nama “Ternate” untuk mengenang tempat kelahiran leluhur mereka di Maluku.

5 • NEGERI SEMBILAN 🇲🇾

   Raja Melewar berasal dari Minangkabau diangkat pada tahun 1773 oleh Datuk-datuk Penghulu Luak (waktu itu belum bergelar Undang) di Kampung Penajis, Rembau. Sebelumnya Negeri Sembilan berada di bawah pemerintahan Sultan Johor, tetapi Luak-luak di Negeri Sembilan ada di bawah perintah Penghulu masing-masing dengan dibantu oleh Lembaga dan Buapak. Sistem pemerintahan negeri dapat dikatakan satu pemerintahan yang bercorak demokrasi yang berbentuk tier system.

   Nama Negeri Sembilan sekarang ini diambil dari nama ‘Sembilan Negeri’ yang diketuai oleh ‘Sembilan Penghulu’ yang menabalkan Raja Melewar. Perkataan ‘Negeri’ di pangkal huruf ‘Sembilan’ itu diambil dari istilah yang lazim dipakai di tanah leluhur Minangkabau yang membawa pengertian satu kawasan atau daerah yang kira-kira seluas luak (luhak) atau mukim atau kampung, orang-orang Minangkabau memanggil dengan nama ‘negeri’ (Bahasa Minangkabau: nagari).

Sumber: Steven

SEJARAH TELEPON DARI MASA KE MASA

AWAL PENEMUAN


Antonio Meucci (1808-1889)
Antonio Meucci, seorang penemu Italia, memulai perjalanan telepon pada tahun 1854 ketika ia mengembangkan perangkat yang memungkinkan komunikasi suara melalui kabel. Meucci menyebut perangkat ini sebagai “telettrofono.” Pada tahun 1871, Meucci mengajukan paten sementara di Amerika Serikat karena keterbatasan keuangan, ia tidak mampu mengajukan paten penuh. Meucci berhasil menunjukkan perangkat ini kepada publik pada tahun 1860, tetapi tidak memiliki sumber daya untuk mengkomersialkannya.

Elisha Gray (1835-1901)
Elisha Gray, seorang insinyur listrik dari Amerika, juga bekerja pada teknologi telepon. Pada 14 Februari 1876, Gray mengajukan paten untuk perangkat transmisi suara. Sayangnya, pengajuan patennya tiba di kantor paten hanya beberapa jam setelah pengajuan paten Alexander Graham Bell, yang mengarah pada perselisihan hukum antara keduanya mengenai siapa yang lebih dulu menemukan telepon.

Alexander Graham Bell (1847-1922)
Alexander Graham Bell, seorang ilmuwan dan penemu kelahiran Skotlandia, secara umum dianggap sebagai penemu telepon. Pada 7 Maret 1876, Bell menerima paten AS No. 174,465 untuk “improvement in telegraphy.” Pada 10 Maret 1876, Bell berhasil melakukan panggilan telepon pertama di dunia dengan kata-kata terkenal, “Mr. Watson, come here, I want to see you.”

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TELEPON

Telepon Era Awal (1880-an – 1900-an)
Setelah penemuan Bell, telepon dengan cepat berkembang dan menyebar. Pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, telepon beroperasi dengan menggunakan saklar manual yang dioperasikan oleh operator. Pengguna harus meminta operator untuk menghubungkan mereka dengan nomor tujuan.

Telepon Putar (Rotary Dial) (1920-an – 1980-an)
Pada tahun 1920-an, telepon putar diperkenalkan, memungkinkan pengguna untuk memutar nomor yang ingin mereka hubungi. Sistem ini menghilangkan kebutuhan akan operator manual untuk menyambungkan panggilan.

Telepon Tombol (Touchtone) (1960-an – 1990-an)
Telepon dengan tombol tekan mulai muncul pada 1960-an. Sistem ini menggantikan telepon putar dan mempercepat proses panggilan. DTMF (Dual-tone multi-frequency) atau telepon “touchtone” memperkenalkan kemampuan untuk menggunakan sinyal suara untuk mengirimkan data melalui jalur telepon.

Era Telepon Seluler dan Digital
Telepon Seluler Awal (1980-an – 1990-an)
Pada 1980-an, telepon seluler pertama, seperti Motorola DynaTAC, diperkenalkan. Telepon ini masih besar dan berat, tetapi merupakan langkah besar dalam mobilitas komunikasi.

Telepon Seluler Digital (1990-an – 2000-an)
Pada 1990-an, teknologi telepon seluler beralih ke sistem digital, meningkatkan kualitas suara dan kapasitas jaringan. Ponsel menjadi lebih kecil dan lebih terjangkau, sehingga lebih banyak orang dapat memilikinya.

Revolusi Smartphone (2000-an – sekarang)
Ponsel Cerdas Awal
Pada awal 2000-an, ponsel mulai dilengkapi dengan fitur-fitur canggih seperti kamera, akses internet, dan kemampuan email. BlackBerry dan Nokia adalah pemimpin pasar pada masa ini.

Era iPhone dan Android
Pada tahun 2007, Apple merilis iPhone, yang mengubah industri telepon dengan layar sentuhnya yang revolusioner dan ekosistem aplikasi yang berkembang pesat. Tak lama setelah itu, Android muncul sebagai sistem operasi seluler yang kuat dan fleksibel, memberikan alternatif yang kuat terhadap iPhone.

Telepon Masa Kini
Telepon masa kini adalah perangkat multifungsi yang menggabungkan telepon, komputer, kamera, dan banyak fungsi lainnya. Smartphone modern seperti iPhone, Samsung Galaxy, dan Google Pixel dilengkapi dengan teknologi canggih seperti kamera beresolusi tinggi, kemampuan AI, dan konektivitas 5G.

Teknologi Masa Depan
Melihat ke masa depan, telepon kemungkinan akan terus berkembang dengan integrasi lebih lanjut dari teknologi AI, augmented reality (AR), dan virtual reality (VR). Penggunaan bahan baru, peningkatan baterai, dan inovasi dalam antarmuka pengguna diharapkan dapat terus meningkatkan pengalaman pengguna.

Dari perangkat sederhana Antonio Meucci hingga smartphone canggih masa kini, telepon telah mengalami evolusi luar biasa, menghubungkan dunia dengan cara yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Sumber :

  1. “The Telephone Gambit: Chasing Alexander Graham Bell’s Secret” oleh Seth Shulman
  2. “The Victorian Internet: The Remarkable Story of the Telegraph and the Nineteenth Century’s On-line Pioneers”** oleh Tom Standage
  3. “Telephone: The First Hundred Years” oleh John Brooks, Wikipedia dan diolah dari berbagai sumber lainnya.

Melayu Asli dari Sumatera

Beberapa waktu lalu saya ada buat post tentang asal usul melayu bermula dari sumatera tepatnya palembang dan jambi karena ada dua prasasti yang merujuk sumatera sebagai “MALAYU” , “BHUMI MALAYU” & “MALAYAPURA” yaitu prasasti anjuk ladang (abad 10) dan prasasti amoghapasa (abad 13).

Seperti biasa banyak orang disini koyak. Tidak terima dan menyangkal dengan mengatakan bahwa “MALAYU” pada prasasti tersebut bukan merujuk kepada “bangsa” melayu melainkan hanya bermakna nama tempat “MALAYU” atau dalam bahasa sanskrit artinya “bukit”. Jadi menurut mereka “BHUMI MALAYU” & “MALAYAPURA” bermakna “Daratan Berbukit” & “Kota Berbukit”. namun pendapat orang orang koyak  ini seperti biasa hanya intrepertasi sentimen tanpa bukti atau cocoklogi.

Mereka pun mencabar dengan menanyakan tentang bukti berupa prasasti atau naskah yang menunjukan bahwa malayu yang merujuk sumatera memang merujuk pada “bangsa melayu” bukan merujuk nama “daerah berbukit” untuk menguatkan klaim kalau memang bangsa melayu berasal dari sumatera bukan baru wujud zaman kesultanan melaka abad 15.

Pada post ini saya ingin menjawab tantangan mereka dengan menyajikan prasasti yang ditemui di palembang yang berasal dari abad 13 yaitu prasasti MATARI SINGA JAYA HIMAT.

Pada prasasti ini jelas sekali orang orang di sumatera sekitar palembang dan jambi sudah memanggil diri mereka sebagai “BANGSA MALAYU” sejak abad 13 yaitu 2 abad lebih awal dari pada klaim melayu baru terbentuk di melaka abad 15. Berikut kutipan kalimat pada prasastinya

“…. Matari Singa Jaya Himat Namanya. Lama lama beranak lanang; Matari singa jaya mat, dari ratu, lami lami 𝐁𝐀𝐍𝐆𝐒𝐀 𝐌𝐀𝐋𝐀𝐘𝐔….”

Ini sudah menjadi bukti konkrit yang tidak bisa diibantah lagi oleh orang orang koyak yg kemarin mencabar tentang keberadaan prasasti bertuliskan “BANGSA MALAYU” yang ditemui di sumatera.

Semakin jelas bahwa memang melayu berasal dan bermula di sumatera dan kemudian bermigrasi ke semenanjung kemudian orang orang asli di semenanjung di “MELAYUKAN” oleh orang orang sumatera pada abad 15

Credit to : davey Jones

KOTA YANG DIBANGUN & DIDIRIKAN OLEH NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

🇮🇩 🤝 🇸🇬🇲🇾🇹🇭🇵🇭

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.001 pulau. Sejak kecil, anak-anak Indonesia sudah diperdengarkan lagu tentang nenek moyang mereka yang dahulu menjadi pelaut ulung yang mengarungi samudera. Sebuah relief kapal Phinisi di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 menceritakan keagungan nenek moyang bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa Eropa menjelajah dunia. Tidak heran kita dapat menemukan beberapa kota & desa di Asia Tenggara yang didirikan oleh Leluhur Indonesia atau pendatang dari wilayah yang kita sebut sekarang sebagai Indonesia modern.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.001 pulau. Sejak kecil, anak-anak Indonesia sudah diperdengarkan lagu tentang nenek moyang mereka yang dahulu menjadi pelaut ulung yang mengarungi samudera. Sebuah relief kapal Phinisi di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 menceritakan keagungan nenek moyang bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa Eropa menjelajah dunia. Tidak heran kita dapat menemukan beberapa kota & desa di Asia Tenggara yang didirikan oleh Leluhur Indonesia atau pendatang dari wilayah yang kita sebut sekarang sebagai Indonesia modern.

1 • SINGAPURA 🇸🇬

Kerajaan Singapura adalah kerajaan Hindu-Buddha yang diperkirakan telah didirikan pada awal sejarah Singapura di atas pulau utamanya Pulau Ujong, yang saat itu juga dikenal sebagai Temasek, dari tahun 1299 hingga kejatuhannya antara tahun 1396 dan 1398. Menurut Malay Annals, seorang pangeran Palembang (ibukota kuno Kerajaan Sriwijaya, yang terletak di Sumatera Selatan, sekarang Indonesia) yang melarikan diri yang melarikan diri bernama Sang Nila Utama, berlindung di pulau Bintan selama beberapa tahun sebelum ia berlayar dan mendarat di Temasek di 1299. Di era ini, Temasek adalah pos perdagangan kecil dan sebagian besar dihuni oleh para pelaut Orang Laut. Secara historis, Orang Laut ini sangat setia kepada raja-raja Melayu, berpatroli di laut yang berdekatan dan memukul mundur bajak laut kecil lainnya, mengarahkan pedagang ke pelabuhan penguasa Melayu mereka dan mempertahankan dominasi pelabuhan tersebut di daerah tersebut. Orang Laut ini akhirnya mengangkatnya sebagai Raja dan Sang Nila Utama mengganti nama Temasek menjadi "Singapura" dan mendirikan ibu kotanya di sekitar muara Sungai Singapura.

2 • MALAKA 🇲🇾

Parameswara dianggap sebagai orang yang sama namanya dalam Sejarah Melayu sebagai Iskandar Shah, adalah raja terakhir Singapura dan pendiri Malaka. Menurut Malay Annals, dia memerintah Singapura dari tahun 1389 hingga 1398. Raja melarikan diri dari kerajaan pulau tersebut setelah invasi angkatan laut Majapahit pada tahun 1398 dan mendirikan benteng barunya di muara sungai Bertam pada tahun 1402. Dalam beberapa dekade, kota baru tersebut berkembang pesat menjadi menjadi ibu kota Kesultanan Malaka. Namun catatan Portugis, yang ditulis seratus tahun setelah kematiannya, menunjukkan bahwa dia berasal dari Palembang di Sumatra dan merebut tahta Singapura; dia diusir, baik oleh Siam atau Majapahit, dan kemudian mendirikan Malaka.

3 • KOH PANYEE 🇹🇭

Koh Panyi adalah pulau kecil dengan dataran kurang lebih 1 rai dan 200 rumah. Sebagian besar penghuninya adalah Muslim Thailand, mencari nafkah dengan Memancing dan menjual suvenir dan Makanan kepada pengunjung. Desa ini dirikan oleh 3 keluarga yang meninggalkan kepulauan yg sekarang disebut Indonesia sekitar 200 tahun yang lalu! Keluarga berpisah dan berjanji satu sama lain bahwa siapa pun yang menemukan ikan dalam jumlah banyak akan mengibarkan bendera untuk memberi isyarat kepada yang lain. Salah satu keluarga - Toh Baboo, menemukan pulau ini dan menepati janjinya, mengibarkan bendera di sini - memberi nama pulau itu yang diterjemahkan menjadi 'Pulau Bendera'. Hari ini tempat itu adalah rumah bagi sekitar 300 keluarga.

4 • TERNATE di Provinsi Cavite 🇵🇭

Kotamadya Ternate (Tagalog: Bayan ng Ternate, Chavacano: Municipio de Ternate), adalah sebuah kotamadya kelas 4 di provinsi Cavite, Filipina. Menurut sensus tahun 2020, jumlah penduduknya mencapai 24.653 jiwa. Nama Ternate berasal dari pulau Ternate, yang merupakan asal pemukim di wilayah tersebut pada akhir tahun 1600-an (dari Maluku, kepulauan di wilayah Indonesia modern). Penghuni pertama tempat ketujuh keluarga Merdica di Bagong Bayan, (dekat Ermita) Manila. Merdicas/Mardicas/Merdeka berarti "manusia laut" atau "orang bebas". Tercatat karena keberanian mereka, Mardicas adalah orang-orang dari Ternate di Kepulauan Maluku, yang secara sukarela datang ke Manila bersama dengan Garnisun Spanyol yang ditarik keluar dari pulau itu oleh Gubernur Jenderal Spanyol Manrique de Lara pada tahun 1662 untuk memperkuat pertahanan Manila di persiapan untuk ancaman invasi oleh bajak laut-patriot Cina Koxinga, setelah dia menaklukkan Formosa dari Belanda. Komunitas yang sebagian besar dibangun oleh keluarga Merdica ini diberi nama “Ternate” untuk mengenang tempat kelahiran leluhur mereka di Maluku.

LENGSERNYA TRAH AMANGKURAT

Raja-Raja Mataram Islam yang bergelar Amangkurat memang penuh kontroversi dan konflik, meskipun begitu Trah ini semapt memimpin Jawa selama 3 generasi, yaitu Amangkurat I, II dan III. Trah Amangkurat pada akhirnya dihapuskan untuk kemudian digantikan dengan Trah Pakubwana.

Kisah Penghapusan Trah Amangkurat dimulai naik tahtanya Raden Mas Sutikna menggantikan kedudukan ayahnya Amangkurat II ( Raden Rahmat). Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Mas Sutikna adalah anak satu-satunya Amangkurat II, istri yang lain dari Amangkut II diguna-guna oleh ibu Raden Mas Sutikna sehingga tidak ada satupun yang memiliki keturunan. Raden Mas Sutikna ketika masih muda dijuluki dengan nama Pangeran Kencet, dijuluki demikian karena ia menderita cacat (kencet) dibagian tumitnya sejak kecil.

Watak Amangkurat III dikisahkan mirip dengan kakeknya (Amangkurat I), ia berwatak buruk, mudah marah dan cemburu bila ada pria lain yang lebih tampan darinya, ia juga dikenal sebagai Raja yang gegabah dalam mengambil keputusan.

Sebelum menjadi Raja Kasunanan Kartasura, Raden Mas Sutikna menjabat sebagai Adipati Anom, ia memperistri sepupunya sendiri yang bernama Raden Ayu Lembah, anak Pangeran Puger. Namun pernikahannya dengan Ayu Lembah tidak bertahan lama, sebab istrinya berselingkuh dengan Raden Sukra, putra Patih Sindareja.

Tragedi perselingkuhan itu kemudian menyebabkan Raden Sukra dijatuhi hukuman mati, sementara Ayu Lembah sendiri rupanya bernasib sama, Amangkurat III memaksa pamannya Pangeran Puger untuk membunuh Ayu Lembah, putrinya sendiri.

Selepas peristiwa itu, Amangkurat III menikah lagi dengan Raden Ayu Himpun, adik dari Ayu Lembah, akan tetapi lagi-lagi pernikahan ini kandas ditengah jalan. Amangkurat III menceriakan Ayu Himpun karena waktu itu Pangeran Puger dianggap melakukan pembangkangan pada Amangkurat III.

Amangkurat III kemudian mengangkat Permaisuri baru, kali ini ia mengawini wanita desa yang masih gadis wanita itu dikisahkan diambil dari Desa Onje.

Tingkah laku Amangkurat III yang sewenang-wenang dan gegabah dalam mengambil keputusan membuat sebagian pejabat Istana tidak lagi suka kepada Rajanya. Diam-diam mereka mendukung Pangeran Puger untuk menjadi Raja di Kertasura, dukungan ini kemudian ditanggapi oleh Raden Surya Kusumo yang tak lain merupakan putra Pangeran Puger untuk melakukan pemberontakan.

Belum juga terlaksana, upaya pemberontakan yang dilancarkan keluarga Pangeran Puger tercium oleh Amangkurat III, oleh karena itu, Raja kemudian mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Puger beserta seluruh keluarganya, akan tetapi upaya pembunuhan gagal. Sebab sebelum dibunuh Pangeran Puger telah mengetahui rencana pembunuhan keluarga dan dirinya. Dalam rangka menghindari upaya pembunuhan, Pangeran Puger dan seluruh anggota keluarganya melarikan diri ke Semarang.

Di Semarang Pangeran Puger diliputi kegelisahan karena merasa jiwanya terancam, ia takut suatu waktu keponakannya menyerbu Semarang, oleh karena itu Pangeran Puger kemudian mengadakan persekutuan dengan VOC Belanda, ia mengiming-imingi VOC dengan keuntungan yang besar bila bersedia membantunya melengserkan keponakannya dari tahta. Kerjasama antara Pangeran Puger dan VOC kemudian terbina.

Pada tahun 1705 Pangeran Puger dengan dibantu VOC bergerak ke Kartasura untuk melakukan serangan, di sisi lain Amangkurat III membangun pertahannya di Unggaran. Pertahanan dikepalai oleh Arya Mataram. Akan tetapi dikemudian hari Arya Mataram membelot ia bergabung dengan pasukan Pangeran Puger.

Pada Tahun 1706 gabungan pasukan Pangeran Puger, Arya Mataram dan VOC Belanda berhasil  merebut keraton Kertasura setelah terlibat peperangan yang sengit dengan pihak Kesultanan. Biarpun demikian Amangkurat III berhasil melarikan diri ke Ponorogo.

Sesampainya di Ponorogo bukannya berbaik-baik dengan Adipati-nya, Amangkurat III justru merasa curiga terhaap kesetiaan rakyat dan Adipati Ponorogo. Ia pun menyiksa Adipati dan beberapa pejabat tinggi Keadipatian.

Melihat Adipatinya disiksa Rakyat Ponorogo berontak, mereka melakukan pengepungan, tujuannya menangkap Amangkurat III, akan tetapi Amangkurat III berhasil melarikan diri ke Madiun. Dari Madiun Amangkurat III kemudian bertolak ke Kediri, untuk bergabung dengan Untung Suropati yang kala itu sedang bereprang melawan VOC Belanda.

Pangeran Puger yang masih belum puas kerena belum berhasil meringkus keponakannya akhirnya melancarkan serangan ke Kediri, ia mencoba memberantas pasukan Amangkurat III yang kala itu sudah bergabung dengan Untung Suropati.

Pada Tahun 1708 Pangeran Puger berhasil merebut Kediri, Amangkurat III tertangkap, sementara Untung Suropati berhasil melarikan diri. Setelah tertangkap Amangkurat III dikirim ke Batavia dan selanjutnya di buang ke Srilangka. Amangkurat III wafat pada tahun 1734 di tempat pembuangannya.

Amangkurat III menjabat sebagai Sultan Kesunanan Kartasura dari tahun 1703 hingga 1705, ini berarti ia hanya memerintah seumur jagung saja, yaitu hanya memerintah selama 2 tahun lebih sedikit. Kekalahan Amangkurat III kemudian mengantarkan Pangeran Puger menjadi Raja Kartasura selanjutnya, adapun gelar yang disematkan kepada Pangeran Puger adalah Pakubwana I.

Sumber : Sejarah Cirebon dan Umum

Indonesia sang Nusantara

Kerajaan Belanda bagaikan seorang putri yang cantik jelita di daratan Eropa. Putri Oranye penuh kemuliaan, dan kejayaan yang selalu mengenakan perhiasan gemerlap nan indah bernama Indonesia. Ya, Indonesia adalah perhiasan paling berharga Belanda hasil rampasan dari Sang Nusantara seperti tergambar dalam karya Johan Braakensiek ini.

Sayang sekali, pada tahun 1942 perhiasan indah ini hilang dirampas para Samurai Nippon. Setelah menunggu 3 tahun lamanya, Sang Putri Oranye berkesempatan untuk mengambil kembali perhiasan yang hilang ini, namun ternyata perhiasan indah ini memilih untuk kembali kepada pemilik aslinya, Sang Nusantara.

Kegilaan apa yang akan Putri Oranye lakukan untuk merampas kembali perhiasannya dari Sang Nusantara? Tunggu posting kami selanjutnya!

Nederland’s Kostbaarst Sieraad
Karya: Johan Braakensiek
Diterbitkan: 14 Oktober 1916

Situs Gunung Padang

Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Gambar hanya ilustrasi, mungkin benar jika di rapikan dan dibersihkan

Cangkang Purba Raksasa

Arminers-Dikutip dari AyoBandung, Para ilmuwan asal Argentina berhasil meneliti sebuah cangkang purba raksasa yang ditemukan seorang petani. Ilmuwan tersebut menyadari bahwa fosil Armadillo purba pernah ada yang sebesar mobil. Kabarnya, fosil tersebut mempunyai ukuran sebesar mobil Beetle Volkswagen.

Seorang petani bernama Juan de Dios Sota, ketika membawa sapinya merumput di dekat ladang, menemukan 4 fosil armadillo purba. Sisa-sisa fosil tersebut ditemukan pada sungai kering di dekat ibu kota Argentina, Buenos Aires.

Dia memperhatikan dua formasi aneh di dasar sungai yang kering. Setelah melihat lebih dekat, dia tahu bahwa dirinya menemukan sesuatu yang luar biasa sehingga segera memberi tahu para pejabat.

Para peneliti percaya kelompok itu terdiri dari dua ekor armadillo dewasa dan dua ekor armadillo lain berusia muda. Fosil cangkang purba ini mempunyai panjang 5 kaki atau 1,5 meter dengan ketebalan dua inci.

Dalam ilustrasi, mereka menggunakan ekornya sebagai senjata, seperti pentungan, karena ujungnya memiliki struktur tulang yang dilengkapi duri. Jika digabungkan, ekor, cangkang, dan kepalanya mempunyai ukuran sebesar mobil.

Dilansir dari Daily Mail, penelitian sementara dari ilmuwan menyebutkan bahwa usia fosil purba tersebut ada pada kisaran 20 ribu tahun.

Penelitian lanjutan yang akan dilakukan oleh ilmuwan akan mencoba mengungkapkan penyebab kematian, jenis kelamin, dan berat hewan purba secara keseluruhan.

Cangkang glyptodon ini diteliti oleh sekelompok ilmuwan dari lembaga riset Argentina INCUAPA-CONICET. Pablo Messineo, salah satu arkeolog di tempat kejadian menjelaskan bahwa posisi fosil armadillo purba ini cukup unik.

“Ini merupakan pertama kalinya ada empat hewan purba seperti ini (armadillo purba) di situs yang sama. Sebagian besar dari mereka menghadap ke arah yang sama, seperti sedang berjalan menuju sesuatu,” kata Pablo Messineo.

Glyptodon adalah nenek moyang awal armadillo modern yang sebagian besar hidup di seluruh Amerika Utara dan Selatan selama zaman Pleistosen. Armadillo modern biasanya mempunyai ukuran rata-rata sepanjang 75 sentimeter (termasuk ekor).

Pedang Al-Battar (Pedang Para Nabi)

Arminers-Tahukah kalian. Pedang al-Battar, merupakan sebilah pedang yang dimiliki oleh Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam hasil daripada harta rampasan perang ke atas kaum Yahudi Bani Qainuqa’.

Hal ini adalah karena akibat mereka telah mengkhianati perjanjian damai dengan kaum Muslimin di Kota Madinah.

Tambahan juga, pedang ini turut bersamaan dengan pedang warisan para nabi. Nama-nama nabi dan juga rasul itu ada diukir sebahagiannya dengan ukiran khat Arab.

Seperti nama Nabi Daud Alaihisalam, Nabi Sulaiman Alaihisalam, Nabi Musa Alaihisalam, Nabi Harun Alaihisalam, Nabi Yusuf Alaihisalam, Nabi Zakaria Alaihisalam, Nabi Yahya Alaihisalam, Nabi Isa Alaihisalam dan Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Menurut Sejarah Tamadun Dunia, Pedang al-Battar ini merupakan harta rampasan perang yang diperoleh oleh Nabi Daud Alaihisalam ( King David ), ketika baginda berjaya membunuh Jalut ( Goliath ) dalam pertempuran antara orang yang beriman daripada Bani Israel dengan penduduk Kota Kan’an (Falisten).

Di dalam catatan sejarah, pedang ini merupakan pedang yang paling tua. Malah terdapat juga pandangan para ulama muktabar yang menyatakan bahwa pedang ini juga akan digunakan oleh Nabi Isa al-Masih untuk mengalahkan ad-Dajjal laknatullahi ‘alaih !!

Panjang pedang ini adalah 101 sentimeter. Pada pedang ini terdapat gambar Nabi Daud ketika memotong Jalut. Ukiran nama para nabi pada bilahnya dan juga terdapat tulisan kaum arab kuno ( Nabataen ).

Kini, Pedang al-Battar disimpan dengan baik, dipelihara dan dipamerkan di Musium Topkapi, Istanbul, Turkiye.

Sumber : Sejarah 9 Bilah Pedang Baginda Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Insan Cendikia)

Arminers – Di Indonesia, peringatan Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November. Pada 2023 ini, Hari Guru Nasional memasuki peringatan yang ke-29.

Adapun tema yang diangkat pada peringatan Hari Guru Nasional 2023 adalah “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar”.

Hari Guru Nasional menjadi momentum istimewa di mana kita semua merayakan peran dan dedikasi para pendidik yang tak kenal lelah dalam membentuk generasi penerus.

Dalam keseharian di sekolah, guru memiliki peran yang sangat krusial, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor, teman, dan pembimbing rohaniah. Tidak ada yang dapat membantah bahwa guru adalah salah satu sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan. Tanpa adanya mereka seseorang mungkin tidak bisa menjadi apa-apa.

Guru merupakan sosok yang tak kenal rasa lelah dan pantang menyerah sehingga tak heran ia dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Dengan tulus dan ikhlas, para guru membimbing para murid untuk bisa menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi Nusa Bangsa. Jasa para guru tak akan bisa terbalas dengan bentuk apa pun.

SURAT RAJA BULELENG, BALI, KEPADA RAFFLES, 1811

SURAT RAJA BULELENG, BALI, KEPADA RAFFLES, 1811 ( Sumber : Arya Purbaya)

Raffles memberikan perhatian khusus untuk memperoleh dukungan dari para raja Jawa dan Bali demi keberhasilan serangan Inggris ke Jawa. Ia mendapat sambutan yang baik dari Ratu Gusti Wayahan, raja Buleleng yang terletak dekat Singaraja, Bali utara, daerah yang dikenal Raffles sebagai ‘Bali Baliling’. Dalam suratnya yang bernada sahabat, raja Buleleng itu mengirimkan hadiah kuda hitam.

Surat bersungging (berhias) dan bercap ini ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawi (Arab-Melayu). Surat ini bertanggal 1 Shafar 1226 Hijriah seperti yang disebutkan pada bagian akhir surat, yang bertepatan dengan 25 Februari 1811, sekitar 3 bulan selepas surat permintaan dukungan Raffles kepada para raja Jawa. Berselang sekitar 5 bulan setengah dari surat jawaban raja Buleleng ini, Inggris memproklamirkan jatuhnya Batavia pada 12 Agustus 1811.

Walaupun bercap, tapi cap pada surat ini tidak atau belum dimuat dalam katalog Cap Islam dari Asia Tenggara. Keseluruhan aksara dan bahasa Jawi di naskah surat ini sangat baik, terutama bahasanya. Kita dapat merasakannya bersama kehalusan bahasa pada alih aksara berikut ini:

Qawl al-Haqq

Bahwa ini surat yang terbit dari pada nurul-qulub yang amat gilang-gemilang akan mujarab terang benderang pada antara segala makhluk yang saudara-bersaudara sahabat-bersahabat, iaitu dari pada Seri Paduka Ratu Gusti Wayahan Karang Asam yang bertakhta kuasa memerintah negeri Bali Buliling Singaraja, yang senantiasa berniat pada berkasih-kasihan, iatu barang disampaikan kiranya pada paduka saudara kita Tuan Thomas Raffles Esquire [T-a-m-s R-f-l-s A-s-k-w-y-r] yang empunya takhta kuasa memerintah negeri Kompeni Inggris Benggala, yang melakukan hukum besar dengan bersetia budi perangai keelokannya dan kemanisannya pada antaranya segala sahabat, serta barang dilanjutkannya usia umur zamannya seperti peridaran bulan dan matahari pergantian malam dan siang dengan selama-lamanya, aamiin bi-ilahil ‘alamin.


Wa-ba’duhu kemudian daripada itu adalah kita memberi maklum kepada saudara jikalau datang itu Kapitan Greigh [G-r-y-q] ke tanah Buliling kita mahu manumpangkan kita punya utusan serta dengan kita punya surat. Maka kita pintak kepada saudara apa² saudara punya suka yang ada di tanah Bali itu melainkan saudara kirim surat kepada kita, seboleh²nya kita carikan. Melainkan itu Kapitan Greigh yang boleh sampaikan utusan kita kepada saudara.
Syahdan suatu pun tiada tanda ikhlas hanyalah satu kuda hitam adanya dan satu budak laki² kecil umur lima tahun bernama Ketut Jobeling adanya. Tersurat dalam Pasiban negeri Bali Buliling Singaraja kepada sehari bulan Shafar hari Sabtu tahun 1226.
Sumber:
Golden Letters Writting Traditions of Indonesia.

Gambar:
Surat dari Seri Paduka Ratu Gusti Wayahan Karang Asam, Raja Buleleng kepada Sir Thomas Stamford Raffles, tahun 1811. Bercap lak segel merah (red wax), ukuran kertas 45,5×31,5cm.
British Library, MSS Eur.D.742/1, f70v

Sunan Giri ke Banjarmasin

Sunan Giri pernah datang berdagang sambil berdakwah ke Kota Banjarmasin. Sejak kecil Sunan Giri yang bernama asli Raden Paku terpisah dari ayah dan ibunya kemudian diasuh oleh saudagar bernama Nyi Ageng Pinatih. Sebagai keluarga pedagang, Nyi Ageng menyuruh Raden Paku untuk memimpin dan mengawal kapal yang berdagang antar pulau. Salah satu daerah yang didatangi adalah Banjarmasin yang ketika itu sudah menjadi pelabuhan yang ramai.

Tetapi ketika armada kapalnya tiba di Banjarmasin, daerah ini sedang dilanda paceklik. Penduduk kekurangan pangan dan sakit-sakitan. Hal ini karena sedang terjadi perang saudara antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Samudera yang melibatkan pasukan rakyat dalam jumlah besar. Masyarakat tidak mampu membeli barang-barang jualannya. Melihat hal ini Raden Paku bukannya menjual barang melainkan membagikan secara gratis kepada penduduk.

Awak kapal kuatir dengan kapal yang kembali dalam keadaan kosong karena biasanya banyak barang dari Banjarmasin terutama hasil bumi dan hasil hutan yang bisa dibawa pulang ke Jawa. Kapal bisa oleng dan tenggelam diterjang ombak laut yang ganas. Raden Paku menyuruh agar karung-karung bekas barang dagangan yang dibawa dari Jawa diisi dengan batu dan pasir untuk dijadikan pemberat kapal. Kembali di Jawa, Nyi Ageng marah besar dan kuatir hal itu akan membuatnya bangkrut. Raden Paku menenangkan agar ibunya bersabar dan bersedekah, jangan mencari keuntungan saja.

Ibunya kemudian mengikhlaskan barang yang terlanjur diberikan Raden Paku di Banjarmasin. Namun alangkah terkejutnya ketika ia masuk ke kapal, dilihatnya karung-karung yang dikira hanya berisi batu dan pasir dari Kalimantan itu ternyata bercampur bongkahan emas permata yang bernilai tinggi.

Sejak itu Nyi Ageng Pinatih tidak ragu lagi bahwa anak angkatnya adalah seorang ulama besar yang memiliki karomah. Raden Paku diminta mengurangi aktivitas dagang dan lebih memfokuskan diri berdakwah. Ia tinggal di Sidomukti Giri dan mendirikan pondok pesantren di sana. Selanjutnya ia bernama Sunan Giri dan bergabung dalam lingkaran ulama walisongo.

(Dikutip dari buku Sultan Suriansyah karya DCH Ahmad Barjie)

Urban Legend Kereta Hantu Manggarai Jakarta

Urban Legend Kereta Hantu Manggarai Jakarta, Aneh Ada Orang Baca Koran Tahun 1953

Kereta hantu Manggarai masih terngiang-ngiang untuk generasi Jakarta tahun 90-an. Bahkan sampai ada filmnya pula dengan judul yang sama, kereta hantu Manggarai.

Cerita dari mulut ke mulut kereta hantu Manggarai subur dan tak pernah putus. Sebab Indonesia sangat identik dan kental dengan cerita cerita mistis yang berkembang di masyarakat.

Kisah kereta hantu Manggarai tidak pernah terbukti secara ilmiah, jadi hanya urban legend saja.

Stasiun Manggarai adalah stasiun tertua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Stasiun kereta api di Manggarai dibangun pada tahun 1914 dan diresmikan pada 1 Mei 1918.

Kesaksian beberapa orang seperti penjaga perlintasan kereta bukit Duri – Jakarta Selatan, yang dikejutkan dengan suara sirine perlintasan kereta pada pukul 04.00 dini hari yang tentunya sangat tidak wajar, karena jam operasional kereta dimulai pukul 05.00 WIB.

Tak lama setelah sirene tersebut berbunyi melintaslah kereta empat gerbong yang beroperasi tanpa masinis, dan penumpang di dalamnya. Keanehan lainnya adalah kereta jalan dengan keadaan gelap gulita.

selain itu ada versi lain dari seorang lelaki bernama Selamet. Pada saat itu ada seorang anak muda yang tiba di stasiun Depok pukul 23.00 dan menghampirinya menanyakan jadwal kereta. Ketika Slamet berbincang dengan pemuda tersebut, ia mendapatkan penjelasan yang cukup aneh.

Pasalnya pemuda tersebut baru menumpangi kereta yang penumpannya nampak seperti mayat.

Selain itu juga penumpang di dalam kereta tersebut tidak berinteraksi satu sama lain.

Mendengar penjelasan tersebut Selamet semakin bingung karena ia hapal betul jam kereta terakhir pada pukul 22.00 WIB.

Anak muda yang menumpangi kereta tadi bersikukuh bahwa ia benar benar baru menaiki kereta yang beroperasi di atas jam tersebut, ia juga menambahkan sempat meminjam koran dari salah seorang penumpang kereta.

Ketika koran tersebut dibuka mereka sama sama terkejut karena koran tersebut merupakan cetakan tahun 1953.

Berdasarkan cerita-cerita di atas memang kurang masuk di akal ya, apalagi kereta yang dapat meluncur sendiri tanpa ada masinis dan listrik. Tetapi percaya atau tidak beberapa orang telah menyaksikan hingga mengalami sendiri, kejanggalan tersebut.

Sumber: Kiki Oktaliani/suara com

Tjoet Nyak Meutia

Tjoet Nyak Meutia (15 Februari 1870 – 24 Oktober 1910)

Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.

Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.

Sumber: Sejarah Indonesia

Hamas mengundang Elon Musk

Dikutip dari SeaToday, Hamas mengundang miliarder Amerika Serikat, Elon Musk, untuk mengunjungi Gaza dan menyaksikan langsung kehancuran yang dialami warga Gaza akibat serangan Israel. Undangan tersebut disampaikan oleh pejabat senior Hamas Osama Hamdan dalam konferensi pers, Selasa (28/11) di Beirut.

Sumber Foto: Sea Today

Undangan tersebut datang setelah Musk mengunjungi Kfar Aza, sebuah tempat pemukiman (kibbutz) yang diserang Hamas, bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Senin (27/11) setelah postingannya di X yang mendukung anti semitisme menuai kecaman.

Alih-alih membahas postingan tersebut, Musk justru membuat pernyataan yang sependapat dengan Netanyahu. Salah satunya mengenai layanan internet satelit milik Musk, Starlink. Musk sebelumnya menyarankan penggunaan satelit tersebut kepada organisasi bantuan demi membantu gangguan internet di Gaza. Tawaran tersebut memicu ketidaksetujuan dari Israel yang berargumen bahwa teknologi tersebut akan digunakan oleh Hamas. Kini dalam kunjungannya, dicapai kesepakatan bahwa Starlink hanya dapat digunakan di Israel dan Gaza dengan persetujuan pemerintah Israel.

TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU JADI TAMAN NASIONAL TERINDAH KETIGA DI DUNIA VERSI BOUNCE

Dikutip dari SEAToday.com, Jakarta – TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU JADI TAMAN NASIONAL TERINDAH KETIGA DI DUNIA VERSI BOUNCE

Sumber Foto: Bounce

Arminers, tahukah kamu kalau Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Indonesia, menjadi taman nasional terindah ketiga di dunia pada 2023? Berdasarkan data dari Bounce, Bromo Tengger Semeru memperoleh skor 7,89 poin, di atas taman nasional Serengeti, Tanzania, yang memperoleh skor 7,37.

Sementara itu, posisi pertama diduduki oleh Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan, yang memperoleh skor 8,29. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh Taman Nasional Lencois Maranhenses di Brasil yang memperoleh skor 7,9.

Bounce melakukan penghitungan skor berdasarkan sejumlah indikator, seperti jumlah unggahan di instagram, jumlah penayangan di TikTok, penelusuran Google dari Oktober hingga September 2023, serta ulasan setiap taman nasional di Google.

Seorang sopir bus pariwisata jadi korban pemalakan preman

Seorang sopir bus pariwisata bernama Ilham Reza Hidayat jadi korban pemalakan pereman saat sedang membawa rombongan wisatawan berfoto di kawasan Jembatan Ampera Palembang. Akibatnya korban kehilangan uang Rp 1,5 juta.

Sumber Foto: Palembang Kulu Kilir

Di hadapan petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Palembang, Reza mengatakan bus yang dikendarainya itu dari Jakarta hendak menuju Pekanbaru, Riau.

Namun, ketika melitas di kawasan Jembatan Ampera, para wisatawan meminta untuk berhenti sebentar. Tujuan mereka ingin foto-foto di tempat itu. Reza lantas memarkirkan bus di kawaaan Skate Park.

“Sambil menunggu penumpang saya mau buang air kecil dan mencari toilet di sekitar sana,” katanya, Selasa, 28 November 2023.

Reza bilang, saat ia mengantre toilet, ada penumpang yang menelepon memberitahukan kalau mereka sudah selesai dan bersiap melanjutkan perjalanan. Reza lalu menghubungi sopir kedua untuk jalan dan dirinya akan menyusul menggunakan ojek online.

“Saya minta sopir kedua jalan duluan, nanti bertemu di tempat istirahat. Saya akan menyusul pakai ojek,” katanya.

Akan tetapi ketika baru selesai dari toilet, Reza dihampiri preman dan diajaknya ke bekalang kawasan Monpera. Preman itu menyebut bus sudah pergi dan tidak membayar uang parkir.

“Saat itu saya kembali menelepon sopir kedua, di mana ia mengaku sudah membayar parkir Rp 50 ribu,” katanya.

Sumber @officialurban.id

𝘒𝘌𝘚𝘜𝘓𝘛𝘈𝘕𝘈𝘕 𝘉𝘈𝘕𝘛𝘌𝘕 1620-1683

1. 𝘒𝘦𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯

𝘒𝘦𝘴𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘋𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘵𝘪-𝘦𝘵𝘯𝘪𝘴. 𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘗𝘳𝘪𝘣𝘶𝘮𝘪 & 𝘗𝘦𝘯𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨

𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘦𝘵𝘯𝘪𝘴 𝘯𝘶𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢
𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘨𝘯𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘭𝘪.

𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘌𝘳𝘰𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1672,
𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 100𝘳𝘣 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 200𝘳𝘣 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨,

𝘴𝘶𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘬𝘳𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 10𝘳𝘣 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘮𝘣𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯,

𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘋𝘢𝘨𝘩 𝘙𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳-(16.1.1673) 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘴𝘶𝘴
𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘝𝘖𝘊 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1673, 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬
𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢 55𝘳𝘣 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 150𝘳𝘣 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬,
𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯, 𝘢𝘯𝘢𝘬² 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘴𝘪𝘢

𝘚𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1676 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘊𝘪𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪
𝘴𝘶𝘢𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯. 𝘎𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘨𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪
𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘢𝘮𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘍𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘊𝘪𝘯𝘢 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘮𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢
𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘱𝘳𝘰𝘱𝘰𝘳𝘴𝘪 𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘨𝘯𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘐𝘯𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘢𝘣.

𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘌𝘳𝘰𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪
𝘐𝘯𝘨𝘨𝘳𝘪𝘴, 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘯𝘤𝘪𝘴, 𝘋𝘦𝘯𝘮𝘢𝘳𝘬
𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘰𝘯𝘥𝘰𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘊𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯.

2. 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘬𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪𝘢𝘯

𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘦𝘬𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯,
𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘴𝘪𝘴𝘪𝘳, 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪
𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘓𝘦𝘣𝘢𝘬, 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘬𝘰𝘯𝘰𝘮𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘨𝘪𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯,
𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘧𝘴𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘢𝘴𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘚𝘒 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘶𝘮𝘢
(𝘱𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨), 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘦𝘳𝘦𝘬)
(𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶) 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘱 (𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘱).

𝘒𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨,
𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘶𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘱𝘢𝘵𝘪𝘬, 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘶𝘯𝘨, 𝘬𝘰𝘳𝘦𝘥 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘱.

𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘚𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯 𝘈𝘨𝘦𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 1663 𝘥𝘢𝘯 1667 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯
𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘪𝘢𝘯. 𝘈𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 30 𝘥𝘢𝘯 40 𝘬𝘮 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 16 000 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘋𝘪
𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵, 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 30 𝘥𝘢𝘯 40 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘩𝘦𝘬𝘵𝘢𝘳𝘦 𝘴𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘬𝘵𝘢𝘳𝘦 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢
𝘥𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢𝘮 30 𝘙𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵, 𝘗𝘦𝘳𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯𝘢𝘯
𝘵𝘦𝘣𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘊𝘪𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1620𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘋𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯 𝘈𝘨𝘦𝘯𝘨, 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘪𝘨𝘯𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘯
𝘛𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1678, 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘵𝘳𝘰𝘱𝘰𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢
𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵.

3. 𝘗𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯

𝘉𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘢 𝘒𝘦𝘴𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯, 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘑𝘦𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1876.
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪,
𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘚𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘵𝘶, 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘈𝘥𝘪𝘱𝘢𝘵𝘪, 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘎𝘶𝘴𝘵𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘰𝘮
𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴

𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘔𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘣𝘶𝘮𝘪,
𝘒𝘢𝘥𝘪, 𝘗𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘚𝘺𝘢𝘩𝘣𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘥𝘮𝘪𝘯𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳𝘪
𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 (𝘙𝘢𝘵𝘶 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴), 𝘳𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘺𝘪𝘥, 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯

𝘐𝘴𝘵𝘪𝘮𝘦𝘸𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘱𝘢𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘢, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢
𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘳𝘢.
𝘗𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘩
𝘴𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘊𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘊𝘪 𝘒𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶. 𝘋𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘢𝘭𝘶𝘯² 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘴𝘵𝘢𝘯𝘢 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘴𝘰𝘸𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘭𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘰𝘬 𝘣𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘔𝘢𝘴𝘫𝘪𝘥 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘤𝘶𝘴𝘶𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪
𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯.

𝘉𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯, 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘔𝘢𝘴𝘫𝘪𝘥 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘊𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯,
𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯.

𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢
𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘶𝘯-𝘢𝘭𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘚𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘭𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘢𝘯

📝𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪 oleh : 𝘈𝘳𝘳𝘰𝘸✏

MISTERI SUKU BADUY / BADUI

Pernahkah anda mendengar tentang suku BADUY/BADUI. Berikut adalah mitos dan misteri masyarakat suku BADUY atau Badui.

Anak – anak suku Baduy

1) Suku ini mendiami wilayah Banten Pulau Jawa Indonesia dan masih mengamalkan bacaan pelbagai mantera untuk pelindung diri serta hidup dengan pelbagai pantang larang.

2) Identiti suku BADUY dikenali melalui bentuk rumah yang dibina berasaskan buluh / atap rumbia atau diikat rotan.

3) Terbahagi dua iaitu BADUY luar dan BADUY dalam. BADUY luar gemar memakai baju hitam manakala baduy dalam gemar memakai baju putih

4) Baduy luar juga sedikit bebas manakala baduy dalam kurang percaya kepada kehidupan dan percaya masyarakat lain.

5) Mereka juga tidak dibenarkan menggunakan paku pada rumah dan tidak dibenarkan bermain teknologi.

6) Sangat patuh pada PUUN iaitu ketua adat. Suku BADUY juga mempunyai mentera hutan yang mampu menjinakkan haiwan haiwan liar.

7) Suku BADUY juga mempunyai kebolehan berjalan kaki beratus ratus kilometer tanpa memakai kasut dan mampu mematahkan paku jika terpijak.

8) Dikatakan juga badan suku BADUY tidak berbau busuk walaupun mereka tidak suka mandi dan tidak mudah jatuh sakit

9) Suku BADUY juga mempunyai sikap kasih mengasihi dan menjalinkan hubungan baik sesama manusia serta penyayang kepada hewan.

“THE HIDDEN HAND – AGENDA DI TANAH MELAYU

Melalui perjumpaan-perjumpaan rahsia para penyembah Iblis, Dajjal The a.k.a. AntiChrist telah memaklumkan kepada raja-raja Eropah (kerabat diraja Eropah sememangnya diketahui taksub dengan kelompok-kelompok rahsia dan amalan sihir) di dalam ‘inner circle’ supaya cepat-cepat membiayai ekspedisi-ekspedisi ke Timur Jauh.Raja-raja Eropah pun bertungkus-lumus memajukan teknologi perkapalan mereka dan merekrut ramai anak kapal dan tentera menuju ke tanah Melayu.

Walaupun Portugis telah berjaya bertapak di Melaka, namun mereka begitu sukar hendak meluaskan pengaruhnya di seluruh Tanah Melayu, ini kerana tentangan sengit daripada pelbagai penjuru seperti dari Kerajaan Johor-Riau, kerajaan-kerajaan kecil di Tanah Melayu dan Kerajaan Acheh begitu sukar buat mereka meluaskan pengaruh.

Belanda juga menyerah kalah di Melaka Memang aneh, walaupun Belanda berjaya mengendalikan Indonesia yang besar tetapi mereka masih kabur dengan keadaan di ‘Semenanjung Emas’ yang begitu misteri buat mereka sebagai bangsa Eropah.

Mereka pernah berkali-kali cuba bertapak di Perak pada peringkat awalnya, tetapi loji-loji mereka di Sungai Perak telah dimusnahkan. Apa yang membuatkan mereka takut di Perak amatlah misteri bagi yang tidak mengetahuinya (maaf… saya tiada kebenaran untuk bercerita lebih tentang hal ini).

Tetapi The Hidden Hand tidak mudah berputus asa. Kalau Portugis dan Belanda tak berjaya pun tidak mengapa. Mereka masih boleh berharap dengan menghantar British (Inggeris adalah pangkalan terhebat dan terbesar The Hidden Hand ketika itu) untuk meninjau peluang untuk menguasai Tanah Melayu.

Setelah mengkaji komposisi kaum dan keadaan di Tanah Melayu, wakil Illuminati Inggeris telah mengambil keputusan untuk membawa masuk ramai pekerja-pekerja Cina dan India ke Tanah Melayu. Mengapa Cina dan India? Kerana dua negara ini mempunyai tenaga manusia yang ramai dan miskin. Memecahkan komposisi penduduk di Tanah Melayu amatlah penting untuk merealisasikan satu cabang dari prinsip Freemason-Illuminati ‘Ordo Ab Chao’ iaitu Divide and Rule atau Pecah dan Perintah.

Ringkasan Penjajahan-penjajahan di Semenanjung Tanah Melayu, Sabah dan Sarawak Semakin lama semakin ramai pekerja Cina di Tanah Melayu. Mereka banyak bekerja di tapak-tapak perlombongan ketika itu. Di antara mereka adalah ketua-ketua dan wakil-wakil ‘secret societies’ Cina yang menganut fahaman Illuminati dan juga ejen-ejen Freemason. Merekalah yang menubuhkan pelbagai kongsi gelap bagi orang-orang Cina. Apabila majoriti pekerja Cina sudah ramai, mereka dipecah-pecahkan untuk menyertai pelbagai kongsi gelap dan ketika inilah masanya untuk bermain api.

Perebutan kawasan perlombongan bijih cuma merupakan sebahagiant taktik sahaja. Contoh yang terbaik ialah di Perak, negeri yang pertama menerima Residen British di Tanah Melayu. Dua kongsi gelap terbesar iaitu Ghee Hin dan Hai San telah bertempur dalam siri Perang Larut, mengakibatkan British campur tangan di Perak. Taktik ini juga digunakan dikesemua negeri-negeri yang akhirnya menjadi Negeri-negeri Melayu Bersekutu. JELAS DI SINI, YANG MEMBUAT KEKACAUAN BUKANLAH ORANG-ORANG MELAYU,TETAPI ORANG LUAR. Orang luar yang membuat kekacauan dan orang luar yang datang masuk menjajah. Tanpa bantuan para konspirator dari kalangan Chinese Illuminist dan tuan Eropah mereka, maka sampai kiamat pun British tidak dapat menjajah Tanah Melayu.

Cuba kita renungkan, British boleh sahaja membawa angkatan perangnya menyerang Tanah Melayu sepertimana Belanda menjajah Indonesia dan Sepanyol menjajah Filipina, tetapi mengapa British bersusah payah membuat perjanjian demi perjanjian, strategi dan siasah serta mengekalkan sultan-sultan? Aneh kan?

Kita boleh lihat taktik Illuminati-Inggeris di tempat-tempat lain. India misalnya, raja-raja Hindu dan Moghul dibunuh atau dilucutkan takhtanya dan warisan dirajanya dimusnahkan. INI MEMBERIKAN SIGNAL YANG JELAS TERUTAMANYA KEPADA DYMM RAJA-RAJA MELAYU… GOLONGAN ILLUMINATI-FREEMASON MEMANG AMAT TERINGIN UNTUK MENAMATKAN RIWAYAT KESULTANAN MELAYU.

Raja-raja Pattani telah dikejar sehingga ke Kedah dan Perak dan dibunuh dengan kerjasama orang-orang Thai. Kesultanan Jawa juga telah ditamatkan kuasa politiknya oleh Belanda dan kini tiada apa-apa pun kepentingan sekadar wujud untuk dijadikan ‘muzium hidup’ di Indonesia. Kesultanan Sulu sudah lama pupus. Cuma yang tinggal ialah Kesultanan Melayu di Tanah Melayu dan Kesultanan Brunei. Inilah dua Kesultanan Melayu yang masih gagah berdiri setelah pelbagai perancangan Illuminati-Inggeris ke atas mereka.

Sementara itu di jajahan-jajahan Inggeris yang lain, pemerintah-pemerintah mereka terus dihapuskan tanpa banyak soal. Maharaja China berjaya dihapuskan dengan mudah sekali (China tidak dijajah British secara langsung tetapi secara halus dengan anjing-anjing penjajah yang berkeliaran di sana sini merosakkan orang-orang Cina dengan candu dan menghasut mereka menggulingkan maharaja, China juga terpaksa tunduk dengan kehendak British selepas kekalahan memalukan China dalam siri Perang Candu, hanya Hong Kong dijajah British).

Dan di tempat-tempat lain seperti di Afrika dan Kepulauan Pasifik, kesemuanya menjadi jajahan total mereka, namun Tanah Melayu nampaknya naik sedikit darjat jajahan mereka sebagai ‘Negeri Naungan Ratu Inggeris’. Mengapa? Kerana Tanah Melayu masih mempunyai pemerintah. Dan Inggeris hanya mampu mengacau melalui residen-residen mereka. Tidak seperti di negara-negara lain yang dijajah secara total di mana pemerintah tempatan dihalau atau dibunuh dan Inggeris memerintah secara langsung, sultan-sultan Melayu masih mampu menulis surat kepada Ratu Inggeris dengan gelaran ‘Sultan’ atau ‘Pemerintah’ walaupun Ratu Inggeris tahu bahawa itu adalah negeri naungan British, dengan kata lain adalah jajahan mereka. PERANCANGAN ILLUMINATI TERHADAP BANGSA MELAYU AMATLAH ANEH SEKALI. Segala-galanya dilakukan dengan amat teliti terhadap bangsa spiritual ini. Jika tersilap perancangan,maka akan terangkatlah satu kuasa misteri lagi rahsia bangsa ini.

Kuasa ini tidak boleh dikalahkan dengan seribu angkatan perang. Tidak boleh dikalahkan dengan seribu jeneral perang terlatih. Kuasa ini boleh ditidurkan. Mengapa British tidak menghantar sahaja angkatan perangnya untuk menyuraikan perarakan-perarakan menentang Malayan Union padahal Malayan Union adalah ‘masterpiece’ yang telah dirancang beratus tahun sebelum itu oleh The Hidden Hand? Semata-mata perarakan sahaja boleh memadamkan hasrat Malayan Union oleh Dajjal Laknatullah? APA RAHSIANYA?

Bangsa Melayu adalah satu bangsa bertamadun. Ini diakui oleh para penjajah mereka. Apabila mereka sampai ke dunia sebelah sini, betapa terkejutnya mereka dengan satu bangsa aneh yang telah mempunyai kerajaan sendiri, organisasi masyarakat yang tersusun, kostum dan pakaian yang kemas, cara hidup yang tersusun dan yang paling mengejutkan mereka ialah majoritinya menganut agama Islam? Padahal kaum-kaum di sekeliling mereka hanya memakai cawat dan kurang bertamadun tetapi bangsa misteri ini telah mampu membuat kapal perang.

Mereka telah terlambat untuk menguasai satu bangsa spiritual yang akan menamatkan segala ramalan kitab-kitab kuno. Sebab itu ketika The Hidden Hand (Dajal gemar mengembara ke seluruh dunia untuk memahami karektor sesuatu bangsa) yang telah sampai dahulu di Nusantara, apabila kembali ke Eropah bertemu dengan para pembantunya di kalangan para penyembah Iblis, menceritakan satu bangsa yang menepati ramalan dalam ‘the Holy Scriptures’ dengan tegas menyatakan:

“Cepat cari bangsa itu, Kristiankan mereka atau kamu semua akan musnah!”

Sebab itu di dalam buku-buku sejarah, orang-orang Eropah berlumba-lumba mencari jalan ke Timur, dunia misteri yang diidam-idamkan oleh The Hidden Hand. Benua Amerika, Afrika dan India bukanlah tujuan mereka. Itu adalah ‘rezeki terpijak’ dalam perjalanan mereka mencari bangsa misteri. Beratus tahun mereka menangani bangsa Arab sudah tentu mereka tidak mahu masalah lain bertambah jika bangsa Melayu diIslamkan.

Tetapi mereka terlambat. PERANCANGAN ALLAH S.W.T.LEBIH SEMPURNA DARI MEREKA. Sebab itu apabila Portugis menapak di Melaka, organisasi Jesuit (satu organisasi Christian Zionist yang amat licik) telah menghantar satu paderi agungnya iaitu St. Francis Xavier untuk mengkristiankan orang-orang Melayu. Tetapi perancangan itu gagal sama sekali.

Pemerintahan Portugis yang kejam di Melaka telah menggagalkan usaha-usaha The Hidden Hand. Portugis pun dihalau dari Melaka dan digantikan oleh Belanda (Dajal tidak peduli nyawa atau kepentingan orang lain, jika tidak diperlukan maka ‘habis madu sepah dibuang’ . Tetapi Belanda berkelakuan amat aneh di Melaka. Tindakan-tindakan kejamnya di Indonesia tidak pula dipraktikkan di Melaka. MEREKA MENGAKUI DENGAN SEBENAR-BENARNYA BAHAWA BANGSA MELAYU TIDAK BOLEH DILAYAN KEJAM.

Belanda dan Inggeris telah belajar dari kegagalan Portugis. Setelah mempelajari karektor bangsa Melayu, maka tahulah mereka bahawa ORANG-ORANG MELAYU LEBIH SUKAKAN DIPLOMASI DARI KEKERASAN. Sebab itu Inggeris lebih ‘beradab’ melayan bangsa Melayu di Tanah Melayu berbanding bangsa-bangsa lain di jajahan-jajahan mereka yang lain. Bangsa Melayu lebih di’manjakan’ Inggeris terutama golongan bangsawan, para kerabat diraja dan sultan-sultan. Peristiwa pemberontakan dan pembunuhan ke atas J.W.W Birch di Perak amat-amat mengajar British supaya menghantar residen yang memahami karektor orang Melayu. Sebab itu Hugh Low yang dihantar menggantikan J.W.W Birch merupakan seorang yang telah sedia mengkaji sensitiviti orang Melayu. Di suatu ketika, British menggunakan kekerasan, di suatu ketika tindakan British seperti ditahan-tahan. Padahal bukan susah untuk mengerahkan bala tenteranya untuk meruntuhkan takhta sultan-sultan, membunuh mereka dan memerintah Tanah Melayu dengan kekerasan seperti yang telah dilakukan di India. PIHAK INGGERIS MEMANG HENDAK MELAKUKAN BEGITU TETAPI DINASIHATKAN OLEH THE HIDDEN HAND supaya memperlahankan tindakan mereka. APA RAHSIANYA?

DAJJAL LAKNATULLAH AMAT TAKUT PEPERANGAN BERLAKU DI ANTARA INGGERIS DAN BANGSA SPIRITUAL DI BUMI MELAYU DAN INI SEOLAH-OLAH MEMPERCEPATKAN RAMALAN-RAMALAN DALAM ‘THE HOLY SCRIPTURES’ SEPERTI KEBANGKITAN IMAM MAHADI DAN TURUNNYA NABI ISA A.S

Melalui ‘secret societies’ di China dan England, Dajjal The AntiChrist telah merangka pelan jangka panjang untuk menawan Nusantara. Ramai penyelidik konspirasi tahu tentang pelan Illuminati-Zionis dalam merangka pelan beratus tahun bagi penubuhan negara Israel, tetapi majoriti mereka masih tidak tahu tentang pelan Illuminati untuk menubuhkan pangkalan di Singapura. INILAH PELAN PALING LICIK DAN TERSEMBUNYI DARI ILLUMINATI.

Kongsi-kongsi Gelap Cina

Satu daripada nama kongsi gelap yang terkenal adalah Heaven and Earth Society. Nama-nama yang lain adalah seperti Hung League dan Three United Association. Freemason sememangnya telah lama berminat kepada kongsi-kongsi gelap ini malah beberapa ahli Freemason telah membuat kajian mendalam serta menulis buku mengenainya termasuk G. Schlegel (The Hung League. 1866) dan J.S.M Ward (The Hung Society. 1925). Sejarah China adalah satu sejarah berkenaan dinasti-dinasti yang memerintah dan penubuhan banyak kongsi gelap untuk menentangnya.

Merentasi sejarah China, hanya satu cara untuk menentang para raja dan pemerintahan pusat iaitu melalui kongsi gelap. Kongsi gelap adalah jawapan kepada orang-orang yang tidak mempunyai kuasa,terpinggir atau teraniaya, untuk menentang penindasan atau apa jua yang mengakibatkan kesedihan dan malapetaka kepada kehidupan mereka.

Mereka tidak pernah kekurangan anggota dalam kongsi gelap dan tidak juga kekurangan alasan untuk memujuk orang-orang miskin dan tertindas untuk menyertai kongsi-kongsi gelap.Berbeza dengan ‘secret societies’ di Eropah dimana umumnya ahlinya terdiri dari golongan pertengahan dan elit, kongsi-kongsi gelap Cina adalah terdiri daripada orang-orang miskin dan bawahan. Bilangan rakyat China yang ramai adalah sebab utama ‘The Hidden Hand’ mahu mempergunakan orang-orang Cina. Mereka dijadikan ‘pawn of the game’ dalam usaha ‘The Hidden Hand’ mahu menubuhkan pangkalannya di Singapura.

ORANG-ORANG CINA IBARAT BENTENG MANUSIA BARISAN HADAPAN BAGI MENGHADAPI PENENTANGAN MUSLIM MELAYU.

Jika peperangan terjadi, orang-orang Cina yang akan terbunuh dahulu dengan segala AMUKAN DAN PARANG TERBANG dari Bangsa Melayu. Bangsa kesayangan The Hidden Hand,Yahudi Zionis dan hamba kesayangannya, Christian Zionist (Freemason sebagai contoh) sudah pasti terselamat dari amukan orang-orang Melayu dan sempat melarikan diri sambil memijak mayat-mayat orang-orang Cina sebelum merancang pelbagai pelan untuk membuat ‘counter attack’.

Orang-orang Melayu adalah satu bangsa yang suka MEMENDAM RASA. Sikap mereka misteri dan pendiam. Mereka tidak suka mencetuskan kekacauan serta-merta jika mereka diganggu, diprovoke atau diusik sensitiviti mereka. TETAPI MEREKA AKAN MEMENDAM PERASAAN DEMI PERASAAN DENDAM MEREKA sehingga ke tahap kritikal dan ‘psycho’. Apabila sampai satu tahap, ALTER AMUK mereka akan meletus. Inilah yang cuba dihindarkan setiap penjajah mereka. Dari mana perkataan ‘amok’ dalam bahasa Inggeris diambil? Lihat, bahasa Inggeris terpaksa meminjam perkataan ‘amuk’ dari bahasa Melayu untuk menerangkan fenomena ini disebabkan mereka tidak mempunyai konotasi yang tepat dari bahasa mereka untuk menjelaskan jenis psikologi ini.

Alter amuk adalah seolah-olah eksklusif untuk bangsa Melayu walaupun semua manusia turut mengamuk jika berada pada tahap tertentu. Jika kita lihat di Barat, sudah menjadi trend para pelajar yang dibuli atau menghadapi tekanan perasaan yang teruk untuk memikul senjata menembak secara rambang ke arah pelajar-pelajar lain. Tetapi setiap orang Melayu tulen amnya menyimpan alter berbahaya ini. Istimewanya, mereka pandai mengawal dan menggunakannya. Jika tidak,sudah tentu tidak ada seorang pun Cina atau India rasis dan chauvinist dapat hidup di bumi Melayu ini..

JIKA KAUM-KAUM LAIN PANDAI MENGHORMATI BUDAYA DAN AGAMA MEREKA, TIDAK MENJADI MASALAH BUAT ORANG-ORANG MELAYU UNTUK TURUT MENYAMBUT MEREKA DENGAN SENYUMAN DAN MENGHORMATI MEREKA KEMBALI.

Ingat, orang-orang Melayu sukakan diplomasi berbandimg kekerasan. Inilah salah satu hasil kesimpulan Francis Light, Stamford Raffles atau Frank Swettenham dari pengalaman mereka di Tanah Melayu.

Kongsi-kongsi gelap semakin popular di kalangan orang-orang Cina di Tanah Melayu. Pertamanya, majoriti orang-orang Cina yang dibawa ke Tanah Melayu terdiri dan rakyat bawahan yang miskin dan melarat, jadi kongsi gelaplah harapan mereka untuk mengadu segala masalah kehidupan mereka ketika di perantauan. Mereka dapat berkongsi suka duka bersama dan masalah yang sama di dalam kongsi-kongsi gelap ini.

Keduanya, siapa yang menjadi ejen British di China bagi urusan membekalkan orang-orang Cina ke Nusantara (perlu diingat di tempat-tempat lain di Kepulauan Melayu contohnya di Indonesia juga menghadapi keadaan yang sama), khasnya di Tanah Melayu? Mereka adalah juga KONGSI-KONGSI GELAP INI.

Merekalah ejen-ejen yang bekerja mengumpulkan orang-orang Cina dari wilayah-wilayah miskin yang tidak mempunyai harapan terhadap tanahair mereka yang penuh kekacauan dan pemberontakan untuk disumbat ke dalam tongkang-tongkang ke syurga perdagangan di Singapura dan Tanah Melayu.Semua ini berjalan lancar lebih-lebih lagi selepas Kerajaan China terpaksa menandatangani perjanjian dengan pihak British untuk membenarkan Illuiminati Inggeris ‘menculik’ rakyat China untuk memecahkan komposisi kaum di Tanah Melayu dan menubuhkan pangkalan Yahudi di Singapura.

Rakyat China miskin yang ‘innocent’ tidak mengetahui apa-apa perancangan Yahudi dan Kristian Zionis ke atas mereka. Orang-orang Cina yang paling malang adalah yang terlibat dalam tragedi 13 Mei 1969, menjadi korban mudah Illuminati dan Zionis, mati dalam keadaan keliru dan menyedihkan. Juga para pegawai istana serta maharaja mereka yang telah lama menghidu taktik Barat, juga tidak bersalah dalam hal ini malah mereka juga menjadi korban para penyembah syaitan Illuminati.

Budaya-budaya komunism ini juga telah cuba di selitkan dalam perjuangan tentera fisabilillah oleh Bangsa Melayu. Tentanglah komunism ini dari menular dalam perjuangan kita bangsa Melayu! Jangan berpecah belah sesama kita dan kembalilah ke pangkal jalan… ke jalan putih yang sebenar. Duit adalah dewa yang digunakan dalam kongsi gelap, kenapa perlu ikut budaya komunis Cina sedangkan kita lebih hebat dari mereka? Perjuangan kita kerana Allah S.W.T. dan bukan kerana Duit.

BANGSA MELAYU BANGSA TAUHID!
TEGUHKAN TAUHID KALIAN!

KemenanganPastiMilikUmmatIslam

AlMahdi313

PanjiPanjiHitamUfukTimur

JihadFisabilillah

janjiAllahitupasti

Kredit : Mohd Fazlee Shah Faris

Musuh terkejam adalah orang terdekat!

Sebagai seorang pendidik yg pernah mendidik @igo0626 semoga permasalahan yg sedang dihadapi saat ini segera teratasi. Terlepas salah dan benar apa yg sudah terjadi pasti ada kemudahan dan hikmahnya. Saat kita sedang diberikan kepercayaan dalam melaksanakan tugas dan diberikan tempat untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian kita, banyak orang yg akan membenci dan berusaha menjatuhkan. Hal ini sudah sering saya alami, dimana orang yg kita bantu untuk bergabung dan bekerjasama ditempat kita bekerja, justru merekalah cikal bakal orang yg menjatuhkan kita. Ada yg rela menyogok uang jutaan demi untuk menggeser posisi saya.

Padahal saya sudah berusaha seprofesional mungkin dalam melaksanakan tugas. Salah saya karena pernah menyandarkan rasa kepada seseorang yg sebenarnya tidak begitu saya sukai oleh karena itu saya tidak bisa memberikan hati saya sepenuhnya. Ketika kisah itu sudah bubar, seseorang itu mencari pengikut untuk terus berusaha menjatuhkan saya dg menjual air mata bawang kepada pimpinan. Benar kata pepatah Allah itu tidak tidur, walaupun segerombolan orang itu telah berusaha menjatuhkan saya, tapi pimpinan itu punya pendirian yg bijak. Beliau memanggil saya di ruang kerjanya, sembari bercerita “Ibu tahu bahwa banyak yg tidak menyukai pak Armin, ibu paham ketidaksukaan mereka ada hubungannya dg masalah pribadinya dg pak Armin. Akan tetapi ibu tidak memihak dan menyalahkan siapapun. Sebagai pimpinan disini ibu lebih mempercayai kinerja pak Armin. Pesan ibu bekerjalah terus dan jangan menghiraukan orang – orang yg tidak suka. Dan ibu tetap mempercayai pak Armin untuk tetap mengemban pekerjaan yg ibu berikan”. Kata-kata beliau masih terngiang ditelinga saya sampai saat ini, meski kini orangnya telah tiada.

Tapi kisah itu belum berakhir sepeninggal beliau, setelah kepimpinan ibu itu digantikan oleh pimpinan berikutnya yg lebih sadis lagi pemimpin ini justru berpihak pada segerombolan orang yg telah menjatuhkan saya sebelumnya. Di masa kepemimpinan ini saya dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Saya dipermalukan dimuka umum, diintimidasi, dan ditindas sesuka hatinya. Bahkan kesemua tempat yg dia kunjungi, saya dihina dina. Padahal dia sudah lama mengenal saya dari sebelum saya menjadi guru dan rekan kerjanya. Karena saya masih menghormati dan menghargainya, saya tetap bersikap sopan dan baik padanya. Walaupun hati saya remuk dan hancur berkeping-keping karena hinaanya terhadap saya. Dia lebih berpihak pada segerombolan orang yg baru dia kenal ketimbang saya yg sudah puluhan tahun lalu dikenalnya. Salah saya karena ponakannya tidak saya bantu untuk masuk ditempat kerja saya dan menggeser orang lain. Padahal ponakannya tersebut sudah bekerja dibeberapa tempat, kenapa masih memaksakan diri untuk bekerja ketempat lain yg merugikan orang.

Sedih dan sakit jika mengingat semua itu. Meskipun didepan orang banyak air mata saya tidak bisa menetes, walaupun raga saya nampak tegar, tapi jiwa saya sangat tersayat. Alhamdulillah, iman saya masih kuat. Tangisan saya pecah di atas sajadah, semuanya tercurahkan disetiap sepertiga malam bulir-bulir air mata tidak terasa bercucuran. Semoga dg sedikit kisah yg pak bagi ini, sebagai penguat Paigo untuk tetap tegar dalam menghadapi kehidupan ini, karena hidup ini adalah pilihan. Kitalah yg menentukan, harus memilih bertahan dan kuat atau lemah dan menyerah. Ingat, musuh terkejam itu adalah orang terdekat kita. Hanya diri kita sendiri yg harus 100% dipercaya.

Johannes Benedictus van Heutsz

Selain koleksi benda2 seni tradisi dari Hindia Belanda di masa lalu, pameran De Grote Indonesië Tentoonstelling yang berlokasi di Nieuwe Kerk Amsterdam juga memamerkan lukisan cat minyak di atas kain kanvas yang menggambarkan Johannes Benedictus van Heutsz koleksi Rijksmuseum Amsterdam.
Dilukis oleh Hannke di Batavia pada 1909.

Pada 26 Maret 1873, kapal komando Citadel van Antwerpen melego jangkar di perairan Aceh. F.N.Neuwenhuyzen, perwakilan Dewan Hindia Belanda memaklumatkan perang karena Kasultanan Aceh menolak tunduk pada kuasa kolonial. Maka berkobarlah Perang Aceh (1873-1914).
Johannes Benedictus van Heutsz (1851-1924) hadir ketika pemerintah kolonial nyaris kehilangan akal sambil menghitung kerugian sumberdaya manusia & ekonomi akibat Perang Aceh. Di awal perang Van Heutsz hanya seorang Letnan dua, pangkatnya melesat menjadi Gubernur militer di Aceh pada 1898.
“Sukses Jenderal Van Heutsz di Aceh membuatnya menjadi pahlawan ekspansionis yg populer & pendukungnya berhasil membungkam keraguan & suara kritis (dari pendukung antiimperialisme) di media & parlemen Belanda,” tulis sejarawan Adrian Vickers dlm A History of Modern Indonesia.

Untuk menaklukan Aceh, Van Heutsz tukar pikiran dgn Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial bidang bahasa2 Timur & hukum Islam. Hasilnya, dia melakukan manuver mematikan mulai dari mengadu domba garda depan perlawanan gerilya rakyat Aceh, kaum ulama & uleebalang (bangsawan); merestrukturisasi pasukan & strategi bumi hangus hingga pembantaian. Berkat aksinya di Aceh, pamor Van Heutsz kian naik sampai puncaknya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909).
Meski namanya kontroversial sebagai figur kolonialis & imperialis Belanda, Van Heutsz tetap meninggalkan warisan ketokohan besar yg membuat namanya tetap dikenang dalam memori kolektif masyarakat Belanda. Namanya diabadikan mulai dari nama kapal sampai lagu mars.

Kapal Van Heutsz diluncurkan pada Maret 1926. Kapal penumpang ini melayari rute Hindia Belanda ke Singapura & Cina dalam naungan Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda (KPM). Selama Perang Dunia II, Van Heutsz disewakan kepada Kementrian Transportasi Perang Inggris terhitung sejak 25 Juni 1942, sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada 1957. Dua tahun kemudian jadi besi tua.

Pada 1932, monumen Van Heutsz didirikan di Aceh & Batavia (sekarang Jakarta). Monumen di Batavia terletak di Menteng, begitu megah dengan relief orang Aceh, Jawa & Papua yg melambangkan tuntasnya pasifikasi Belanda pada masa pemerintahan Van Heutsz. Sejak jaman pendudukan Jepang, monumen ini menjadi sasaran perusakan karena melambangkan sentimen kolonial. Monumen ini dihancurkan pada 1953 & di lahannya didirikan Masjid Cut Meutia.
Pada 15 Juni 1935, Ratu Belanda Wilhelmina meresmikan monumen Van Heutsz di Amsterdam di tengah kritik keras dari kaum komunis & sosialis. Monumen itu tingginya 18,7 meter, dgn patung perempuan memegang lembaran hukum & relief2 lainnya. Pada 1943, anak Van Heutsz, seorang perwira SS Nazi, Johan Bastiaan Heutsz, menulis surat kepada walikota Amsterdam meminta monumen itu dipugar.
Setelah menjadi target vandalisme berulang kali, bahkan empat kali percobaan peledakan dgn dinamit, monumen ini akhirnya dipugar pada 2004 & namanya diganti menjadi Monumen Belanda-Indonesia untuk mengenang hubungan historis kedua negara.
“Semenjak awal, Monumen Van Heutsz menjadi fokus protes menentang pemerintahan kolonial, penindasan & bahkan dugaan kejahatan perang oleh pasukan Belanda,” tulis Willeke Wendrich, “Visualizing the Dynamics of Monumentality,” termuat dalam Approaching Monumentality in Archaeology suntingan James F. Osborne.
“Namun tetap saja, ingatan kultural akan monumen yang ‘lama’ tetap terpatri, dan pada tahun 2011 sekali lagi monumen ini mengalami aksi perusakan,” tambahnya.

Tak jauh dari Monumen Van Heutsz di Menteng, terdapat Jl. Van Heutsz Boulevaard. Jalan raya lebar ini dibangun untuk memfasilitasi kawasan elite Menteng yg penuh dgn bangunan2 mewah. Ketika Indonesia merdeka, Van Heutsz Boulevaard berganti nama menjadi Jalan Teuku Umar, pahlawan perang Aceh.

Citra militeristik Van Heutsz hidup kembali dalam nama resimen infantri tentara Kerajaan Belanda, Regiment van Heutsz, yg dibentuk pada 1 Juli 1950. Resimen yg berperan dlm aksi pertahanan udara ini dibentuk sebagai “pembawa tradisi KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda)” & dipersiapkan sebagai partisipasi Belanda dlm Perang Korea (1950-1953).
“Pasukan yg personelnya terdiri dari beragam latar belakang itu dibentuk, termasuk dari mantan anggota resistansi (perlawanan), pasukan pembebas Belanda, bahkan mantan tentara Nazi. Mereka ditempatkan di Korea sampai 1954. Total 158 perwira & 3.192 personel lainnya bertempur di Korea,” tulis Paul M. Edwards dlm United Nations Participants in the Korean War: The Contributions of 45 Member Countries.
Resimen Van Heutz terlibat dlm tiga pertempuran kunci antara 1951-1953. Resimen ini mendapat medali penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat & Belanda. Resimen ini masih aktif sampai sekarang & tugas terakhirnya pada 2010 sebagai pasukan multinasional di Afghanistan.

Nama Van Heutsz turut diabadikan dlm sebuah mars militer, seperti tercantum dlm sebuah situs tentang Van Heutsz (vanheutsz.nl). Mars tersebut, yg dinamakan Mars Van Heutsz, diciptakan oleh A. Van Veluwen & dipentaskan untuk kali pertama pada 1954. Mars ini menjadi mars milik Resimen Van Heutsz. Komposisi mars ini kemudian menginspirasi lagu yg populer di kalangan komunitas Indo-Belanda, berjudul “Ajoen.”

Boneka Susan

Pada tahun 1990-an, Boneka Susan bersama Ria Enes mencapai puncak popularitasnya. Dimana ada boneka Susan, maka disitulah ada Ria Enes. Karakter Susan yang dibawakan oleh Ria ini berawal saat dirinya menjadi penyiar radio di Surabaya pada 1991. Siarannya ini menarik bagi masyarakat, padahal saat itu, Ria belum memiliki sosok Boneka Susan secara fisik. Hingag akhirnya Ria menemukan fisik boneka Susan di salah satu Mall di Surabaya, dan berjodohlah Ria dengan Boneka Susannya.

Bersama dnegan boneka susan yang telah Ia cipatakn karakternya, Ria melakukan banyak rekaman beberapa lagu anak-anak yang diantaranya bertajuk “Susan Punya Cita-cita”. Album-album Ria dan Susan pun laris di pasaran. Tercatat ada 12 album dari tahun 1991 hingga 2004 yang dihasilkan oleh Ria bersama dengan Boneka Susannya itu.

Berikut ini adalah potret Ria dangan Boneka Susan saat tampil menghibur anak-anak di tahun 1997.

Sumber: Republika, 8 Juni 1997 Halaman 16 Kolom 1. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)

Ida Laura Reyer Pfeiffer

Ida Laura Reyer Pfeiffer (1797-1858), pelancong perempuan pertama di Hindia Belanda.

Ida mengenakan syal dan kain renda. Ida sangat ingin mengatasi keterbatasannya sebagai seorang wanita dari abad ke-19, tetapi dia tidak sepenuhnya menentang kodratnya. Globe di latar belakang menambah sentuhan ilmiah.

Sekitar 2.500 spesimen telah menjadi koleksi Ida dalam perjalanan keliling dunia ini. Sebagian koleksinya seperti udang, siput, kumbang yang menghuni Kalimantan. Dunia ilmu pengetahuan mengabadikan nama perempuan itu dalam spesimen temuannya dengan imbuhan “ideae” atau “pfeifferi”.

( 📷 Mary Somers Heidhues/Archipel/Wikimedia via NationalGeographic.id)

Kepanduan Indonesia

Bicara tentang kepanduan Indonesia, tentu tidak akan lepas dari jasa Sri Sultan HB IX yang sejak muda aktif di kepanduan, dan menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sejak didirikan pada 1961 s/d periode 1974.

Adalah Sultan HB IX yang mencetuskan nama Pramuka, terinspirasi dari kata Poromuko atau “pasukan terdepan dalam perang”. Istilah yang kemudian diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana yang berarti “Jiwa Muda yang Suka Berkarya”.

Gerakan Kepanduan di Indonesia sebetulnya sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Tahun 1916, Mangkunegara VII di Surakarta memprakarsai berdirinya Javaansche Padvinders Organisatie. Setelah itu, bermunculan gerakan-gerakan sejenis yang dikelola oleh organisasi-organisasi pergerakan, sebut saja Hizbul Wathan (Muhammadiyah), Nationale Padvinderij (Boedi Oetomo, Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (Sarekat Islam), Nationale Islamietische Padvinderij (Jong Islamieten Bond), dan lain-lain. Menurut Panduan Museum Sumpah Pemuda (2009), gerakan Kepanduan di Tanah Air yang berlingkup nasional dimulai pada 1923 dengan berdirinya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Batavia, lalu dilebur menjadi Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) pada 1926.

sb artikel. tirto

Sejarah BRIMOB POLRI

Brigade Mobil atau yang sering disebut BRIMOB adalah sebuah kesatuan paling unik di dunia. Unik karena kesatuan ini berdasarkan fakta sejarah adalah sebuah kesatuan militer, namun secara struktur organisasi adalah bagian dr Kepolisian Republik Indonesia (POLRI).

Kesatuan ini secara resmi dibentuk pd tanggal 14 November 1946 dalam satu upacara resmi yg dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir saat itu.

Dari tahun kelahirannya, maka pantaslah Brimob didaulat sebagai satuan militer paling tua di Indonesia.
Embrio Brimob sendiri sudah eksis sejak tahun 1912 ketika saat itu kita masih dibawah pemerintahan kolonial Belanda. Saat itu Belanda membentuk Gewapende Politie dan kemudian digantikan oelh satuan lain bernama Veld Politie dimana keduanya memiliki tugas yg sama. Tugas-tugas ini antara lain bertindak sebagai unit reaksi cepat, menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, mepeetahankan hukum sipil, serta menghindarkan munculnya suasana yg memerlukan bantuan militer.

Dimasa pemerintahan Jepang, satuan khusus ini berganti nama lagi menjadi Tokubetsu Keisatsu Tai, dan organisasinya jd lebih luas karena dibentuk disetiap daerah di Pulau Jawa dan dipersenjatai dengan persenjataan lengkap seperti senapan mesin dan kendaraan lapis baja.

Pada saat proklamasi 17 Agustus 1945, satuan polisi ini menyatakan diri setia kepada Republik Indonesia dan menjadi satu-satunya kesatuan bersenjata yg telah terorganisir secara resmi.

Peran pertama dr kesatuan polisi istimewa ini adalah dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya melawan pasukan sekutu. Dalam perkembangannya, satuan ini ikut terlibat lagi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan seperti pada agrwsi militer Belanda I dan II.

Pada masa-masa pasca kemerdekaan inilah satuan Brigade Mobil ini (dahulu disebutnya terbalik yakni Mobile Brigade) makin menguatkan diri sebagai sebuah satuan tempur dengan kemampuan tempur yg tidak kalah dr TNI. Hal ini terbukti ketika tahun 1959 dibentuknya unit elit Brimob Rangers, unit khusus yg memiliki kwalifikasi Rangers a la US Army. Unit ini dibentuk sebagai upaya pemerintah saat itu untuk menangkal berbagai pemberontakan diberbagai wilayah di Indonesia.

Unit Rangers ini dididik langsung di Fort Buckner AS oleh US Army First Special Group Airborne, bagian dr US Army Scout Ranger, yg dikomandani Kapten Wilson. Sedangkan untuk instruktur Brimob Ranger, pendidikan dilaksanakan di pangkalan US Navy di Okinawa dan di Subic serta Clark di Philipina.

Unit ini dididik untuk melakukan pertempuran hutan (gerilya) dengan kwalifikasi penembak tepat (Marksman, bukan Sniper ya). Uji coba twrhadap pasukan ini dilakukan di Jawa Barat yakni akhir 1949, pada saat operasi pagar betis untuk memberantas pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo, kemudian mengejar sisa-sisa pemberontakan PRRI di Sumatera.

Penggantian nama Mobile Brigade menjasi Brigade Mobil pertama kali dilakukan oleh Sorkarno pada saat hari jadi Brimob ke-16 tahun 1961. Penggantian nama ini tak lain karena agar tak dibilang kebarat-baratan.

Pada saat operasi Trikora, sebanyak 50 orang dr anggota Brimob ini memperoleh medali bergengsi dr pemerintah yakni medali Bintang Sakti. Mereka memperoleh medali penghargaan ini karena pernah terlibat langsung perang melawan pasukan marinir dan angkatan darat Belanda dikawasan Tanjung Fatagar, Rumbati, Kokas, dan Fak-Fak di Irian Barat.

Raden Mas Tumenggung Tjondronegoro

Raden Mas Tumenggung Tjondronegoro (Poerwolelono) sekitar tahun 1867 karya Woodbury & Page (sumber: KITLV Leiden, Arsip Achmad Sunjayadi via kompas.id)

Salah seorang dari segelintir orang di Hindia-Belanda yang memiliki kemampuan membaca dan menulis adalah Raden Mas Toemenggoeng Tjondronegoro (sekitar 1836-1885). Ia dikenal dengan nama samaran RM Ario Poerwolelono yang berminat pada bahasa dan susastra. Pada 1858-1880, ia menjabat sebagai bupati di Kudus dan bupati di Brebes pada 1880-1885. Salah satu karyanya adalah Tjarijos Bab Lampah-Lampahipoen Raden Mas Arjo Poerwolelono (Kisah Perjalanan Raden Mas Arjo Poerwolelono). Semacam catatan perjalanan di Jawa yang diterbitkan pada 1865-1866 dan ditulis dalam bahasa Jawa kromo, bentuk formal atau bentuk tinggi dalam bahasa Jawa.

Poerwolelono merupakan orang Jawa pertama yang menjadi anggota Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen pada 1870. Sejak 1879 ia tercatat sebagai anggota ”seberang lautan” KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië) Leiden. Pada 1881, ia menjadi anggota kehormatan Aardrijkskunding Genootschap di Amsterdam.

Sebuah foto studio karya Woodbury & Page menampilkan sosok Raden Mas Toemenggoeng Tjondronegoro yang ketika itu diperkirakan berusia 30 tahun. Tjondronegoro berdiri menatap kamera. Ia mengenakan surjan warna gelap bermotif, kain batik, dan blangkon. Sebilah keris terlihat di bagian belakang. Di tangan kanannya memegang sebuah buku dan tangan kirinya menyentuh meja.

Muba Dapat Kucuran Perbaikan Jalan dari Inpres Jokowi

Jalan Simpang Gardu-Tanjung Agung Dapat Rp60 Miliar, Usulan Lanjutan Rp160 Miliar

Lais, Muba – Kerusakan infrastruktur jalan di Muba yang menjadi konsen Pj Bupati Apriyadi Mahmud bertahap dituntaskan.

Bahkan dengan upaya yang tidak hanya mengandalkan anggaran melalui APBD, kegetolan untuk menyelesaikan kerusakan infrastruktur jalan di Bumi Serasan Sekate tersebut direspon Presiden RI Joko Widodo dan Kementerian PUPR.

Alhasil, usulan Pj Bupati Apriyadi Mahmud mendapatkan bantuan perbaikan jalan sebesar Rp60 Miliar melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2023 Tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah.

“Tahun ini kita dapat Rp60 Miliar untuk peningkatan atau perbaikan jalan Simpang Gardu-Tanjung Agung, untuk proses lelang pekan depan sudah dimulai,” ungkap Kadis PUPR Muba, Alva Elan SST MPSDA, Kamis (1/6/2023).

Ia merinci, adapun penanganan efektif yang akan dilakukan yakni panjang 7.500 meter dan lebar 7 meter dengan bangunan pendukung saluran drainase dengan batu kali untuk titik tertentu.

Ia menjelaskan, untuk proses pengerjaan dilakukan oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V.

“Usulan berikutnya sudah diusulkan pak Bupati Apriyadi untuk perbaikan di empat ruas jalan di Muba dengan estimasi anggaran Rp160 Miliar,” bebernya.

Sementara itu, Pj Bupati Apriyadi Mahmud mengaku bertahap terus dimaksimalkan untuk melakukan perbaikan infrastruktur jalan di Muba.

“Tentu kita berupaya terus dengan tidak hanya mengandalkan dana APBD, bantuan Pemerintah Pusat tentu sangat membantu mengurangi kerusakan jalan Kabupaten,” ujarnya.

Kandidat Doktor Universitas Sriwijaya ini menambahkan, usulan berikutnya Pemkab Muba telah mengusulkan untuk perbaikan di empat ruas jalan dengan total anggaran yang dibutuhkan Rp160 Miliar.

“Kita sudah melakukan inventarisir jalan-jalan rusak yang harus segera diperbaiki, mohon support masyarakat Muba, silahkan laporkan apabila ada kerusakan jalan agar kita lakukan pendataan untuk diperbaiki,” tandasnya.

#bppjnsumsel
#puprmuba
#tanjungagungutara
#tanjungagungselatan
#tanjungagungbarat
#tanjungagungtimur
#kecamatanlais

Sumber : https://www.facebook.com/100069180250478/posts/pfbid029aW8yfYrFP22oke155FBKJ4TybyDMM3n6cjvFauBkRnoMh8s3jR4qhn8PVeaRDcSl/?mibextid=Nif5oz

Kisah Tragis Operasi Barbarossa yang Mengerikan, Benarkah Rusia Tanah Terkutuk Bagi Jerman?

Bumi Rusia sepertinya selalu memberikan tuah buruk bagi Jerman.

Timnas sepak bola Jerman selaku juara bertahan tersingkir di babak awal Piala Dunia 2018 Rusia.

Momen pahit di ranah Rusia ini seakan mengulang mimpi buruk mereka di Perang Dunia ke-II saat Jerman melancarkan Unternehmen Barbarossa ke Uni Soviet (sekarang Rusia, Red).

Operasi yang menjadi titik tolak kekalahan Jerman di Perang Dunia ke-II melawan Soviet dan Sekutu.

Unternehmen Barbarossa atau Operasi Barbarossa adalah invasi Jerman ke Soviet yang dilaksanakan semasa Perang Dunia II dan dipersiapkan selama satu tahun sejak Musim Semi 1940 hingga Musim Panas 1941.

Nama sandi operasi ini aslinya adalah Operasi Fritz, namun di tengah persiapan, Kanselir Jeman yang juga Pemimpin Nazi, Adolf Hitler, mengubahnya menjadi Operasi Barbarossa.

Nama tersebut dipilih untuk mengenang Kaisar Jerman Friedrich Barbarossa I yang gugur dalam Perang Salib pada abad ke-12.

Langkah Jerman menginvasi Uni Soviet, merupakan ambisi pribadi Hitler yang telah dituangkan dalam bukunya Mein Kampf (Perjuanganku) tahun 1925.

Hitler mengatakan secara gamblang bahwa rakyat Jerman butuh tanah dan ruang untuk hidup, Lebensraum.

Dan hal itu, kata Hitler, dapat diraih dengan menguasai Uni Soviet yang memiliki daratan yang sangat luas serta kekayaan alam termasuk minyak bumi.

Hal ini tidak saja akan menghidupi rakyat Jerman, tapi juga dapat menggerakkan seluruh mesin perang Jerman dan tentaranya.

Hitler mengadopsi teori Lebensraum yang telah dipraktikkan Friedrich Ratzel tahun 1901 dan dijadikan slogan Jerman guna menyatukan wilayah-wilayahnya.

Konsep ini berkembang lebih lanjut melalui Jenderal Karl Haushofer dan Jenderal Friedrich von Bernhardi yang tahun 1912 menyatakan bahwa wilayah Eropa Timur merupakan sumber lahan baru bagi Jerman.

Sebenarnya, upaya Hitler untuk menginvasi Fron Timur ke Uni Soviet mendapat tentangan dari para jenderalnya, khususnya di kalangan Angkatan Darat (Wehrmacht).

Tidak lain karena Jerman masih menghadapi peperangan di Fron Barat, jarak jelajah yang terlampau jauh, serta waktu pelaksanaan yang kurang tepat. Namun, atas kekerasan hati Hitler, toh invasi itu dilaksanakan juga.

Hitler mengerahkan kekuatan sebanyak 150 divisi, 19 di antaranya divisi panser. Jumlah tentara yang dikerahkan mencapai tiga juta orang dan didukung 3.350 tank , 7.184 unit senjata artileri, 2.770 unit pesawat, 600.000 unit kendaraan, serta 625.000 kuda.

Pengerahan kekuatan ini menjadikan Operasi Barbarossa (22 Juni 1941 – 5 Desember 1941) sebagai yang terbesar dalam sejarah.

Mulai dari molornya waktu operasi dari jadwal yang ditentukan, terpecahnya konsentrasi peperangan, hingga pengalihan pasukan tengah yang telah bersiap merebut Kota Moskow untuk bergerak ke selatan.

Hitler membagi grup pasukan daratnya dalam tiga jalur penyerangan. Grup pertama ke utara dipimpin Jenderal Wilhelm von Leeb menuju Leningrad. Grup kedua melalui jalur tengah menuju Smolenks dan Moskow dipimpin Jenderal Fedor von Bock.

Dan Grup ketiga di selatan menuju Kiev, Ukraina dipimpin Jenderal von Rundstedt.

Uni Soviet yang dipimpin Diktator Joseph Stalin, sebenarnya pada kondisi lengah menerima gempuran tak terduga Operasi Barbarossa.

Dari sisi jumlah personel dan alutsista, Uni Soviet memang jauh lebih besar ketimbang Jerman, walaupun sejumlah alutsistanya sudah terbilang tua.

Beberapa kota di Uni Soviet pun berhasil digulung Jerman. Namun, dengan adanya blunder yang dilakukan oleh Hitler sendiri, Tentara Merah berbalik menguasai medan dan berada pada posisi di atas angin.

Datangnya musim dingin yang hebat juga menguntungkan Tentara Uni Soviet yang lebih menguasai medan.

Impian Hitler menguasai Uni Soviet pun terkubur bersamaan dengan membekunya pasukan baja berikut alat-alat tempur yang dibanggakan Sang Fuhrer. (Ditulis oleh Roni Sontani)

Sumber : https://intisari.grid.id/read/03889308/kisah-tragis-operasi-barbarossa-yang-mengerikan-benarkah-rusia-tanah-terkutuk-bagi-jerman?page=all

The Emperor’s Dwarf/Abdi Dalem Palawija

Walter Bentley Woodbury (1834 – 1885) tiba di Pulau Jawa sekitar tahun 1857. Bersama dengan sesama fotografer asal Inggris lainnya, James Page (1833 – 1865), ia mendirikan studio foto di Batavia. The Emperor’s Dwarf atau Abdi Dalem Palawija, adalah salah satu hasil jepretan mereka, sebelum Woodbury kembali ke Inggris tahun 1863 karena sakit.

Abdi Dalem Palawija sendiri merupakan abdi ndalem yang terdiri atas orang yang bertubuh cebol (dwarf), albino, pincang atau bungkuk. Fungsi mereka adalah sebagai pemberi petuah, mengiringi raja dan menjadi perangkat upacara tradisional Jawa. Selain itu yang paling utama adalah menjadi perlambang jiwa sosial seorang raja serta dipercaya dapat meningkatkan kekuatan magis beliau.

📖
– National Heritage Board of Singapore
roots.gov.sg
– Palawija, Pengiring Kesayangan Raja Jawa
historia.id

🎞
Java, a foto album by Woodbury and Page

Galaknya Daendels dalam Memberantas Korupsi pada Zaman Kolonial

Di mata orang-orang bumiputra, boleh jadi Marsekal Herman Willem Daendels adalah biangnya penjajah. Ia dikenal sebagai pelopor kerja rodi di Nusantara. Tapi di sisi lain, ia juga yang memodernisasi Hindia Belanda. Daendels membenahi carut marut pengelolaan negara bekas kongsi dagang VOC, utamanya soal korupsi yang ia perangi hingga menerapkan hukuman mati.

Mas Galak, panggilan Daendels bagi orang-orang melayu, memperoleh kekuasaan di Hindia Belanda berkat Napoleon Bonaparte, kaisar dari Prancis. Daendels, kata Napoleon dianggap sebagai kekuatan besar yang mampu mereformasi Nusantara.

Kiprah Mas Galak sebagai jenderal dalam memimpin legiun Batavia saat Revolusi Prancis jadi bukti. Lantaran itu, Napoleon memerintahkan adiknya, Louis (Lodewijk) Napoleon yang menjadi Raja Belanda untuk segera mengirim Daendels ke Jawa.

“Tinggal satu pilihan saja bagi saya dan itu telah saya laksanakan, yakni memilih prinsip-prinsip yang teguh, lalu menerapkannya sesuai keadaan. Saya melakukan itu sejak semula agar langsung dapat mencegah dan memperbaiki semua tindakan salah, tanpa mengacaukan seluruh keadaan,” ungkap Daendels saat diutus ke Hindia-Belanda.

Raja Louis kemudian mengangkatnya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru pada 1808. Kepergian Daendels ke tanah harapan disusupi dua titah utama dari Raja Louis. Pertama, menyelamatkan Jawa dari serangan Inggris. Kedua, membenahi sistem administrasi di Jawa.

Sejarawan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang (2018) mengungkapkan Daendels sejak awal sudah membuat gebarakan di Nusantara. Jejak VOC kemudian digantikan dengan negara modern bernama Hindia Belanda oleh Daendels.

“Daendels hendak menerapkan negara modern yang diciptakan napoleon di koloni Belanda. Negara modern ini mengenal batas-batas daerah, wilayah, hierarki kepegawaian, serta tindakan antikorupsi dan penyelewengan lain yang menjadi kezaliman pada zaman VOC. Korupsi di antara pejabat Belanda di koloni menjadi sasaran Daendels, yang lalu terkenal sebagai: Tuan Besar Guntur,” tulis Ong Hok Ham.

Dalam konsepsi Daendels, para bupati dinyatakan sebagai pegawai kolonial. Artinya, bagian dari aparat kekuasaan atau birokrasi Hindia Belanda. Namun Daendels mengerti keistimewaan bupati sebagai aparat tidak bisa disamakan dengan para pejabat Belanda.

Oleh karena itu, para bupati dan pangreh praja (pegawai bumiputra) dinyatakan sebagai Volkshoofden, para pemimpin rakyat. Mereka ditempatkan di bawah pejabat Belanda yang disebut “saudara tua.”

Gebrakan itu membuat Daendels menaikkan seluruh gaji semua pegawai pemerintah, termasuk para bupati dan stafnya. Langkah itu sebagai bentuk memutus mata rantai pungutan liar (pungli). Suatu praktek yang telah hadir dari zaman kerajaan nusantara sedari abad 13. Lebih lengkapnya terkait pungli kami telah mengulasnya dalam tulisan “Akar Sejarah Korupsi di Indonesia dan Betapa Kunonya Mereka yang Hari Ini Masih Korup.”

Tak hanya itu, gebrakan lain Daendels adalah menghapus posisi gubernur dan direktur Pantai Timur Laut Jawa, yang dilakukannya pada 13 Mei 1808 di Semarang. Sejarawan Peter Carey dalam buku Korupsi Dalam Silang Sejarah Indonesia (2016), menyebut langkah ini sebagai jalan mulus komunikasi langsung antara gubernur jenderal dan para residen di keraton Jawa Tengah-Selatan. Disinyalir, inilah langkah pertama dalam rencana Daendels untuk memusatkan pemerintahan kolonial di Batavia.

Hukuman mati
Dalam pemerintahannya, sang marsekal juga melarang penyogokan pejabat, memainkan timbangan harga komoditas, dan menerima hadiah. Bila nekat korupsi, mereka akan dianggap melakukan tindak pidana dan mendapat hukuman berat. Sebagai gambaran, pegawai yang melakukan korupsi aset-aset negara sebanyak 3.000 ringgit akan divonis dengan hukuman mati.

“Selama masa jabatannya yang tiga tahun lebih sedikit itu, Daendels berhasil mengurangi korupsi. la menimbulkan rasa takut di kalbu para pejabat dan pegawai karena sifat tabiatnya, yaitu pada zamannya ia betul-betul bersedia mengeksekusi (menghukum mati) pejabat yang korup. la mengembangkan sistem kontrol yang bagus sehingga tidak ada kesempatan bagi pejabat membelokkan duit ke dalam kantong mereka,” ungkap Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia (2009).

Sebagai bukti, Daendels tak segan-segan menghukum mati perwira andalannya untuk mempertahankan Maluku dari serangan Inggris, Kolonel JPF Filz. Sekalipun yang dilakukan Filz bukan korupsi secara langsung. Akan tetapi, tindakan Filz dianggap tak bertanggung jawab karena gagal menyematkan komoditas rempah-rempah milik negara pada 1810.

Pada saat itu, Filz memimpin pasukan gabungan Belanda, Jawa dan Madura mencapai 1.500 orang. Singkat cerita, pasukan Filz keok oleh 600 tentara Inggris dan India yang menyerang benteng Victoria.

Filz lantas mengambil langkah seribu ke Laetitia di Bukit Batu Gantung, ia membangun pertahanan di sana. Namun, upayanya itu kembali gagal.

“Akan tetapi pertahanan ini tidak berlangsung lama dan segera dipatahkan. Akhirnya Kolonel Filz menyerahkan seluruh Pulau Ambon kepada Court,” tulis Djoko Marihandono dalam Sejarah Benteng Inggris di Indonesia (2009).

Berita jatuhnya Ambon telah sampai ke telinga Daendels. Daendels terpukul. Sebab, yang diutus bukan perwira biasa, melainkan Filz perwira andalan. Setelah dirinya dilepaskan Inggris dan kembali ke Batavia, Filz diseret ke Mahkamah Militer. Tak lama kemudian ia dijatuhi hukuman mati.

Dalam laporan Inggris, Filz dihukum mati karena tidak mampu mempertahankan Maluku. Akan tetapi, sumber Belanda menyebutkan pemerintah Daendels mengambil keputusan itu setelah Filz diyakini mengorbankan seluruh kekayaan negara agar bisa selamat. Sesuai aturannya, mereka yang menghilangkan aset-aset negara seharga 3.000 ringgit ke atas akan divonis dengan hukuman mati.

Sumber : https://voi.id/memori/22404/galaknya-daendels-dalam-memberantas-korupsi-pada-zaman-kolonial

Pattimura Dihukum Mati Karena Dikhianati

Kapitan Pattimura dikirim ke tiang gantungan.Dikhianati seorang raja yang dendam.

Oleh M. Fazil Pamungkas

Selama berkuasa di Maluku,Belanda sempat dibuat repot selama berbulan-bulan oleh kecerdikan Kapitan Pattimura yang pandai meramu strategi perang.

Kompeni itu bahkan hampir menyerah jika bala bantuan dari Batavia tidak datang dengan cepat. Namun begitulah takdir,perjuangan Pattimura harus berakhir oleh pengkhianatan rakyatnya sendiri,raja negeri Booi di Saparua,Maluku,yang selama ini mati-matian dibelanya.

Malam 11 November 1817,Pattimura dan pasukannya sedang berdiam di sebuah rumah di hutan Booi.Tidak ada perbincangan apapun,mereka hanya diam termenung.

Tiba-tiba terdengar keramaian di luar dan pintu terbuka oleh tendangan seseorang.Beberapa tentara merangsek masuk,mengarahkan senjata ke semua orang.

Seorang opsir berteriak memberi perintah untuk menyerah,sambil mengarahkan senjatanya ke dada Pattimura.Kemudian masuk dan berteriak raja Booi:

“Thomas,menyerahlah engkau..Tidak ada gunanya melawan..Rumah ini sudah dikepung empat puluh serdadu yang siap menembak mati kalian.”

“Terkutuklah engkau,pengkhianat!” geram Pattimura,seraya digiring keluar menuju kota Booi,sebelum diberangkatkan ke Ambon.

Tidak disebutkan apakah raja Booi mendapat imbalan atas pengkhianatannya itu.

Namun I.O.Nanulaitta dalam ‘Kapitan Pattimura’ menyebut alasan raja Booi menjual informasi kepada Belanda karena dendam,setelah Pattimura menurunkan posisinya sebagai pemimpin rakyat.

Kabar penangkapan Pattimura tersiar ke seluruh pelosok negeri dengan sangat cepat,para pemimpin perang lain pun segera menjadi target perburuan.

Sebagian memilih meletakkan senjata,namun sebagian lain memutuskan tetap berperang.Mereka tidak ingin nasibnya berakhir di tiang gantung,dan terus melanjutkan perjuangan Pattimura.

Setiba di Ambon,Pattimura dan sejumlah pejuang yang tertangkap dikurung di benteng Victoria.

Selama di dalam penjara,mereka diinterogasi oleh tentara.Namun Pattimura menutup rapat-rapat mulutnya sehingga tidak banyak informasi yang didapat Belanda.

Memasuki bulan Desember,para tahanan dihadapkan di depan Ambonsche Raad van Justitie (Dewan Pengadilan Ambon).

Setelah melalui beberapa sidang,vonis pun dijatuhkan.

Kapitan Pattimura,Anthone Rhebok,Said Perintah dan Philip Latumahina mendapat hukuman paling berat sebagai pemimpin perang,yakni hukum gantung.Sementara tahanan lainnya diasingkan ke Jawa.

Pattimura dan tiga orang lainnya mengisi hari-hari terakhir menjelang ekseskusi dengan renungan.

“Suatu malam penuh ketegangan dan perjuangan batin..Pikiran keempat pemimpin itu melayang-layang ke sanak saudara..Kebebasan yang mereka ingini menyebabkan korban besar yang harus mereka berikan..Tetapi sekarang kembali mereka akan ditindas oleh kaum penjajah,” tulis Nanulaitta.

Tanggal 16 Desember 1817,tibalah hari eksekusi.

Pagi-pagi sekali,empat orang pemimpin itu telah diperintahkan untuk bersiap.Tidak terlihat kecemasan di wajah Pattimura dan kawan-kawan seperjuangnya itu,karena sehari sebelumnya para pemuka agama datang mengunjungi mereka dan semalaman menemani di dalam sel sambil terus memanjatkan doa.

Di lapangan depan benteng Victoria,tiang gantung telah disiapkan.Para algojo pun telah berdiri di sampingnya,menunggu korbannya tiba.

Sejumlah besar tentara dipersiapkan,baik di sekitar lapangan eksekusi maupun pantai untuk menghalau segala bentrokan yang mungkin terjadi.

Rakyat Maluku pun telah berkumpul,berusaha melihat para pemimpin mereka untuk terakhir kalinya.

Sekitar pukul tujuh,Pattimura dan para terhukum lainnya tiba dengan tangan terikat,dan penjagaan yang amat ketat.Setelah mereka ditempatkan di depan tiang gantungan,seorang petugas pengadilan membacakan putusan dewan hakim di depan seluruh orang yang hadir:

“… mereka akan dihukum gantung sampai mati,dilaksanakan oleh para algojo..Kemudian mayat mereka akan dibawa keluar dan digantung agar daging mereka menjadi mangsa udara dan burung-burung,dan digantung agar tulang belulang mereka menjadi debu sehingga dengan demikian menjadi suatu pelajaran yang menakutkan bagi turun-temurun..Bahwa Thomas Mattulesi untuk selama-lamanya akan digantung di dalam sebuah kurungan besi dan sekalipun telah menjadi debu,akan menimbulkan ketakutan karena perbuatannya,” tulis Nanulaitta.

Philip Latumahina menjadi yang pertama menaiki tiang gantung.

Tali dipasangkan dan genderang dibunyikan,namun sesaat kemudian ia terjatuh.Tali maut itu ternyata tidak mampu menahan beban Latumahina yang memang berbadan besar.

Dengan susah payah,algojo menyeretnya kembali ke depan tiang gantungan.Malang nasibnya,ia harus merasakan tali gantungan untuk kedua kalinya.Beberapa detik kemudian nyawanya pun melayang.

Setelah Latumahina,berturut-turut Anthone Rhebok dan Said Perintah menaiki tiang gantung,tidak perlu usaha dan waktu terlalu lama bagi algojo mengeksekusi keduanya. Setelah genderang dibunyikan,nyawa keduanya dengan cepat terlepas.

Tiga orang pejuang telah berpulang,kini tibalah giliran sang panglima tertinggi Maluku berhadapan dengan tiang gantungan.

Dari atas tempat eksekusi ia bisa melihat puluhan musuh yang sangat ingin ia hancurkan sedang menontonya,sementara di kejauhan ia menatap rakyat Maluku yang hendak ia bebaskan,meski gagal.

Saat algojo memasangkan tali di lehernya,sambil mengarahkan pandangannya ke arah hakim-hakim Belanda,Pattimura mengucapkan kata-kata perpisahannya: “Selamat tinggal tuan-tuan.”

📸 Lapangan Benteng Victoria yang menjadi tempat eksekusi Pattimura. (Wikimedia Commons).

https://historia.id/militer/articles/pattimura-dihukum-mati-karena-dikhianati-P3N24/page/1

Swapraja atau zelfbestuur/zelfbesturen

Wilayah/daerah swapraja adalah wilayah yang mempunyai hak pemerintahan sendiri. Istilah ini dipakai sebagai padanan untuk istilah pada masa kolonial Belanda, zelfbestuur (jamak zelfbesturen).

Sistem administrasi kawasan Indonesia pada masa Hindia-Belanda dikenal melilit-lilit dan mengakui bentuk-bentuk pemerintahan kawasan yang berbeda-beda. Kawasan swapraja adalah aib satu wujud yang diakui oleh pemerintah kolonial dan mencakup berbagai wujud administrasi, seperti kesultanan, kerajaan, dan keadipatian. Status swapraja berfaedah kawasan tersebut dipimpin oleh pribumi berhak mengatur urusan administrasi, hukum, dan norma budaya internalnya. Contoh kawasan swapraja adalah Kesunanan Surakarta.

Pemerintahan pendudukan Jepang (1942-1945) menggantikan status kawasan swapraja menjadi kochi.

Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, daerah-daerah di Indonesia memperoleh status kawasan swapraja oleh pemerintahan antara Hindia-Belanda melewati berbagai Lembaran Negara (Staatsblad). Pada masa Republik Indonesia Serikat, daerah-daerah swapraja menjadi ronde dari “negara” /negara ronde.

Reorganisasi pemerintahan kawasan semenjak berjalannya UU no. 1 tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Kawasan secara efektif menghapus status swapraja dan membentuk “daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri “, yang juga disebut Kawasan Swatantra dan Kawasan Istimewa (Pasal 1).

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Swapraja

Balada Meriam Hasan

Karena ingin balas dendam kepada tentara Belanda, seorang prajurit TNI nekat menembakan meriamnya secara membabi buta.

Oleh Martin Sitompul

MEMASUKI tahun 1947, serbuan tentara Belanda makin menggila di Medan Area. Hampir setiap hari pesawat pemburu mereka mondar-mandir keliling kota Medan. Tembakan dari udara menghujani kubu-kubu pasukan Republik, khususnya yang berada di front barat. Di sini, banyak orang-orang Aceh yang tergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA)

“Pada tanggal 5 Januari 1947, mereka membom serta menghujani Sungai Semayam dengan tembakan dan serangan-serangan dari udara. Serangan udara Belanda datang secara bertubi-tubi tanpa mengenal ampun,” ujar Nukum Sanany kepada penulis B. Wiwoho dalam Pasukan Meriam Nukum Sanany.

Serangan udara Belanda mengakibatkan korban berjatuhan. Dua orang luka-luka berlumuran darah dan seorang lainnya tewas. Prajurit yang gugur itu bernama Kopral Suparman yang berasal dari Batalion IX.

Kapten Nukum Sanany, komandan pasukan meriam RIMA memutuskan memindahkan basis pertahanan dari Sungai Semayam ke Kampung Lalang. Untuk menghindari serangan udara musuh, kubu pertahanan diperkuat dengan membuat parit-parit dan benteng. Pada saat-saat demikian, terjadilah suatu lelucon di tengah perang.

Seorang prajurit bernama Hasan Cumbok bikin ulah. Pangkatnya sersan satu dan bertugas sebagai komandan meriam ukuran pucuk 13 ponder. Sebagaimana dicatat Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area, sebelum bergabung dengan pasukan meriam, Hasan pernah menjadi pasukan Heiho di zaman Jepang. Prajurit Aceh asal Pidie ini berpendidikan rendah namun wataknya keras nan berani.

Sekali waktu Hasan Cumbok nekat membawa meriam ukuran 18 ponder kaliber 7,5 ke Sungai Sikambing. Tanpa instruksi komandannya, Hasan langsung melepaskan sebanyak dua kali dengan jarak maksimal. Hasan menargetkan markas tentara Belanda akan hancur lebur kena hantam meriamnya.

Menurut Nukum Sanany, Hasan belum begitu lama mengikuti latihan menembak meriam sehingga kurang menguasai sepenuhnya teknik pengoperasiannya. Dalam aksi solonya itu, Hasan mengabaikan berbagai hal, mulai dari cara bidik, mengukur jarak tembak, elevasi, dan koordinat tembakan. Tidak ayal, tembakannya melampaui sasaran.

Alih-alih mengenai tentara Belanda, tembakan Hasan malah nyasar ke kawan sendiri. Peluru-peluru meriam jatuh di kota Matsum dan Tembung. Dua kawasan ini merupakan kubu pertahanan Republik yang berada di front Medan Timur.

“Sebagai Komandan, bukan alang kepalang marah saya menyaksikan kelancangannya. Namun demikian saya berusaha menahan sabar seraya memaklumi kegelisahan anak-anak anggota pasukan yang belum terlatih betul,” kenang Nukum Sanany.
Laporan dari komandan seksi Hasan menyebutkan bahwa Hasan ingin membalas dendam karena menyaksikan rekan-rekannya diterjang peluru pesawat pemburu Belanda. Dia tidak peduli perintah komandan, tidak peduli koordinasi, tak peduli strategi dan taktik. Emosinya yang meluap menyingkirkan akal sehat.

“Yang penting hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibayar darah. Kalau lawan bertolak pinggang kita pun harus melakukan hal yang sama,” kata Amran Zamzami sang komandan seksi.

Pada 8 Januari 1947, persiapan parit-parit dan kubu pertahanan pasukan meriam di Kampung Lalang rampung. Namun kisah Hasan dan meriamnya tetap menjadi pembicaraan yang menggelikan di kalangan pasukan meriam. Di kemudian hari, apa yang dilakukan Hasan Cumbok ini menjadi bahan tertawaan dan ejekan terhadap Pasukan Artileri RIMA.

Keterangan Foto : Pasukan meriam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) bersama meriam 18 ponder ditengahnya. Sumber: Repro “Pasukan Meriam Nukum Sanany”.

Sumber : https://historia.id/militer/articles/balada-meriam-hasan-6m7R0/page/1

Bagaimana sikap Amerika Serikat dalam perang antara kesultanan Aceh dengan kerajaan Belanda?

Penulis : Iskandar Norman.

Secara politik, kesultanan Aceh melakukan diplomasi dengan Konsul Amerika Serikat di Singapura, Mayor Studer, beberapa bulan sebelum perang antara kesultanan Aceh dengan kerajaan Belanda meletus, yakni dalam tahun 1872.

Draf kerja sama pertahanan pun sudah dirancang dan dikirim ke Amerika Serikat. Sampai sekarang dokumen itu masih tersimpan di [US National Archives] bersama dengan 24 rol mikro-film mengenai peristiwa yang pernah terjadi di Singapura dan Malaya.

Draf kerja sama pertahanan Aceh-Amerika itu dinamai Proposal of Atjeh-American Treaty. Tapi kerajaan Belanda yang mengetahui hal itu kemudian mempercepat invansi ke kesultanan Aceh. Lebih jelas tentang itu bisa dibaca dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh. Buku ini ditulis oleh H Muhammad Nur El Ibrahimy, diterbitkan di Jakarta pada tahun 1993 oleh Gramedia Widiasarana Indonesia.

Lalu setelah perang kesultanan Aceh meletus pada 26 Maret 1873, bagaimana Amerika Serikat memposisikan diri, bagaimana mereka menilai perang antara kesultanan Aceh dengan kerajaan Belanda sebagaimana ditanyakan dalam pertanyaan ini.

Jawabannya, agar tidak bias, mari kita buka apa yang ditulis surat kabar The New York Times edisi Jumat, 30 Mei 1873, saya tidak akan mengutip semuanya karena terlalu panjang, tapi intinya saja, seperti kutipan di bawah ini:

“Sekarang kita sudah menerima surat dari Singapura yang menceritakan perkara tersebut (perang Aceh), sehingga kita mendapat posisi yang baik untuk memperhitungkan seberapa besar kemungkinan dan keberhasilan yang akan didapat oleh kerajaan Belanda nantinya, serta apa akibat dari peperangan tersebut terhadap kepentingan bangsa-bangsa lain yang tidak terlibat dalam perang tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui, ketika pasukan knil Belanda mendarat di perairan kesultanan Aceh, sambutan pasukan dan rakyat Aceh tidak seperti yang diharapkan oleh pasukan Belanda. yang membawa 8 kapal perang yang semuanya kapal perang mesin, selain itu Belanda membawa 6 kapal angkutan tentara, 5 kapal layar yang membawa 4.000 pasukan Belanda dan 1.000 kuli Jawa kontrak, semua itu dipimpin oleh Jendral Mayor Kohler.

Armada pasukan perang Belanda kontak senjata dengan barisan merian pasukan kesultanan Aceh. Belanda mengatakan berhasil menghancuran dinding pertahanan Aceh, akan tetapi apa yang hari ini rusak, esok kembali dibangun oleh tentara Aceh….Belanda kalah dan sangat malu, karena Kohler (Panglima Perang Belanda) tewas, banyak serdadu Belanda juga tewas.

Parlemen Belanda di Den Haag sudah mengambil keputusan meambah biaya untuk alat perang melawan kesultanan Aceh, dan pada suatu saat Belanda akan kembali berangan-angan menyerang kesultanan Aceh dengan kekuatan yang lebih besar…Sultan Aceh yang sangat terkenal dengan kekayaannya juga sudah memesan persenjataan modern di Eropa.

Bangsa Aceh bukan hanya lihai dalam menembak, tetapi bangsa yang sangat berani dalam berperang. Begitu juga kerajaan Belanda yang sangat bebal dan keras hati akan berkonfrontasi dalam medan perang dengan kesultanan Aceh yang sangat sepadan.”

Berita perang Aceh di surat kabar New York Times [foto: Repro Aceh di Mata Dunia]

Kempes dan Tragedi Pembantaian di Kuta Reh

Penyumbang bahan Iskandar Norman.

Terbitnya buku De Tocht van der Overste van Daalen door Gayo, Alas en Bataklanden, sempat menggemparkan pemerintah Hidia Belanda. Isinya mengungkap tentang pembantaian rakyat Aceh di Kuta Reh oleh Belanda.

Buku yang ditulis oleh JCJ Kempes itu dengan detil menceritakan tentang pembantaian yang dilakukan oleh Van Daalen selama perang Aceh. Salah satunya adalah pembantaian 4.000 warga Gayo di Kuta Reh, Aceh Tenggara.

Kempes merupakan ajudan Van Daalen yang menyertai perjalanan 163 hari ke dataran tinggi Gayo hingga ke tanah Batak di Sumatera Utara. Saat itu Kempes berpangkat kolonel dan bertugas sebagai staf di bagian umum. Ia memaparkan berbagai kesaksiaannya atas tindakan Van Daalen dalam perjalanan dengan 10 brigade pasukan marsose itu.

Namun, tentang jumlah korban pembantaian di Kuta Reh yang dilakukan pasukan Van Daalen itu punya beberapa versi. H C Zentgraaff dalam buku Atjeh menyebutkan jumlah rakyat Gayo yang dibantai sekitar 2.992 orang, terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan.

Sementara dalam buku The Dutch Colonial War In Aceh korban pembantaian di Kuta Reh berjumlah 516 orang, termasuk di dalamnya 248 perempuan dan anak-anak. Namun, foto-foto dalam buku Kempes jelas memperlihatkan bagaimana ribuan mayat bergelimpanan dalam benteng Kuta Reh tersebut.

Sampai kini, kisah tragis rakyat Gayo di Kuta Reh ini masih menjadi catatan suram. Aktivis GAM di Swedia, Asnawi Ali pada September 2011 silam pernah mengungkapkan kembali batang terendam dari kasus pembantaian ini, tapi kini tenggelam lagi.

Foto-foto sadis dari pembantaian itu diabadikan oleh Kempes. Ia memuat keterangan foto tersebut dengan tulisan “hier werd iets groots verricht” di atas tulisan tersebut tampak ratusan marsose berdiri di salam benteng Kuta Reh dengan ribuan mayat bergelimpangan di depan mereka. Inilah pembantaian sipil terbesar dalam sejarah perang Aceh dengan Belanda.

Kempes juga mendokumentasikan sebuah lubang di tengah benteng Kuta Reh dengan mayat-mayat tergeletak. Ia juga mengabadikan seluruh bangunan di setiap sisi benteng. Mayat-mayat disusun dalam sebuah lubang yang sudah digali untuk dikuburkan secara massal. Satu-satunya yang hidup hanyalah seorang anak kecil yang terlihat duduk di antara gelimpangan mayat tersebut. Tentang anak kecil itu hingga kini masih menjadi misteri.

Foto lainnya juga menunjukkan mayat anak-anak dan perempuan tergeletak di antara lumbung padi (krong) dengan sebuah rumah. Foto-foto Kempes ini cukup berbicara tentang bagaimana sadisnya pembantaian yang dilakukan Belanda di Kuta Reh tersebut.

Adalah Van Huetsz selaku Gubernur Militer Belanda di Aceh yang paling bertanggung jawab atas pembantaian di Kuta Reh itu. Untuk ambisinya menaklukkan seluruh Aceh, Van Huetsz memerintahkan Van Daalen menyerang dataran tinggi Gayo Lues pada 1904.

Terbitnya buku Kempes, menjadikan Van Daalen sebagai aktor yang paling banyak dbicarakan. Ia dianggap sebagai perwira Belanda paling berlumuran darah di Aceh. Tindakan pembersihan etnis yang dilakukannya dinilai sama kejamnya dengan Van Huetsz.

Malah, Wekker dalam bukunya Hoe Beschaafd Nederland in the 20e Eeuw Vrede en Orde Schept op Atjeh semakin menambah kegemparan tentang pembantaian dan pembersihan etnis di Aceh yang dilakukan Van Daalen dan atasannya Van Huetsz.

Dampak dari terbitnya buku Kempees dan Wekker itu, Van Daalen yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh mengantikan Van Huetsz mengundurkan diri dari jabatannya.

Meski ia membela diri hanya sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang diberikan oleh Van Huetsz selaku Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat pembantaian itu terjadi. Meski dermikian Van Daalen tetap dianugerahi bintang jasa oleh Pemerintah Hindia Belanda atas jasa dan keberaniannya dalam perang di Aceh.[]

Foto yang di abadikan oleh Kempes tentang korban pembantaian di Kuta Reh. Repro: The Dutch Colonial War In Aceh
spot_img

Slamet Muljana

Menurut Slamet Muljana, Kelantan muncul dalam catatan sekitar abad ke-7 masihi apabila catatan Cina menyebut mengenai sebuah kerajaan Melayu iaitu Tan Tan.

Walaupun Slamet Muljana berpendapat Tan Tan merujuk kepada Kelantan namun ada beberapa sarjana lain berpendapat sebaliknya. Paul Wheatley misalnya berpendapat bahawa Tan Tan sebenarnya berlokasi di Muara Sungai Besut ataupun di Sungai Terengganu.

Dan tidak kurang pula, ada sarjana yang menyatakan bahawa Tan Tan sebenarnya terletak di kawasan Segenting Kra mengadap Teluk Siam.

Walaupun begitu P. Wheatly berpendapat bahawa Kerajaan Chih Tu yang merupakan bawahan kepada Kerajaan Funan berlokasi di Kelantan dan berpusat di Tanah Merah. Catatan Cina menyatakan bahawa Kerajaan Chih Tu ini terletak di kawasan Laut Selatan (Nanhai) dan untuk sampai ke ibu kota kerajaan iaitu Seng Chih, seseorang itu perlu mudik ke hulu sungai selama sebulan dan tanah di kawasan ini berwarna merah.

Tetapi lokasi Chih Tu itu sendiri masih dalam perdebatan apabila ada sarjana yang beranggapan yang lokasi Chih Tu sebenarnya berada di Pahang atau Patani.

Sekitar abad ke-14 pula, istilah Chi-lan-tan telah digunakan oleh Wang Ta Yuan dalam bukunya yang bertajuk Tao I Chih-lioh. Menurut beliau Chi-lan-tan merupakan sebuah negeri di kawasan Semenanjung Tanah Melayu.

Walaupun sarjana tidak bersepakat mengenai lokasi Chi-lan-tan tetapi sebahagian besar daripada sarjana setuju bahawa Chi-lan-tan merujuk kepada Kelantan. Menurut Ahmad Jelani Halimi, walaupun Wang Ta Yuan tidak menyebut agama yang diamalkan oleh masyarakat Kelantan pada waktu itu tetapi berdasarkan penulisannya itu, berkemungkinan besar penduduk Kelantan pada abad ke-14 sudahpun memeluk agama Islam.

Ini menjadikan Kelantan sebagai antara negeri awal yang menerima Islam sewaktu kebanyakan negeri Melayu lainnya seperti Tambralingga, Pahang, Teng-chia-lu, Langkasuka dan sebagainya masih lagi mengamalkan kepercayaan pagan ataupun Buddha-Hindu.

Sumber : https://www.facebook.com/826558591063535/posts/1950841745301875/?mibextid=Nif5oz

Operating Theater

Operating theater (yang juga dikenal dengan nama operating room (OR), ruang operasi) adalah fasilitas di dalam rumah sakit tempat operasi pembedahan dilakukan di lingkungan aseptik (bebas dari infeksi).

Secara historis, istilah “operating theatre” mengacu pada teater atau amfiteater yang tidak steril, dimana pelajar dan penonton lainnya dapat menyaksikan ahli bedah melakukan operasi.

Ruang operasi saat ini tidak lagi memiliki latar teater, sehingga istilah “operating theater” menjadi tidak relevan.

Caption by Wikipedia

“Mereka Menembak Suami Saya Yang Mengibarkan Kain Putih”

Pangkalan ALRI di Jawa mendengar kabar tentang kekejaman yang terjadi di Sulawesi Selatan oleh kelompok Westerling memutuskan untuk membentuk satuan tugas pada tanggal 13 Maret 1947. Tugas satgas ini adalah melakukan infiltrasi di Sulawesi Selatan.

Pangkalan Probolinggo,16 Maret jam 9 malam, berangkatlah pasukan ALRI dengan tiga kapal kayu yang salah satunya bernama “Dermawan”, membawa berkarung-karung gula yang nantinya akan ditukarkan dengan berbagai keperluan. Ada yang berbeda dalam misi ini yaitu ikut sertanya dua orang wanita bernama Mulyani dan Bertha, keduanya adalah istri dari perwira kapal, Mulyani adalah istri Kapten Harjanto sedangkan Bertha adalah istri dari Letnan Abubakar. Keberangkatan dua orang ini pada mulanya ditentang oleh atasan, namun setelah melakukan pendekatan, akhirnya mereka diizinkan untuk ikut.

Ketika kapal sudah mendekati pantai Sulawesi Selatan, mereka terpergok kapal patroli Belanda hingga terjadi kontak senjata. Tak ada korban jiwa dipihak ALRI sedangkan dipihak Belanda jatuh korban sehingga kapal mereka melarikan diri. Akibat dari pertempuran ini, pos-pos Belanda di kawasan pantai bersiaga dan menembaki perahu ALRI sehingga pendaratan mustahil dilakukan.

Beruntung alam berada dipihak ALRI, angin berhembus dengan kencang kearah barat menuju Pulau Kerayaan dimana kemudian gula-gula ditukar dengan beras. Disana mereka mendapat informasi bahwa Belanda menanyakan kepada penduduk tentang keberadaan kapal “Dermawan” yang memuat tentara dari Jawa. Untuk menghindari bahaya, maka tulisan Dermawan dihapus.

Kapal ALRI menyinggahi pulau-pulau untuk suplai logistik diantaranya Pulau Kambing, Maselambu dan Sapudi. Ketika rombongan baru meninggalkan Sapudi pada 13 April 1947 jam 10.00, sebuah kapal patroli Belanda HRMS RP 107 datang dan menghentikan mereka. Tali dilemparkan keatas kapal ALRI dan empat Belanda Indo naik keatas perahu. Saat itulah anggota ALRI serentak membuka tembakan dan pecahlah pertempuran. Dua anggota ALRI bernama Narung dan Lasiong terjung kelaut lalu menaiki kapal HRMS RP 107 hanya dengan bersenjatakan belati dan mengamuk diatas kapal.

Bantuan Belanda segera datang berupa satu kapal Corvet “Batjan 10”. Pasukan ALRI yang melihat bahwa situasi sangat tidak menguntungkan jika dilanjutkan bertempur, memutuskan untuk menyerah. Keputusan ini tidak bisa diterima dengan mudah oleh para anggota, tetapi Kapten Harjanto selaku komandan meyakinkan bahwa dengan menyerah ada kemungkinan masih hidup dan kembali menyumbangkan bakti pada negara. Usul ini kemudian diterima.

Kapten Harjanto berteriak “Schiet niet meer !!…Schiet niet meer !!” ( jangan menembak lagi…jangan menembak lagi ), ia kemudian keluar didampingi istrinya, Mulyani, dengan membawa saputangan putih ditangan. Dengan pengeras suara, seluruh anggota rombongan diperintahkan keluar sambil tembakan terus diletuskan keudara untuk menakut-nakuti.

Berjalan semakin mendekat ke pasukan Belanda, dalam jarak satu meter , tubuh Kapten Harjanto diberondong dengan sten gun dan mayatnya dilemparkan ke laut. Seluruh anggota ALRI di kapal itu seketika murka dan kembali melakukan perlawanan, sebuah perlawanan yang tentunya mudah untuk dipatahkan karena senjata sudah tidak lagi berada di tangan. Jenazah mereka yang gugur dibuang di laut, Mulyani dan Bertha beserta awak kapal yang masih hidup dijebloskan ke penjara Kalisosok.

25 November 1947, Bertha dan Mulyani dibebaskan setelah 7 bulan dalam tahanan. Tak ada yang tahu nasib anggota ALRI lainnya, konon mereka melalui rangkaian siksaan yang keji dibalik dinding penjara Kalisosok. Kisah perjuangan mereka kian terlupakan, bersamaan dengan semakin hancurnya penjara Kalisosok, beserta kisah-kisah panjang perjuangan yang tesimpan didalamnya.

Artikel DItulis oleh Ady Setyawan, seorang penulis dan pemerhati sejarah.

Literatur :
1. Surat Kabar Algemeen Indisch Dagblad, 15 April 1947 hal utama berjudul : Kelompok Teroris Ditangkap, Dua Pelaut Belanda Terbunuh.
2. Surat Kabar Het Dagblad, 15 April 1947, hal utama berjudul : Teror di Lautan, Dua Pelaut Belanda Terbunuh.
3. Buku Sejarah TNI AL Periode Perang Kemerdekaan hal 446

Repost Deni Joko

Mengenal Sejarah Singkat Pemberontakan DI-TII Pasca Kemerdekaan RI

Oleh : Bagus Putu Ardha Krisna Putra

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) merupakan salah satu gerakan radikal pasca proklamasi kemerdekaan dan agresi Belanda di Indonesia.

Pembangkangan bersenjata ini merupakan yang paling panjang dalam sejarah Indonesia. Durasi konflik antara DI/TII dan Pemerintah RI berlangsung selama 13 tahun (1949-1962).

Bahkan menurut versi orang-orang DI/TII sendiri perlawanan itu masih berlangsung hingga tahun 1964.

Di awal revolusi, para anggota DI/TII sebagian besar berasal dari laskar Hizbullah dan Sabilillah. Kelompok ini sejatinya ikut berjuang bersama melawan militer Belanda bersama TNI.Pada 1946-1947, mereka kerap melakukan patroli dan penghadangan bersama.

Benih – benih permusuhan antara orang-orang DI/TII dengan para prajurit TNI baru muncul pada awal 1949.

Pada saat itu, terjadi pertemuan antara SM Kartosoewirjo dengan Panglima Laskar Sabilillah dan Raden Oni Syahroni.

Pertemuan ini terjadi lantaran ketiga tokoh tersebut menentang adanya Perjanjian Renville. Mereka menganggap perjanjian tersebut tidak melindungi warga Jawa Barat.

Kartosoewirjo juga memerintahkan anak buahnya untuk memerangi para prajurit TNI yang pulang kandang ke Jawa Barat akibat bubarnya kesepakatan Perjanjian Renville.

Eskalasi penentangan itu semakin memuncak saat Kartosoewirjo mendeklarasikan berdirinya negara Islam yaitu Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh dirinya sendiri.

Dicetusnya NII ini menjadi bentuk protes dari Kartosoewirjo kepada Belanda dan tentunya Indonesia yang dia anggap terlalu lemah.

Pengaruh dari Kartosoewirjo pun semakin membesar setelah ia mendirikan angkatan bersenjata untuk NII yang bernama Tentara Islam Indonesia (TII).

Tujuan dari dibentuknya TII sendiri adalah untuk memerangi pasukan TNI agar bisa memisahkan diri dari negara Indonesia.

Kartosoewirjo percaya bahwa semua masalah kenegaraan yang sedang berlangsung saat itu bisa diatasi jika menerapkan syariat islam.

Disamping itu, tujuan lainnya adalah untuk mengatasi dominasi sistem politik komunis dan ideologi sosialisme yang mulai terlihat dalam pemerintahan Soekarno.
Gerakan NII pun semakin berkembang berkat dukungan dari daerah-daerah lain yang juga merasa kecewa terhadap Indonesia.

Hal ini menjadi awal terjadinya pemberontakan DI/TII tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga merambat sampai ke daerah lainnya.

Klimaks Pemberontakan di Jawa Barat
Pemerintah RI mengeluarkan peraturan No. 59 Tahun 1958 yang berisikan tentang penumpasan DI/TII. Salah satu dengan menerjunkan pasukan Kodam Siliwangi dan menerapkan taktik Pagar Betis.

Taktik Pagar Betis ini dilakukan dengan menggunakan tenaga rakyat dengan jumlah ratusan ribu untuk mengepung tempat persembunyian DI/TII. Tujuan lain dibentuknya Pagar Betis yaitu untuk mempersempit ruang gerak DI/TII.

Selain Pagar Betis, operasi lainnya juga dilakukan oleh Kodam Siliwangi, yakni Operasi Brata Yudha. Operasi ini dibentuk untuk menemukan tempat persembunyian sang imam NII, Kartosoewirjo.

Setelah melalui perjalanan panjang untuk mencari Kartosoewirjo, dirinya berhasil dibekuk hidup-hidup oleh Letda Suhanda, pemimpin Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi.

Tertangkapnya Kartosoewirjo ini menjadi awal mula meredupnya pemberontakan DI/TII. Banyak dari mereka yang memutuskan untuk menyerah.

Klimaks Pemberontakan di Aceh
Sejarah mencatat bahwa pemberontakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Daud Beureueh, dimulai pada 20 September 1953.

Daud Beureueh dan kelompoknya menuntut untuk diberikan hak otonom untuk Aceh. Pemerintah pusat tentu tidak tinggal diam menyikapi ini dan memutuskan untuk melakukan tindakan tegas kepada DI/TII Daud Beureueh di Aceh.

Ada dua jalur yang ditempuh pemerintah pusat, yakni upaya militer dan diplomasi. Operasi militer dilakukan dengan menggelar “Operasi 17 Agustus” dan “Operasi Merdeka”.

Sedangkan cara diplomasi diterapkan dengan mengirim utusan ke Aceh untuk berdialog dengan kelompok Daud Beureueh dalam upaya meredam perang saudara.

Persoalan ini akhirnya bisa diselesaikan dengan jalan damai kendati harus melalui proses negosiasi yang alot dan melelahkan.

Aceh pun mendapatkan hak otonomi sebagai provinsi yang disebut Daerah Istimewa Aceh dan boleh menerapkan syariat Islam sebagai aturan daerah yang berbeda dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Pada tanggal 18-22 Desember 1962, sebuah upacara besar bertajuk “Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh (MKRA)” dihelat di Blangpadang, Aceh, sebagai simbol perdamaian.

Keterangan Foto : Bendera Negara Islam Indonesia (NII) bentukan DI/TII /@fadjroeL

Sumber : https://buleleng.pikiran-rakyat.com/sejarah/pr-2012409480/mengenal-sejarah-singkat-pemberontakan-di-tii-pasca-kemerdekaan-ri?page=4

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara Maha guru taman siswa seorang keturunan priyayi yang mebuang kebangsawanan demi pendidikan kaum pribumi.

Ki hadjar Dewantoro atau saat muda di kenal dengan nama Soewardi berasal dari lingkungan keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman
Beliau merupakan putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Paku Alam III.

Beliau menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School,Sekolah ini merupakan sekolah dasar khusus untuk anak-anak yang berasal dari Eropa sempat melanjukan pendidikan kedokteran di STOVIA Namun beliau tidak menamatkannya karena kondisi kesehatan yang buruk

Kemudian Soewardi muda bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar dia juga pernah bekerja untuk surat kabar Sediotomo,Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara
Beliau tergolong salah seorang penulis yang handal pada masanya,gaya tulisannya bersifat komunikatif dengan gagasan-gagasan yang antikolonial

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik
Sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, beliau aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara,Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum bumi putera yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD)
Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada tahun 1913
Timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi dia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”
Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” judul asli: “Als ik een Nederlander was” dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913
Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut

“Sekiranya aku seorang Belanda aku tidak akan menyelenggarakan pesta pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya
Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu
Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita keruk pula kantongnya
Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu!
Kalau aku seorang Belanda hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini
Kalaupun benar Soewardi yang menulis mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian

Akibat tulisan ini Soewardi ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri)
Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913)
Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun

•Berdiri nya Taman Siswa•
Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian beliau bergabung dalam sekolah binaan saudaranya Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang berencana untuk ia dirikan
Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta
Saat beliau genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa. Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya
Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia
Secara utuh semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi “ing ngarsa sung tuladha,ing madya mangun karsa, tut wuri handayani
(“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”)
Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Referensi:
Sang Mahaguru taman siswa Ki Hadjar Dewantoro -Anak kampung.id 3 mei 2023-

Alasan Kaisar Jepang Menyelamatkan Guru Setelah Perang Dunia II

“Berapa jumlah guru yang tersisa?” Kata-kata ini berasal dari mulut Kaisar Hirohito sebagai respon pertama yang Ia keluarkan setelah mendengar berita luluh lantaknya Hiroshima dan Nagasaki. Dua kota di Jepang itu hancur karena bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) di penghujung Perang Dunia II. Kehancuran dua kota itu pula yang menjadi alasan Kaisar Jepang menyelamatkan guru setelah Perang Dunia II.

Hirohito adalah Kaisar Jepang ke-142 yang dikenal dengan nama anumerta Kaisar Showa. Lahir di Puri Aoyama, Tokyo, 29 April 1901, Hirohito menjadi kaisar dengan masa kekuasaan terlama dalam sejarah Jepang. Ia berkuasa sejak tahun 1926 hingga 1989. Di bawah kepemimpinannya, Jepang terlibat dalam berbagai perang, seperti Insiden Manchuria (1931), Insiden Nanking (1937), Perang Dunia II, serta serangan ke pangkalan militer AS di Hawaii, Pearl Harbour.

Pada 1945, saat Perang Dunia II berlangsung, AS dan sekutunya menjatuhkan bom atom berkekuatan dahsyat di kota Hiroshima dan Nagasaki. Kerugian yang dialami Jepang begitu besar, tidak hanya secara materi, jumlah nyawa yang melayang akibat bom atom inipun terbilang sangat besar. Imbasnya, Jepang mengalami kelumpuhan total, yang akhirnya membawa negara tersebut pada kekalahan telak dari sekutu.

Ketika mendengar berita pemboman tersebut, Kaisar Hirohito selaku pemimpin tertinggi Jepang pada saat itu langsung mengumpulkan para Jenderal yang tersisa. Pertanyaan mengenai jumlah guru yang tersisa ini lantas membuat bingung para Jenderal. Sebab, semula mereka mengira sang Kaisar akan menanyakan perihal tentara, alih-alih guru yang masih tersisa.

Para Jenderal tersebut kemudian menegaskan kepada Kaisar Hirohito, bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar, walau tanpa kehadiran para guru. Menanggapi perkataan ini, Kaisar Hirohito mengatakan bahwa Jepang telah jatuh. Kejatuhan ini dikarenakan mereka tidak belajar. Jenderal dan tentara Jepang boleh jadi kuat dalam senjata dan strategi perang, tetapi tidak memiliki pengetahuan mengenai bom yang telah dijatuhkan Amerika.

Kaisar Hirohito kemudian menambahkan bahwa Jepang tidak akan bisa mengejar Amerika jika tidak belajar. Karenanya, ia kemudian mengimbau pada para Jenderalnya untuk mengumpulkan seluruh guru yang tersisa di seluruh pelosok Jepang. Sebab, kepada para gurulah seluruh rakyat Jepang kini harus bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan.

Kaisar Hirohito kemudian bergerak untuk mengumpulkan sekitar 45.000 guru yang tersisa pada saat itu dan memberi mereka arahan. Kehadiran guru pada saat itu manjadi hal krusial bagi seluruh lapisan masyarakat Jepang. Karenanya, perlahan negara ini dapat kembali bangkit dari keterpurukan.

Sumber : https://international.sindonews.com/read/547074/40/alasan-kaisar-jepang-menyelamatkan-guru-setelah-perang-dunia-2-1632226170

Dieter Dengler Satu-satunya Tentara Amerika Yang Lolos Dari Kamp Penjara Vietnam

Dieter Dengler adalah seorang berdarah Jerman-Amerika, seorang pilot Angkatan Laut Amerika yang menjadi terkenal karena berhasil melarikan diri dari kamp penjara yang berlokasi di tengah hutan saat berlangsungnya perang Vietnam

Pada awal 1966, pesawat yang dikemudikan Dengler ditembak jatuh oleh rudal anti pesawat di Laos. Meski selamat, ia tertangkap dan dikirim ke kamp penjara yang dikelola oleh Pathet Lao, sekelompok simpatisan Vietnam Utara.

Berbagai interogasi dan siksaan diterimanya selama di penjara, membuatnya memutuskan untuk melarikan diri dari penjara ia berkontribusi dengan para tahanan lain membuat perencanaan yang cermat untuk melarikan diri

Pada 29 Juni 1966, ia dan enam tahanan lainnya berhasil melarikan diri. Saat para penjaga sedang makan dan lengah. Setelah menjatuhkan tiga penjaga, Dengler dan pelarian lainnya melarikan diri ke hutan lebat.

Ia harus menghabiskan waktu selama 23 hari di hutan lebat yang dipenuhi dengan binatang buas, serangga, lintah, dan parasit. Ia didera kelaparan yang luar biasa sebelum akhirnya ditemukan dan diselamatkan oleh helikopter Amerika.

Dalam pelarian tersebut selain Dengler, hanya ada satu pelarian lain yang selamat, yaitu seorang kontraktor asal Thailand. Yang lainnya tewas dalam pelarian atau hilang di tengah hutan.

Sekembalinya ke Amerika dan setelah pulih dan kembali ke pekerjaannya, Dengler menjadi pilot penguji yang sukses. Hingga hari ini ia tercatat sebagai satu-satunya tentara Amerika yang berhasil melarikan diri dari kamp penjara selama Perang Vietnam.

Sumber : https://www.astrodigi.com/2010/11/dieter-dengler-satu-satunya-tentara.html

Niland Brothers, Kisah Nyata yang mendasari Film “Saving Private Ryan”

Film Saving Private Ryan yang dibintangi oleh Tom Hanks pada tahun 1998 mungkin dapat dipertimbangkan sebagai film Perang Dunia terbaik sepanjang masa. Dari penggambaran mencekam D-Day, sampai ke Invasi tentara AS ke tanah Perancis untuk membasmi Nazi, semua digambarkan dengan sangat epik oleh sutradara Steven Speilberg

Namun tentu saja (spoiler alert), plot utama dari film itu adalah tentang upaya penyelamatan anak terakhir keluarga Ryan yang harus dibawa pulang dengan selamat kepada ibunya.

Sosok Tom Hanks bersama pasukannya diberi misi untuk mencari prajurit bernama James F. Ryan untuk memberikan perintah pembebas tugasan agar dia bisa pulang ke kampung halamannya untuk bertemu sang Ibu. Hal itu, dikarenakan dari 4 bersaudara keluaraga Ryan yang semuanya ikut berperang, hanya dia saja lah yang masih hidup.

Oke, mungkin kisah tentang misi beresiko yang bertujuan untuk menyelamatkan 1 orang sejujurnya sedikit berbeda dengan kisah aslinya. Meskipun begitu, tidak menyangkal fakta bahwa ada sebuah kisah nyata yang mendasari film Saving Private Ryan tersebut.

Kisah Niland Bersaudara

Kisah 4 bersaudara yang berpartisipasi dalam perang dunia, benar-benar terjadi dan merupakan kisah kepahlawanan yang sesunguhnya.

Setelah bergabung dengan militer, empat bersaudara Fredrick (Fritz), Robert (Bob), Preston, dan Edward Niland dari Tonawanda, New York ditugaskan dalam perang dunia dan disebar di berbagai Unit Angkatan Bersenjata AS.

Fritz dan Bob di masing-masing berada di Infanteri Parasut 501 dan 505, Preston di Infanteri ke-22, dan Edward berada di Angkatan Udara.

Pada 16 Mei 1944, kurang dari sebulan menjelang D-Day, Edward Niland yang ditugaskan di Asia tertangkap oleh Jepang. Upaya terjun payung salah pendaratan membawanya meleset dari hutan Burma dan malah mendekat ke area yang diduduki tentara Jepang..

Meskipun dia berhasil mendarat di tanah dan mampu menghindari musuh untuk sementara waktu, dia tetap saja ditemukan dan ditangkap oleh Jepang sebelum kemudian dibawa ke kamp tahanan di Burma. Semenjak saat itu, satuannya tidak pernah mendengar kabar darinya lagi dan dia pun dinyatakan K.I.A (Killed In Action)

Pada peristiwa D-Day, Bob Niland terbunuh di pesisir Normandy saat ikut dalam serbuan besar bersama Resimen Infanteri Parasut ke-505, Divisi Lintas Udara ke-82.

Dia meninggal sebagai pahlawan karena secara sukarela tinggal di belakang untuk menahan musuh agar kawan-kawannya bisa kabur. Upayanya bersama beberapa tentara itu, berhasil menahan tentara Jerman untuk beberapa waktu. Sayang, dia terbunuh tatkala sedang mengoperasikan senapan mesin.

Keesokan harinya, di titik penyerbuan yang lain, Preston Niland terbunuh dalam upaya penyerbuan pantai Utah. Dia dan kawan-kawannya sebenarnya sempat selamat dalam baku tembak di pesisir, dan berhasil mendorong pasukan Jerman jauh ke pedalaman hutan.

Namun dia terluka parah tatkala ikut dalam upaya penghancuran bunker artileri Jerman, dan diapun terbunuh. Itu adalah artileri yang sempat berhasil menenggelamkan kapal jenis Destroyer milik AS.

Catatan Kematian

Tatkala catatan kematian naik ke atasan militer AS, dan disadari bahwa 3 dari 4 bersaudara itu sudah meninggal dalam pertempuran, Hal itu, memberikan sedikit tekanan kepada pejabat militer tentang cara mereka untuk memberitahu Ibu dari Niland bersaudara.

Mereka bahkan tidak bisa membayangkan ungkapan sakit hati seperti apa yang akan dikeluarkan Ibu Niland saat menerima 3 surat kematian anaknya sekaligus.

Namun, itu adalah sebuah tragedi yang harus disampaikan dan pejabat tinggi militer pun tetap mengabari Ibu Niland tentang kematian anak-anaknya.

Bu Niland menerima ketiga surat kematian anaknya hari itu juga. Bersamaan dengan surat itu, Ibu Niland juga diberi sebuah surat yang ditulis oleh Fritz (satu-satunya anak yang belum meninggal)

Kala itu, Fritz sama sekali belum tau akan kematian ketiga saudaranya. Surat yang dia tulis, berkisar tentang dirinya yang senang bahwa dia akan memiliki cerita tentang peperangan yang bisa dibagikan kepada keluarga.

Disisi lain, Ketika Departemen Perang mendengar bahwa tiga dari empat bersaudara telah tewas, mereka memutuskan bahwa saudara laki-laki yang tersisa perlu dibawa pulang—seperti di film. Hal ini, tentu saja karena mereka enggan untuk sekali lagi memberikan surat kematian kepada sang Ibu yang malang.

Penyelamatan Fritz Niland

Jika di film diceritakan bahwa Private Ryan (Matt Damon) dicari dan diselamatkan oleh Pasukan Captain Miller (Tom Hanks), dalam kasus Fritz Niland, sedikit berbeda.

Dikejadian aslinya, sosok yang ditugaskan untuk menemukan Fritz Niland adalah Pastor Francis Sampson. Dia adalah pendeta dari pasukan 501.

Pasca D-Day, Fritz diketahui pergi ke lokasi pasukan Airborne-82 dengan harapan bisa bertemu dengan saudaranya, Bob. Namun, kala itu dia menemukan fakta bahwa Bob sudah terbunuh.

Dalam salah satu kesempatan setelah itu, Fritz langsung ditemukan oleh Pastor Francis Sampson yang kemudian menyampaikan pesan dari petinggi militer bahwa dia harus pulang hari itu juga.

Meninggalkan seluruh perlengakapan dan medan pertempuran, Fritz kemudian dikawal oleh Pastor Francis Sampson dan dikirim ke Inggris sebelum melakukan perjalanan pulang ke New York.

Tentu saja kepulangannya itu disambut bahagia oleh sang ibu. Meskipun sudah kehilangan 3 orang anak, dia tetap bersyukur bahwa masih ada satu yang berhasil menemukan jalan pulang.

Fritz Niland, melanjutkan karirnya di tentara sebagai Polisi Militer hingga perang berakhir pada tahun 1945.

Pada Mei 1945, keluarga Niland mendapat kabar baik kedua. Ternyata, Edward yang diduga tewas oleh Jepang, masih hidup. Rupanya, dia selama ini hanya disekap di kamp tahanan Burma dan belum dibunuh.

Pasca Jepang mulai mengalami kekalahan dan setiap titik kekuasaan mereka berhasil direbut kembali, kamp tahanan di Burma juga berhasil dibebaskan. Hal itu, membuat sekian ratus tentara Amerika yang disekap, pada akhirnya berhasil mendapat kebebasan mereka lagi.

Dengan itu, Niland kedua pada akhirnya juga dapat pulang.

Dua dari empat kini berhasil pulang, sayangnya dua yang lain sudah benar-benar meninggal dan tidak mungkin kembali lagi. Fritz dan Edward, diketahui menghabiskan sisa hidup mereka di kampung halaman mereka di Tonawanda, New York.

Sullivan sebelum Niland

Penugasan secara terpisah kepada bersaudara yang masuk militer kala itu, sebenarnya bukan tanpa alasan. Hal ini, didasari oleh tragedi perang yang menimpa Sullivan bersaudara pada tahun sebelumnya.

Sebelum 4 bersaudara dari Nilland, pernah ada 5 bersaudara yang sempat ikut mengabdi dalam militer. Mereka adalah George, Frank, Joe, Matt dan Al Sullivan dari Iowa.

Kala itu, mereka bergabung dengan Angkatan Laut pada hari yang sama pada tahun 1942. Saat mereka mendaftar, mereka menyatakan bahwa mereka hanya memiliki satu ketentuan: Jika mereka akan mengabdi, mereka akan mengabdi bersama (bersama dalam satu pasukan)

Disatu sisi, ikatan mereka sebagai saudara mungkin akan memberikan mereka kekuatan lebih dalam bertempur. Sayang disisi lain, hal itu mungkin adalah sebuah formasi yang mendatangkan bencana bagi keluarga mereka.

13 November 1942, selama Pertempuran Guadalcanal, kapal perang Amerika Serikat yang ditumpangi oleh Sullivan bersaudara terkena torpedo oleh kapal selam Jepang. Itu adalah serangan telak yang meledakkan kapal seketika dan menyeret seluruh kru jatuh ke dasar lautan.

Atas kejadian itu, Sullivan bersaudara tidak ada yang selamat.

Kejadian itulah yang kemudian mendasari peraturan tidak tertulis bahwa segenap saudara, harus ditempatkan pada satuan yang terpisah. Hal itu tentu saja untuk memisahkan jalan takdir yang harus mereka jalani, agar mereka tidak ditimpa nasib serupa tatkala menghadapi permasalah yang sama.

Fact VS Fiction

Meskipun Saving Private Ryan terinspirasi oleh kisah Niland bersaudara (dan juga kisah serupa tentang sekian bersaudara yang semuanya terbunuh selama Perang), dapat dikatakan bahwa penulis Robert Rodat dan para pembuat film membuat cerita yang sedikit berbeda dari kisah aslinya.

Sebagai permulaan, dalam kasus Niland bersaudara, Edward akhirnya ditemukan masih hidup (membuat dua dari empat dinyatakan selamat). Dalam film, tentu saja, hanya satu dari empat bersaudara lah yang masih hidup.

Selain itu, perbedaan terbesar antara kisah nyata Saving Private Ryan dan filmnya adalah tentang sosok yang menjadi pencari. Dalam film, satuan sengaja dibentuk dan diberikan misi pencarian (misinya pun melibatkan berbagai macam pertemuan dengan musuh). Disisi lain, dalam kisah aslinya, tidak ada pertemuan musuh yang berarti. Yang menjadi pencari pun, adalah sosok pendeta / pastor.

Mungkin karena kurangnya aksi dan ledakan tidak mampu menghasilkan blockbuster, ceritanya sedikit diubah dan dikembangkan. Meskipun begitu, filmnya tetap sukses dan berhasil memberikan gambaran yang cukup nyata tentang serbuan D-Day dan kengerian perang dunia kedua.

Sumber : https://www.unsolvedindonesia.com/2021/11/nilland-brothers-kisah-nyata-yang.html

Bagaimana Jika Pendaratan Sekutu di Normandy Gagal?

Pendaratan Normandy pada 6 Juni 1944 adalah salah satu peristiwa paling penting di Perang Dunia ke 2. Pendaratan sekutu di pantai utara Perancis itu memungkinkan Amerika, Inggris, Kanada, beberapa pasukan Polandia, dan Selandia baru untuk menyerang Jerman langsung di jantung kekuasaan mereka. Selama empat tahun terakhir, mereka hanya bisa menyerang outpost Jerman di Afrika Utara dan Italia. Atau membombardir kota-kota mereka dengan B17, B25, atau Halifax.

Di Normandy, terdapat 380,000 pasukan Jerman yang terbagi menjadi 4 Army Group. Jumlah itu hanya yang bertugas untuk menjaga AtlantikWall – benteng atlantik yang menurut Hitler tak dapat ditembus. Terdapat lebih banyak lagi pasukan Jerman di Perancis yang bertugas selain untuk pasukan cadangan, juga bertugas membasmi partisan.

Memang kita tidak tahu pasti bagaimana jika Jerman berhasil menghentikan laju serangan sekutu di Normandy. Apakah Jerman dapat bertahan, atau Russia justru dapat menguasai Eropa seutuhnya? Di sini, saya bukan berarti mendukung pemerintahan Jerman NAZI tetap bercokol di Eropa. Apalagi mendukung rezim otoriter mereka yang telah membuat Eropa menelan pahit getirnya peperangan modern. Saya hanya mencoba untuk menuliskan kemungkinan2 dari sekian banyak yang dapat terjadi.

Dengan mempertimbangkan beberapa aspek, dan sedikit pengetahuan saya tentang kronologi sejarah di masa itu. Berikut 5 kemungkinan yang terjadi jika sekutu gagal melaksanakan pendaratan di Normandy:

1. Rommel Akan Berjaya

Semenjak 14 Juli 1943, Feldmarschall Edwin Rommel ditugaskan untuk memimpin Army Group B yang berada di Perancis Utara. Hitler menginginkan agar Atlantikwall, benteng pertahanan Jerman di sepanjang pantai utara Eropa diperkuat. Rommel yang selama ini terkenal karena kehebatan manuvernya di dalam medan pertempuran, kini harus dihadapkan kepada medan perang statik. Membangun sebuah pertahanan adalah sebuah hal yang tidak mudah, namun mempertahankan pantai yang panjangnya ribuan kilometer adalah hal yang hampir mustahil.

Mencoba menjadi kuat seluruh garis pertahanan, itu hanya berarti bahwa ia akan menjadi lemah di semua tempat. Rommel paham benar akan hal itu, dan ia mencoba mengajukan proposal untuk memberlakukan pertahanan yang fleksibel. Pertahanan yang mobile dan tidak kaku. Jika ada yang menyerang di satu titik maka pasukan cadangan akan dapat membantu mempertahanankannya. Realitanya proposal ini ditolak oleh Rundstedt atasan Rommel dan kemudian oleh Hitler sendiri. Proposal yang diajukan Rommel ini bukannya tanpa cacat. Keadaan udara Jerman di kala itu tidak menguntungkan, pembom sekutu bisa saja menghajar pasukan cadangan Jerman yang mobile itu. Dan itu bisa sangat fatal.

Tapi jika suatu sebab proposal Rommel untuk pertahanan fleksibel berhasil disetujui oleh Rundstedt dan Hitler. Serta pengembangan jet tempur M262 bisa lebih cepat dan sedikit membantu pertahanan udara Jerman. Maka bukanlah tidak mungkin jika pendaratan Normandy akan mendapatkan rintangan yang cukup berat. Field Marshall Eishenhower sadar benar dengan bahaya operasi Normandy sehingga jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan pidato jika operasi itu gagal.

Kegagalan Operasi Normandy sendiri kemungkinan mempunyai banyak sekali faktor dan akan saya bahas di lain posting. Namun jika itu benar terjadi, nama Rommel sendiri tentu akan melambung dengan tinggi. Empat tahun sebelumnya, ia dengan Divisi Panzer ke 7 – atau sering disebut sebagai Ghost Army – berhasil merebut kota-kota utara Perancis. Sekarang, ia mampu mempertahankannya dari serangan sekutu. Tidak menutup kemungkinan jika pamor Jendral kesayangan Hitler ini akan mampu membawanya ke kursi Reich 1. Menjegal Goering dan Himmler yang sudah mengincar tempat itu jika Sang Fuhrer mangkat.

Setelah keberhasilannya di Perancis utara, besar kemungkinan Rommel akan diperbantukan ke Front Timur. Membawahi Grup Tentara Vistula yang nyaris kocar-kacir dihantam Soviet. Plot pembunuhan Hitler oleh Stauffenberg bisa terjadi, namun bisa juga tidak terjadi. Karena situasi setelah kegagalan operasi pendaratan sekutu di Normandy membuat Jerman kembali sedikit diatas angin. Lagipula mereka mempunyai harapan pemimpin baru, Rommel, yang oleh sekutu sendiri begitu dihormati. Mereka menyebut Rommel sebagai The Last German Gentlemen ketika berhadapan di gurun Afrika Utara tahun 1942. Dan perundingan damai oleh sekutu dan Maestro taktik panzer ini barangkali akan berlangsung secara hangat.

2. Amerika Akan Berfokus ke Jepang?

Opini publik di Amerika sebenarnya tidak begitu mendukung rencana penyerbuan ke Eropa. Dendam mereka tertuju kepada Jepang yang telah menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Bagi mereka, mengalahkan Kekaisaran Matahari Terbit lebih utama ketimbang menolong saudara Anglo-Saxon mereka di seberang lautan. Toh keadaan Russia sudah lebih baik dan front Italia menunjukan perkembangan yang positif, meskipun geraknya lambat.

Jika pendaratan Normandy gagal, publik Amerika tentu saja akan berang. Sejumlah 160,000 pasukan tewas atau tertangkap adalah sebuah berita yang mengerikan. Tidak pernah dalam sejarahnya, Amerika menderita kerugian yang begitu besar hanya di dalam satu pertempuran saja. Publik akan menyalahkan Rooselvet karena janjinya kepada Inggris bahwa “Erope First.” Janji itulah yang membawa Amerika ke dalam bencana yang kelak disebut “D-Day Disaster.”

Untuk membendung publik Amerika yang semakin samakin tinggi, Amerika akhirnya memutuskan untuk berfokus ke Jepang. Mereka tetap mengirimkan bantuan untuk memperkuat front Italia, namun pasukan yang dikirimkan sangat terbatas. Skuadron pembom dan interceptor tetap dikirimkan ke Inggris, namun rencana untuk mendaratkan pasukan langsung ke jantung pemerintahan Jerman ditunda atau malah ditiadakan sama sekali.

3. Nuklir Akan Jatuh Di Kota Jerman?

Setelah kekalahan di Normandy, sekutu barangkali akan lebih mempertimbangkan untuk menjatuhkan Nuklir di kota-kota Jerman daripada di Jepang. Munich dan Berlin adalah target yang kemungkinan besar dipilih. Namun bisa juga kota-kota industri di sepanjang sungai Rhein. Hanya saja ada beberapa kendala yang musti diperhatikan oleh sekutu.

Pertama, jika pesawat jet tempur Me262 Jerman telah benar-benar full operating, maka misi pengeboman ke kota-kota Jerman bukanlah misi yang mudah. Me262 dapat mencapai kecepatan 870km/jam sedangkan pesawat sekutu tercepat di waktu itu, P 51 mustang, hanya dapat mencapai kecepatan 703 km/jam. Selisih kurang lebih 167 km/jam. Jika pendaratan Normandy gagal, maka pengembangan dan produksi jet tempur itu akan jauh lebih cepat dan masif daripada seharusnya.

Kedua, membawa bom itu ke Inggis juga beresiko. Jerman waktu itu sudah memproduksi cukup banyak roket V1 dan V2. Roket balistik itu dapat mencapai daratan Inggris kapan saja. Realitanya, produksi roket dan tempat peluncuran mereka di Belgia terganggu karena keberhasilan pendaratan sekutu di Normandy. Tapi jika pendaratan itu tidak berhasil, maka produksi V1 dan V2 tidak akan mempunyai rintangan berarti. Kecuali jika pembom sekutu dengan pasti menemukan lokasi-lokasi perakitan roket-roket tersebut.

4. Russia Melaju Hingga Berlin?

Jika Jerman lambat dan ragu untuk memindahkan sebagian pasukannya dari Perancis utara, maka tidak menutup kemungkinan negara itu akan dapat menduduki Berlin. Hanya saja, pekerjaan itu tidaklah mudah. Pada realitanya, Jerman justru memindahkan sebagian pasukannya dari front timur ke barat pada Desember 1944 guna melaksanakan Unternehmen Wacht am Rhein atau yang lebih sering dikenal sebagai Battle of the Bulge. Operasi yang ambisius itu terbukti fatal. Tidak hanya puluhan ribu pasukan Jerman tewas atau tertawan, ratusan tank jenis terbaru Konig Tiger juga ikut hancur.

Tidak ada yang tahu jika Konig Tiger itu digunakan di front timur. Yang jelas, tank tersebut adalah salah satu tank terbaik di era Perang Dunia ke 2. Soviet waktu itu mempunyai IS 1 dan IS 2 (sinkatan dari Iosif Stalin). Tank itu diharapkan mampu menggantikan peran krusial T34 yang sudah uzur jika berhadapan dengan meriam 88mm Tiger. Hanya saja, IS 2 mempunyai masalah pada keakuratan meriam tembaknya. Kelemahan ini tentu sangat berpengaruh jika harus berhadapan dengan meriam 88mm Tiger yang terkenal sangat akurat dan mematikan.

Jika Russia masih bernafsu untuk menembus garis pertahanan menuju Berlin, jumlah korban yang jatuh di tentara merah akan sangat astronomikal. Polandia akan menjadi medan pertempuran paling berdarah yang pernah dilihat manusia. Kemajuan kedua belah pihak akan sangat lambat. Tidak menutup kemungkinan jika perang statis seperti Perang Dunia pertama akan muncul kembali.

5. Italia Menjadi Tempat Berdarah

Jendral Albert Kesselring pada tahun 1943 bersikeras agar Italia menjadi front yang tidak mudah ditaklukan oleh sekutu. Dan pada kenyataannya, ia berhasil membuktikan kata-katanya tersebut. Sekutu memprediksi jika mereka mampu sampai di Italia Utara paling tidak sebelum akhir tahun 1943. Namun mereka harus berdarah-darah hingga Mei 1945 dan korban jiwa mencapai 335,495 jiwa.

Perdebatan di kalangan sekutu sebenarnya mencuat setelah keberhasilan pendaratan di Sisilia, Salerno, dan Anzio. Apakah masih perlu pendaratan kedua di benua Eropa setelah itu? Dan apakah pendaratan di Perancis Utara benar-benar perlu dilakukan. Beberapa Jendral mengganggap bahwa akan lebih mudah menghancurkan Jerman dari Italia. Dan lagipula, memindahkan resource seperti perkapalan dan manusia kembali ke Inggris untuk persiapan invasi Normandy bukanlah hal yang mudah.

Jika pendaratan Normandy gagal, Italia bukanlah sebuah opsi namun benar-benar satu-satunya tujuan yang dapat sekutu lakukan untuk menusuk Jerman. Mereka tentu tidak ingin kegagalan kedua muncul di tanah Romawi itu. Jerman sendiri tentu tidak mau juga kehilangan muka setelah kemenangan mereka di Normandy. Jendral Kesselring akan mendapatkan sumber daya apapun yang ia butuhkan guna menahan atau malah kembali menggiring sekutu ke laut tengah. Hanya nasib yang bisa menghindarkan kehancuran tanah Italia dengan peninggalan-peninggalan kunonya yang berharga.

Sumber : https://aninditasaktiaji.com/bagaimana-jika-pendaratan-sekutu-di-normandy-gagal/

Sejarah Pabrik Gutta Percha Tjipetir

Lebih dari satu abad yang lalu, tidak lebih dari sebuah desa kurang dari seratus rumah, sebuah perusahaan teh dan perkebunan karet yang dikelola dekat Cibadak arah Cikidang Kabupaten Sukabumi berdiri.

Laporan paling komprehensif pada perusahaan karet muncul pada tahun 1927, yang ditulis oleh direktur H. van Lennep.

Pamflet disebar dalam bahasa Inggris di setiap sudut-sudut kota di Amaerika, Inggris dan Perancis serta beberapa kota di eropa untuk memberikan gambaran tentang sejarah dari jenis karet “getah perca” disertai beberapa penjelasan dari mulai penanaman, produksi, pemasaran serta masa depan komersial.

Gutta percha menjadi terkenal pada pertengahan abad ke-19 karena kekerasannya dan sifat isolasi yang sedemikian tangguh. ”Karet” ini lebih dari sekedar karet yang tahan terhadap air namun lebih kepada fungsinya yang banyak digunakan untuk melapisi atau insulasi kabel bawah laut, pembuatan gigi palsu serta digunakan untuk berbagai aplikasi lain, termasuk produksi bola golf.

Gutta-percha termasuk famili Sapotaceae, dan secara lengkap memiliki klasifikasi ilmiah yang termasuk kedalam Kerajaan Plantae; Ordo Ericales; Family Sapotaceae; Genus: Palaquium Blanco. Pohon Gutta-percha memiliki ketinggian sekitar 5–30 meter dengan diameter lebih dari 1 meter. Pohon ini berdaun rimbun berwarna hijau kekuningan. Memiliki bunga berwarna putih berukuran kecil-kecil dalam satu kuntum. Memiliki buah berukuran 3–7 cm yang berisi 1–4 biji, tapi pada beberapa jenis species tidak nampak memiliki buah.

Pada pertengahan tahun 1800 gutta percha dianggap sebagai bahan yang paling sesuai untuk isolasi kabel bawah laut.

Diperkirakan lebih unggul dari karet India (bahan saat ini) karena menjadi keras tapi tidak rapuh.

Selanjutnya, lingkungan bawah air yang dingin memperbaiki sifat isolasi gutta percha dan melindunginya dari sinar matahari yang memiliki efek buruk di atasnya.

Penggunaan pertama kabel semacam itu untuk telepon adalah menjembatani saluran Inggris antara Inggris dan Prancis dengan keberhasilan parsial 1850 dan lebih berhasil lagi pada tahun 1851.

Gutta Percha diperkenalkan pertama kali di Eropa oleh William Montgomery, tahun 1843. Gutta Percha baru memasuki pasaran dunia sekitar tahun 1856 setelah diketahui memiliki sifat-sifat yang cocok sebagai bahan insulasi kabel dasar laut. Pada suhu biasa, Gutta Percha merupakan benda keras, sedikit sekali merentang. Namun ketika dipanaskan pada suhu 650C, material yang diperoleh dari pohon Palagulum Oblongifolium Burck ini menjadi lunak dan dapat dikepal-kepal tangan untuk membentuk apapun.

Tahun 1856 hingga 1896, penggunaan Gutta Percha di dunia untuk insulasi kabel dasar laut sudah mencapai 16.000 ton yang direntangkan sepanjang 184.000 mil laut di sekitar pantai Benua Amerika, Eropa, Asia, Australia, pantai timur dan barat Afrika, dan sepanjang antar samudera. Sekitar tahun 1885, D.E.I. Government melakukan penelitian di Perkebunan Cipetir, saat Afdeling III Perkebunan Sukamaju dengan menanam beberapa varietas pohon Gutta Percha yang kemudian diseleksi.

Hasil pertama awalnya menggembirakan. Gutta percha terbukti sangat tangguh. Tidak seperti pohon karet biasa yang diambil dengan cara menyadap kayu karet berbentuk uril atau spiral untuk mendapatkan getahnya, getah perca atau gutta perca justru diekstrasi melalui penggerusan daun pohon gutta percha hingga keluarlah getahnya dari serpihan-serpihan daun yang digiling menggunakan batu granit seberat masing-masing 4 ton.

Gutta percha termasuk jenis komoditas spesifik yang diduga saat ini hanya bisa ditemui di Indonesia, yaitu di kebun Sukamaju Sukabumi yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), terlebih setelah perkebunan Gutta percha yang ada di Brazil dikonversi dengan tanaman lain.

Tanaman ini juga tidak tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia karena pada masa awal tanam, yaitu tahun 1880-an ada larangan dari pemerintah Belanda agar tidak menanam Gutta percha selain di Kebun Sukamaju. Perkebunan Sukamaju berada di Kabupaten Sukabumi dimana PTPN VIII mengelola areal konsesi seluas 7.379,63 ha, yang terbagi atas enam afdeling, meliputi wilayah Cibadak, Cikidang, Bojong Genteng, Parungkuda, dan Kalapanunggal.

Perkebunan Sukamaju saat ini mengelola dua tanaman yang dibudidayakan yaitu Gutta Percha dan Kelapa Sawit. Luas areal penanaman Gutta Percha di perkebunan tersebut 282,88 ha, berlokasi di Afdeling III Cipetir. Gutta Percha diperbanyak melalui biji yang diperoleh dari kebun biji khusus di Perkebunan Sukamaju.

Teknik pemanfaatan tanaman Gutta percha awalnya dipanen setelah berusia 15 tahun, yaitu dengan cara menebang pohon dan diambil getahnya yang berisi sekitar 1,5 kg getah. Cara-cara tersebut dipandang tidak efektif. Saat itu teknik pemanenan yang dikembangkan adalah dengan cara memangkas daunnya, karena kandungan Gutta ternyata banyak terdapat pada daun. Satu ton daun basah diperkirakan bisa menghasilkan getah Gutta sebanyak 12-13 kg.

Saat ini lahan tanaman Gutta Percha Cipetir semakin menyempit dan tinggal tersisa beberapa pohon saja yang masih produktif, namun sedang diusahakan untuk penanaman kembali melalui regenerasi tanaman serta sayangnya kondisi pabriknya sendiri di Cipetir begitu menghawatirkan dan dalam pantauan, beberapa mesin tidak berfungsi sebagai mana mestinya bahkan mesin-mesin utamanya tampak hilang atau hanya berfungsi sebagian.

Sumber: https://m.facebook.com/groups/295486140883937/permalink/1775852149513988/?mibextid=Nif5oz

Leo Fender, Pencipta Gitar tidak bisa Main gitar

Fender, rasanya hampir setiap gitaris di muka bumi ini pernah memainkan gitar Fender atau setidaknya tahu gitar Fender. Fender adalah merek gitar, bass, dan amplifier ternama serta legendaris hasil ciptaan Clarence Leonidas Fender atau Leo Fender

Banyak gitaris-gitaris kelas dunia yang memainkan gitar Fender serta menjadikan gitar fender sebagai senjata utama mereka, antara lain Ritchie Blackmore, Eric Clapton, Yngwie Malmsteen, Stevie Ray Vaughan, David Gilmour, dan masih banyak lagi gitaris yang memainkan gitar Fender.

David Gilmour. Dianugerahi Sebagai Gitaris Fender Terbaik
Terdapat fakta unik dibalik penciptaan gitar yang telah melahirkan gitaris-gitaris kelas dunia ini, yaitu sang pencipta Leo Fender tidak pernah bisa bermain gitar dan bahkan Leo Fender tidak pernah belajar bermain gitar sehingga dia tidak bisa memainkan ciptaan-nya sendiri

Leo Fender adalah seorang berkebangsaan Amerika Serikat yang mendirikan Fender Electric Instrument Manufacturing Company. Pada tahun 1965 dia menjual perusahaan itu kepada CBS dan mendirikan dua perusahaan lagi yang juga bergerak dalam industri alat-alat musik, yakni Music Man dan G&L Musical Instrument.

Bakat seorang Leo Fender sudah tercium saat dia masih remaja, saat berusia 13 tahun Leo Fender sudah tertarik pada segala sesuatu yang berkaitan dengan elektronik. Di usia yang terbilang masih sangat belia, Leo sudah membuka kios servis radio kecil-kecilan di rumah orangtuanya.

Leo menempuh pendidikan dengan kuliah akuntansi di Fullerton College. Setelah lulus kuliah Leo pun bekerja sebagai seorang akuntan, Leo pun tidak berhenti menjalani hobinya dalam bidang elektronik. Setelah lulus leo pun bekerja, namun krisis ekonomi melanda saat itu dan Leo pun harus dipecat dari pekerjaannya sebanyak 2 kali.

Fullerton College, Tempat Leo Fender Kuliah Akuntansi
Tidak patah semangat, pada tahun 1938 dengan uang pinjaman senilai USD600 Leo kembali ke kota kelahirannya di Fullerton. Di sini Leo membuka usaha perbaikan alat elektronik Fender Radio Service. Kemahiran Leo memperbaiki perangkat elektonik membuat namanya terkenal. Beberapa musisi memesan perangkat yang dapat mengubah suara gitar akustik menjadi gitar listrik.

Ide untuk menciptakan gitar elektirk baru muncul ketika Leo bertemu dengan Clayton Orr Kauffman atau Doc Kauffman yang merupakan seorang penemu gitar lap steel dan seorang inventor yang bekerja di pabrik gitar Rickenbacker. Dari perkenalan itu, selanjutnya Leo mengajak Kauffman untuk bekerjasama menciptakan gitar elektrik di bawah K&F Manufacturing Corporation

Berkat kerjasama tersebut, pada tahun 1944 mereka akhirnya mempatenkan gitar elektrik dengan merek Fender. Pada tahun 1949, Leo menyelesaikan prototipe gitar listrik. Gitar itu kemudian dipasarkan pada tahun 1950. Gitar buatan Leo dengan satu pickup diberi nama Esquire yang kemudian berganti menjadi Fender Broadcaster. Beberapa tahun kemudian, lahir Fender Telecaster dengan dua pickup.

Leo Fender Dengan Ciptaan-nya “Fender Telecaster”
Pada tahun 1953, Fender mulai mengerjakan sebuah proyek baru lagi yaitu model Stratocaster, gitar yang menjadi salah satu gitar paling laris di dunia sejak pertama kali diluncurkan.

Walaupun Leo menciptakan sebuah gitar yang menjadi salah satu gitar listrik terbaik dunia saat ini, namun leo tidak pernah bisa memainkan ciptaan-nya tersebut.

Oleh : Nathaniel Abel

1 Suku Emas Berapa Gram?

Emas terhitung sebagai salah satu logam mulia yang paling banyak dicari oleh beberapa investor. Tidak cuma yang menyukai perhiasan, tetapi juga mereka yang menyukai meningkatkan asetnya. Karena itu ada banyak investor yang bertanya 1 Suku Emas Berapa Gram, karena itu dalam postingan ini kami akan membahas 1 suku berapa gram di palembang, 1 suku emas berapa gram di jambi, 1 suku berapa rupiah, emas setengah suku berapa gram, 100 gram berapa suku dan seperempat suku berapa gram.

Peningkatan harga emas akhir-akhir ini jadi salah satunya pemicunya. Tidaklah aneh jika emas sudah jadi logam mulia yang dipandang seperti salah satunya instrumen investasi untuk anak muda.

Disamping itu relatif ramai dengan warga yang kerap cari info tentang harga emas 1 suku emas palembang , 1/2 suku berapakah gr dan semacamnya.

1 Suku Emas Berapakah Gram
Untuk jawab pertanyaan 1 suku emas berapakah gr ? berikut jawabanyan:

1 suku = 6,7 gr emas.
Misalanya untuk wilayah Aceh dikenali dengan sebutan mayam.

1 mayam = 3,37 gr.
Sedang untuk pasar internasional emas ini lebih dikenali dalam unit oz.

1 Suku berapa gram di palembang
Di Palembang, emas lebih dikenali dalam unit suku. Umumnya wujud emas batangan ini bukanlah emas tetapi perhiasan emas. Berapakah satu suku emas bila dikonversikan dalam gr. Lantas ada pula dalam dinar di mana 1 dinar = 4,25 gr.

1 dinar = 4,25 gr
1 suku emas palembang = 6,7 gr emas
1 Suku emas berapa gram di jambi
Apa anda tinggal dijambi dan ingin ketahui 1 suku emas berapakah gr di Jambi saat sebelum anda beli emas untuk investasi?

1 suku emas jambi = 6,7 gr emas
Jika anda membeli emas dijambi untuk investasi , karena itu Tipe emas yang pas untuk investasi ialah tipe emas batangan atau emas logam mulia.

Masalahnya emas untuk investasi seharusnya emas murni tanpa gabungan yang lain. Kandungan emas murni 24 karat atau 99.00-99.99%. Dengan demikian, emas murni atau emas 24 karat mempunyai nilai jual membeli yang semakin tinggi dibanding emas gabungan 18 karat, 22 karat atau 23 karat yang umum dipakai sebagai perhiasan emas.

Seperti produk investasi, emas murni batangan yang Anda membeli mempunyai sertifikat yang dianggap pasar internasional.

Emas dipandang seperti produk investasi beresiko rendah, karena harga emas tidak dipengaruhi oleh peningkatan inflasi. Ini berlainan dengan nilai uang yang Anda taruh di tabungan, yang nilainya dapat terkikis atau menyusut karena inflasi.

1 Suku Berapa Rupiah
Berikut jawaban untuk 1 suku berapa rupiah, dalam perumpamaan ini kami merujuk ke harga emas ini hari di pegadaian.

6.7 gr (1 suku) x Rp 988.500/gr (Harga emas ini hari) = Rp 6.622.950
100 gram berapa suku
Berikut jawab untuk 100 gram berapa suku yang masih kesulitan dalam menghitungnya :

100 gram = 14.925 suku
1/2 Suku Berapa Gram
Berikut jawaban atas pertanyaan 1/2 suku berapakah gr :

1/2 suku = 3.35 gr
Baca Juga : 7 Keuntungan Investasi Perak daripada Investasi Emas
Seperempat suku berapa gram
Berikut jawaban untuk seperempat suku berapa gram :

1/4 suku = 1.675 gr
Konversi Berat Emas
Berikut kami lengkapi dengan tabel Konversi Berat Emas supaya memudahkan anda dalam melakukan konverisi dimasa depan.

1 Troy Ounce = 4809 Grains
1 Troy Ounce = 20 Pennyweights (dwts)
12 Troy Ounce = 1 Pound Troy
14.5833 Troy Ounces = 1 Pound Avoirdupois
0.9114 Troy Ounces = 1 Ounce Avoirdupois
32.15 Troy Ounces = 1 Kilogram
1 Gram = 5.3 Karats (Roman)
1 Gram = 15.432 Grains
1 Gram = 0.643 Pennyweights (dwts)
1.5552 Grams = 1 Pennyweight (dwts)
1000 Grams = 1 Kilogram
28.3495 Grams = 1 Ounce Avoirdupois
24 Grains = 1 Pennyweight (dwts)
5760 Grains = 1 Pound Troy
15432 Grains = 1 Kilogram
437.5 Grains = 1 Ounce Avoirdupois
7000 Grains = 1 Pound Avoirdupois
1 Grain = 0.0648 grams
240 Pennyweights (dwts) = 1 Pound Troy
643.01 Pennyweights (dwts) = 1 Kilogram
18.2291 Pennyweights (dwts) = 1 Ounce Avoirdupois
291.666 Pennyweights (dwts) = 1 Pound Avoirdupois
1 Kilogram = 2.68 Pounds Troy
1 Kilogram = 35.2740 Ounces Avoirdupois
1 Kilogram = 2.2046 Pounds

Sumber: https://karircerah.com/1-suku-emas-berapa-gram/

Soerjadi Soerjadarma

Pada 1 September 1945 ia ditugaskan membentuk AURI oleh Presiden Soekarno dan diangkat sebagai KASAU (pertama) pada 9 April 1946. Pada 18 Februari 1960, selain sebagai KASAU, jabatannnya ditingkatkan sebagai Menteri/Kastaf AURI.

Foto diambil dari National Archief, 22 Desember 1948

Suryadi Suryadarma sebagai pendiri dan Bapak AURI – tidak hanya berperan dalam mengembangkan dunia dirgantara pada bidang kemiliteran, tetapi juga sebagai pelopor pada penerbangan komersial. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, Suryadarma telah menjadikan dirgantara sebagai bagian dari hidupnya.

Ia masih memiliki garis keturunan dari Keraton Kanoman, Cirebon. Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Keraton Kanoman. Sedangkan kakeknya adalah Dokter Pangeran Boi Suryadarma yang bertempat tinggal di Kuningan, Jawa Barat, dia tamatan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA). Sejak kecil Suryadarma telah menjadi yatim piatu, Ia ditinggal oleh ibu kandungnya dalam usia yang masih kecil, sedangkan ayahandanya wafat ketika Suryadarma berusia sekitar empat tahun.

Suryadi turut serta dalam operasi pengeboman kapal-kapal tentara Jepang, yang berjumlah tidak kurang dari 50 buah di atas langit yang cerah di pulau Tarakan, Borneo, tanggal 13 Januari 1942. Dalam operasi pengeboman ini, Suryadi bertindak sebagai navigator dan berpangkat Luitenant Waarnemer. Dari ketiga pesawat Martin B-10, Belanda.Dari tiga buah pesawat udara yang dikirimkan untuk operasi ini, hanya satu yang selamat dan diawaki oleh Suryadarma. Atas jasa keberanian yang luar biasa ini, Suryadi Suryadarma mendapatkan medali ‘’Het Bronze Kruis’’ atau ‘’The Bronze Cross’’, sebuah tanda jasa khusus dalam bidang militer dan hanya dianugerahkan untuk mereka yang memperlihatkan keberanian luar biasa terhadap musuh.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Hanafie Asnan mengukuhkan Laksamana Udara/Marsekal TNI (Purn.) Raden Soerjadi Soerjadarma sebagai Bapak AURI. Pengukuhan ini sesuai Skep KSAU Nomor SKEP/68/VI/2000. Penghargaan diberikan atas jasa-jasa dan perjuangan Soerjadi Soejadarma dalam merintis dan membangun kekuatan udara AURI, dengan bermodalkan tekad, semangat dan pengabdian kepada negeri.

Credit : Engel Yong

Prof. Dr. dr. Julie Sulianti Saroso, MPH

Prof. Dr. dr. Julie Sulianti Saroso, MPH (10 Mei 1917 – 29 April 1991) adalah seorang tokoh kedokteran Indonesia

Ia lulus sekolah kedokterannya tahun 1942 dari GHS (sekolah tinggi kedokteran) di Batavia (Jakarta). Kemudian ia meneruskan pendidikannya di Inggris, Skandinavia, Amerika Serikat dan Malaya selama 2 tahun (1950 sampai 1951) dan mendapatkan Certificate of Public Health Administrasion dari Universitas London. Pada tahun 1962 ia memperoleh gelar MPH (Master of Public Health) dan TM (Tropical Medicine), kemudian memperoleh gelar Doctor of Public Health (Epidemiologi) tahun 1965 setelah mempertahankan disertasi yang berjudul The Natural History of Enteropathogenic Escherechia Coli Infections di Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat.


Foto diambil dari website Media Indonesia

Selama masa perjuangan kemerdekaan (1946-1949), Julie bekerja mengusahakan obat-obatan dan makanan di kantong-kantong gerilya daerah Tambun Gresik, Demak dan Yogyakarta, sehingga sempat ditawan tentara Belanda selama dua bulan di IVG Yogyakarta. Dr. Julie Sulianti Saroso juga aktif di Organisasi Pemuda putri Indonesia (PPI). Ia juga anggota Dewan Pimpinan KOWANI dan badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. Kemudian bersama teman-temannya, ia juga membentuk Laskar Wanita yang diberi nama WAPP (Wanita Pembantu Perjuangan). Pada tahun 1947 mewakili Indonesia di Kongres Wanita di India.

Julie Sulianti Saroso juga adalah salah satu dari dua orang wanita yang pernah menjabat Presiden Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) selain Rajkumari Amrit Kaur dari India. Julie menjabat pada tahun 1973 sedangkan Rajkumari menjabat tahun 1950. Keduanya berasal dari benua Asia.

Untuk menghormati jasa-jasanya, sebuah rumah sakit di Jakarta diberi nama sesuai namanya yaitu Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV adalah Adipati keempat Mangkunegaran yang memerintah dari tahun 1853 sampai 1881

Peninggalan Semasa bertahta, MN IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta, telah ditutup) dan Tasikmadu, memprakarsai berdirinya Stasiun Solo Balapan sebagai bagian pembangunan jalur rel kereta api Solo – Semarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota.

Pada masa pemerintahannya, pihak istana Mangkunegaran menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama, dan beberapa komposisi gamelan. Salah satu karya komposisinya yang terkenal adalah Ketawang Puspawarna, yang turut dikirim ke luar angkasa melalui Piringan Emas Voyager di dalam pesawat antariksa nirawak Voyager I tahun 1977. Atas jasa kepujanggaannya, khususnya dalam penulisan Serat Wedhatama, MN IV mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Pemerintah RI melalui Keppres RI nr. 33/TK/Tahun 2010 secara anumerta, yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada perwakilan kerabatnya pada tanggal 3 November 2010.

MN IV wafat tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu. Dapat dikatakan bahwa pada masa pemerintahannya, Mangkunagaran berada pada puncak kebesarannya.

Sumber : https://www.wikiwand.com/id/Mangkunegara_IV

Orang-orang Bugis & Makassar dalam KNIL Nederlands-Indië dan KNIL dalam pasca proklamasi kemerdekaan 1945

Tercatat dalam sejarah, anggota Tentara Kerajaan Nederlands-Indië atau KNIL yang berasal dari Sulawesi Selatan atau biasa disebut sebagai orang Bugis, tidak terlalu banyak.

Dicatat oleh Haji Daeng Mangemba dalam Takutlah pada Orang Jujur: Mozaik Pemikiran (2002:46-47), masuk dalam istilah Tongguruk Sorodadu, yang artinya kira-kira akan jatuh derajat seseorang jika menjadi serdadu (tentara KNIL). Pekerjaan itu dianggap hanya untuk orang putus asa dan tidak punya pengharapan lain. Apalagi orang Sulawesi Selatan punya akar pemusuhan dengan Belanda.

Dan menurut Maulwi Saelan (mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa), orang Bugis dan Makasar jarang dijadikan prajurit KNIL karena tingkat kesetiaan yang rendah.

Dalam catatan Barbara Sillar Harvey mencatat dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII (1989:51) bahwa anggota KNIL yang berasal dari Bugis termasuk sedikit. Ia menambahkan bahwa mereka dianggap mudah mengamuk. Antara tahun 1890 hingga 1905 tercatat hanya 321 orang Bugis yang berdinas di KNIL.

Sementara pada tahun 1916 seperti dikutip dari buku Peperangan Kerajaan di Nusantara (2003:325-326) karya RP Suyono, hanya terdapat 36 orang Bugis dari total 30 ribu lebih anggota KNIL.

Makassar diawal revolusi atau pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 24 September – 28 Oktober 1945. Terjadi konflik antar serdadu KNIL pro republik dari Morotai (golongan orang muda) dengan KNIL pro Belanda (golongan orang tua). Menurut Abdul Haris Nasution dalam Seputar Perang Kemerdekaan Indonesia 2 (1977:479), pada 1945 di Makassar terdapat dua golongan KNIL: yang pro Belanda dan yang diam-diam pro Republik.

Ahmad Junus Mokoginta dalam Sedjarah Singkat Perdjuangan Bersendjata (1964:45) menyebutkan bahwa terdapat satu kompi KNIL yang dicurigai akan berontak di Morotai dan kemudian dikapalkan ke Makassar. Menurut Nasution, kompi itu dipimpin oleh Kapten Abeng. KNIL golongan muda yang pro Republik ditempatkan di Jalan Goa. Sementara golongan tua yang pro Belanda ditempatkan di Kampemen KIS.

Kelompok KNIL pro republik dipimpin oleh Sersan Salendu dan Sersan Laloan, beserta beberapa serdadu HEIHO. Tetapi perlawanan mereka kalah dengan Belanda, dan akhirnya Salendu dan 5 orang KNIL pro Indonesia lainnya tertangkap, beserta juga dengan 10 mantan Heiho, diadili. Mereka diganjar hukuman kurungan 10 tahun. Salendu pernah ditempatkan di Penjara Cipinang. Setelah itu, tak ada lagi kabar tentang Salendu atau Laloan. Sementara itu Sam Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi ditangkap karena dituduh mendukung sersan Salendu & sersan Laloan. Sam Ratulangi jadi tahanan lalu diasingkan atau dalam pembuangan di Serui, Bangka, lalu dipindahkan jadi tahanan rumah di Jakarta karena masalah kesehatan.

Meski upaya penyerangan dan pemberontakan golongan anak muda KNIL pro republik terhadap Belanda berujung kegagalan, tetapi kaum Republik di Makassar dan sekitarnya terus bergerak.

Sumber:

  • Haji Daeng Mangemba dalam Takutlah pada Orang Jujur: Mozaik Pemikiran
  • Maulwi Saelan (mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa)
  • Abdul Haris Nasution dalam Seputar Perang Kemerdekaan Indonesia 2
  • Ahmad Junus Mokoginta dalam Sedjarah Singkat Perdjuangan Bersendjata
  • RP Suyono dalam buku Peperangan Kerajaan di Nusantara
  • Petrik Matanasi (penulis tirto)
  • Mesin pencari google

Credit : Engel Yong

Andi Abdul Azis, Veteran Perang Dunia II di Eropa

Dia memang bukan anggota Kopassus. Namun pengalamannya sebagai orang Indonesia yang pernah dilatih sebagai Pasukan Khusus oleh tentara Inggris cukup menarik. Andi Azis sendiri hanya sebentar di TNI sebelum terlibat dalam pemberontakan. Andai ketika itu ia masih berdinas di TNI tentu akan ditempatkan di Pasukan Khusus karena pengalamannya bertempur ala komando di Eropa.

Andi Abdul Azis, Bugis tulen. la lahir pada 19 September 1924, di Simpangbinangal, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Andi Azis memulai pendidikan dasarnya di Europe Leger School (ELS) namun tidak sampai tamat. Europe Leger School adalah sekolah dasar kolonial yang memiliki gengsi paling tinggi dibanding Holandsche Inlandsch School. ELS ini diprioritaskan untuk anak-anak Belanda atau Eropa dan bangsawan pribumi. Andi Azis tidak lulus sekolah ini bukan karena dia tidak mampu secara akademis maupun finansial, melainkan karena dibawa ke Negari Belanda sebelum lulus. Ketika itu usianya sekitar 11 tahun.

Andi Azis lalu diangkat sebagai anak dan dibawa seorang pensiunan Asisten Residen bangsa Belanda ke negeri Belanda. Di Negeri Belanda, pada 1935, ia memasuki Leger School dan tamat pada 1938, selanjutnya meneruskan ke Lyceum sampai 1944. Sebenamya Andi Azis sangat berhasrat untuk memasuki sekolah militer di negeri Belanda untuk menjadi seorang prajurit Belanda pada masa damai. Tetapi niat itu tidak terlaksana dengan baik karena pecah Perang Dunia II. Namun Andi Azis jadi anggota militer juga. Andi Azis memasuki Koninklijk Leger (KL), Tentara Kerajaan Belanda di Negeri Belanda.

Di KL, Andi Azis bertugas sebagai tim pertempuran bawah tanah melawan Tentara Pendudukan Jerman (NAZI). Dari pasukan bawah tanah kemudian Andi Azis dipindahkan kebelakang garis pertahanan Jerman, untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dari dalam. Karena di Eropa kedudukan sekutu semakin terjepit, maka secara diam-diam Andi Azis dengan kelompoknya menyeberang ke Inggris, daerah paling aman dari Jerman walaupun sebelum 1944 sering mendapat serangan bom Jerman dari udara.”

Di Inggris kemudian Andi Azis mengikuti latihan pasukan komando di sebuah Kamp sekitar 70 kilometer di luar London. Andi Azis lulus dengan pujian sebagai prajurit komando. Selanjutnya mengikuti pendidikan Sekolah calon Bintara di Inggris dan menjadi Sersan Kadet (1945). Pada Agustus 1945 karena SEAC dalam usaha mengalahkan Jepang di front timur memerlukan anggota tentara yang dapat berbahasa Indonesia, maka Andi Abdul Azis kemudian ditempatkan ke komando Perang Sekutu di India, berpindah-pindah ke Colombo dan akhimya ke Calcutta dengan pangkat Sersan. 46

Andi Azis mungkin satu-satunya orang Indonesia yang mendapat latihan pasukan komando di Inggris. Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut menjadi bagian, walau tidak secara langsung, dari kelahiran pasukan-pasukan komando dunia seperti SAS milik Inggris dan KST Belanda. Andi Azis, seperti halnya Westerling, merupakan orang-orang di luar negeri Belanda yang ikut membebaskan negeri itu dari pendudukan Jerman. Seperti Halim Perdana Kusuma, Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut serta dalam perang Dunia II di front Barat Eropa.

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, Andi Azis diperbolehkan memilih tugas apakah yang akan diiku tinya, apakah ikut kesatuan-kesatuan sekutu yang akan ber tugas di Jepang atau yang akan bertugas di gugus selatan (Indonesia). Dengan pertimbangan bahwa telah 11 tahun tidak bertemu orang tuanya di Sulawesi Selatan, akhirya ia memilih bertugas ke Indonesia, dengan harapan dapat kembali dengan orang tuanya di Makassar.

Catatan:
– Deskripsi dari buku Sang Komandan, Petrik Matanasi.
– Foto dari koleksi keluarga Andi Abdul Azis, ibu Winda Noeradi.

Credit : Engel yong

Profil Divisi SS ke-13 Handscar – Pasukan Muslim NAZI

Dalam tahun 1943, setelah hampir lebih dari 3 tahun berperang, Jerman mulai merasakan kebutuhan tambahan kekuatan di dalam tubuh pasukannya. Setahun sebelumnya, beberapa kesatuan yang berasal dari Belanda, Belgia, Perancis dan Negara-Negara Baltik telah dibentuk. Kesatuan-kesatuan tersebut di masukan baik dalam tubuh pasukan Waffen SS maupun dalam tubuh Wehrmacht. Kemudian satuan-satuan yang berasal dari bekas negara Yugoslavia pun mulai dibentuk, salah satu satuan yang dibentuk adalah 13th Division Der SS “Handscar” Croatie Nr 1. Sebuah divisi croatia yang terdiri sebagian besar oleh satuan-satuan muslim yang mendiami bekas koloni Kerajaan Ottoman itu. Divisi tersebut nantinya bertugas untuk mengamankan wilayah Kroasia dan sekitarnya, namun pada kenyataannya ia juga terlibat dalam berbagai macam operasi pemberantasan ‘partisans’ dan kaum komunis yang merong-rong wilayah itu.

Divisi Handscar digagas pembentukannya oleh Reichfuher Heinrich Himmler beserta dengan Jendral SS Gottlob Berger dengan persetujuan Fuhrer Adolf Hitler di tahun 1942. Himmler menganggap bahwa Islam dan Doktrin Nazi mempunyai musuh yang sama yaitu sama-sama menganggap bahwa Yahudi dengan Zionismenya adalah sebuah bahaya laten dan permanen, serta mereka sama-sama memerangi komunis internasional ‘Commitern’ sebagai musuh mereka yang tak bertuhan. Himmler juga antusias dengan doktrin muslim tentang Jihad yang menjanjikan surga jika mereka berperang hingga titik darah penghabisan melawan musuh-musuh agama.

Selain itu menurut Chris Bishop, Himmler diyakinkan bahwa Muslim Kroasia masih mempunyai kedekatan ras dengan Jerman, karena secara fisik, mereka sangat berbeda dengan bangsa Slavia dan Turki yang mendiami daerah itu juga. Sehingga tidak melanggar salah satu poin khusus yang menyebutkan bahwa anggota-anggota divisi SS harus berasal dari bangsa Jerman asli atau bangsa-bangsa lain yang mempunyai kedekatan biologis dengan ras Arya.

Nama Handschar yang artinya adalah pedang melengkung dalam bahasa Jerman merupakan simbol dari pedang tentara ‘Saracen’, tentara tradisional muslim pada jaman dahulu. Dalam bahasa Inggris, pedang itu disebut dengan ‘sebre’ atau ‘scimitar’. Divisi ini sendiri mulai dibentuk pada Maret 1943 dengan kommandan pertama mereka Herbert Von Obwurzer.

Pada rekrutmen pertama terdapat lebih dari 20.000 orang muslim kroasia dan beberapa etnis kroasia selain muslim yang mendaftar sebagai anggota. Selain itu terdapat pula beberapa ratus orang Jerman sendiri yang menjadi staff dan instruktur dalam pelatihan. Peresmian Divisi Handscar dihadiri oleh Haji Imam Al Huseini, Imam Besar Masjid Al Aqsa, seorang yang disebut-sebut akan membentuk Negara Islam bersatu di wilayah Timur Tengah (Mesir, Palestina, Syria, Saudi Arabia, Hingga Irak) di bawah dukumgan Jerman.

Beberapa Operasi besar yang diikuti oleh Handscar antara lain :

Operasi pemberantasan ‘Partisan Yugoslavia’ : Partisan Yugoslavia berada di bawah komando Jozep Broz Tito semakin sengit melakukan perlawanan terhadap kekuatan Jerman di wilayah Balkan. Meskipun awalnya ia tidak begitu di kenal oleh kalangan sekutu, namun berkat keberhasilannya menaklukan tentara Axis, terutama dalam kantung-kantung yang dikuasai oleh tentara Italia. Maka namanya semakin dikenal, ia bahkan mendapat dukungan penuh dari pemerintahan Inggris di awal tahun 1943 dan menolak secara tegas untuk terlibat di dalam Komunis Internasional, meskipun pergerakannya bersifat sosialis. Divisi Handscar terlibat dalam beberapa operasi dalam pemberatasan partisan ini bersama dengan beberapa divisi SS lain.
Operasi Wegweiser : Bertujuan untuk membasmi partisan yang menyerang wilayah Syrmia antara kota Zagreb dan Belgrade. Dalam operasi ini, Handscar menderita korban cukup banyak dengan 573 orang tewas serta 82 tertangkap.
Operasi Sava : dimulai pada 15 Maret 1944, operasi ini bertujuan untuk membebaskan wilayah sekitar sungai Sava. Operasi ini juga disebut Operasi Liberasi Bosnia, yang berusaha membebaskan wilayah ini dari pendudukan tentara partisan yang waktu itu semakin kuat. Kekuatan partisan berhasil dipukul mundur setelah mereka kehabisan amunisi dan menderita kerugian korban jiwa yang cukup besar.
Operasi ke Ostfront, operasi ini digunakan untuk membantu pasukan Jerman yang mulai kewalahan melawan offensive pasukan Soviet yang mulai merangsek masuk ke dalam wilayah eropa timur. Dalam berbagai macam serangan yang dibangun, divisi ini mulai melakukan desersi karena korban yang cukup banyak dan semakin merangkseknya pasukan Soviet ke wilayah Yugoslavia sendiri. Divisi ini akhirnya dibubarkan menjelang jatuhnya Jerman.

Keterangan foto : Anggota Divisi Handschar Sedang Membaca Islam vs Yahudi, ditulis oleh kementrian propaganda Jerman

Sumber : https://aninditasaktiaji.com/profil-divisi-ss-ke-13-handscar-pasukan-muslim-nazi/

Bagaimana Jika Jepang Tidak Menyerang Pearl Harbour di Tahun 1941

Kita semua tahu bahwa pada 7 Desember 1941, Jepang menyerang pangkalan Amerika Serikat di Pasifik. Pangkalan yang terkenal dengan nama Pearl Harbour ini menjadi titik dimana Amerika Serikat yang kala itu lebih memilih menjauhkan diri dari konflik Eropa, akhirnya memilih untuk menceburkan diri di dalam peperangan paling berdarah di dalam sejarah. Sebuah keputusan yang kelak merubah negara yang tadinya kalut dalam krisis ekonomi, menjadi kekuatan nomor satu di dunia.

Namun bagaimana jika Jepang tidak mempunyai keinginan untuk menyerang Amerika? Apakah negara Amerika itu juga akan tetap ikut dalam kancah peperangan melawan kekuatan Axis? Dan apakah Jepang juga akan menelan kekalahan seperti yang terjadi di tahun 1945?

Berikut merupakan beberapa skenario yang mungkin dapat terjadi. Meskipun skenario ini bukanlah sebuah studi ilmiah, namun beberapa saya ambil dari literatur, simulasi perang dengan RTS, dan mungkin sedikit imajinasi.

Pertama, Amerika masih tetap akan berperang. Publik Amerika memang menolak keras keikutsertaan mereka dalam kancah Perang Eropa, namun seiring berjalannya waktu, Amerika akan tetap terjun ke perang itu. Seperti apa yang terjadi pada Perang Dunia Pertama. Dalam tahun 1940 – 1941 saja, ratusan ribu ton peralatan perang dikirim dari Amerika ke Inggris dengan convoy armada. Convoy ini berpotensi akan menyulut api peperangan karena U-boat tidak akan segan-segan untuk menghajar iring-iringan kapal yang memang menjadi sasaran tembak mereka.

Kedua, Jepang akan fokus peperangan di China. Peperangan di China seperti sebuah never Ending Story bagi Jepang. Namun apabila Jepang mau sedikit bersabar saja, dan memanfaatkan perpecahan antara kubu Nasionalis dan Komunis. Maka perang di China akan dapat diatasi. Skenario yang memungkinkan adalah, Jepang akan membentuk beberapa negara boneka di wilayah yang mereka kuasai. Membentuk negara boneka jauh lebih efisien daripada membentuk sebuah pemerintahan militer yang dibenci rakyatnya. Sementara itu, perundingan damai akan dilakukan dengan wilayah China timur dan selatan yang dikuasai Komunis dan Nasionalis.

Ketiga, membantu Jerman menyerang Soviet di Siberia. Siberia adalah wilayah timur Soviet, ia berbatasan langsung dengan Manchuria atau Manchukuo yang diduduki oleh Jepang. Beberapa konflik antara Jepang dan Soviet pernah terjadi di sepanjang garis batas Manchuria. Salah satu yang paling besar diantaranya adalah pertempuran Khalkin Ghol pada tahun 1939. Meskipun pertempuran ini tidak jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Jika Jepang membantu Jerman di Siberia, maka konsentrasi Soviet akan terpecah menjadi dua.

Dengan terikatnya kekuatan Soviet di dua sisi, maka kemungkinan Jerman untuk memenangkan pertempuran di Moskva pada 2 Oktober 1941 akan jauh lebih besar. Seperti kita tahu, Soviet yang merasa yakin jika Jepang sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menyerang Siberia, berani untuk memindahkan sebagian besar pasukannya dari perbatasan timur untuk bertempur di Front Moskva. Dan pemindahan pasukan di akhir tahun 1941 ini sangat krusial. Jendral Zhukov mampu menghadang serbuan Grup Tentara Tengah Jerman yang dipimpin Fedor von Bock dengan bala bantuan fresh dari timur. Jika Jepang menyerang Siberia, bala bantuan ini tentu saja akan terikat di Siberia untuk melawan Imperial Japan Army.

Siberia juga adalalah tempat yang strategis bagi Soviet. Tanahnya mengandung deposit batu bara, besi, dan minyak yang dapat membantu negara itu untuk menjalankan mesin perangnya. Minyak memang belum banyak diolah di wilayah ini pada tahun 1941. Namun jika wilayah ini jatuh ke tangan Jepang, maka kebutuhan Jepang untuk menyerang Asia Selatan akan sedikit berkurang. Sumber daya alam ini juga akan mempermudah kampanye militer Jepang di China.

Keempat, jika Jepang beraliansi dengan Jerman maka ia secara otomatis akan berperang dengan Hindia timur, Indochina, dan koloni-koloni Sekutu lain di Asia. Dengan pengecualian Filipina yang berada di bawah bendera Amerika. Jepang dapat menyerang koloni-koloni ini di tahun 1942 – 1943. Tentunya tanpa perlawanan berarti karena negara-negara induk mereka di Eropa sudah babak belur.

Kelima, Jepang dan Amerika akan tetap berperang terutama untuk memperebutkan pengaruh di Filipina. Peperangan ini akan terjadi kemungkinan pada tahun 1943 – 1944. Namun, dengan kuatnya cokolan Jerman di Eropa, Amerika akan sangat berhati-hati dalam menjalankan perang. Perang di Asia akan berhenti (sekali lagi kemungkinan) dengan sebuah perundingan damai. Yang berisi pembagian pengaruh antara Jepang dan Amerika di sana. Midway barangkali akan menjadi zona buffer antara kedua negara tersebut.

Penyerangan Jepang ke Pearl Harbour adalah sebuah presatasi militer gemilang. Namun efek domino yang dihasilkannya justru menjadi sebuah petaka tersendiri bagi Jepang. Jika saja petinggi militer Jepang di kala itu lebih berhati-hati dalam melangkah, kemungkinan besar sejarah akan berputar seratus delapan puluh derajat. Yah, walau bagaimanapun, sejarah sudah terjadi. Dan barangkali sebagian besar penduduk Asia sekarang bersyukur ketika mengingat bahwa negara matahari terbit itu melakukan serangan Pearl Harbour yang berujung pada menyerahnya kekaisaran itu di tahun 1945.

Sumber : https://aninditasaktiaji.com/bagaimana-jika-jepang-tidak-menyerang-pearl-harbour-di-tahun-1941/

Iding Soemita

Tak banyak yang tahu tentang sosok yang satu ini. Namanya Iding Soemita. Pria kelahiran Cikatomas, Tasikmalaya, 3 April 1908, itu tampil menjadi simbol perekat persatuan puluhan ribu buruh asal Jawa di Suriname.

Suriname merupakan salah satu koloni Belanda di Amerika Selatan. Daerah yang berbatasan dengan Brazilia itu punya beragam hasil perkebunan dan pertambangan. Pada 1890, Pemerintah Hindia-Belanda mengirim orang-orang dari Pulau Jawa untuk dipekerjakan menjadi buruh kontrak di sana.

Iding, saat dikirim ke Suriname, 1925
Mayoritas buruh yang dikirim ke Suriname berasal dari desa-desa yang tersebar di seluruh pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara buruh asal Jawa Barat hanya menempati sebagian kecilnya. Di antara minoritas suku Sunda yang dikirim ke Suriname itu, diisi buruh asal Tasikmalaya.

Gelombang migrasi buruh asal Tasikmalaya ke Suriname terjadi secara bertahap dari tahun 1897 sampai 1939. Mereka berasal dari berbagai distrik, seperti Tasikmalaya, Singaparna, Banjar, Ciawi, Manonjaya, Panjalu, Taraju, Karangnunggal, Kawali, Indihiang, Rancah, Cikatomas, dan Pangandaran. Buruh asal Tasikmalaya yang dikirim ke Suriname berjumlah 284 orang dari total 32.956 buruh asal Pulau Jawa, terdiri dari 114 laki-laki dan 70 perempuan, termasuk anak-anak.

Mereka dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan tebu, kakau (coklat), kopi dan tambang boksit. Bersama imigran Sunda lainnya, buruh asal Tasikmalaya meleburkan diri dalam budaya Jawa yang menjadi latar belakang budaya mayoritas. Meski berada di tengah dominasi Jawa, buruh asal Tasikmalaya telah menoreh karya sejarah yang berharga bagi bangsa Jawa di Suriname.

Iding Soemita, adalah sosok kharismatik yang sukses mempelopori perjuangan hak-hak politik bangsa Jawa di Suriname. Ia tiba di Suriname pada 25 Oktober 1925 dan bekerja sebagai perawat di perkebunan gula Marienburg dan Zoelen. Nama Iding Soemita menjulang di antara puluhan ribu buruh asal Jawa di Suriname.

Kiprahnya dimulai saat pria asal Desa Bengkok, Cikatomas, itu mengusulkan kepada rekan-rekannya untuk menghimpun dana pemakaman secara gotong royong. Dana pemakaman itu nantinya akan digunakan untuk orang-orang Jawa yang meninggal agar dapat dikuburkan secara layak dan terhormat. Usulan Iding disepakati seluruh buruh kontrak Jawa di Malbork.

Keberhasilan Iding mengorganisasi dana pemakaman rupanya berkembang menjadi sebuah wacana progresif mengenai semangat pergerakan. Ia berhasil membangkitkan kesadaran bangsa Jawa Suriname, mengenai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan.

Sebagai sosok antikolonial, Iding tampil ke depan mendampingi para pekerja yang terkena sanksi pidana akibat bolos kerja atau perselisihan perburuhan. Iding berangsur menjadi pemimpin politik yang disegani ketika menyuarakan gerakan pulang ke Tanah Air yang dikenal Moelih n’ Djawa pada 1933.

Ketidakkonsistenan pemerintah kolonial tentang pemulangan kuli kontrak ke Jawa setelah kontraknya habis lima tahun ditengarai menjadi alasan munculnya gerakan ini. Puncaknya terjadi pada tahun 1946, Soemita bersama rekan sesesama buruhnya mendirikan perhimpunan pergerakan bernama Persatuan Indonesia (PI).

Agenda politik PI adalah menuntut kepada pemerintah Belanda agar segera memulangkan buruh kontrak Jawa Suriname ke tanah air atau lebih dikenal sebagai politik “Nagih Djangjie”. Untuk menopang perjuangan PI, Iding membentuk kelompok militan bernama “Benteng Hitam” dan Pagar Rakyat Indonesia Suriname (PRIS).

Pada 1948, Iding mengubah nama PI menjadi “Kaoem Tani Persatoean Indonesia” (KTPI) dan mendeklarasikannya sebagai partai politik. KTPI tampil menjadi partai politik yang mewadahi perjuangan politik bangsa Jawa di Suriname. KTPI turut berpartisipasi dalam gelaran Pemilu Suriname tahun 1949 di distrik Commewijne. Dalam kontestasi tersebut, Iding berhasil mendapatkan jatah kursi parlemen dengan perolehan 2.325 suara. Di Parlemen, Iding aktif terlibat dalam setiap perundingan dengan Belanda terkait kemerdekaan Suriname.

Saat ini, menteri perburuhan Suriname dijabat Soewarto Moestaja, yang tampaknya juga merupakan keturunan Jawa

sumber : soekapoera.or.id

Pj Bupati Apriyadi Tinjau Jembatan Ambruk Akibat Longsor

Armen News – Melansir dari Info Kecamatan Lais pada Sabtu (13/5/2023). Tampak sebuah jembatan yang berada di Desa TanjungAgung Selatan Kecamatan Lais ambruk. Ambruknya jembatan tersebut di akibatkan tanah longsor.

Menyikapi informasi tersebut tanpa menunda waktu, meskipun tengah weekend Pj Bupati Muba Apriyadi langsung meninjau TKP, diketahui jembatan yang ambruk ini merupakan jembatan yang menghubungkan ke desa Purwosari, philip 1, philip 5 dan Desa Paldas.

“Kondisi jembatan yang ambruk akibat tanah sekitar longsor ini, akan segera di perbaiki. Mengingat ini adalah jembatan yang banyak dilalui oleh masyarakat sekitar untuk berkebun dan sebagai jalan pintas menuju ke beberapa desa,” kata Pj Bupati Muba.

Disampaikan Apriyadi, akibat dari ambruknya jembatan ini aktifitas warga menjadi terganggu. Untungnya warga sekitar berinisiatif untuk membuat jembatan sementara yang bisa dilalui,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Muba Alva Elan SST MPSDA mengatakan, pihaknya akan segera melakukan perbaikan.
“Benar saja jembatan ini ambruk diakibatkan longsor dari arus sungai yang ada di bawah jembatan. Sesuai dengan instruksi Bupati jembatan ini akan dibangun sementara menggunakan rangka besi dari dana BTT,” ucapnya.

Ia menambahkan, perbaikan permanen akan dilakukan pada tahun 2024. “Usulan perbaikan permanen dianggarakan pada APBD 2024,” tandasnya.

Usai melakukan peninjauan Pj Bupati Muba H Apriyadi, memanfaatkan kesempatan ini untuk sekaligus melakukan silaturahmi bersama dengan masyarakat setempat.

Orang Minahasa Dalam KNIL, Kerap Memberontak

Cikal bakal orang-orang Minahasa jadi KNIL bermula dari pasukan Tulungan setelah kembali dari perang Jawa atau lebih dikenal perang Diponegoro (1825-1830).

Pasukan Tulungan, menurut Jessy Wenas, adalah hasil lobi Residen Manado Daniel Francois Willem Pietermaat kepada para tokoh masyarakat. Pasukan Minahasa yang disebut Tulungan yang artinya “tulung=tolong bantu”, itu dikenal sebagai Serdadu Minahasa.

Setelah perang Jawa selesai, “banyak pemuda Minahasa kembali ke kampung halamannya,” ditulis RZ Leirizza dalam Minahasa di Awal Perang Kemerdekaan Indonesia, dikatakan bahwa minat untuk menjadi tentara pun meningkat. Tak heran pada masa-masa setelahnya banyak orang Minahasa yang bersemangat jadi serdadu KNIL.

Menurut RP Suyono dalam bukunya Peperangan Kerajaan di Nusantara, ditulis bahwa jumlah orang Minahasa di KNIL lebih banyak daripada orang Ambon. Meski yang terbanyak tetap dipegang oleh orang Jawa. Pada tahun 1916, personel KNIL asal Jawa berjumlah 17.854, Ambon 4.000, dan Manado 5.000.

KNIL berasal dari Minahasa juga dicap oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai serdadu yang kerap memberontak pada pemerintah Hindia Belanda. Contohnya pada era politik etis Belanda, pada tahun 1927 salah satu kopral KNIL dari Minahasa melakukan pemberontakan tapi gagal menghancurkan bengkel & gudang senjata miter Belanda di Bandung (tercatat dalam buku Dr Tjipto Mangunkusumo: Demokrat Sejati (1952) oleh M Balfast). Dampak dari pemberontakan ini, Tjipto Mangunkusumo menerima hukuman karena dituduh membantu dalam hal pemberian uang kepada kopral KNIL.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Serdadu KNIL dari Minahasa mulai beralih ke republik Indonesia atau pro republik Indonesia. Dan mereka melakukan beberapa pemberontakan di Indonesia. Misalnya pemberontakan serdadu KNIL Minahasa di Manado dimotori oleh CH Taulu dan SD Wuisan dikenal peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, tapi gagal dan dipenjara. Ada juga pemberontakan serdadu KNIL oleh sersan Loloan bersama temannya sersan Salendu dari Morotai ke Makassar, memimpin pemberontakan di Makassar 24 September 1946, dengan tujuan melawan pemerintah Belanda, tapi gagal juga lalu dipenjara.

Sikap orang Minahasa yang berani memberontak kepada Belanda ini sudah ada sejak kedatangan VOC. Di era VOC pernah terjadi perang pada tahun 1661-1664, lalu damai lagi, tapi perang lagi pada tahun 1808-1809 dengan pemerintah Hindia Belanda. Dalam buku Nusantara Membara: Hancurnya KNIL Minahasa oleh Nino Oktorino dicatat bahwa orang Minahasa berani melawan Belanda ketika kepentingan mereka tidak diakomodasi oleh pemerintah kolonial Belanda, di situ orang Minahasa tidak segan-segan untuk protes secara literasi (contoh: protes tanam paksa kopi di Minahasa 1822-1870) dan memberontak secara militer pada pemerintah kolonial Belanda.

Dalam KNIL Minahasa lahirlah serdadu-serdadu KNIL yang memiliki peran penting era pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, contohnya Adolf Lembong, Joop Warouw, dan A.E Kawilarang.

Sumber:

  • Supit, Bert (1991). Sejarah Perang Tondano (perang Minahasa di Tondano).
  • M Balfast, Dr Tjipto Mangunkusumo: Demokrat Sejati (1952)
  • RP Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara
  • RZ Leirizza dalam Minahasa di Awal Perang Kemerdekaan Indonesia
  • Jessy Wenas, Sejarah dan kebudayaan Minahasa
  • Nusantara Membara: Hancurnya KNIL Minahasa oleh Nino Oktorino
  • Petrik Matanasi (penulis tirto)
  • Mesin pencari google

Note:
Ada juga kisah lain orang-orang Minahasa dalam Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Koninlijke Marine). Terjadi pemberontakan di kapal Zeven Provinciën tahun 1933. Pemberontakan yang dimotori oleh Rumambi, Gosal, Kawilarang (ketiganya dari Minahasa), dan Paradja (dari Sabu). Mereka menyandra para tentara darah Eropa di dalam kapal. Alasan pemberontakan karena kebijakan akan memotong gaji pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda (tentara dan pegawai negeri) sebesar 17%.

Siapa Dokter Pribumi Pertama di Indonesia Zaman Kolonial Belanda?

Saat masa kolonial Belanda, sistem pendidikan untuk orang asli Hindia Belanda baru mulai diatur pada tahun 1850. Salah satu alasannya, untuk dijadikan ambtenar atau pegawai dan membantu kepentingan kolonial–ada juga sekolah pendidikan guru atau kweekschool mulai tahun 1834.

Di satu sisi, mereka mulai khawatir dengan kurangnya tenaga kesehatan untuk mengobati bermacam penyakit di wilayah jajahannya. Sehingga didirikan sekolah khusus pendidikan kesehatan untuk pribumi di Hindia Belanda.
Sekolah itu bernama School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia yang didirikan di Kwitang, Batavia, pada 1902–sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan R.S. Cipto Mangunkusumo.

Menurut de Vries dalam Jaarboek van Batavia en Omstreken, seorang pemuda Indonesia bernama Mas Asmaun menjadi lulusan dokter dari STOVIA. Setelah mengemban pendidikan selama 3 tahun, ia bergelar Dokter Jawa–gelar yang diberikan untuk orang-orang pribumi setelah lulus dari STOVIA.
Usai lulus dari STOVIA, Asmaun yang lahir di Malang pada 1880, melanjutkan pendidikannya ke Universitas Hamburg di Belanda untuk mendapatkan gelar Dokter Penuh. Sebab, pendidikan di STOVIA sekadar ilmu-ilmu dasar kedokteran–meski pada waktu itu sudah cukup menangani masalah kesehatan masyarakat.

Pada 1908, Asmaun kembali ke Tanah Air dan tercatat sebagai dokter pribumi pertama di Batavia dan Indonesia. Ia berdinas di Kantor Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Karena dokter saat itu sangat langka, Asmaun juga membuka praktek dokter umum, selain menjadi dokter tentara kompeni.

Referensi:
Hakim, Abdul. 1989. Jakarta Tempo Doeloe. Pustaka Antarkota: Jakarta. Terjemahan dari Jaarboek van Batavia en Omstreken oleh J.J. de Vries. via https://kumparan.com/potongan-nostalgia/siapa-dokter-pribumi-pertama-di-indonesia-zaman-kolonial-belanda-1tljVd2iH8K/full

Suku Palembang atau Melayu Palembang

Suku Palembang atau Melayu Palembang (Jawi: ملايو ڤاليمبڠ)[2][3] merupakan suku bangsa Melayu yang mendiami Palembang dan juga wilayah Sumatra Selatan.[4][5] Berdasarkan statistik, penduduk suku Melayu Palembang berjumlah sekitar 3.800.000[1] populasi yang hidup di Indonesia.[6][7][8] Suku Melayu Palembang pada dasarnya adalah suku Melayu yang telah melebur dan berasimilasi dengan budaya bangsa Arab, Tiongkok, India dan Jawa dikarenakan dahulu kala Palembang merupakan tempat pusat perdagangan antarbangsa, sehingga Palembang menghasilkan budaya dan bahasa yang unik. Bahasa Melayu Palembang sendiri memiliki dua ragam bahasa yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-Sari.

Melayu Palembang
Uwong Pelémbang
ملايو ڤاليمبڠ

Jumlah populasi
± 3,800,000[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Indonesia (Sumatra Selatan)
Bahasa
Bahasa pribumi:
Melayu Palembang:
1.Palembang Alus/Bebaso
2.Palembang Sari-sari
Bahasa resmi di Indonesia:
Indonesia
Agama: Islam (mayoritas Sunni)
Kelompok etnik terkait
Melayu Riau, Melayu Jambi, Musi, Enim, Rawas, Lampung, Jawa.
Meski sebagian menganggap suku Melayu Palembang adalah bagian dari subetnik Melayu, namun Sensus Penduduk Indonesia 2010 yang mengkategorikan suku Melayu Palembang sebagai bagian dari Melayu, melainkan sebagai suku yang terpisah, dan jauh sebelum itu, sensus Hindia Belanda tahun 1930 juga yang mengkategorikan suku Melayu Palembang sebagai bagian dari Melayu.[9]

Sejarah orang Melayu Palembang erat kaitannya dengan sejarah Palembang itu sendiri sebagai tempat asal dan wilayah utama bagi masyarakat Palembang. Palembang merupakan salah satu kota yang telah ada sejak zaman kuno di Sumatra yang berperan penting utamanya dalam bidang perdagangan dalam kawasan Asia Tenggara. Pada awal abad ke-6, sebuah kemaharajaan bernama Sriwijaya lahir di Palembang yang mengindikasikan bahwa masyarakat Palembang merupakan masyarakat yang memiliki mutu peradaban yang tinggi.

Secara historis, berdasarkan salah satu prasasti kuno yang ditemukan di Palembang menyebutkan bahwa Dapunta Hyang (sang pendiri dinasti kemaharajaan Sriwijaya) merupakan seorang tokoh yang berasal dari daerah Minanga di belahan barat Sumatra atau dikenal sekarang Sumatera barat:

“ “…marlapas dari Minānga…”
— Prasasti Kedukan Bukit


Namun beberapa sejarawan, menyatakan bahwa Sriwijaya lahir dari peradaban tanah Sumatra Selatan itu sendiri, sejarawan menyebutkan bahwa Minanga berada di muara Sungai Komering Purba.[10] Memasuki masa abad selanjutnya, kira-kira pada pertengahan abad ke-9, Jawa dan Sumatra (termasuk juga Palembang) dipersatukan di bawah kekuasaan dinasti Sailendra yang memerintah di Jawa, dengan pusatnya yang berlokasi di Palembang.[11]:92

Memasuki abad ke-14, Palembang berada dalam kekuasaan Kerajaan di Jawa Majapahit yang tercantum dalam Sumpah Palapa sebagai taklukan dari Majapahit. Memasuki awal abad ke-17, Palembang menjadi pusat pemerintahan yang bernuansa Islam dengan pendirinya Susuhunan Abdurrahman, bangsawan Palembang pelarian dari Kesultanan Demak akibat kemelut politik setelah mangkatnya Sultan Trenggana. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu faktor utama mengapa masyarakat Palembang memiliki pengaruh unsur Jawa terutama dalam hal linguistik, sistem kebangsawanan dan lain sebagainya.[butuh rujukan]

Sumber: Wikipedia

Penemu Pertama Bunga Bangkai Rafflesia

Nama Sir Thomas Stamford Raffles sudah tidak asing di telinga kita. Sosok terkenal sebagai letnan gubernur Jawa pada 1811, ketika Kerjaan Inggris merebut wilayah Hindia Timur–Indonesia–dari tangan Belanda.

Saat berkuasa di Indonesia, Raffles juga berkontribusi dalam penelitian flora dan fauna di Pulau Jawa. Namanya juga diabadikan pada nama tanaman parasit terbesar di dunia yang dikenal sebagai bunga rafflesia.

Penamaan itu diberikan kepada spesies baru dengan nama penemunya sebagai bentuk penghargaan atas penemuannya. Namun, ternyata Raffles bukanlah orang yang pertama menemukan tanaman yang dijuluki bunga bangkai itu.
Lantas siapakah penemu bunga bangkai sebenarnya?
Raffles tercatat memang menemukan salah satu jenis spesies dari bunga bangkai pada 1818. Namun, jenis bunga bangkai yang ia temukan bernama latin rafflesia arnodii.
Sebelumnya, seorang ahli bedah dan peneliti asal Perancis, Louis Auguste Deschamps, lebih dulu menjelajahi dan meneliti flora di Hindia Belanda pada 1791-1794. Dalam buku The East India Company and the Natural World, Deschamps pertama kali menemukan jenis spesies bunga bangkai yang dikenal dengan rafflesia patma.

Namun, ketika saat perjalanan kembali ke Belanda pada 1798, kapalnya ditangkap oleh militer Inggris. Sementara semua dokumen dan penemuannya itu disita pada 1803 dan tidak dipublikasikan ke publik hingga tahun 1954 setelah dipamerkan di Natural History Museum, London, Inggris.

Sementara Rafflesia Arnoldii ditemukan Raffles dan seorang rekannya, Joseph Arnold di Bengkulu menemukan bunga bangkainya bersama seorang rekannya pada Juni 1818. Sehingga penamaan spesies bunga itu merupakan gabungan dari nama mereka.
Usai ekspedisi tersebut, Arnold menderita malaria hingga meninggal dunia. Pada 1819, ilustrasi, sampel, dan deskripsi bunga tersebut dibawa ke London oleh Thomas Horsfield, peneliti yang menetap di Jawa, dan diserahkan ke Joseph Banks.

Pada tahun yang sama, penamaan Rafflesia Arnoldii baru diberikan oleh Robert Robert dan muncul di The Transaction of the Linnean Society pada tahun 1821. Sampel yang diawetkan kemudian menjadi koleksi di British Museum.
Rafflesia arnoldii menjadi jenis bunga bangkai terbesar dan paling terkenal dari genus rafflesia, dengan diameter mencapai satu meter dan berat lebih dari 6 kilogram.

Sedangkan genus Rafflesia yang sudah ditemukan terdiri dari 39 spesies dan berpenghuni daerah khusus di hutan hujan tropis Sumatera, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Thailand selatan, dan Filipina.

Referensi:
– The East India Company and the Natural World
– Laman steemit.com
– nationaalherbarium.nl
via https://kumparan.com/potongan-nostalgia/bukan-thomas-raffles-ternyata-ini-penemu-pertama-bunga-bangkai-rafflesia-1tn7wSETdwB/full

Pertempuran Yunani (April 1941)

Pertempuran Yunani memang terbilang singkat, pertempuran itu berlangsung hanya kurang lebih 3 minggu lamanya dari 6 – 30 April 1941. Dengan catatan, itu adalah waktu ketika Jerman ikut campur di dalam pertempuran di negeri para dewa. Pertempuran Yunani vs Italia sebenarnya dimulai sejak November 1940 dengan capaian yang awalnya cukup menggembirakan bagi Italia. Namun sayang, para keturunan Legiun Romawi itu rupanya harus mengakui ketangguhan ksatria Hellenic. Sampai pada Maret 1941, Italia bahkan harus mundur berpuluh-puluh kilometer hingga pedalaman Albania.

Hitler sendiri murka ketika Musolini memutuskan untuk menyerbu Yunani di November 1940. Alasannya, ia sendiri sedang sibuk untuk mempersiapkan invasi ke Russia yang dijadwalkan pada awal musim panas tahun 1941. Dan pertempuran di Yunani akan berdampak besar jika Inggris sampai ikut campur. Ketakutan Hitler itu ternyata bukan tanpa dasar. Terbukti, Inggris benar-benar menurunkan 62,612 orang di Yunani hingga akhir April 1941. Jika saja Jerman tidak bertindak cepat kala itu, Yunani dapat menjadi batu pijakan sekutu untuk kembali merebut Eropa lewat jalur selatan.
Jerman mengerahkan 630,000 orang dan 1,200 tank ke Yunani untuk merebut negara itu sebelum sempat diperkuat lebih jauh oleh Sekutu. Akibatnya, operasi Barbarossa-pun yang bertujuan menyerbu Soviet harus tertunda 3 bulan lamanya, dari April sampai Juli 1941. Mungkin anda bertanya, apa pengaruhnya sebuah operasi militer yang tertunda 3 bulan? Untuk situasi di tanah Rusia, waktu 3 bulan adalah segalanya.

Jika menilik operasi militer Jerman sebelumnya di awal Perang Dunia 2, Jerman tidak pernah menggunakan waktu lebih dari dua bulan untuk melakukan invasi ke sebuah negara. Bahkan Perancis pun bertekuk lutut hanya dalam waktu kurang lebih 5 minggu. Jerman memang biasa merancang serangannya dalam waktu cepat yang terkenal dengan nama Blitzkrieg. Sehingga kerugian waktu 3 bulan yang terbuang untuk menyerang Russia tidak pernah dapat diketahui.

Sumber : https://aninditasaktiaji.com/category/sejarah/page/8/

Fotografer Amatir

Fotografer amatir bernama Anil Prabhakar dari India yang menangkap momen singkat itu di Kalimantan, Indonesia. Orangutan mengulurkan tangannya untuk membantu seorang pria keluar dari air yang dipenuhi ular.

Menurut laporan CNN, 8 Februari 2020, Prabhakar sedang melakukan safari bersama teman-teman di hutan konservasi yang dikelola oleh Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS) ketika ia menyaksikan pemandangan itu.

“Ada laporan ular di daerah itu sehingga pengawas datang dan dia membersihkan ular,” katanya.

“Saya melihat orangutan datang sangat dekat dengannya dan menawarkan tangannya.”

Prabhakar mengatakan sulit bagi pengawas untuk bergerak di air yang berlumpur dan mengalir. Menurut The Sun, petugas Borneo Orangutan Survival Foundation itu, yang terendam air hingga setinggi dada, telah membersihkan ular-ular dan semak belukar dari daerah itu untuk membantu menjaga orangutan agar tetap aman.

“Sepertinya orangutan itu mengatakan: ‘Boleh saya bantu?’ kepada pria itu,” lanjut Prabhakar. “Saya benar-benar tidak bisa memotret. Saya tidak pernah menduga hal seperti itu.

Pengawas itu menolak uluran tangan dan keluar dari genangan air menjauh dari orangutan, dikutip The Sun. Ketika Prabhakar bertanya mengapa dia menjauh, penjaga hutan mengatakan, “mereka benar-benar liar, kita tidak tahu bagaimana mereka akan bereaksi.”

Prabhakar mengatakan seluruh momen itu hanya berlangsung tiga atau empat menit. “Saya sangat bahagia bisa melihat momen itu,” katanya.

“Kami sangat senang melihat tanggapan positif dari publik terhadap foto ini. Melihat ini, kita jadi berandai-andai bahwa satwa liar bahkan bisa bersikap lebih baik terhadap manusia ketimbang kita terhadap mereka. Akan tetapi, tempat mereka di habitatnya, bukan bersama kita. Dengan membantu menjaga habitat mereka, maka kita membantu menjaga keseimbangan alam dan kelestarian mereka,” kata CEO BOS Foundation Dr. Jamartin Sihite, MSc., mengatakan kepada Tempo melalui surel, 11 Februari 2020.

Dr. Jamartin Sihite mengatakan foto ini diambil di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari di Kalimantan Timur, dan orangutan dalam foto bernama Anih. Adapun petugas BOS Foundation dalam foto bernama Syahrul.

Sumber Tempo

Sejarah Hari Ini, 12 Mei 1962: Pernikahan Bacharuddin Jusuf Habibie dan Ainun Hasri Besari

Sejarah hari ini, 61 tahun yang lalu, 12 Mei 1962, Bacharuddin Jusuf Habibie dan Ainun Hasri Besari menikah. Akadnya digelar dengan budaya Jawa, sedang resepsinya baru dilaksanakan sehari setelah akad menggunakan budaya Gorontalo di Hotel Preanger, Bandung. Pernikahan itu sangat menentukan perjalanan karier Habibie. Sebab Ainun selalu setia mendampingi Habibie dalam suka dan duka. Dari menjadi mahasiswa di Jerman, menjabat Menteri Riset dan Teknologi, hingga Presiden Indonesia.

Benih-benih cinta Habibie dan Ainun telah tumbuh semenjak keduanya masih berstatus sebagai anak sekolah. Habibie telah memperhatikan gerak-gerik Ainun. Begitu pula sebaliknya. Intensitas perjumpaan yang tinggi jadi muaranya. Apalagi setelah keduanya kembali bersekolah di sekolah yang sama saat SMA: SMA Kristen Dago, Bandung.

Keduanya acap kali jadi bintang di kelas. Habibie pintar dalam bidang ilmu pasti. Sedang Ainun pintar dalam segala bidang. Prestasi itu membuat guru-guru di sekolahan sering kali menjodohkan keduanya. Kelakar yang sering keluar adalah ketika keduanya jadi suami istri, maka anak-anaknya akan ikutan pintar.

Namun, komunikasi intens itu harus berakhir. Keputusan Habibie untuk kuliah dan berkerja di Jerman ada di baliknya. Pun saat itu, Ainun sendiri telah memutuskan melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Jodoh tak kemana. Itulah kata-kata yang dikenang Habibie. Ia yang sedang cuti bekerja segera kembali ke Indonesia. Keduanya pun bertemu kembali. Perjumpaan itu terjadi di Jakarta. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Habibie terpesona melihat paras dari Ainun. Tak lama setelahnya, mereka pacaran. Setelahnya, Habibie memberanikan diri melamar Ainun.

“Begitulah, pertemuan kembali insan ini telah memekarkan perasaan cinta yang lama terpendam. Mereka berjanji untuk saling bertemu dan merindukan satu sama lain. malam hari pacaran mereka lewati dengan begitu indahnya di dalam becak dengan tirai tertutup, meskipun sebenarnya tidak hujan. Cinta kedua insan itu berakhir dengan sebuah lamaran dari pihak keluarga Habibie. Untuk melukiskan betapa gejolak kebahagiaan setelah lamarannya diterima dilukiskan oleh S. Sapiie.”

“Ia kemudian hari Prof. Dr dan mantan Rektor ITB Bandung mendengar ucapan pertama Habibie yang ditemuinya di depan kampus ITB ketika itu dalam Bahasa Belanda yang antusias. Saya akan menikah. S. Sapiie kaget dibuatnya dan dengan berkelakar ia bertanya: siapa yang kurang beruntung tersebut? Dalam bahasa Belanda ‘ Wie is de ongelukkige? Habibie menjawab Hasri Ainun Besari,” ungkap Makmur Makka dalam buku Mr. Crack dari Pare-Pare (2018).

Tanggal 12 Mei 1962 jadi hari spesial keduanya. Mereka melangsungkan pernikahan. Akadnya berlangsung dengan budaya Jawa di Rangga Malela. Lalu, resepsinya digelar dengan adat Gorontalo sehari setelah akad di Hotel Preanger.

Keduanya senang bukan main. Suka duka pernikahan segera dirasanya. Apalagi Habibie dan Ainun harus hidup di negara yang notabene negeri orang: Jerman. Segala tantangan pun berhasil dilalui keduanya. Suka duka itulah yang membuat Ainun salalu setia mendampingi suaminya. Dari menjadi mahasiswa hingga Presiden Indonesia pada kemudian hari.

“Mereka menikah 12 Mei 1962 dan Ilham putra pertama mereka lahir tahun 1963 di Jerman, karena setelah menikah Ainun langsung diboyong ke Jerman. Di situ mereka hidup dalam rumah tangga anak muda, berpahit-pahit karena penghasilan Rudy sebagai mahasiswa tingkat doktoral masih sangat kecil. Pemasukan harus pula disisihkan sebagian untuk ditabung.”

“Masa itulah masa berat mereka di awal-awal pernikahan. Ketika harus pergi ke Belanda, jaraknya dari Aachen sangat dekat, Habibie meminta tolong untuk membelikan kereta dorong bayi karena harga di Belanda masih sangat murah,” ungkap Wardiman Djodjonegoro dalam buku Sepanjang Jalan Kenangan (2016).

Pernikahan Presiden ke-3 Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dengan Ainun Hasri Besari menjadi catatan peristiwa sejarah hari ini.

Sumber : https://voi.id/memori/166465/sejarah-hari-ini-12-mei-1962-pernikahan-bacharuddin-jusuf-habibie-dan-ainun-hasri-besari

Pelepasan atau Penglepasan?

Oleh ARMINOTO, S.Pd.

“Pak, benar pelepasan atau penglepasan. Buat banner perpisahan.” Aplikasi WhatsApp di gawai penulis, mendapat kiriman pesan itu dari salah seorang guru sekolah dasar. Pengirim pesan ragu, akan menggunakan bentuk pelepasan atau penglepasan dalam kalimat yang akan ditulis pada spanduk acara perpisahan siswa kelas 6.

“Pelepasan, Bu. Ibu pasti ragu, kan? Karena pelepasan juga bermakna ‘dubur; anus’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),” jawab penulis. Penulis kemudian menambahkan beberapa kalimat lain sebagai tambahan keterangan.

Pertanyaan singkat itu, –yang kebetulan baru saja penulis dapati siang ini– mengingatkan penulis pada kejadian yang rutin berulang setiap akhir tahun pelajaran. Maklum saja, pada saat itulah kata ini banyak digunakan satuan pendidikan, ditulis pada spanduk yang dipasang pada latar belakang panggung acara perpisahan.

Bentuk benar pelepasan sering dipersoalkan sebagian pelaku pendidikan karena dianggap sebagai bentuk yang salah. Koreksi yang diberikan justru penglepasan yang konon dianggap tidak berkonotasi negatif. Pemunculan bentuk ini dianggap benar untuk menghindari “rasa” kurang sopan.

Sebagaimana jawaban penulis pada percakapan WhatssApp tersebut, bentuk pelepasan dinilai memiliki konotasi negatif atau kurang sopan. Penyebabnya, salah satu makna kata tersebut adalah ‘dubur; anus’. Padahal, dalam KBBI, kata tersebut memiliki empat makna, yaitu (1) ‘proses, cara, perbuatan (hal dan sebagainya) melepas(kan)’, (2) ‘pemecatan (dari tugas)’, (3) ‘dubur; anus’, dan (4) ‘pengurangan atau penghilangan awan, baik secara alami maupun secara buatan.’

Dari sudut pandang pembentukannya, bentuk penglepasan berasal dari kata dasar lepas yang mendapat imbuhan ‘peng-…-an’. Namun bentuk penglepasan tentu saja tidak bisa kita temukan dalam KBBI, baik versi cetak, luring, maupun daring.

KBBI hanya mengenal pelepasan karena bentuk itulah yang sesuai dengan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Kata dasar yang diawali huruf l jika mendapat awalan peng- akan menjadi pe-. Bentukan peng- + lindung menjadi pelindung, peng- + latih menjadi pelatih, peng- + liput menjadi peliput, dan sebagainya bisa kita jadikan pembanding

Arti atau makna sebuah kata kerap tidak sesempit yang kita ketahui. Makin sering membuka KBBI, kita akan menemukan makin banyak kata yang memiliki banyak makna, setidaknya lebih banyak dari yang kita ketahui.

Alasan menghindari “rasa” kurang sopan atau konotasi negatif saat menyodorkan bentuk penglepasan untuk mengganti pelepasan tidak dapat diterima. Selain tidak ada dalam KBBI, makna sebuah kata tergantung pada konteks kalimatnya. Dalam hal acara akhir tahun pelajaran untuk melepas siswa kelas akhir, makna kata pelepasan bisa kita kaitkan dengan konteks acaranya.

Maka ketika kata pelepasan digunakan pada acara ini, maknanya adalah sebagaimana yang tercantum dalam arti nomor 1, yaitu proses melepas siswa yang telah lulus sekolah, bukan dubur.

Literasi sudah sekian lama menjadi pembahasan utama di lingkungan pendidikan. KBBI dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) adalah dua “kitab suci” yang mestinya menjadi bahan literasi untuk penutur bahasa Indonesia, termasuk dalam diskusi persoalan ini.

Jika tidak dari dua “kitab suci” itu, ada begitu banyak artikel yang bisa dijadikan bahan literasi. Berulangnya perdebatan mengenai bentuk penglepasan dan pelepasan –yang celakanya kerap berujung pada pilihan bentuk yang salah–setiap akhir tahun pelajaran, banyak diulas oleh pemerhati bahasa Indonesia. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, bahkan secara khusus menerbitkan artikel yang membahas persoalan ini. Silakan baca di https://balaibahasajateng.kemdikbud.go.id/2011/11/penglihatan-dan-penglepasan-atau-pelihatan-dan-pelepasan/.

REPUBLIK INDONESIA SERIKAT

Kalo di tanya apa Indonesia pernah memiliki bentuk negara lain
Jawabannya Iya yaitu RIS

Republik Indonesia Serikat (Republic of the United States of Indonesia) atau yang disingkat RIS,adalah sebuah negara republik parlementer federal di Asia Tenggara yang pernah berdiri antara tanggal 27 Desember 1949 hingga 17 Agustus 1950 Republik Indonesia Serikat terbentuk setelah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan Hindia Belanda (tanpa Nugini Belanda) pada tanggal 27 Desember 1949 Negara ini merupakan perserikatan antara Republik Indonesia dan negara-negara yang dibentuk Belanda di Nusantara dari tahun 1946 hingga 1949.

Federasi RIS lahir sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar, yakni
-Republik Indonesia
-Majelis Permusyawaratan Federal (BFO)
-Belanda
Kesepakatan tersebut disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB
Dengan bagi Negar Negar dalam republik Indonesia serikat
•Republik Indonesia
•Indonesia Timur
•Jawa Timur
•Sumatra Timur
•Madura
•Pasundan
•Sumatra Selatan
Republik Indonesia Serikat resmi dibubarkan pada 17 Agustus 1950 dan digantikan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia

Sejak awal,mayoritas orang Indonesia menentang sistem federal yang dihasilkan dari Konferensi Meja Bundar
Alasan utamanya adalah bahwa sistem ini dikaitkan dengan warisan kolonialisme
Alasan lain adalah termasuk perasaan bahwa negara federal tidak memiliki kohesi dan berpotensi menyebabkan pemisahan negara, serta pihak Indonesia yang menerimanya sebagai taktik jangka pendek
Selain itu, sebagian besar wilayah negara-negara bagian dikuasai oleh penguasa tradisional, yang dianggap terlalu Pro Belanda

Pada akhirnya ada ikatan etnis atau budaya yang tidak memadai antara orang-orang di masing-masing negara untuk mengatasi dominasi Jawa
Misalnya walaupun penduduk Negara Madura seluruhnya adalah etnis Madura mereka dipisahkan dari jutaan orang Madura yang tinggal di Negara Jawa Timur yang mengartikan bahwa negara tidak homogen

Bahkan pihak yang mendukung gagasan negara federal menginginkan bentuknya diputuskan oleh rakyat Indonesia sendiri melalui suatu Majelis Konstitusi terpilih,bukan oleh bekas kekuasaan kolonial
Belanda juga mencoba meyakinkan orang Indonesia bahwa negara kesatuan berarti merupakan dominasi Jawa,meskipun hal ini tidak berhasil
Adanya berbagai perbedaan pandangan di dalam negeri RIS, termasuk yang dikemukakan oleh Mohammad Natsir dengan mosi integralnya semakin membuka jalan kembalinya Republik Indonesia Serikat menjadi negara kesatuan

Pada bulan Maret dan April 1950, semua negara bagian dan daerah otonom RIS kecuali Negara Sumatra Timur dan Negara Indonesia Timur membubarkan diri untuk bergabung dengan Negara Republik Indonesia di Yogyakarta
Dari tanggal 3–5 Mei konferensi antara Negara Indonesia Timur Negara Sumatra Timur dan Negara Republik Indonesia berakhir dengan keputusan untuk menggabungkan ketiga negara tersebut menjadi satu kesatuan

Pada tanggal 19 Mei sebuah pengumuman telah dikeluarkan oleh pemerintah federal Republik Indonesia Serikat (mewakili dua negara bagian yang tersisa dan Negara Republik Indonesia) yang menyatakan bahwa semua pihak telah mencapai kesepakatan untuk bersama-sama membentuk kesatuan negara sebagai Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945
Pengumuman itu juga menandai dibubarkannya Negara Republik Indonesia sebagai negara bagian RIS
Republik Indonesia Serikat secara resmi dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1950
bertepatan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke5 dan digantikan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia

Referensi: Negara yang pernah ada RIS (Republik Indonesia Serikat) hanya semur jagung -Teras Surabaya.id 17 Agustus 2022-

CODEX GIGAS

Codex Gigas, adalah sebuah manuskrip kuno terbesar di dunia dan dipercaya sebagai kitab Iblis. Kitab ini memiliki ketebalan 620 halaman dan berukuran 1 meter. Begitu besarnya kitab ini sampai dikatakan membutuhkan lebih dari 160 kulit binatang untuk membuatnya dan 2 orang untuk mengangkatnya.

Tapi bukan ukurannya yang membuat setiap orang tercengang, melainkan karena isinya yang berkisah seputar iblis. Disebut sebagai kitab iblis karena adanya ilustrasi iblis yang besar di dalamnya dan kisah bagaimana terciptanya dirinya. Kitab ini bahkan dipercaya ditulis oleh satu orang pendeta di Bohemia (kini menjadi Republik Ceko).

Konon kitab ini adalah hasil karya seorang pendeta yang dihukum mati dengan cara dikurung hidup-hidup tanpa jalan keluar. Analisis dari teks ini memang menunjukkan bahwa kitab tersebut ditulis oleh satu orang dalam waktu singkat mengingat tingkat keseragaman dari halaman depan hingga akhir.

Jika penulisannya dibuat dalam 6 jam sehari dan menulis 6 hari seminggu, artinya manuskrip tersebut akan memakan waktu 5 tahun untuk selesai. Tapi jika penulisnya adalah seorang pendeta, maka ia hanya akan mampu menulis 3 jam sehari dan artinya akan butuh 10 tahun untuk menyelesaikan kitab tersebut.

Legenda menyebutkan bahwa kitab ini ditulis dalam satu malam dengan bantuan iblis. Tapi tidak diketahui kapan legenda ini mulai muncul dan diduga kisah pembuatannya tersebut adalah propaganda agama.

Manuskrip ini tidak hanya berisi tentang kitab perjanjian baru dan lama, tapi juga teks-teks lain yang lebih pendek seperti pengusiran setan, tata bahasa, kalender, serta pekerjaan obat-obatan. Tapi bukan elemen ini saja yang membuat kitab ibi lebih aneh.

Codex Gigas memiliki satu halaman misterius yang tersimpan jauh di dalam makam. Memenuhi hampir seluruh halamannya adalah gambar raja kegelapan itu sendiri. Berbagai spekulasi muncul tentang bagaimana bisa sesuatu yang sangat tidak suci berada di teks yang paling dianggap suci. Tapi tidak ada yang tahu jawabannya.

Banyak cerita dan legenda yang menyebutkan bahwa Codex Gigas akan membawa bencana dan penyakit bagi siapa saja yang memilikinya dalam sejarah. Tapi untungnya, sepertinya kutukan tersebut tidak terjadi di tempat keberadaannya sekarang, di Perpustakaan Nasional Stockholm.

Di perpustakaan ini kamu juga bisa melihat versi digital dari Codex tersebut. Jadi, manuskrip yang asli tetap tersimpan aman dan siapa saja bisa melihatnya secara digital.

Hingga saat ini, tidak ada yang tahu dengan pasti apa tujuan lukisan iblis tersebut ada di kitab raksasa itu atau bagaimana cara menulisnya dengan tingkat ketelitian dan kerapian yang setinggi itu. Namun, para ahli masih berusaha mencari tahu bahwa mungkin ada teknik lain yang digunakan dan bahwa kitab ini bisa jadi memang ditulis dalam waktu puluhan tahun.

Caption by Boombastis

George Patton, Perancang Kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II

Memiliki garis keturunan dari para pemimpin militer konfederasi, George S. Patton, Jr., dilahirkan di San Gabriel, California, pada 1885. Ia pun mengikuti jejak para pendahulunya untuk berkarier di bidang militer, dengan bersekolah di Institut Militer Virginia di West Point.
Setelah lulus pada 1909, Patton ditugaskan sebagai seorang letnan kavaleri untuk beberapa pertempuran. Kesempatan besar pertama Patton untuk berunjuk gigi tiba saat ia bertugas sebagai asisten Jenderal John Pershing dalam pengejaran tokoh revolusi Meksiko, Pancho Villa.
Patton ikut menyertai Pershing ketika bertugas di Eropa pada 1917, dan dipercaya sebagai perwira pengawas di kantor pusat sang jenderal. Patton merupakan salah satu perwira yang ditunjuk untuk masuk ke dalam korps tank baru yang dibentuk pada akhir Perang Dunia I.

Ketika Perang Dunia II semakin mendekat, Para pejabat militer Amerika mulai melihat potensi dalam diri Patton sehingga ia dipromosikan sebagai jenderal bintang dua pada 1941.
Dengan pangkat barunya itu, Patton diberi kekuasaan atas Korps Lapis Baja Pertama pasukan Amerika. Ia memainkan peran yang cukup penting dalam memastikan keberhasilan pendaratan tentara Sekutu di Afrika pada 1942.

Setelah Pertempuran Kasserine Pass, Patton menjadi komandan Korps Lapis Baja Kedua. Ia diperintahkan meracik sebuah strategi penting atas perang dengan mobilitas tinggi yang diterapkan oleh jenderal Jerman, Erwin Rommel.
Patton diakui sebagai perancang penyerbuan penting pasukan Sekutu selama Perang Dunia II. Ia juga berhasil memimpin invasi pasukan Sekutu untuk membersihkan Sisilia dari pasukan Jerman dalam 38 hari.
George Patton merupakan seorang prajurit sejati yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemiliteran. Hal itu ditunjukannya saat ia menampar seorang prajurit Amerika di sebuah rumah sakit. Prajurit itu sedang dalam proses penyembuhan dari shell shock (gangguan jiwa akibat perang), tetapi bagi Patton prajurit itu terlihat sedang berpura-pura sakit untuk menghindari tugas militernya.

Akibat kejadian itu, Patton mendapat kritik yang keras dari masyarakat. Walau merasa yakin atas tindakannya, Patton akhirnya kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada prajurit yang ia tampar.
Patton menjadi komandan Pasukan Ketiga di Inggris pada Maret 1944. Ia mendarat bersama pasukannya di Normandia untuk memimpin barisan tank menuju Nancy dan Metz, tanpa melewati Paris.
Selama Pertempuran Bulge pada Desember 1944, Patton bergerak ke utara dengan Pasukan Ketiga, membawa tugas untuk membebaskan Bastogne, dan menghentikan serangan Jerman. Patton menyeberangi Sungai Rhine pada Maret 1945, dan ia memasuki Czechoslovakia pada saat perang berakhir.
Diangkat menjadi gubernur militer Bavaria, Patton terbukti tidak cocok untuk urusan administrasi. Ia bahkan melakukan tindakan tidak wajar dengan secara terang-terangan menyebut lebih menyukai orang Jerman ketimbang orang Rusia, dan menyiratkan bahwa ia akan menyerang Rusia pada masa yang akan datang. Sebuah tindakan yang ceroboh bagi seorang pejabat negara.

Setelah dipindah dari posisi pemimpin Pasukan Ketiga, Patton tinggal di Heidelberg, Jerman, di mana ia meninggal dunia akibat mengalami kecelakaan mobil.

Sumber: Crompton, Samuel Willard. 2007. 100 Pemimpin Militer yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang : Karisma
via https://kumparan.com/potongan-nostalgia/george-patton-perancang-kemenangan-sekutu-pada-perang-dunia-ii-1549949775088594335/full

5 Sebab Mengapa Hitler Membenci Yahudi

Hitler terkenal melakukan Holocaust selama tahun 1934 – 1945 yang membunuh kurang lebih enam juta Yahudi di seluruh wilayah Eropa yang ia duduki. Meskipun banyak sekali pro kontra tentang kejadian ini, namun fakta bahwa Hitler membenci anak-anak Yudea itu tidak pernah bisa dipungkiri. Di dalam Mein Kampf, Hitler dengan tegas menyalahkan Yahudi atas kemalangan dan kekalahan Jerman selama Perang Dunia pertama.

Berikut beberapa sebab mengapa Sang Fuhrer itu begitu membenci Yahudi yang beredar di masyarakat. Sebagian adalah fakta namun sebagian yang lain adalah rumor yang beredar di masyarakat. Berikut adalah beberapa rangkuman mengapa Hitler membenci Yahudi:

1. Yahudi Menguasai Perekonomian Austria

Austria atau lebih tepatnya Kerajaan Austro-Hongaria adalah salah satu kerajaan terbesar di Eropa. Ia bersanding dengan Jerman, Inggris, Perancis, Russia, Swedia, dan Turki Usmani pada waktu itu. Di Kerajaan inilah Hitler lahir di tahun 1889. Pada waktu itu, meskipun wilayah kekuasaannya besar (meliputi Austria, Hongaria, Cheko, Slovakia, dan sebagian negara-negara Balkan) namun perekonomian Austro-Hongaria tidaklah mulus.

Hitler yang terlahir sebagai anak pegawai negeri harus merasakan pahit getirnya perekonomian Austro-Hongaria yang kalang kabut. Negara yang ditinggali berbagai macam etnis tersebut seperti terkotak-kotak dan tidak teratur. Etnis-etnis lokal seperti etnis Jerman, Slovak, Hunyad (Hongaria), Cheko, Balkan (Kroasia, Bosnia) dan Slavia saling berebut kekuasaan di kursi pemerintahan. Sementara itu orang-orang Yahudi yang juga menghuni wilayah itu lebih memilih untuk menggeluti dunia usaha.

Ketimpangan ekonomi antara bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa asli Austro-Hongaria begitu nampak di Vienna. Ibukota Austro-Hongaria itu dikuasai Yahudi secara ekonomi, banyak sekali toko-toko dan pabrik yang dijalankan oleh keluarga-keluarga Yahudi, atau setidaknya begitulah pendapat Hitler. Ia merasa menjadi warga kerajaan nomor dua jika dihadapkan pada Yahudi. Barangkali dari ketimpangan sosial ekonomi itulah mulai tumbuh kebencian Hitler kepada Yahudi. Dan kebencian itu akan terus terpupuk hingga ia berada pada tampuk kepemimpinan Jerman di tahun 1933.

2. Terpengaruh Faham Anti Semit di Vienna

Hitler muda tinggal di Vienna, ibukota Kerajaan Austro-Hongaria mulai tahun 1905. Tujuan hidupnya adalah masuk ke sekolah seni di sana. Namun ia gagal dan harus hidup dengan menjadi pelukis jalanan. Waktu itu ayahnya meninggal dan meninggalkan warisan yang sebenarnya cukup jika ia dapat hidup hemat. Namun, nyatanya ia bangkrut dan harus menjalani kehidupan yang keras.

Hidup di jalanan membuat Hitler bertemu dengan masyarakat-masyarakat bawah yang keras dan juga berbagai paham yang tumbuh di dalamnya. Salah satu politisi Vienna yang terkenal menyuarakan anti semit di waktu itu adalah Karl Lueger. Karl Lueger adalah pemimpin Partai Katolik Sosialis yang kemudian sempat membawanya sebagai wali kota Vienna waktu itu.

Tidak ada artikel yang jelas menyebutkan hubungan Hilter dengan Karl Luger. Namun banyak yang mengindikasikan bahwa pandangan politik populis dan anti semit dari Partai Katolik Sosialis pimpinan Karl Lueger ini nantinya akan menjadi salah satu dasar pandangan Partai NAZI.

3. Gagalnya Hitler Menjadi Pelukis

Di point ke 2 aku sebutkan bahwa Hitler pernah berniat masuk Sekolah Seni Vienna, namun usahanya ditolak dua kali yaitu pada tahun 1907 dan 1908. Dengan habisnya warisan ayahnya, maka Hitler muda terpaksa menjadi pelukis jalanan dan hidup menggembel.

Di tahun 1910 Hitler menjual lukisannya kepada Samuel Morgenstern. Seorang penjual lukisan yang berbisnis di kota Vienna. Klien Mogenstern memang sebagian besar orang-orang Yahudi, salah satu yang paling sering membeli lukisan-lukisan Hitler adalah Josef Feingold, seoarang lawyer yang kebetulan berdarah Yahudi.

Ada kemungkinan Hitler pernah cekcok dengan pembeli-pembeli lukisannya. Beberapa artikel atau pernyataan oral yang Hitler katakan kemudian hari mengindikasikan sebuah kebenciannya tersendiri terhadap orang-orang yang membeli lukisannya. Entah itu karena harga yang ditawar terlalu murah atau sekedar kualitas lukisannya yang masih diragukan. Studi terbaru yang berusaha mengumpulkan lukisan-lukisan Hitler dan mempelajarinya menyimpulkan bahwa lukisan Hitler tidaklah terlalu istimewa. Sebagian bahkan dicontoh bulat-bulat dari potret yang terpasang pada kartu pos.

4. Faktor Perang Dunia Pertama

Dalam beberapa kesempatan, Hitler menyebutkan bahwa teman-teman tentaranya sewaktu Perang Dunia I yang berdarah Yahudi mempunyai sifat pengecut dan tidak nasionalis. Tidak disebutkan secara jelas siapa2 nama dan pangkat orang yang Hitler maksud. Namun ia yakin bahwa mereka tidak sepenuhnya berperang demi negara Jerman. Pada waktu Perang Dunia I, banyak Yahudi yang mendaftarkan diri di kesatuan-kesatuan militer. Mereka, layaknya Hitler, mencoba untuk mencari penghidupan dalam perang. Setidaknya, menjadi tentara membuat mereka mempunyai pendapatan tetap dan makanan yang layak.

Hitler berpendapat bahwa kekalahan Jerman di Perang itu adalah juga karena kesalahan Yahudi. Yahudi yang juga mempunyai banyak unit usaha yang bersinggungan langsung dengan industri militer Jerman diyakini Hitler tidak serius untuk mendukung Jerman dalam memenangkan perang. Hitler beropini jika para pengusaha Yahudi itu lebih memihak kepada siapa yang akan memberikan mereka keuntungan lebih.

5. Kecemburuan

Kehidupan Hitler muda tidaklah banyak terkuak, namun seorang teman Der Fuhrer semasa muda akhirnya menggungkapkan sekelumit cerita tentangnya. August Kubizek, menulis memoar tentang kehidupan persahabatan dengan Hitler di kota Vienna. Dan salah satu fakta yang mengejutkan tentang memoar itu adalah, bahwa Hitler pernah menyukai seorang gadis bernama Stefanie Isak. Dari namanya, jelas sekali jika gadis itu adalah seoarang berdarah Yahudi.

Disebutkan bahwa Hitler begitu tergila-gila dengan gadis itu. Ia bahkan mengukur kecantikan wanita lain dengan takaran sosok Stefanie Isak. Hitler menggambarkannya sebagai seorang gadis yang mirip dengan dewi Valkyrie. Ia bahkan menuliskan banyak sekali puisi tentang gadis pujaannya itu. Namun, nyatanya Stefanie Isak tidak pernah tahu jika Hitler benar-benar mencintai dirinya. Ia hanya tahu kalau Hitler adalah sosok pemalu dan pendiam. Tidak ada catatan bahwa Hitler pernah mencintai wanita lain seumur hidupnya. Bahkan Eva Braun yang kemudian menikah sehari sebelum mereka bunuh diri bersama barangkali hanya Hitler anggap sebagai pendamping, tidak lebih dari itu.

Note:

Dari kelima faktor diatas, tidak ada yang tahu faktor apa yang membuat Hitler menjadi pembenci Yahudi tulen. Bisa saja karena kombinasi, salah satu, atau bahkan bukan diantara kelimanya. Suatu saat, waktu yang akan menggungkapkan kebenaran. Namun pun, jika tidak ada fakta yang terkuak, mempelajari sejarah tentang salah satu orang yang paling fenomenal dalam sejarah ini adalah sebuah tantangan tersendiri.

Sumber : https://aninditasaktiaji.com/5-sebab-mengapa-hitler-membenci-yahudi/

Kisah Kapal Selam U-Boot Milik Nazi Karam dan Ditemukan di Laut Jawa

Masa Perang Dunia I dan II memang menyisakan banyak cerita. Salah satu yang paling diingat adalah tentang berkuasanya Nazi masa itu.

Selama masa perang dunia, armada milik Nazi menjadi yang paling mumpuni, tak hanya di darat, namun juga armada di udara dan laut. Salah satu armada laut milik Nazi yang paling ditakuti para sekutu saat itu adalah U-Boot singkatan dari Unterseeboot, sebutan untuk kapal selam milik Jerman.

Dalam bahasa Jerman, istilah U-Boot berlaku pada semua kapal selam militer, tidak terbatas pada kapal selam militer Jerman saja. Untuk kapal selam non-militer, digunakan istilah Tauchboot. Pada masa Perang Dunia II, tercatat banyak pertempuran laut antara U-Boot dengan kapal-kapal milik sekutu di Samudera Atlantik. Di awal Perang Dunia II, U-Boot berjaya meski hanya terdiri dari 52 unit dengan keterbatasan teknis dan lainnya.

Dilansir Times, U-Boot mengalami masa kejayaan medio 1939 hingga 1942 karena berhasil menenggelamkan banyak kapal sekutu. Bahkan angkatan laut Inggris yang dikenal tangguh pada saat itu hampir kalah oleh militer Jerman pada tahun 1942.

U-Boot akhirnya mengalami kemunduran setelah penemuan radar tahun 1941 dan dipecahkannya kode Enigma (mesin kode milik Nazi) oleh ilmuwan sekutu. Setelah itu U-Boot seolah menjadi buruan oleh kapal perang sekutu, hingga akhirnya berhasil dikirim ke dasar laut oleh sekutu di akhir Perang Dunia II.

Penemuan Bangkai U-Boot di Laut Jawa

Tanggal 30 Mei 2014, tim ekspedisi Kopaska TNI AL menemukan satu U-Boot yang sudah karam. Di dalamnya ditemukan 2 tengkorak manusia beserta submarine escape device yang diyakini sempat digunakan awak kapal untuk menyelamatkan diri saat kapal selam itu karam.
Bangkai U-Boot dengan nomor lambung 168 tersebut ditemukan di kedalaman 25 meter di dasar laut di perairan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

Di badan U-Boot tersebut, ditemukan sejumlah bekas tembakan yang diduga berasal dari kapal sekutu. Saat ditemukan di dasar laut, U-Boot ini dalam kondisi rusak parah, diduga akibat torpedo yang ditembakkan oleh kapal milik Belanda. Untuk diketahui, saat Perang Dunia II, Jerman bersekutu dengan Jepang, sehingga otomatis berseberangan dengan Belanda.
Di dalam bangkai U-Boot tersebut juga ditemukan sejumlah benda yang diambil untuk penelitian. Di antaranya piring dengan lambang swastika di belakangnya, mangkuk, gelas, botol parfum, botol anggur, dan botol sake lengkap dengan huruf Kanji di bagian luarnya.
“Sesuai perjanjian internasional, kapal selam asing yang karam tetap milik negara yang bersangkutan, termasuk benda-benda di dalamnya. Indonesia tidak berhak untuk mengutak-atik barang-barang milik Jerman tersebut,” ujar Ketua Tim Peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, 14 April 2015.

Berdasarkan catatan sejarah, saat itu pihak Jerman memang membangun pangkalan kapal U-Boot di sekitar perairan Karimunjawa, Surabaya, dan Jakarta, atas permintaan Jepang yang berkepentingan melindungi perairan Indonesia dari Belanda. Dari ketiga tempat itu, baru lokasi di Karimunjawa yang ditemukan.
Ada sekitar 13 orang yang tewas ketika U-Boot tenggelam di perairan Karimunjawa, sementara 20 orang lainnya berhasil menyelamatkan diri. Duta Besar Jerman untuk Indonesia pada saat itu, Georg Witschel, meminta pemerintah Indonesia mempertahankan U-Boot tersebut tetap berada di tempatnya dan dijadikan objek observasi penelitian.

Sumber : https://kumparan.com/kumparannews/kisah-kapal-selam-u-boot-milik-nazi-karam-dan-ditemukan-di-laut-jawa-1vbs9jcNSgF/full

JEMAAH HAJI ASAL HINDIA BELANDA YANG MENINGGAL DALAM PERJALANAN LAUT TAHUN 1910

Perjalanan jemaah haji menuju tanah suci di masa kolonial pada abad ke-20 yang ditempuh berbulan-bulan, menjadi tantangan terberat bagi jemaah yang sudah uzur atau sakit dalam perjalanan hingga mengakibatkan kematian.

Sebuah foto memperlihatkan penanganan terhadap jasad jemaah yang akan dikuburkan dengan cara ditenggelamkan ke dalam laut, tampak diatas geladak kapal pengangkut jemaah haji milik pelayaran Belanda.(Wereld.culturen)

Batalyon 33 Pelopor, Aksi Heroik Para Pejuang Sekolahan dari Palagan Bandung hingga Tasikmalaya

Fragmen perang kemerdekaan di Tasikmalaya menyisakan kisah pasukan pelajar/mahasiswa yang terkenal karena keberanian dan ketabahannya.

Pasukan tersebut bernama Batalyon 33 Pelopor, Divisi Siliwangi.

Jejak perjuangan batalyon yang didirikan dan beranggota para pelajar/mahasiswa tersebut bermula di Kota Bandung. Aksi bumi hangus atau peristiwa Bandung Lautan Api membuat mereka bergeser ke Front Bandung Timur dengan kedudukan di Rancaekek pada 24 Maret 1946 .

Pasukan pelajar itu kembali bergeser ke Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya saat agresi militer pertama Belada pada 21 Juli 1947.

Kisah Batalyon 33 Pelopor bermula selepas kabar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tiba di Kota Bandung.

“Kami para pemuda serentak menggabungkan diri dengan kawan-kawan yang umumnya mahasiswa pemuda pelajar, khususnya dari Sekolah Teknik Tinggi (kini ITB), Sekolah Menengah Teknik Tinggi (SMTT), Sekolah Menengah Tinggi (SMT) STM dan SMP,” tulis RJ Rusady W dalam bukunya, Tiada Berita Dari Bandung Timur.

Rusady merupakan salah satu pelajar Sekolah Teknih Menengah Bandung yang bergabung dengan pasukan anak-anak sekolah yang bermarkas di Jalan Raden Dewi atau sekarang bernama Jalan Kautamaan Istri.

Para prajurit sekolahan itu dipimpin oleh mahasiswa senior STT, Simon Lumban (SL) Tobing. Awalnya, tutur Rusady, jumlah anggota mereka baru satu detasemen dengan status kort verband kemudian menjadi Polisi Istimewa di bawah langsung pimpinan Divisi Siliwangi Kolonel AH Nasution.

“Kemudian berkembang menjadi Detasemen Pelopor, yang selanjutnya menjadi Batalyon 33 Pelopor,” tulisnya. Dengan anggota yang kebanyakan anak-anak muda berstatus pelajar, jiwa petualangan dan kecenderungan nekad kerap muncul dalam berbagai palagan yang diikuti pejuang pelajar tersebut di Kota Bandung.

“Kami selalu berusaha hadir pada setiap pertempuran besar maupun kecil dan tak mau tertinggal,” kata Rusady.

Semangat anak-anak muda itu begitu tinggi karena musuh yang menjadi sasaran adalah tentara Gurkha yang seragam, senapan, hingga pisau khasnya, kukri menjadi tropi idaman dan kebanggaan untuk dikuasai.

Aksi bumi hangus Kota Bandung membuat Batalyon 33 Pelopor pindah ke Rancaekek.

Front Bandung Timur dari Ujungberung hingga Rancaekek pun hangat oleh pertempuran melawan Belanda yang kerap berpatroli ke sana.

Aksi berbahaya lain yang pernah dilakukan para pejuang Batalyon 33 Pelopor adalah melakukan peledakan Penjara Sukamiskin. Dari awal perencanaan dan uji coba, detonator bom sempat meledak dan melukai SL Tobing.

Namun, peledakkan penjara kolonial itu tetap berlangsung dengan menggunakan tiga bom pesawat berbobot 100 kilogram yang ditemukan di sana.

“Setelah dipasang detonator dan kawat-kawatnya, kami berlindung seberang jalan dan mengorekkan kawatnya ke accu, namun tak ada reaksi. Kami saling tunjuk siapa yang harus memeriksa, tentu saja tak ada yang mau,” tutur Rusady.

Akhirnya, Rusady bersama Letnan Loekito Santoso turun memeriksa dengan menelusuri kawat guna memeriksa kemungkinan ada yang putus atau lepas.

“Tetapi belum juga sampai di balik lindungan jalan, kawan-kawan sudah tidak sabar mengorekkan accu ke kawatnya. Akibatnya, terjadilan ledakan yang dahsyat menggelegar, namun hasilnya tak seberapa,” ucap Rusady.

Pergeseran kedudukan kembali terjadi selepas Agresi Pertama Belanda. Dalam dokumen, Setetes Keringat Dari Putra Bangsa Untuk Ibu Pertiwi yang ditulis eks pejuang kemerdekaan asal Tasikmalaya Suwaryo Ranuatmadja menyebut semua kesatuan di garis demarkasi Jakarta Timur, Cianjur Utara, Bandung Utara, Bandung Selatan/Timur diserang habis-habisan dari darat dan udara sehingga terpaksa mundur dan masuk daerah kantong RI.

Demikian pula Batalyon 33 Pelopor pimpinan SL Tobing yang bergeser dan berkedudukan di Singaparna Selatan dan Taraju.

Di tempat baru tersebut, aksi-aksi heroik pasukan anak-anak sekolah tersebut tak surut. Sebuah tugu‎ lusuh yang berdiri di belokan jalan Desa Salebu, Kecamatan Salawu menjadi buktinya.

Tugu itu merupakan penanda salah satu peristiwa heroik pemuda dan pejuang menghadang iringan konvoy kendaraan Belanda yang melintas.

“Di jalan tikungan Cidolog, Salebu Singaparna pada medio September 1947, Kompi Lukito (Loekito Santoso) mengadakan penghadangan terhadap iring-iringan konvoy yang membawa Jenderal Buurman Van Vreeden, Kepala Staf Umum Tentara Belanda,” demikian tulisan yang terbaca dalam tugu.

Penghadangan tersebut membuat dokumen serta stempel prajurit Belanda jatuh kepada para pejuang.

Loekito awalnya merupakan pelajar Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Jalan Citarum, Bandung. Kerap berjumpa dengan kelompok Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Jalan Dewi Sartika hingga akhirnya bergabung.

Hal tersebut terungkap dalam tulisan anak Loekito, Bambang S Santoso dalam blognya.

Aksi Loekito membuat Jalan Garut-Tasikmalaya menjadi doden weg atau jalan maut karena seringnya terjadi penghadangan. Bom-bom yang berasal dari lapangan terbang Cibeureum yang kini Lapangan Udara Wiriadinata digunakan para pejuang untuk meledakkan panser lapis baja dan truk yang melintasi Jalan Garut-Tasikmalaya.

Kepada “PR” beberapa waktu lalu, Iing Suhanda (89), Ketua Dewan Pimpinan Ranting Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya menyatakan aksi penghadangan melibatkan pula warga.

Berbagai barikade berupa pepohonan yang digeletakkan dan lubang digali pun menunjukkan betapa manunggalnya pejuang dan warga saat itu. Sekali penghadangan, tutur Iing, warga satu kampung/desa pun ikut dikerahkan.

Kisah para pejuang pelajar yang bertaruh nyawa di berbagai palagan Bandung hingga Tasikmalaya kini tinggal cerita. Jejak tersisanya hanya tugu tak terawat di Salebu dan ruas jalan di Kota Tasikmalaya bernama SL Tobing, Komandan Batalyon 33 Pelopor yang gugur setelah long march Siliwangi

Keterangan Foto : Pasukan Kompi I Batalyon 33 Pelopor berkeliling Kota Bandung dalam parade kemenangan. /Repro Foto dari Buku Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947 Karya RJ Rusady W

Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-01355971/batalyon-33-pelopor-aksi-heroik-para-pejuang-sekolahan-dari-palagan-bandung-hingga-tasikmalaya?page=4

SIMO HAYA

ARMIN NEWS – Arminers, Simo Haya (1905 – 2002) pria yang meninggalkan tanda dalam buku sejarah sebagai penembak paling mematikan yang pernah ada.

Selama tugas dalam Perang Dingin (1939) ia mengkonfirmasi lebih dari 700 orang telah terbunuh oleh senapan miliknya dalam waktu kurang dari 100 hari, dengan kata lain ia rata-rata menembak jatuh korban 5 perharinya.

Dia adalah seorang profesional yang tahu tentang senjata dan lingkungan dimana dia beroperasi. ia menggunakan beberapa trik untuk menghindari terdeksi oleh musuh. Seperti menuangkan air didepan senapannya untuk menghindari awan salju yang diangkat oleh ledakan tembakan. Terkadang dia juga masukan salju ke mulutnya untuk mencegah uap ke udara.

Simo berkata ” Satu satunya hal yang saya pikir adalah untuk menjaga senapan ku tetap stabil untuk membidik target. ” Seminggu sebelum Perang Dingin berakhir ia terkena peluru yang menghancurkan pipi kiri dan rahangnya. Dalam satu tahun ia harus menjalani 26 kali operasi, proses pemulihan selama bertahun-tahun. Kejadian itu tidak menghentikan dia, ketika perang lanjutan (1941-1944) dimulai, ia menawarkan diri untuk sukarela, namun ditolak karena cederanya. sebagai gantinya ia membantu pasukan memilih kuda.

Setelah perang usai Simo kembali kekehidupan normal. Sebagai petani dan pekerja hutan. Menjalani waktu sepi diwaktu luangnya menikmati sky, atau berburu dengan anjingnya Kille.

Dia mengaku tidak pernah mengalami mimpi buruk ketika perang usai. Dia selalu baik hati memberi nasehat atau membantu orang yang meminta. Tidak menyombongkan diri tentang pencapaiannya sebagai penembak paling mematikan dalam sejarah. (oleh : M Sihombing)

A.K. GANI

Gani Tokoh Pergerakan Kemerdekaan sebagai Koordinator Pembentukan TKR Sumatera. Adnan Kapau Gani atau A.K. Gani lahir di desa Palembayan, Kabupaten Agam Sumatera Barat pada tanggal 1 September 1905. Gani menempuh pendidikan hingga Geneeskundige Hoge School (GHS; sekolah tinggi kedokteran), selesai tahun 1940.

Student Loan Juru Selamat Bung Hatta Kuliah di Belanda

Petualangan Mohammad Hatta belajar di negeri Belanda penuh liku. Statusnya yang berasal dari keluarga mapan tak cukup memuluskan langkahnya sebagai sarjana. Berburu beasiswa jadi ajiannya. Tapi fasilitas itu sempat membuatnya terlena. Hatta justru banyak beraktivitas di luar bangku kuliahan. Karenanya, ia sempat gagal ujian. Kegagalan itu membuatnya tak berani lagi meminta beasiswa. Sebagai gantinya, ia memilih student loan.

Merantau ke Batavia jadi momentum menentukan dalam hidup Bung Hatta. Di tanah Betawi, Bung Hatta menempuh pendidikan lanjutan di sekolah tinggi ilmu dagang, Prins Hendrik School (PHS). Biaya pendidikan Bung Hatta ditanggung penuh oleh pamannya yang juga pengusaha sukses, Mak Etek Ayub.

Dari biaya hidup hingga pendidikan. Kemudahan itu buat Bung Hatta melenggang-langgeng menempuh pendidikan dengan kebebasan. Pun Bung Hatta juga dapat berperan aktif dalam pergerakan pemuda. Wawasannya bertambah, demikian pula empatinya kepada penderitaan rakyat.

Pemahaman-pemahaman baru yang didapat di Batavia membuat Bung Hatta mantap melanjutkan studinya ke Belanda. Sekalipun tak sedikit orang yang menyarankannya untuk lekas bekerja ketika lulus.

Bung Hatta kemudian menyelesaikan pendidikannya di PHS tanpa kendala pada 1921. Namun, Bung Hatta lantas kebingungan masalah biaya. Sedang Bung Hatta sendiri enggan merepotkan orang tuanya. Mak Etek Ayub muncul sebagai juru selamat. Ia berjanjikan akan membantu segala bentuk pembiayaan selama belajar di Belanda.

“Ketika bersekolah di PHS selama dua tahun di Betawi, Hatta dibantu oleh seorang pedagang di kota itu yang dipanggil Mak Etek Ayub oleh Hatta. Kepada Hatta ia berpesan, jangan menyusahkan orang tua; karena itu kiriman uang dari rumah dihentikan saja. Kalau tetap dikirim, masukkan saja di Bank Tabungan Pos. Ia diberi 75 gulden sebulan oleh Mak Etek Ayub, yang oleh Hatta dianggap berlebihan,” ungkap P. Swantoro dalam buku Dari Buku Ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (2017).

“Inilah sebab barangkali Hatta dapat mempunyai simpanan cukup banyak. Apalagi kalau ia masih mendapat kiriman dari rumah. Tetapi mengenai hal ini, Hatta tidak menceritakan dalam Memoir-nya. Yang jelas seperti sudah dikemukakan, dari simpanannya sendiri, Hatta mampu membiayai pelayarannya ke Rotterdam dan membayar biaya hidupnya selama satu tahun di sana.”

Masalah mendatangi Hatta tepat sebelum dirinya berangkat menuju Belanda. Mak Etek Ayub yang telah bersedia menjamin kehidupannya selama di Belanda terkena musibah. Usahanya pailit. Kejadian itu sempat mengganggu konsentrasi Hatta.

Bukannya menyerah, Hatta justru memilih untuk berjuang. Beasiswa dianggap sebagai opsi paling masuk akal. Meski telah terlambat. Ia mengusahakan untuk mendapatkan beasiswa ke sana-sini untuk dapat mencicipi ilmu dari sekolah tinggi ilmu ekonomi di Rotterdam, Nederlandsche Handels-Hoogeschool.

Perjuangan Bung Hatta terbalas. Ia memperoleh beasiswa dari Van Deventer Stichting, Yayasan Van Deventer. Beasiswa itu mulanya diberikan untuk studi selama dua tahun, dan kemudian berubah menjadi tiga tahun.

Kendalanya, Bung Hatta termasuk terlambat mengajukan beasiswa. Sebagai ganjarannya, Bung Hatta mau tak mau membiayai sendiri biaya pelayaran dari Teluk Bayur ke Rotterdam. Ia juga harus menyiapkan biaya untuk biaya hidup di Rotterdam selama setahun. Atau sampai beasiswanya turun.

Demi menutupi biaya itu, pihak keluarga Bung Hatta memberikan bantuan dana. Mak Etek Ayub yang telah bangkrut juga ikut membantu Hatta. Semuanya dilakukan dengan satu misi: supaya Bung Hatta dapat menuntut ilmu di Belanda. Ongkos keberangkatannya yang mencapai 1.100 gulden terkumpul. Selebihnya untuk biaya hidup Bung Hatta yakin sisa tabungannya yang kurang lebih 2.500 gulden. Pasti cukup, gumamnya.

“Untunglah Hatta seorang yang hemat, dengan berbekal tabungannya selama bersekolah, ditambah dengan bantuan dari pamannya Ayub Rais dan sanak keluarga serta kalangan pedagang di Padang yang bergabung dalam Serikat Usaha turut juga membantunya, maka pada 3 Agustus 1921 Hatta berlayar dari Teluk Bayur, menuju negeri Belanda untuk melanjutkan studinya dengan menumpang kapal Tambora milik Rotterdam Lloyd,” tulis Anwar Abbas dalam buku Bung Hatta dan Ekonomi Islam (2010).
Dari beasiswa ke student loan

Keputusan Bung Hatta untuk studi di Belanda tak berjalan mulus. Bung Hatta tak semata berkuliah untuk menjadi mahasiswa kutu buku. Ia turut berperan dalam ragam organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Artinya, Bung Hatta harus menjalankan dua peran sekaligus. Sebagai mahasiswa dan dedengkot organisasi Indische Vereeniging atau yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia: PI)

Nurani Bung Hatta banyak tergerak ketika bergabung dengan PI. Organisasi yang awalnya hanya bernapas sosial kini menjelma menjadi organisasi politik. Ia meneruskan cita-cita PI sebagai organisasi politik yang telah digagas pendahulunya, seperti Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Sorjaningrat (kemudian dikenal Ki Hajar Dewantara). Bung Hatta memantapkan hatinya untuk serius di PI. Risikonya studi Bung Hatta menjadi terganggu.

“Setelah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang kemudian terkenal dalam pergerakan nasional, sepertoi Ahmad Subarji, Sutomo, Hermen Kartowisastro, Iwa Koesoema Soemantri, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Sukiman Wirjosandjojo (nama-nama ini mencerminkan perubahan sikap organisasi), pada 1926 pimpinan jatuh ke pundak Hatta – malah sampai 1930, hal yang menyebabkan ia terlambat menyelesaikan studi,” terang Deliar Noer dalam buku Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa (2012).

“Tetapi waktu yang bertambah dalam studi bertambah mematangkannya pula, apalahi ia juga sengaja mengambil lagi pelajaran yang baru diperkenalkan di sekolahnya, yaitu tentang tata negara. PI di bawah pimpinan Hatta memperlihatkan perubahan. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan nasional di Indonesia dengan memberi ulasan, saran, dan bila perlu kritik terhadap pergerakan tersebut.”

Keterlambatan Bung Hatta menyelesaikan studi dikarenakan Bung Hatta tak lolos dalam ujian Diploma handelseconomie (DH). Ujian DH itu dilaksanakan dua tahap. Bung Hatta dapat lolos dengan mudah pada ujian tahap pertama. Tapi tidak untuk ujian tahap kedua. Dirinya diminta untuk menunggu selama tiga bulan untuk mengikuti kembali ujian ulangan.

Kegagalan itu buat Bung Hatta merasa malu. Apalagi ujian DH adalah penentu Bung Hatta dapat melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, ke doktoral atau sarjana lengkap bergelar doctorandus (Drs.). sekalipun lulus dalam ujian ulangan, rasa malu Bung Hatta untuk meminta lagi beasiswa dari Yayasan Van Deventer makin menjadi-jadi. Untuk membiaya pendidikan doktoralnya Bung Hatta harus putar otak.

Jalur beasiswa penuh tak lagi diprioritaskan olehnya. Ia memilih mencari beasiswa yang bersifat student loan. Alias skema pinjaman terkait biaya pendidikan untuk menempuh perguruan tinggi. termasuk biaya hidup. Pinjaman itu baru dikembalikan atau dibayar setelah Bung Hatta dapat lulus dari perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan. Potongannya disesuaikan dengan besaran gaji yang diterima belakangan.

Tokoh teosofi Batavia, Ir. Van Leeuwen jadi juru selamat. Ia bergerak membuka jalan Hatta untuk mendapatkan student loan. Van Leeuwen meminta bantuan kepada temannya, Ir. M.J. Romer untuk mencarikan organisasi yang memiliki fokus memberikan pinjaman ke mahasiswa. Misi berhasil.

Oleh Van Leeuwen, Hatta diminta untuk merincikan biaya yang dibutuhkan selama menempuh pendidikan doktoral tiga tahun. Angka pasti pun didapat. Bung Hatta lalu diminta Van Leeuwen untuk mengangsurnya ketika sudah memperoleh jabatan di Hindia-Belanda. Namun, dikarenakan kesibukan Hatta baru dapat membayarnya ketika ia menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Tidak dalam bentuk angsuran, tapi membayar student loan secara penuh.

“Setelah seminggu aku kembali dan Ir. Van Leeuwen memberitahukan, bahwa aku memperoleh beasiswa itu selama tiga tahun. Apabila engkau nanti memperoleh jabatan di Hindia-Belanda, kau bayar beasiswa itu dengan angsuran,” ungkap Bung Hatta dalam buku Mohammad Hatta: Memoir (1979).

Sumber : https://voi.id/memori/123103/i-student-loan-juru-selamat-bung-hatta-kuliah-di-belanda

GAYA PEMUDA NAKAL PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA

Pernah mendengar ada julukan Menteri Copet saat pemerintahan Orde Lama???
Atau mendengar Laskar Bandit???

Menteri Penerangan Ali Sastroamidjojo beroleh pemandangan unik Yogyakarta di tengah revolusi, 1946. Ia menjumpai para pemuda berpakaian compang-camping. Berambut gondrong. Menenteng senjata. Berkeliaran. Bertingkah seperti pejuang-pejuang baru menang perang.

“Pemuda-pemuda rambut panjang, pejuang-pejuang bersenjata tak kenal nama-namanya itu, dengan tingkah laku serba-serampangan, merupakan kekuatan revolusi kita,” kata Bung Ali pada biografinya bertajuk Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Tampilan para pemuda pejuang itu memang jauh dari kesan kesatuan ketentaraan modern. Tak tampak seragam. Tanda kepangkatan acak-acakan. Senjata hasil rampasan. Terkadang, beberapa pistol pun sudah karatan. Justru, lanjut Ali Sastroamidjojo, pemandangan itu menjadi jiwa jaman dan kekuatan revolusi Indonesia.

Mereka memang tidak menerima pendidikan militer secara utuh. Kebanyakan para pejuang, terutama di tingkat pimpinan, beroleh pendidikan militer dari dua arus besar, Belanda lewat KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) dan Jepang melalui PETA (Pembela Tanah Air). Jumlah mereka sesungguhnya cukup besar, tapi sedikit dari KNIL ketimbang PETA, kemudian membelot membela Indonesia.

Kekurangan pasukan itu kemudian diperkuat orang-orang dari “Dunia Hitam”. Mereka menjadi pasukan paling radikal di garis depan pertempuran.

Pasukan Bandit

Usai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Sukarno-Hatta selaku presiden dan wakil presiden meminta kepada rakyat di Jakarta untuk menghentikan aksi-aksi konfrontratif, seperti perebutan dan pelucutan senjata tentara Jepang.

Strategi pasif itu, menurut Robert cribb pada Para Jago dan Kaum Revolusioner di Jakarta, 1945-1949, bertujuan untuk diplomasi internasional, tapi tidak disetujui rakyat Jakarta. Mereka pun bertindak atas inisiatif masing-masing.

Tanggal 18 Oktober 1945, H Achmad Chaerun di sisi barat daya Tangerang menghimpun para jago mengobarkan pemberontakan rakyat untuk menumbangkan aparat pemerintahan tersisa.

Sementara, di sepanjang jalur Jatinegara, Klender, dan Bekasi kelompok Haji Darip terus melakukan aksi-aksi perampokan terhadap orang-orang Tionghoa, Indo, Eropa dan Ambon (pasukan NICA).

Rasa frustasi akibat tekanan Belanda, lanjut Cribb, kemungkinan jadi faktor penentu penyebab aktor-aktor “Dunia Hitam” Jakarta tertarik dengan pergerakan kaum nasionalis.

Saat para pemuda radikal Menteng 31 melahirkan Angkatan Pemuda Indonesia (API), berbondong jago atau bandit bergabung. “Dunia Hitam Jakarta, setidaknya bagian memiliki kesadaran politik, elemen alamiah para pengikut API,” tulis Cribb.

Laskar Pejuang

Hubungan para pemuda dan jago sesungguhnya telah terjalin pada masa pendudukan Jepang. Para Jago berperan mengamankan kegiatan bawah tanah para pemuda dari incaran Kempetai. Masing-masing jago kemudian membentuk badan perjuangan.

Haji Darip membentuk Barisan Rakyat Indonesia (BRI) di Klender, Jakarta Timur. Dalam aksi-aksinya, ia memiliki tangan kanan seorang kecu bernama Panji untuk memimpin pasukan berani mati. BRI kemudian berafiliasi dengan Barisan Rakyat (Bara) pimpinan Maruto Nitimihardjo.

Ketika seluruh badan perjuangan keluar dari Jakarta seturut perintah Perdana Menteri Sjahrir, H Darip memilih menetap mengambil peran sebagai tameng terakhir pertahanan ibukota.

Pasukan H Darip terus mendapat serangan sengit NICA hingga. Mereka terdesak dan terus mundur ke timur, hingga akhirnya H Darip tertangkap di Cirebon dan dijebloskan ke dalam pejara Glodok.

Sekondan H Darip, Imam Syafi`i atau tersohor disebut Bang Pi`i bersama pasukannya berisi garong, copet, bromocorah, dan kecu wilayah Senen, Jakarta Pusat, tergabung dalam Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI), Jakarta Pusat, memilih meninggalkan Jakarta bersama Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR).

Bang Pi`i kemudian terpilih menjadi bagian tentara reguler Divisi Siliwangi. Karirnya moncer. Di kemudian hari, Bang Pi`i dipercaya Bung Karno mengampu tugas sebagai Menteri Negara Urusan Keamanan Kabinet Dwikora II. Ia pun beroleh julukan “Menteri Copet”

Lelaki itu bernama lengkap Imam Syafei. Dia lahir di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 27 Agustus 1918.

Lambang Perlawanan

Di Bandung masa revolusi, seorang petinggi daerah bergaya eksentrik. Ia dikenal dengan sebutan “Camat Perjuangan”. Tak seperti pamong pada umumnya, seturut John RW Smail pada Bandung Awal Rrevolusi 1945-1946, camat tersebut menanggalkan segala atribut pamong praja. Ia membiarkan rambutnya gondrong terurai. Mengenakan pakaian militer. Mengait pistol di pinggang. Bicara blak-blakan.

Camat Perjuangan menjadi cermin terbelah dari gambaran umum ambtenaar atau pejabat struktural di masa kolonial. Pemerintah Belanda mengajarkan keteraturan dan kerapihan penampilan kepada calon pejabat bumiputera lewat pendidikan di sekolah-sekolah.

Tiap calon pejabat atau birokrat harus mengikuti sekolah khusus sesuai bidang jabatan. Bila ingin menjadi pangreh praja misalnya, seorang bumiputera harus mendapat pendidikan di MOSVIA (Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren).

Di sana, mereka akan mendapat pelajaran berbahasa Belanda, keterampilan administrasi, hingga hal-hal remeh-temeh seperti cara berpakaian dan etiket makan (table manner).

Kemunculan pejabat dan para pemuda urakan, berambut gondrong, slang, merupakan bentuk perlawan terhadap tatanan kolonial. Pada periode revolusi, menurut William H Frederick, “THe Appearance of The Revolution: Cloth, Uniforms, and The Pemuda Style in East Java, 1945-1949” dalam Outward Appearances: Dressing State and Society in Indonesia, Belanda melihat ‘buah karya’ serta tatanan sosial menjadi latarnya tersebut telah hilang.

“Orang-orang muda memilih membiarkan rambutnya memanjang sampai akhirnya kemerdekaan dapat diraih, meski tidak semuanya bersikap demikian,” tulis Frederick. (*)

Dikutip dari Artikel Merah Putih
Credit : Deni Joko

1865 Ekspedisi Militer Asahan & Serdang

Pada bulan Mei 1862 Belanda mengirim seorang pegawai tingginya yang bernama Raja Burhanuddin ke Sumatera Timur. Raja Burhanuddin adalah putra Raja Uyang bin Sultan Cagar Pagaruyung. Menurut laporan Raja Burhanuddin, beberapa negeri di Sumatera Timur bersedia dilindungi Belanda, kecuali Asahan dan beberapa negeri lainnya mereka menentang, bahkan di Asahan berkibar bendera Inggris (yang saat itu satu-satunya Kesultanan yang berani mengibarkan bendera Inggris di Wilayah Hindia Belanda).

Berdasarkan laporan Asisten Residen Riau, E. Netscher, Belanda mempersiapkan angkatan perang dari Bengkalis pada tanggal 2 Agustus 1862. Pembesar-pembesar Siak diikutsertakan untuk dikonfrontasikan dengan raja-raja di Sumatera Timur. Beberapa negeri seperti Panai, Bilah, dan Kotapinang berhasil ditundukkan. Sementara itu ekspedisi Belanda berhasil memasuki Kuala Serdang.
Sultan Basyaruddin mencoba menemui ekspedisi itu dengan mengibarkan bendera Aceh dan bertindak selaku wazir Sultan Aceh atas dasar pengangkatannya dari Aceh. Perundingan antara Belanda dengan Sultan Basyaruddin dilakukan di kapal Belanda. Dengan paksaan Belanda, Sultan Basyaruddin menandatangani perjanjian yang ditetapkan tanpa ada kontrasain dari orang-orang besarnya. Perjanjian tersebut antara lain menyebutkan bahwa Belanda turut mengakui jajahan Serdang, yaitu Denai, Percut, Padang, Perbangunan, dan Bedagai.
Pada tanggal 21 Agustus 1862, Residen Riau E.Netscher bersama Assisten Siak: Mr.Arnold dengan mengendarai kapal Reinier Claasen memasuki Kuala Deli dan disambut oleh Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam. Sultan Mahmud menolak mengakui kedaulatan Siak atas Deli. Hal ini karena Siak tidak membantu Deli sejak masa pemerintahan ayahnya, Sultan Osman Deli, ketika diserang Aceh pada tahun 1854. Netscher berhasil menemukan jalan keluar sehingga Sultan Deli bersedia menandatangani pernyataan tunduk kepada Belanda dengan kalimat yang berbunyi “Mengikut pada negeri Siak bersama-sama bernaung pada Gubernemen Belanda”.

Perundingan antara Netscher dan Sultan Mahmud berjalan lancar berkat bantuan ipar Sultan dan sekaligus mufti kerajaan, yaitu: Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih. Pangeran Musa dari langkat tidak ada masalah karena dia pun dibesarkan di Istana Siak. Sementara Kerajaan Asahan dan Serdang tidak mau tunduk kepada kerajaan Siak dan malah berkoalisi kepada Kerajaan Aceh. bahkan dipantai Asahan, mereka memasang bendera-bendera Inggris.

Tanggal 19 September 1862, Netscher kembali ke Bengkalis yang pada saat itu merupakan ibukota Keresidenan Riau. Pada tanggal 23 Mei 1863, Belanda mengirim surat dengan mengultimatum Asahan dan Serdang. Tetapi ultimatum itu ditolak mentah-mentah.

Dengan Beslit Gubernemen no.1/25 Agustus 1865 dipersiapkanlah oleh Belanda ekspedisi militer untuk menyerang Asahan, Serdang, Tamiang dan Batubara yang membangkang terhadap Belanda. Komando Darat Ekspedisi ini dipimpin oleh Willem Ertwin Fredrick van Heemskerck (Photo Inzet) dan komando Mandala Gugus Tugasnya adalah Letnan Laut P.A. van Ress. Pasukan yang diberangkat dari Batavia tanggal 20 Agustus 1865 ini terdiri atas setengah batalyon infantri dengan staf, satu detasemen artileri terdiri dari 1 opsir dan 25 serdadu, diperkuat dengan 2 buah meriam besar dan 2 buah mortir, 2 opsir kesehatan dengan personil hospital kesemuanya berjumlah 379 orang militer Belanda dan 227 orang militer bumiputera. Sedangkan Angkatan Laut Belanda menerjunkan armada terdiri dari pasukan marinir sejumlah 1000 orang dengan kapal – kapal perang Djambi, Sindoro, Amsterdam, Montrado, Delfzijl dan Dasson dengan kekuatan 49 pucuk meriam. Agar Inggris tidak tersinggung dan campur tangan, maka Belanda juga mengirimkan surat pemberitahuan kepada Gubernur Inggris di Penang. Malaya dan Singapura.

Pada tanggal 12 September 1865, Ekspedisi sampai di Batubara, tanggal 18 September sampai di Bagan Asahan, tanggal 30 September sampai di Serdang dan tanggal 8 Oktober di Pulau Kampai – tempat markas orang-orang Aceh. Sultan Langkat: Sultan Basaruddin dipaksa oleh Belanda untuk menandatangani perjanjian takluk dan sebagai hukaman jajahan kesultanan Serdang; Percut, Padang, Bedagai dan Denai diambil Belanda dan lalu diserahkan kepada Deli.

Sumber : http://tembakaudeli.blogspot.com/2013/01/ekspedisi-asahan-serdang-1865.html