Sejarah Danau Lido dimulai pada masa kolonial dulu. Danau itu dibuat oleh seorang berkebangsaan Belanda tahun 1889, saat mereka pada waktu yang sama memperbaiki Jalan Raya Bogor-Sukabumi. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mencarikan lokasi peristirahatan untuk rekan mereka yang mengawasi proyek pembangunan jalan tersebut, juga pemilik perkebunan.

Sumber air Danau Lido berasal dari aliran sungai dan mata air alam yang dibendung. Hal ini amat mungkin dilakukan karena posisi yang strategis. Danau itu berlokasi di lembah dan diapit dua gunung yang memiliki air berlimpah.
Di dekat danau pun terdapat air terjun Curug Cikaweni yang mengalirkan air jernih dan segar dari Gunung Gede Pangrango.
Meski telah ada sejak era Hindia Belanda, kawasan Lido baru dibuka untuk umum sekitar tahun 1940, setelah Ratu Belanda Wilhelmina berkunjung dan beristirahat di Lido.
Ketika itu, restoran pertama diresmikan sebagai pelengkap fasilitas kawasan wisata, juga untuk menjamu Sang Ratu. Restoran tersebut sekarang bernama Oranje Lido. Di sebelah kiri bawah di pinggiran Danau Lido, terdapat beberapa bangunan vila atau pondok (cottage) yang menyimpan beragam kisah.
Konon, cottage itu didedikasikan untuk Catharina Anna Beemster oleh Antonius Johanes Ludoficus Maria Zwijsen, seorang polisi yang ditugaskan pemerintah Hindia Belanda bekerja di Batavia (Jakarta).
Setelah bebas tugas sebagai polisi, Zwijsen bekerja di Hotel Nederlande di Gondangdia, Batavia. Saat usahanya berkembang, Zwijsen membeli sebuah hotel di daerah Harmoni dan mengembangkan usahanya dengan mendirikan penginapan di pinggir Danau Lido.
Kisah Anna dan Zwijsen berawal pada 1935. Zwijsen bertemu seorang putri perwira polisi Belanda yang bertugas di Sukabumi, Catharina Anna Beemster, dan memutuskan menikahinya pada 1937. Hingga saat ini, foto-foto keluarga Zwijsen-Anna tergantung di dinding ruang tunggu cottage di Lido itu. Penginapan di Lido menjadi tempat bagi Zwijsen dan Anna menghabiskan waktu bersama. Namun karena pecahnya Perang Dunia membuat mereka harus keluar dari Lido. Akhirnya tahun 1953, Anna dan Zwijsen beserta anak-anak mereka pulang ke Belanda.
Perang Dunia dan masuknya tentara Jepang ke Indonesia juga membuat kawasan Lido sempat terancam musnah, Hotel Lido pun rusak. Namun pejuang kemerdekaan Indonesia kemudian merebut kawasan Lido dari Jepang.
Kehancuran berikutnya adalah ketika Hotel Lido dibakar (bumi hangus) yang dilakukan oleh pihak pejuang Republik dalam menghadapi Agresi Militer Belanda part One pada tahun 1947.
Potreit:
Gahetna NL
JELAJAH SEJARAH SOEKABOEMI