SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X, (1988—Sekarang)

Sri Sultan Hamengku Buwono X, nama kecilnya adalah Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito”.Lahir hari Selasa di keraton Yogyakarta tanggal 2 April 1946. GRM Herjuno Darpito adalah putera Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan isteri kedua, bernama “RA Siti Kustina”, atau “KRAy. Windyaningrum”.
Mengacu sumber : https://intisari.grid.id, berjudul “Sri Sultan Hamengku Buwono X Bagai Pinang Dibelah Dua dengan Sang Ayah tapi Lebih Lugu dan Antipoligami”, (2018), ditulis oleh Moch, Habib Asyhad, diterangkan, BRM Herjuna Darpito agak sedikit berlainan dengan ayahnya, Sultan HB IX, yang di masa kecil sesekali terlibat perkelahian di sekolah, sehingga mendapat hukuman dari guru. Sedangkan BRM Herjuno Darpito digambarkan oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai seorang yang lugu. Bahkan bekas pengasuhnya mengatakan, GRM Herjuno Darpito, bukanlah anak yang rewel pada masa kanak-kanaknya.

Sementara itu, RM Soeprapto-suami Siti Kusdilah, adik KRAy, Windyaningrum – masih ingat bahwa BRM Herjuno Darpito dan adiknya, GBPH Hadiwinoto, pada masa kecil sering bermain-main di rumahnya yang tak jauh dari keraton. Di usia sekitar lima tahun, dan belum bersekolah, ia lincah tetapi tidak nakal. Ia senang berlari-lari di halaman rumah dan pendopo bersama sepupunya. Misalnya ketika bermain petak umpet. Namun, ia tak pernah melompat-lompat secara berlebihan, apalagi berteriak-teriak atau berkelahi. Tingkah lakunya yang tenang mungkin diturunkan oleh ibunya. Sebab, menurut Soeprapto, sifat ibunya sabar sekali.
Dihimpun dari berbagai sumber, diterangkan BRM Herjuno Darpito, sekalipun tinggal di lingkungan keraton, dalam kesehariannya tetap bersahaja, tidak sombong apalagi sampai jumawa. Hal tersebut ditenggarai oleh para sahabatnya sejak di SD Negeri 1 Keputran, (dekat keraton), yang letaknya di Jl. Musikan, Alun-alun Utara Yogyakarta, dan hingga saat ini masih bercirikan khas budaya Jawa. Apabila sudah jam pulang para pedagang jajanan serta mainan sudah menanti di depan pintu gerbang sekolah tersebut.

Begitu pula ketika BRM Herjuno Darpito masuk ke SLTP Negeri 3, Yogyakarta, yang terletak di Jl. Pajeksan No. 25, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY. Di SMP Negeri 3 Yogyakarta ini, lebih mengedepankan proses belajar dan tata krama yang baik, terbukti bisa mencetak lulusan dengan peringkat lebih tinggi, jika dibandingkan dengan inputnya. Sedangkan ketika BRM di SLTA Negeri 6, Yogyakarta. Pendidikan dan Kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, Pendidikan merupakan tempat persemaian kebudayaan.
SMA Negeri 6, sebagai Sekolah Budaya telah menanamkan pelestarian serta pentingnya berbudaya. Penanaman nilai-nilai budaya ditanamkan dengan penuh kesadaran dari taat masuk sekolah dengan metode 3 S, (Senyum, Sapa dan Salam). Setelah beranjak dewasa BRM Herjuno Darpito mendapat gelar KGPH. Mangkubumi dan setelah itu, diangkat sebagai putera mahkota bergelar :
“Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Hamengku Negara Sudibyo Raja Putera Nalendra Ing Mataram”.
Menurut Sejarawan UGM, Djoko Suryo, sejak BRM Herjuno Darpito diangkat menjadj KGPH, Mangkubumi, sering diajak untuk mendampingi ayahnya bertugas baik di dalam negeri maupun luar negeri.

BRM. Herjuno Darpito—(KGPH. Mangkubumi), menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum jurusan Ketatanegaraan Universitas Gajah Mada, dan sempat memimpin Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA). Sosok anak raja yang semenjak remaja dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Kesederhanaan dan tutur sapanya yang menyejukan, serta suka menolong orang sehingga disukai oleh masyarakatnya dari berbagai lapisan.

KGPH Mangkubumi, pada tahun 1968, yakni diusia 22 tahun menikah dengan Tatiek Drajat Suprihastuti—BRA Mangkubumi, atau GKR Hemas, (setelah suaminya dinobatkan menjadi raja Yogyakarta). Tatiek Drajat adalah puteri anggota ABRI, bernama “Soepono Digdosastropranoto” dari Yogyakarta dan ibunya bernama “Susamtilah Soepono” dari Wates, sebuah kapanewon atau stingkat Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Dari pernikahan KGPH Mangkubumi dan Tatiek Drajat, dikaruniai lima orang puteri, yaitu : GRA. Nurmalita Sari, (GKR Pembayun), GRA. Nurmagupita, (GKR Condrokirono), GRA Nurkamnari Dewi, (GKR Maduretno), GRA Nurabra Juwita, (GKR Hayu), dan GRA Nurastuti Wijareni, (GKR Bendoro).
BRM Herjuno Daparpito—(KGPH Mangkubumi), di usia 27 tahun, yakni ketika ayahnya, (Sri Sultan Hamengkubuwono IX), diangkat menjadi Wakil Presiden RI, (1973-1978), karena kesibukannya sebagai Wapres RI, ia diminta untuk mengemban tugas-tugas keraton sehingga terbiasa dalam mengerjakan berbagai urusan keraton.

Selain itu, KGPH Mangkubumi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial masyarakat, diantaranya : sebagai Ketua Umum Kadinda DIY, (sejak 1983-sekarang), Ketua Koni, DIY, (sejak 1990-1998), DPD Golkar DIY, (Namun sesuai Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang telah disahkan pada tahun 2012, dilepaskan), Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, dan Presiden Komisaris PG. Madukismo. Selanjutnya pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

A. KGPH Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta.
Setelah ayahnya wafat (Sri Sultan HB IX), pada tanggal 2 Oktober 1988, KGPH Mangkubumi merupakan kandidat terkuat untuk menjadi penerus ayahnya, karena kedudukannya sebagai putera tertua. Penobatan sebagai raja Yogyakarta didampingi Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 atau Selasa Wage 19 Rajab 1921, dengan gelar resminya :
“Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat”.
Ada hal yang sangat menarik dari ucapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, yaitu : “Saya sadar, sesadar-sadarnya, bahwa saya lahir sampai mati itu punya kewajiban hanya satu : Mengabdi”.
Sebagai tokoh nasional yang memiliki pengaruh besar di Indonesia, Sultan HB X pernah ikut dalam kegiatan politik Deklarasi Ciganjur tanggal 10 November 1998.

Deklarasi ini dicetuskan Sri Sultan HB X dengan beberapa tokoh nasional lainnya sebagai sikap, ketika terjadi reformasi tanggal 21 Mei 1998 dan Presiden Soeharto mengundurkan diri kemudian digantikan oleh Wakil Presiden B,J. Habibie.
Pemikiran kritis yang dimiliki Sri Sultan HB X, kemudian dituangkan pada karya ilmiah berjudul “Kerangka & Konsepsi Politik Indonesia,sebuah tinjauan dan analisa perkembangan politk nasional Indonesia, yang diterbitkan oleh Mitra Gama Widata tahu 1989 dan “Bercermin Di Kalbu Rakyat”yang diterbitkan oleh Kanisius tahun 1999.
Kegiatan sosial politik dan kebudayaan yang dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X, selalu memberikan hasil yang positif bagi banyak kalangan. Hal ini yang membuar dirinya mendapatkan Gelar Doktor Kehormatan dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Setelah Sri Paku Alam wafat, melalui beberapa perdebatan, pada tahun 1998 Sultan HB X, ditetapkan sebagai Gubernur DIY dengan masa jabatan 1998-2003. Pada periode ini, Sultan HB X, tidak didampngi Wakil Gubernur.

Sejak terpilih menjadi Gubernur pada tanggal 3 Oktober 1988, Sultan HB X, dikenal sebagai sosok yang netral diantara berbagai kepentingan partai politik dan pemerintah. Oleh karena itu, Sultan HB X, lantas banyak diundang dalam seminar-seminar untuk membeberkan wawasan kebangsaannya.
Dalam suatu kesempatan Sri Sultan HB X, mengatakan :
“Wawasan kebangsaan masa depan seharusnya merupakan pandangan proaktif untuk membangun bangsa yang menuju perwujudan cita-cita bersama sebagai suatu bangsa yang mandiri dan mumpuni”. (Mandiri dan Mumpuni, mengandung arti dalam situasi apapun dapat berdiri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain).
Lebih lanjut dikatakan, “mampu mengembangkan inovasi iptek bangsa sendiri agar memiliki keungulan daya saing yang tangguh di dunia global”.
Pada tahun 2003, setelah terjadi pro-kontra, Sultan HB X, ditetapkan lagi sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Pada periode ini, Sultan HB X, didampingi Wakil Gubernur yaitu Sri Paku Alam IX dari Keraton Puro Pakualaman.
Sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, tentu tidak lagi memerlukan pujian, penghargaan dan piagam pengakuan. Menurutnya, peradaban kota memerlukan sentuhan kasih dan hati nurani.
“Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Ia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita.” (Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta). Menjadi Jogja menjadi Indonesia “Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia.”.
Kalimat penuh makna tersebut disampaikan dengan penuh penekanan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X dalam pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29 di Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (Kepatihan, Yogyakarta).
“Menjadi Jogja, menjadi Indonesia.”
Kalimat tersebut mengandung karakter Jogja akan selalu menguatkan Indonesia. Mahasiswa, seniman, akademisi, wisatawan, dan terutama masyarakat Jogja diharapkan terus membawa nilai-nilai ke-Jogja-an ke berbagai titik di Indonesia. Nilai-nilai tersebut antara lain:
1. Hamemayu Hayuning Bawono, mengandung arti yang menciptakan kenyamanan.
2. Manunggaling kawula Gusti, mengandung arti yang mengajarkan ketauladanan.
3. Golong gilig, mengandung arti yang mencerminkan gotong royong.
4. Watak Satriya: Sawiji, Greget, Sengguh Ora Mingkuh, mengandung arti yang dimaknai sebagai jati diri yang kuat, tetapi tetapterbuka.
B. Gempa Yogyakarta.
Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta dilanda gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 dengan skala 5,9 skala richter atau 6,3 magnitudo. Guncangan gempa terjadi pada pukul 05.55 WIB, telah meluluh-lantakan bangunan dan menewaskan lebih dari 6.000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya.

Saat terjadi gempa tahun 2006, Sultan HB X mengatakan masyarakat bahu-membahu tanpa memandang apa agama yang menolong maupun yang ditolong. Fenomena yang memberi harapan. Manakala para ulama lintas agama bekerja sama membantu para korban tanpa menanyakan “Apa agamu”, ujar Sultan HB X. Tebukti di hati nurani mereka yang paling dalam, selalu bersemi semangat toleransi antar umat beragama. Saat ini kita juga menyaksikan kisah-kisah mengharukan. Mereka bekerja sama dan saling bergai. Sambung Sultan HB X.
Sultan HB X mengatakan, saat ini orang-orang saling membantu dan menjaga. Bahkan dunia bisnis pun diubah menjadi dunia pengabdian bagi kemanusiaan untuk sesama yang papa. Di bulan penuh keutamaan dan keistimewaan ini, semoga keberkahan dan kebahagiaan berada di sekita kita. Kata Sultan HB X.
Sedangkan pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton pada tanggal 7 April 2007, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan tekadnya untuk mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
C. Gelar Doktor Honoris Causa.
Pada tanggal 19 Desember 2011, Sri Sultan HB X, menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang kemanusiaan dari Universitas Gajah Mada (UGM) dalam peringatan Dies Natalis ke-62 di Graha Sabha Pramana.
Pada kesempat tersebut Sultan HB X, menyatakan sekarang ini masalah peradaban kurang menjadi perhatian pemerintah, padahal dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa. Disintegrasi peradaban pada dasarnya adalah awal perjalanan menuju disintegrasi bangsa. Sementara itu, sekelompok manusia baru dikatakan sebagai sebuah kesatuan bangsa apabila terikat oleh peradaban yang dilandasi berbagai nilai spiritual, moral, dan ideologis. Jika krisis peradaban tidak digarap, peradaban bangsa akan kian terpuruk, kata Sultan.
Dalam pidato pengukuhan Doktor (HC), Sultan menegaskan pemimpin bangsa diminta untuk kembali membangun peradaban berbasis nilai kemanusiaan yang adil beradab sesuai amanat sila kedua Pancasila. Untuk mengatasi krisis peradaban yang terjadi, pilihan ‘memanusiakan manusia’ dengan meningkatkan spiritualitas dan kesadaran terhadap lingkungan sangat penting dilaksanakan agar menjadi kesadaran publik, yakni melahirkan manusia Indonesia yang utama. Kerja pembangunan yang memperkokoh peradaban bangsa, hendaknya dijalankan menyeluruh tanpa meninggalkan aspek spiritual bangsa, tambahnya.

Sultan menuturkan peradaban baru yang tumbuh dalam proses pembangunan harus menjadi lahan bagi tumbuh berseminya peradaban berbasis nilai kemanusiaan, penuh harmoni dalam kebhinnekaan. Bukan peradaban yang bias global atau bias lokal. Semua harus satu pemahaman, yaitu menghargai, menghormati dan peduli, saling mengubah dan menyesuaikan diri, kata Sultan. Raja Yogyakarta tersebut mendapatkan gelar doktor honoris causa dengan promotor Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., Ko-promotor Prof. Dr. dr Sutaryo, Sp.A(K) dan Prof. Dr. Djoko Suryo Selain menganugerahkan doktor honoris causa, UGM memberikan pula Anugerah HB IX kepada budayawan dan kolumnis, Goenawan Mohamad. Atas penghargaan yang diterima, Sultan HB X menyampaikan rasa terima kasih. Jadi, ini pengakuan keilmuan, tapi juga pengakuan aplikasi. Konsistensi yang dilakukan keilmuan dan penerapan untuk masyarakat. Bagi saya, terima kasih atas semuanya, apa yang saya lakukan juga atas nama masyarakat, ujarnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson). Tanggal 27 Desember 2011, Sri Sultan HB X menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang seni dan budaya dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Gelar tersebut karena kiprahnya dalam seni dan budaya, terutama seni pertunjukan tradisi dan kontemporer sejak 1989. Pada bulan Desember 2014, Sri Sultan HB X, menjadi bahan perbincangan di media masa dan masyarakartnya, lantaran sikapnya yang dianggap memberi keteladanan. Saat itu, di Jalan Raya, Sultan HB X menolak kawalan Voorijder, dan memilih berhenti, mempersilahkan rombongan Presiden Jokowi yang kebeteulan sedang berada di Yogyakarta.

Kisah Sultan HB X ini, diungkapkah oleh pemilik akun Facebook, Hartady Nugroho, Hari Rabu, tanggal 10 Desember 2014. Hari itu, di Jl. Kusumanagaran, Sri Sultan Hamengkubu Buwono sedang dalam perjalanan dengan mobil dinasnya, Plat AB 1. Kendaraannya disuruh minggir oleh pengendara Harley (moge), pembuka jalan bagi rombongan Presiden Jokowi.
Saat menyadari bahwa mobil yang disuruh menepi adalah raja Yogyakarta, sang pengawal Presiden, kemudian meminta Sri Sultan HB X untuk ikut rombongan Presiden RI, agar lebih cepat sampai tujuan. Tapi dengan sanbat sopan ditolaknya. Sri Sultan HB X, dan sipirnya memilih untuk menunggu berhenti ditepi jalan, menyilahkan rombongan RI 1 lewat. Setelah usai Sri Sultan kemudian melanjutkan perjalanannya seperti pengguna jalan lainnya. Masyarakat dibuat kagum dengan sosok Sri Sultan HB X, yang sangat bersahaja. Ia tidak perlu pencitraan atau mengundang wartawan untuk meliput, biarlah rakyat sendiri yang menilai. Luar biasa sosok raja ini. Pada tanggal 5 Oktober 2019, Sri Sultan HB X yang sekaligus Gubernur DIY, kembali menerima gelar Doktor Honoris Causa. Gelar kehormatan ini diberikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam bidang Manajemen Pendidikan Karakter.
Sumber : https://www.ugm.ac.id/id, menerangkan, dalam penganugerahan Gelar Dr Honoris Causa itu, Sri Sultan HB X menilai bahwa, bagaimana sulitnya Pemerintah dalam mencari konsep Pendidikan Karakter sebaga kurikulum di sekolah yang pas. Pemerintah sudah melakukan upaya dengan menempuh berbagai cara, yaitu dengan pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter, atau bahkan melalui pendidikan agama, yang sebelumnya didukung dengan rekomendasi dari hasil serangkaian Forum Nasional.

Namun Sultan menilai bahwa tidak juga kunjung mampu menjalankan fungsi Pendidikan Nasional secara optimal. Disampaikan dalam orasi ilmiahnya, Sultan menyampaikan bahwa, pendidikan karakter perlu adanya formulasi ulang yang selanjutnya diopersionalkan kembali. Sultan juga menyampaikan bahwa implementasi pendidikan karakter tidak bisa berjalan optimal setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu: kurang terampilnya para guru menyelipkan Pendidikan Karakter dalam proses pembelajaran. Selain itu, bahwa sekolah terlalu fokus mengejar target akademik, agar peserta didik dapat lulus Ujian Nasional. Implikasinya, kurang diajarkan aspek kecakapan hidup yang non-akademik. Sehingga soft-skills sebagai unsur utama Pendidikan Karakter justru terabaikan. Formulasi dan operasionalisasi pendidikan karakter diantaranya dapat dilakukan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan. Sultan HB X menambahkan bahwa, pendidikan itu secara keseluruhan hendaknya selalu dimaknai sebagai proses pembudayaan. Kegiatan lainnya, dalam suatu kesempatan yaitu manakala Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka secara resmi membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VII pada tanggal 2 Februari 2012. Pembukaan ditandai dengan pemencetan tombol penyalaan kembang api di kepala naga disertai bunyi petasan. Tombol ini sebelumnya dibawa oleh Dewi Kwan Im yang terbang anggun di atas panggung. Pembukaan ini digelar di panggung utama halaman eks Kampus UPN di Kentandan Wetan Yogyakarta.

Hadir dalam pembukaan, Walikota Yogyakarta, H Haryadi Suyuti, Wakil Walikota Imam Priyono, Kapolresta Yogyakarta Kombes Mustaqim, kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Bupati Bantul Hj Ida Idham Samawi, serta Bupati Gunung Kidul Badingah S. Sos.
Terkait penyelenggaraan tersebut Gubernur DIY memberikan apresiasi yang istimewa karena banyak tradisi masyarakat Tionghoa yang mempunya kemiripan dengan tradisi lokal masyarakat Indonesia khususnya pada sub kultur dari sebuah kebudayaan besar.
“Kemiripan ini terjadi karena adanya akulturasi budaya, budaya Tionghoa berbaur dengan budaya lokal tanpa adanya campur-tangan pemerintah, sehingga semakin memperkaya khasanah budaya nusantara yang kita miliki,” kata Sri Sultan HB X, (Gubernur DIY).
Sementara itu Ketua Panitia Hj. Tri Kirana Muslidatun dalam laporannya menjelaskan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini merupakan puncak perayaan Imleks atau Cap Go Meh Tahun 2365 yang diselenggarakan oleh panitia yang terdiri dari berbagai paguyuban masyarakat Tionghoa di Yogyakarta. Tema dari acara ini adalah Mengukuhkan Kebhinnekaan Yogyakarta dengan harapan bisa menunjukkan kekayaan budaya Yogyakarta yang guyup dan akur.
Adapun tujuaannya adalah melestarikan dan mengenalkan budaya Tionghoa sebagai salah satu komponen aset bangsa Indonesia, memberikan informasi dan pembelajaran kepada masyarakat tentang tradisi dan kebudayaan Tionghoa, mendukung pariwisata daerah dan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat daerah sekitar.
Dijelaskan pula oleh Hj Tri Kirana Muslidatun, dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta selama 5 hari ini akan dipentaskan 58 jenis acara mulai dari kesenian tari, musik, aneka lomba serta sulap, pentas ketoprak, pentas naga liong dan wayang Potehi. Selain itu juga diselanggarakan bazaar di sepanjang jalan Ketandan yang diikuti oleh 68 stand yang menyediakan aneka kuliner, souvenir dan hiasan. Pekan Budaya ini, akan ditutup pada tanggal 6 Februari 2012, dengan acara Jogja Dragon Festival yang diikuti oleh 12 kelompok dari berbagai daerah.

D. Penerus.
Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas mengikuti kirab pernikahan putri keempatnya, Hayu dengan Notonegoro. Sultan Hamengku buwono X menghadapi persoalan terkait penerusnya karena tidak memiliki putra dan hanya memiliki putri. Masalah ini mengemuka ketika terjadi pembahasan Raperda Istimewa tentang Pengisian Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur sampai Sultan Hamengku Buwono X secara mendadak mengeluarkan Sabdatama pertama pada tanggal 6 Maret 2015. Dalam UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta Pasal 18 ayat (1) huruf m disebutkan bahwa salah satu syarat menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta adalah : “menyerahkan daftar riwayat hidup yang memuat, antara lain riwayat pendidikan, pekerjaan, saudara kandung, istri, dan anak;”, yang dianggap hanya memberikan kesempatan kepada laki-laki untuk menjadi kandidat Sultan selanjutnya.
Pada akhirnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X memutuskan mengeluarkan Sabdaraja yang diucapkan pada tanggal 30 April 2015 dan Dhawuhraja pada tanggal 5 Mei 2015. Sabdaraja tersebut menghasilkan keputusan mengenai pengubahan nama gelarnya menjadi Hamengkubawana. Sedangkan Dhawuhraja menghasilkan keputusan mengangkat GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng ing Mataram. Namun, pada tanggal 3 Juli 2015, Sultan menarik kembali Sabdaraja tersebut dan mencabut permohonan penggantian gelarnya di Pengadilan Negeri Yogyakarta, sehingga kini nama gelarnya kembali menjadi seperti semula.

Sultan HB X, ditenggarai gemar gudeg Kranggan, yakni olahan dari buah nangka muda dengan bumbu manis dan legit beraroma ketumbar, lengkuas, gula merah, serai dan daun salam dipadu dengan tahu bacem, pindang telur, ayam goreng dan sambel krecek. Sultan HB X, juga sangat menyukai gudeg Manggar, yakni gudeg yang terbuat dari manggar atau bunga kelapa, bukan nangka muda seperti gudeg biasa. Hal ini menandakan Sultan HB X, juga sangat lekat dengan rakyatnya, seperti ayahnya Sri Sultan HB IX.
Hebatnya keluarga Sri Sultan HB X, juga memiliki kesamaan sangat sederharna dengan kakek dan ayahnya. Hal tersebut tergambar penampilan sosok puteri bungsu Sri Sultan HB X, bernama “GKR Bendara”, yang naik becak. Kesederhanaannya mampu membuat warga sekitar dan media sosial dibuat terkagum-kagum.
Dalam unggahan vidio oleh akun Instagram @indo.viral, tanggal 15 Maret 2023, menampilkan GKR. Bendara sedang berjalan mao naik becak yang berada di kawasan Malioboro. Ia mengenakan baju warna biru dongker dengan celana panjang berwarna abu-abu seperti masyarakat umum. Sederhana dan bersahaja, tanpa pengawalan, outfit sederhana, tanpa telolet, tetapi tetap teerpancar aura anggun dan magnet dari seorang puteri raja. Bravo and Salute, The Big Family of King Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.
E. Sultan HB X, tentang Ibukota Nusantara.
Mengacu sumber : http://www.kaltimprov.go.id, tanggal 14 Maret 2022, diterangkan, semua provinsi sudah menyerahkan tanah dan air kepada Presiden Joko Widodo di titik nol kilometer Ibu Kota Nusantara (IKN). Sultan Hamengku Buwono X meyakini IKN dibangun untuk kepentingan besar bangsa Indonesia.

“Proses ini secara simbolik memberi ruang budaya. Pada aspek simbolik itu dari awal ada kebhinekaan, persatuan dan kesatuan bangsa yang telah lama menjadi perekat utama dalam proses menuju masa depan Indonesia,”, kata Sri Sultan Hamengku Buwono X di Balikpapan.
Sri Sultan berharap pemahaman simbolik ini bisa memberikan fakta yang baik. “Tidak ada kata mundur, biarpun proses pembangunan itu memerlukan waktu yang cukup lama. Bukan berarti 2024 itu sudah selesai,” ucap Sri Sultan HB X.
Apalagi, penyerahan tanah dan air dari 34 provinsi itu bukan sekadar formalitas. Tapi menjadi simbol kekuatan untuk bersatu membangun masa depan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera. “Semoga apa yang diharapkan Presiden Joko Widodo dan para gubernur bisa memberikan nilai agar program ini berjalan lancar dengan kebersamaan dan persatuan kita,” ujarnya dengan suara perlahan. Tanda Kehormatan Dalam Negeri dan Luar Negeri yang diperoleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, diantaranya :
Bintang Mahaputera Utama, 2007
Grand Cross Austria 1996,
Orde Van Oranje Nassau Belanda tahun 1996,
Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star dari Kaisar Jepang Naruhito tanggal 28 Juni 2022. Salam.
Jakarta, 17 April 2023.
Penulis : Joko Darmawan.

Gambar : Sri Sultan Hamengku Buwono X, ketika dinobatkan sebagai raja Yogyakarta Hadiningrat, tanggal 7 Maret 1989. [Courtesy : https://id.wikipedia.org%5D.

Tinggalkan komentar