
Sepuluh tahun yang lalu saya punya sebuah kisah saat menaiki kendaraan ini. Dimana pada saat itu sekitar pukul kurang lebih 05.30 pagi saya naik mobil ini dari Plaju ke jalan Museum Balaputra Dewa untuk mengikuti kegiatan akhir perkuliahan di kampus tepatnya di Bumi Perkemahan Cadika.
Selama perjalanan menaiki kendaraan ini tidak ada hal-hal yang aneh dan mencurigakan, namun pada saat pas didepan kantor Kodam II Sriwijaya penumpang mobil yang tadinya penuh sesak lama-lama akhirnya semakin berkurang sehingga hanya tinggal lima orang, sopir, kernet, dan tiga penumpang. Ketiga penumpang ini kebetulan duduk di bangku paling belakang. Diantara ketiga penumpang tersebut salah satunya saya.
Ketika didepan pasar palima, ada seorang penumpang berbicara pada kernet bus sambil mengeluarkan sesuatu di balik jaket yang ia pakai. Penumpang tersebut menceritakan pada kernet bahwa di bawah jembatan Ampera dia baru saja berkelahi dan membunuh seseorang, sambil memperlihatkan Sajam yang mengkilap penuh darah segar ia melanjutkan ceritanya pada kernet tersebut bahwa setelah menusuk korban ia melarikan diri kemudian melompat naik bus yang saya tumpangi bersamanya tersebut.
Dalam hati dan pikiran saya penuh was-was, dimana pada saat itu didalam bus hanya ada tiga penumpang yang tidak lama kemudian satu penumpang turun dan kini tinggal saya dan preman tersebut. Pikiran saya campur aduk, sambil berdoa dalam hati agar dilindungi oleh Allah. Preman tadi berkata pada saya, kenapa anda takut? Sambil ia terus memperlihatkan Sajam yang mengkilap penuh lumuran darah segar tersebut ke saya. Tatapan matanya melihat kearah saya yang keringat dingin ketakutan.
Walaupun cuaca dalam keadaan hujan, tapi saya merasakan panas keringat dingin didalam bus tersebut. Yang sangat saya khawatirkan preman itu terus berbicara dan melirik kearah tas yang saya rangkul. Dimana dalam tas yang saya rangkul berisi laptop, laporan – laporan berkas skripsi, dan uang untuk pembayaran wisuda. Rasa cemas saya menjadi – jadi saat saya merasakan mobil berjalan agak melambat, hati saya pun tergerak untuk segera turun dari bus tersebut walaupun jalan yang saya tuju masih jauh. Namun, saat kaki saya ingin melangkah keluar bus, preman berkata lagi ke saya, pulang kemana? Langsung saya jawab palima.
Mendengar jawaban saya itu dia terdiam. Tanpa basa-basi lagi saya langsung turun dari bus meskipun tujuan saya masih jauh, saya sudah tidak nyaman berada dalam bus tersebut karena saya melihat gelagat sopir, kernet, dan preman tersebut sangat mencurigakan. Pikiran saya campur aduk, dimana sebentar lagi saya akan diwisuda. Semua berkas-berkas skripsi, laptop, dan uang pembayaran wisuda saya bawa. Meskipun hujan mengguyur dan tujuan perjalanan masih agak jauh, saya paksakan turun dari bus tersebut.