Kassian Cephas adalah fotografer pribumi yang pertama di Indonesia. Sayang sekali namanya berpuluh-puluh tahun tenggelam dan nyaris tak dikenal di negerinya sendiri. Namanya memang tidak seharum dan melekat di benak banyak orang seperti nama Wahidin Sudirohusodo atau KH. Dewantara yang sama-sama berasal dari Yogyakarta dan hidup satu jaman dengannya. Walau begitu kita harus berterimakasih kepada Kassian Cephas karena memiliki peran dan jasa besar dalam sejarah keberadaan fotografi di negeri ini. Kalau saja pada bulan Juni 1999 tidak diselenggarakan pameran foto-foto karya Kassian Cephas di Keraton Yogyakarta, Nama Kassian Cephas mungkin tidak diketahui banyak orang di Indonesia.

Kassian Cephas lahir di Yogyakarta tanggal 15 Februari 1844 dari pasangan Kartodrono dan Minah, beliau asli pribumi yang kemudian diangkat anak oleh pasangan Adrianus Schalk dan Etaphilipina Kreeft. Nama Kassian Cephas mulai terlacak dengan karya fotografi tertuanya buatan tahun 1875. Kassian Cephas belajar fotografi dari Simon Willem Cemerik, fotografer Belanda untuk urusan pemerintahan Sultan Yogyakarta pada saat itu. Nah selain Simon, Kassian Cephas juga menimba ilmu fotografi dari Isaac Groneman (dokter resmi Sultan Hamengkubuwono VI). Orang ini jenius, Penasaran dan sangat kreatif, dengan peralatan dan teknologi fotografi yang masih sangat minim pada saat itu, Kassian dapat menghasilkan foto-foto yang indah dan diakui oleh dunia. Foto-foto Kassian selalu memiliki ciri dan konsep yang sangat orisinil.
Cephas memiliki sebuah studio foto di daerah Loji Kecil yang sekarang letaknya berada di Jalan Mayor Suryotomo dekat Sungai Code di Jawa Tengah. Cephas pun mempunyai seorang asisten foto yang bernama Damoen. Nama Cephas semakin bersinar ketika Isaac Groneman yaitu seorang dokter resmi sultan asal belanda memujinya di sebuah artikel yang ia tulis untuk untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada tahun 1884. Kemudian Cephas bergabung dengan sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Isaac Gronemandan J.W. Ijzerman mendirikan Vereeniging voor Oudheid-, Land,- Taal- en Volskenkunde te Yogjakarta (Union for Archeology, Geography, Language and Etnography of Yogyakarta) pada tahun 1885 ( yang selanjutnya disebut Vereeniging voor Oudheid). Karir Cephas pun semakin meningkat ketika ia bergabung dengan perkumpulan tersebut. Terbukti ketika karya – karya foto Cephas masuk ke dalam dua buah buku yang dibuat oleh Isaac Groneman, In den Kedaton te Jogjakarta dan De garebeg’s te Ngayogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di kota Leiden pada tahun 1888. Inden Kedaton berisi tulisan dan gambar collotypes tarian tradisional Jawa. Sedangkan De garebeg’s berisi tulisan dan gambar upacara Garebeg. Semua gambar foto collotype dibuat Chepas atas ijin dari Sultan Hamengkubuwono VII. Kompilasi karya Cephas pun kemudian dijadikan souvenir bagi kaum elit eropa yang akan pulang ke negaranya serta kaum pejabat baru belanda yang mulai bertugas di Kota Yogyakarta.
Pada masa Kesultanan Yogyakarta diperintah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Kassian Cephas diangkat sebagai fotografer keraton. Dalam kedudukannya sebagai fotografer Keraton, ia dapat memotret berbagai peristiwa budaya atau momen – momen khusus yang diadakan didalam Keraton. Ketika pada tahun 1889-1890 pemerintah kolonial Belanda melalui Archaeologische Vereeniging atau Archeological Union (AVAU) di Yogyakarta melakukan proyek penelitian di kompleks Candi Prambanan (Candi Loro Jongrang), Kassian Cephas dipercaya untuk membantu pemotretan. Saat AVAU melakukan penggalian dasar Candi Borobudur, Kassian Cephas juga dilibatkan. Selama proyek penggalian dasar candi itu berlangsung, ia menghasilkan sedikitnya 300 lembar foto.
Pada saat Cephas berumur 60 tahun, beliau mulai pensiun dari bisnis fotografi yang digelutinya. Tanggal 16 November 1912 menjadi hari yang bersejarah, Kassian Cephas meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Cephas dimakamkan di Kuburan Sasanalaya yang terletak antara pasar Beringharjo dan Loji kecil. Begitulah sekelumit episode singkat tentang kehidupan Kassian Cephas, seorang pahlawan fotografi indonesia yang menjadi legenda. Yang ironisnya kadang dilupakan oleh sebagian individu yang menyebut dirinya fotografer indonesia.
Dikutip dari berbagai sumber