Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara Maha guru taman siswa seorang keturunan priyayi yang mebuang kebangsawanan demi pendidikan kaum pribumi.

Ki hadjar Dewantoro atau saat muda di kenal dengan nama Soewardi berasal dari lingkungan keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman
Beliau merupakan putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Paku Alam III.

Beliau menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School,Sekolah ini merupakan sekolah dasar khusus untuk anak-anak yang berasal dari Eropa sempat melanjukan pendidikan kedokteran di STOVIA Namun beliau tidak menamatkannya karena kondisi kesehatan yang buruk

Kemudian Soewardi muda bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar dia juga pernah bekerja untuk surat kabar Sediotomo,Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara
Beliau tergolong salah seorang penulis yang handal pada masanya,gaya tulisannya bersifat komunikatif dengan gagasan-gagasan yang antikolonial

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik
Sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, beliau aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara,Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum bumi putera yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD)
Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada tahun 1913
Timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi dia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”
Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” judul asli: “Als ik een Nederlander was” dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913
Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut

“Sekiranya aku seorang Belanda aku tidak akan menyelenggarakan pesta pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya
Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu
Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita keruk pula kantongnya
Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu!
Kalau aku seorang Belanda hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini
Kalaupun benar Soewardi yang menulis mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian

Akibat tulisan ini Soewardi ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri)
Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913)
Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun

•Berdiri nya Taman Siswa•
Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian beliau bergabung dalam sekolah binaan saudaranya Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang berencana untuk ia dirikan
Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta
Saat beliau genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa. Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya
Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia
Secara utuh semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi “ing ngarsa sung tuladha,ing madya mangun karsa, tut wuri handayani
(“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”)
Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Referensi:
Sang Mahaguru taman siswa Ki Hadjar Dewantoro -Anak kampung.id 3 mei 2023-

Tinggalkan komentar