Johannes Benedictus van Heutsz

Selain koleksi benda2 seni tradisi dari Hindia Belanda di masa lalu, pameran De Grote Indonesië Tentoonstelling yang berlokasi di Nieuwe Kerk Amsterdam juga memamerkan lukisan cat minyak di atas kain kanvas yang menggambarkan Johannes Benedictus van Heutsz koleksi Rijksmuseum Amsterdam.
Dilukis oleh Hannke di Batavia pada 1909.

Pada 26 Maret 1873, kapal komando Citadel van Antwerpen melego jangkar di perairan Aceh. F.N.Neuwenhuyzen, perwakilan Dewan Hindia Belanda memaklumatkan perang karena Kasultanan Aceh menolak tunduk pada kuasa kolonial. Maka berkobarlah Perang Aceh (1873-1914).
Johannes Benedictus van Heutsz (1851-1924) hadir ketika pemerintah kolonial nyaris kehilangan akal sambil menghitung kerugian sumberdaya manusia & ekonomi akibat Perang Aceh. Di awal perang Van Heutsz hanya seorang Letnan dua, pangkatnya melesat menjadi Gubernur militer di Aceh pada 1898.
“Sukses Jenderal Van Heutsz di Aceh membuatnya menjadi pahlawan ekspansionis yg populer & pendukungnya berhasil membungkam keraguan & suara kritis (dari pendukung antiimperialisme) di media & parlemen Belanda,” tulis sejarawan Adrian Vickers dlm A History of Modern Indonesia.

Untuk menaklukan Aceh, Van Heutsz tukar pikiran dgn Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial bidang bahasa2 Timur & hukum Islam. Hasilnya, dia melakukan manuver mematikan mulai dari mengadu domba garda depan perlawanan gerilya rakyat Aceh, kaum ulama & uleebalang (bangsawan); merestrukturisasi pasukan & strategi bumi hangus hingga pembantaian. Berkat aksinya di Aceh, pamor Van Heutsz kian naik sampai puncaknya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909).
Meski namanya kontroversial sebagai figur kolonialis & imperialis Belanda, Van Heutsz tetap meninggalkan warisan ketokohan besar yg membuat namanya tetap dikenang dalam memori kolektif masyarakat Belanda. Namanya diabadikan mulai dari nama kapal sampai lagu mars.

Kapal Van Heutsz diluncurkan pada Maret 1926. Kapal penumpang ini melayari rute Hindia Belanda ke Singapura & Cina dalam naungan Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda (KPM). Selama Perang Dunia II, Van Heutsz disewakan kepada Kementrian Transportasi Perang Inggris terhitung sejak 25 Juni 1942, sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada 1957. Dua tahun kemudian jadi besi tua.

Pada 1932, monumen Van Heutsz didirikan di Aceh & Batavia (sekarang Jakarta). Monumen di Batavia terletak di Menteng, begitu megah dengan relief orang Aceh, Jawa & Papua yg melambangkan tuntasnya pasifikasi Belanda pada masa pemerintahan Van Heutsz. Sejak jaman pendudukan Jepang, monumen ini menjadi sasaran perusakan karena melambangkan sentimen kolonial. Monumen ini dihancurkan pada 1953 & di lahannya didirikan Masjid Cut Meutia.
Pada 15 Juni 1935, Ratu Belanda Wilhelmina meresmikan monumen Van Heutsz di Amsterdam di tengah kritik keras dari kaum komunis & sosialis. Monumen itu tingginya 18,7 meter, dgn patung perempuan memegang lembaran hukum & relief2 lainnya. Pada 1943, anak Van Heutsz, seorang perwira SS Nazi, Johan Bastiaan Heutsz, menulis surat kepada walikota Amsterdam meminta monumen itu dipugar.
Setelah menjadi target vandalisme berulang kali, bahkan empat kali percobaan peledakan dgn dinamit, monumen ini akhirnya dipugar pada 2004 & namanya diganti menjadi Monumen Belanda-Indonesia untuk mengenang hubungan historis kedua negara.
“Semenjak awal, Monumen Van Heutsz menjadi fokus protes menentang pemerintahan kolonial, penindasan & bahkan dugaan kejahatan perang oleh pasukan Belanda,” tulis Willeke Wendrich, “Visualizing the Dynamics of Monumentality,” termuat dalam Approaching Monumentality in Archaeology suntingan James F. Osborne.
“Namun tetap saja, ingatan kultural akan monumen yang ‘lama’ tetap terpatri, dan pada tahun 2011 sekali lagi monumen ini mengalami aksi perusakan,” tambahnya.

Tak jauh dari Monumen Van Heutsz di Menteng, terdapat Jl. Van Heutsz Boulevaard. Jalan raya lebar ini dibangun untuk memfasilitasi kawasan elite Menteng yg penuh dgn bangunan2 mewah. Ketika Indonesia merdeka, Van Heutsz Boulevaard berganti nama menjadi Jalan Teuku Umar, pahlawan perang Aceh.

Citra militeristik Van Heutsz hidup kembali dalam nama resimen infantri tentara Kerajaan Belanda, Regiment van Heutsz, yg dibentuk pada 1 Juli 1950. Resimen yg berperan dlm aksi pertahanan udara ini dibentuk sebagai “pembawa tradisi KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda)” & dipersiapkan sebagai partisipasi Belanda dlm Perang Korea (1950-1953).
“Pasukan yg personelnya terdiri dari beragam latar belakang itu dibentuk, termasuk dari mantan anggota resistansi (perlawanan), pasukan pembebas Belanda, bahkan mantan tentara Nazi. Mereka ditempatkan di Korea sampai 1954. Total 158 perwira & 3.192 personel lainnya bertempur di Korea,” tulis Paul M. Edwards dlm United Nations Participants in the Korean War: The Contributions of 45 Member Countries.
Resimen Van Heutz terlibat dlm tiga pertempuran kunci antara 1951-1953. Resimen ini mendapat medali penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat & Belanda. Resimen ini masih aktif sampai sekarang & tugas terakhirnya pada 2010 sebagai pasukan multinasional di Afghanistan.

Nama Van Heutsz turut diabadikan dlm sebuah mars militer, seperti tercantum dlm sebuah situs tentang Van Heutsz (vanheutsz.nl). Mars tersebut, yg dinamakan Mars Van Heutsz, diciptakan oleh A. Van Veluwen & dipentaskan untuk kali pertama pada 1954. Mars ini menjadi mars milik Resimen Van Heutsz. Komposisi mars ini kemudian menginspirasi lagu yg populer di kalangan komunitas Indo-Belanda, berjudul “Ajoen.”

Tinggalkan komentar